Ini Efek Global Warming Pada Kesehatan Penduduk Indonesia

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Sudah sejak lama kita tahu bahwa telah terjadi perubahan iklim di bumi, atau yang sering digeneralisasi dengan nama ‘global warming’. Perubahan iklim adalah perubahan sistem cuaca dunia yang disebabkan oleh manusia dan berakibat pada naiknya air laut, naiknya suhu bumi, penurunan hasil pertanian, deforestasi atau penebangan hutan, dan sebagainya.

Pada akhirnya, perubahan iklim berdampak pada udara yang kita hirup, air yang kita minum, makanan yang kita makan, dan tanah yang kita tempati. Dan tanpa Anda sadari, perubahan iklim dapat mempengaruhi kesehatan Anda. Tapi, bagaimana bisa?

Efek global warming (perubahan iklim) pada kesehatan penduduk Indonesia

Berbeda dengan negara yang memiliki empat musim, sebagai negara tropis, Indonesia hanya memiliki dua musim saja, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Berikut adalah cara perubahan iklim mempengaruhi kesehatan khususnya pada negara dengan dua musim seperti Indonesia:

1. Polusi udara

Perubahan iklim meningkatkan suhu; suhu yang tinggi meningkatkan terjadinya kebakaran hutan yang selanjutnya meningkatkan asap dan polusi udara. Kualitas udara yang buruk akan meningkatkan asma dan alergi.

Orang-orang dengan riwayat asma dan alergi pun akan semakin rentan untuk mengalami kekambuhan. Bahkan polusi udara pun dapat memengaruhi mereka yang tidak memiliki riwayat asma dan alergi.

2. Penyebaran penyakit

Global warming dapat meningkatkan risiko terjadinya kejadian ekstrem, seperti gelombang panas, banjir, dan badai besar yang bisa memicu penyebaran penyakit infeksi melalui patogen, inang dan transmisi. The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) melaporkan bahwa peningkatan suhu bumi dan perubahan presipitasi menyebabkan perubahan iklim. Ini membuat penyebaran penyakit infeksi menjadi lebih cepat.

Berikut adalah beberapa cara perubahan iklim dapat memicu terjadinya penyebaran penyakit infeksi:

  • Kenaikan suhu dan curah hujan yang tinggi akan menguntungkan vektor penyakit tertentu seperti serangga untuk menyebarkan penyakit demam berdarah (DBD), malaria, dan sebagainya. Beberapa studi telah menemukan adanya hubungan antara peningkatan curah hujan dengan penyebaran wabah penyakit, terutama penyakit yang ditularkan melalui air.
  • Studi di Afrika Barat menyebutkan bahwa jumlah CD4 + T-limfosit mutlak, dan rasio CD4+/CD8+ secara signifikan lebih rendah selama musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau; sedangkan persentase CD8+ lebih tinggi pada musim hujan dibandingkan musim kemarau. Sel CD4+ adalah pertahanan pertama tubuh saat terjadinya infeksi, dan sel CD8+ adalah pertahanan bantuan.
  • Hujan lebat dapat memicu sedimen dalam air, yang menyebabkan penumpukan mikroorganisme tinja, sehingga musim hujan sering kali dikaitkan dengan peningkatan patogen tinja yang memicu terjadinya diare. Tidak heran jika pada musim hujan, penyakit diare daerah tropis seperti Indonesia biasanya memuncak. Penyebab utama diare terkait dengan curah hujan yang tinggi dan persediaan air yang terkontaminasi adalah kolera, kriptosporidium, E.coli, giardia, shigella, tifoid, dan virus seperti hepatitis A. Selain itu, curah hujan yang tidak biasa setelah kekeringan yang panjang dapat menyebabkan peningkatan patogen, yang menyebabkan wabah penyakit.
  • Suhu dan kelembaban selama musim hujan juga dapat mendukung penyebaran virus dengue pada nyamuk, yang berkontribusi terhadap wabah demam berdarah. Nyamuk membutuhkan akses air yang stagnan untuk berkembang biak, dan orang dewasa membutuhkan kondisi lembab untuk viabilitas.

3. Penurunan gizi makanan

Pemanasan global juga ditandai oleh meningkatnya jumlah karbon dioksida (CO2) di bumi. Meskipun CO2 merupakan unsur penting yang memungkinkan tanaman dapat memanfaatkan energi dari matahari, namun sebuah studi menemukan bahwa meningkatnya konsentrasi CO2 di atmosfer mengancam gizi manusia di seluruh dunia dengan berkurangnya jumlah kandungan gizi penting yaitu zinc, besi, dan protein pada benih makanan seperti beras, gandum dan kacang kedelai.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Agustus 5, 2017 | Terakhir Diedit: September 6, 2017

Yang juga perlu Anda baca