Waspada, Detak Jantung Tidak Teratur Dapat Tingkatkan Risiko Demensia

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Detak jantung yang tidak teratur menandakan terjadinya aritmia. Salah satu jenisnya adalah atrial fibrilasi (AFib). Kondisi ini membuat jantung Anda berdetak tidak teratur, sering kali lebih cepat. Jika tidak diatasi lebih dini, stroke, gagal jantung, dan komplikasi pada jantung lainnya bisa terjadi.

Tidak hanya itu saja, studi menemukan bahwa pasien AFib memiliki risiko demensia lebih tinggi. Bagaimana masalah pada jantung ini meningkatkan risiko demensia? Simak ulasannya berikut ini.

Studi mengenai detak jantung tidak teratur dengan demensia

AFib terjadi ketika dua bilik atas jantung (atria) berdetak abnormal sehingga tidak terkoordinasi dengan dua bilik di bawah jantung (ventrikel). Ini menyebabkan jantung berdebar-debar, sesak napas, lemah, pusing, dan nyeri dada.

Pada kondisi kritis dan tanpa perawatan, detak jantung tidak teratur ini dapat menyebabkan pembekuan dan menyumbat aliran darah (iskemia).

Baru-baru ini studi menunjukkan bahwa AFib juga bisa meningkatkan risiko demensia.

Sebuah penelitian yang dipresentasikan pada sesi ilmiah American Heart Association, melaporkan bahwa pasien dengan AFib menunjukkan tanda-tanda cedera otak.

Sebanyak 246 pasien, diketahui 198 orang memiliki AFib sementara 48 tidak. Peneliti mengamati sampel plasma dari partisipan untuk mengetahui adanya cedera otak.

Dari empat biomarker, tiga di antaranya berisiko tinggi dengan depresi, neurodegenerasi, seperti demensia dan penurunan kognitif pada pasien atrial fibrilasi.

Biomarker adalah indikator fisik, fungsional, atau biokimia dari sebuah penyakit yang penting untuk mengidentifikasi demensia. Teknik ini bisa mengetahui potensi cedera dan kondisi otak yang tidak terdeteksi oleh tes pemindaian otak maupun pengujian kognitif.

Hubungan detak jantung tidak teratur dengan demensia

Berdasarkan penelitian tersebut, peneliti percaya bahwa atrial fibrilasi dapat berpengaruh pada fungsi otak. Pasalnya, seluruh sel dalam tubuh akan dialiri darah yang membawa oksigen dan nutrisi.

Jika detak jantung tidak teratur, maka aliran darah ke otak juga akan mengalami gangguan.

Terganggunya aliran darah ke otak bisa memengaruhi kerja membran sel otak. Membran yang seharusnya memisahkan darah dan cairan serebrospinal tidak bekerja secara maksimal sehingga molekul neuro-spesifik dapat masuk ke aliran darah.

Akibatnya, fungsi otak akan terganggu, kian lama akan semakin memburuk, hingga menyebabkan demensia. Sebaliknya, pasien atrial fibrilasi yang diobati dengan obat antikoagulan (obat pengencer darah) untuk mencegah terjadinya stroke, memiliki risiko lebih rendah ketimbang pasien yang tidak minum obat ini.

Faktor lain yang menyebabkan risiko demensia meningkat

Demensia bukan hanya disebabkan oleh faktor tunggal. Selain detak jantung tidak teratur, ada beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risiko penyakit demensia, di antaranya:

  • Usia. Bertambahnya usia menyebabkan sel-sel otak akan ikut menua. Akibatnya, fungsi otak jadi semakin menurun. Itulah sebabnya, risiko demensia akan semakin meningkat seiring dengan menuanya usia seseorang.
  • Genetik. Sejumlah gen yang bermutasi secara tidak benar diketahui dapat meningkatkan risiko demensia jadi lebih besar.
  • Kebiasaan merokok dan minum alkohol. Rokok dan alkohol dapat menurunkan fungsi otak dengan menyebabkan peradangan di dalam tubuh.
  • Memiliki masalah kesehatan tertentu. Selain atrial fibrilasi, penyakit diabetes, aterosklerosis, dan kadar kolesterol tinggi juga bisa menyebabkan peradangan sekaligus terganggunya sirkulasi darah di otak.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Juli 1, 2019 | Terakhir Diedit: Juli 1, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca