Mengenal Ketosis: Saat Tubuh Membakar Lemak Sebagai Energi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Apakah Anda pernah mendengar kata “ketosis” atau “diet ketosis”? Biasanya ketosis berhubungan dengan diabetes atau penurunan berat badan. Mengapa? Saat tubuh tidak bisa menggunakan gula atau glukosa, yang biasanya terjadi pada orang dengan diabetes atau yang sangat membatasi asupan makannya, ketosis (memakai lemak sebagai energi) bisa saja terjadi dalam tubuh. Apakah diet ketosis ini efektif atau malah berbahaya? Cari tahu di sini.

Apa itu ketosis?

Ketosis adalah proses metabolisme yang normal. Saat tubuh Anda tidak memiliki persediaan karbohidrat yang cukup untuk dibakar sebagai energi bagi sel-sel, maka sebagai gantinya tubuh akan membakar cadangan lemak Anda. Kondisi inilah yang dimaksud dengan ketosis. Hasilnya, senyawa yang disebut dengan keton diproduksi. Keton merupakan produk sampingan dari metabolisme lemak.

Jika Anda menerapkan pola makan yang sehat dengan diet seimbang, tubuh akan lebih bisa mengontrol berapa banyak lemak yang harus dibakar. Sehingga, tubuh Anda tidak akan memproduksi dan menggunakan keton. Tapi, jika Anda sangat membatasi asupan makan Anda dan tubuh sudah tidak punya cadangan karbohidrat, maka tubuh akan memakai lemak sebagai energi (ketosis) dan menghasilkan keton.

Ketosis biasanya terjadi saat Anda melakukan olahraga dalam waktu yang lama, jika Anda sangat membatasi asupan karbohidrat, selama kehamilan, puasa, saat kelaparan, dan pada orang diabetes yang tidak dapat menggunakan insulin dengan baik.

Cara memanfaatkan ketosis untuk menurunkan berat badan

Karena saat ketosis tubuh akan membakar lemak sebagai energi, hal ini dapat dimanfaatkan untuk menurunkan berat badan Anda. Salah satu diet yang memanfaatkan kondisi ini adalah diet ketogenik. Dalam diet ketogenik, asupan karbohidrat Anda akan sangat rendah (hanya 5%), sebaliknya asupan lemak akan tinggi (mencapai 75%), dan asupan protein sedang (sebesar 20%).

Asupan karbohidrat yang rendah ini memungkinkan tubuh memanfaatkan lemak sebagai energi. Biasanya Anda bisa mengalami kondisi ketosis saat asupan karbohidrat Anda kurang dari 50 gram per hari. Untuk mencapai hal tersebut, tentu Anda harus menghindari makanan dengan kadar gula tinggi, seperti permen, kue, dan minuman manis.

Saat asupan karbohidrat Anda sangat rendah, kadar hormon insulin akan turun, dan asam lemak dilepaskan oleh tubuh dalam jumlah besar. Asam lemak ini kemudian akan dibakar menjadi energi dan menghasilkan keton sebagai energi bagi sel-sel tubuh dan juga otak.

Dengan cara tersebut, maka berat badan Anda dapat turun lebih cepat. Hal ini sudah dibuktikan dalam penelitian yang diterbitkan oleh American Journal of Clinical Nutrition tahun 2008. Penelitian ini menemukan bahwa pria obesitas yang melakukan diet ketogenik selama empat minggu dapat mengalami penurunan berat badan sekitar 5,4 kg. Orang yang melakukan diet ini dapat mengonsumsi lebih sedikit kalori tanpa merasa lapar.

Apakah memakai lemak sebagai energi (ketosis) bisa berbahaya?

Ketosis normal terjadi pada tubuh Anda. Namun, hal ini akan menjadi berbahaya jika menghasilkan senyawa keton berlebihan dalam tubuh. Kadar keton yang tinggi dalam tubuh dapat menyebabkan dehidrasi dan membuat senyawa kimia dalam darah menjadi tidak seimbang.

Kandungan glukosa dan keton dalam aliran darah menjadi tinggi. Hal ini dapat mengubah darah menjadi asam yang berbahaya. Kondisi ini disebut dengan ketoasidosis. Orang dengan diabetes bisa mengalami ketoasidosis saat insulin yang ada di tubuh sedikit atau saat mereka kekurangan cairan.

Sebaiknya, segera periksakan diri Anda ke dokter jika Anda mengalami gejala-gejala ketoasidosis seperti di bawah ini.

  • Haus dan mulut kering
  • Banyak mengeluarkan kencing
  • Kelelahan
  • Kulit kering
  • Sakit dan nyeri di perut
  • Muntah
  • Kesulitan bernapas
  • Napas berbau

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca