Pernah mendengar misk thaharah? Parfum asal Timur Tengah ini terbuat dari bahan herbal dan dikenal memiliki wangi yang tahan lama. Yuk, pelajari lebih lengkap tentang misk thaharah dan manfaatnya berikut ini.
Pernah mendengar misk thaharah? Parfum asal Timur Tengah ini terbuat dari bahan herbal dan dikenal memiliki wangi yang tahan lama. Yuk, pelajari lebih lengkap tentang misk thaharah dan manfaatnya berikut ini.

Misk thaharah adalah jenis parfum berbahan dasar minyak yang terbuat dari berbagai bahan alami, seperti musk, amber, dan cendana. Parfum ini dikenal memiliki aroma yang menenangkan dan tahan lama.
Beberapa wanita muslim biasanya menggunakan misk thaharah sebagai wewangian untuk bersuci setelah masa menstruasi selesai. Sebagian orang meyakini minyak ini memiliki manfaat untuk kesehatan organ intim atau fungsi seksual wanita.
Perlu Anda ketahui bahwa saat ini belum ada penelitian yang secara langsung menguji manfaat misk thaharah untuk kesehatan. Tidak ada bukti ilmiah yang menyebutkan parfum ini bermanfaat untuk kesehatan reproduksi wanita.
Akan tetapi, beberapa kandungan yang terdapat di dalam parfum ini diketahui memiliki manfaat untuk kesehatan. Berikut penjelasannya.

Kandungan musk dalam parfum ini merupakan bahan alami yang berasal dari kelenjar rusa. Bahan ini memiliki aroma yang kuat dan tahan lama, sehingga banyak digunakan sebagai bahan pembuatan parfum.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Anatomical Science International mengungkapkan bahwa musk memberikan efek antidepresan pada hewan percobaan yang mengalami depresi.
Selain itu, bahan alami ini juga diketahui dapat menaikkan kadar corticosterone yaitu hormon yang memengaruhi penanganan stres.
Namun, penelitian ini masih dilakukan pada hewan, sehingga dibutuhkan penelitian tambahan untuk membuktikan manfaat musk dalam mengobati depresi pada manusia.
Kandungan minyak cendana yang terdapat di dalam misk thaharah memiliki aroma yang menenangkan dan mampu mengurangi rasa cemas berlebihan.
Studi dalam jurnal Worldviews on Evidence-Based Nursing melakukan penelitian untuk mengetahui efektifitas pemberian aromaterapi cendana dan lavender untuk mengurangi kecemasan pada wanita yang telah menjalani biopsi payudara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengurangan tingkat kecemasan pada kelompok wanita yang diberikan minyak aromaterapi cendana dan lavender.
Minyak cendana juga diketahui memiliki sifat antijamur untuk mengobati penyakit yang disebabkan Candida albicans.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Pharmaceutical Science and Research melakukan uji coba dengan menggunakan sampel jamur Candida yang berasal dari pasien oral candidiasis dan vaginal candidiasis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak esensial ini dapat membunuh jamur Candida albicans dan mengurangi risiko munculnya infeksi jamur.
Meski begitu, penelitian ini masih dilakukan dalam tahap uji laboratorium, sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk melihat efeknya pada manusia.
Kandungan minyak cendana yang terdapat di dalam misk thaharah juga dapat membantu menjaga kesehatan kulit karena kandungan antioksidannya.
Paparan radikal bebas yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada sel kulit dan menurunkan elastisitas kulit.
Jika terus berlanjut, hal ini dapat menyebabkan munculnya tanda penuaan kulit, seperti keriput. Antioksidan dapat melindungi kulit dengan menangkal radikal bebas penyebab kerusakan kulit.
Sifat antioksidan yang dimiliki oleh minyak herbal inilah yang membuatnya dapat berpotensi untuk digunakan sebagai bahan aktif dalam produk skincare.

Minyak cendana yang terkandung di dalam misk thaharah juga memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat membantu mengurangi peradangan pada tubuh.
Penelitian dalam jurnal Frontiers in Pharmacology melaporkan bahwa minyak cendana dapat membantu mengurangi peradangan pada penderita eksim dan psoriasis.
Hal ini karena minyak herbal ini dapat menghambat aktivitas enzim PDE, yakni enzim pemicu peradangan pada tubuh.
Sebuah studi dalam International Journal of Clinical and Experimental Medicine melakukan penelitian untuk mengetahui efek muscone, yakni bahan aktif di dalam musk untuk membantu melindungi otak.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa musocone mampu mengurangi pembengkakan otak dan mengaktifkan jalur sinyal PKA-CREB untuk memberikan perlindungan bagi otak.
Peneliti juga mengklaim bahwa pemberian muscone melalui hidung dapat menjadi cara baru untuk pengobatan cedera otak traumatik.
Meski begitu, penelitian ini masih dilakukan pada hewan, sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek musk bagi manusia.
Minyak cendana juga diketahui dapat membantu untuk mempercepat proses penyembuhan luka.
Studi dalam Journal of Dermatological Science mengungkapkan bahwa minyak cendana dapat mempercepat penyembuhan luka goresan di kulit.
Minyak cendana dapat membantu mengaktifkan Epithelial-Mesenchymal Transition (EMT) yang berperan dalam proses penyembuhan luka.
Akan tetapi, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana efek minyak cendana bekerja dalam proses penyembuhan luka pada manusia.
Belum ada dokumen ilmiah juga yang menyebutkan secara langsung mengenai efek samping yang dapat muncul dari penggunaan misk thaharah.
Namun, bagi sebagian orang, penggunaan minyak herbal ini mungkin dapat menyebabkan reaksi alergi seperti ruam kulit, gatal, atau pembengkakkan.
Jika hal ini terjadi, hentikan penggunaan dan segera hubungi dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Kesimpulan
Misk thaharah merupakan parfum yang biasa digunakan wanita muslim sebagai wewangian setelah menstruasi. Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan parfum ini bermanfaat untuk kesehatan, termasuk untuk fungsi reproduksi wanita. Potensi manfaat mungkin bisa diperoleh dari bahan herbal yang terkandung pada parfum ini.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Ayuob NN. (2017). Evaluation of the antidepressant-like effect of musk in an animal model of depression: how it works. Anatomical Science International Sep;92(4):539-553. PMID: 27444866.
Mishima, Y., Shinoda, Y., Sadakata, T., Kojima, M., Wakana, S., & Furuichi, T. (2015). Lack of stress responses to long-term effects of corticosterone in Caps2 knockout mice. Scientific Reports, 5, 8932.
Trambert, R., Kowalski, M. O., Wu, B., Mehta, N., & Friedman, P. (2017). A randomized controlled trial provides evidence to support aromatherapy to minimize anxiety in women undergoing breast biopsy. Worldviews on Evidence‐Based Nursing, 14(5), 394-402.
Piratheepkumar, Rajadurai and Paheeratan Vijitha. (2018). Evaluate the Effectiveness of Santalum Album L on the Management of Leucorrhoea. Journal Complementary and Integrative Medicine. 2018.
Surain, P., Kumar, N., Dhiman, R., & Meashi, V. (2016).Santalum Album: Clinical Aspects for Treatment of Candida Infection. International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research, 7(7), 2813-2829.
Francois-Newton, V., Brown, A., Andres, P., Mandary, M. B., Weyers, C., Latouche-Veerapen, M., & Hettiarachchi, D. (2021). Antioxidant and anti-aging potential of Indian sandalwood oil against environmental stressors in vitro and ex vivo. Cosmetics, 8(2), 53.
Sharma, M., Levenson, C., Browning, J. C., Becker, E. M., Clements, I., Castella, P., & Cox, M. E. (2018). East Indian sandalwood oil is a phosphodiesterase inhibitor: A new therapeutic option in the treatment of inflammatory skin disease. Frontiers in Pharmacology, 9, 200.
Jiang, T., Huang, L., Zhang, X., & Liang, X. (2019). Nasal administration of muscone promotes cAMP-PKA-CREB signaling in rats with traumatic brain injury. International Journal of Clinical and Experimental Medicine 12(5), 5902-5908.
Matsumura, S., Itoi-Ochi, S., Terao, M., Murota, H., & Katayama, I. (2016). Sandalwood oil enhanced Epithelial-Mesenchymal Transition and promoted wound healing. Journal of Dermatological Science, 84(1), e137.
Versi Terbaru
23/11/2023
Ditulis oleh Zulfa Azza Adhini
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes.
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala