Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Akar Valerian

Akar Valerian

Ada berbagai jenis obat herbal yang bisa mengurangi masalah fisik dan mental, salah satunya akar valerian. Apa saja kegunaannya untuk kesehatan?

Apa itu akar valerian?

Akar valerian (Valeriana officinalis) adalah salah satu tanaman herbal yang berasal dari Eropa dan sebagian wilayah Asia. Namun, akar ini banyak ditemukan di Amerika utara

Anda bisa mengetahui akar tanaman ini dari bau khasnya yang tajam dan kurang sedap.

Untuk penggunaan obat alternatif, biasanya akar ini diolah dengan cara dikeringkan. Nantinya, akar yang sudah kering digunakan sebagai teh atau suplemen tablet atau kapsul.

Kandungan akar valerian

Manfaat yang didapat dari akar valerian tentu berasal dari senyawa minyak esensial yang terkandung. Inilah beberapa senyawa yang terkandung di dalamnya:

  • valerenic acid,
  • valepotriate,
  • sesquiterpene, dan
  • asam amino.

Manfaat akar valerian untuk kesehatan

Manfaat akar valerian

Akar ini sering dijadikan sebagai obat herbal untuk mengatasi masalah kesehatan tertentu. Apa sajakah itu?

1. Gangguan tidur

Salah satu manfaat akar valerian yang paling terkenal adalah dipercaya meningkatkan kualitas tidur.

Inilah beberapa kemungkinan manfaat akar valerian untuk masalah tidur yang diamati oleh berbagai peneliti.

  • Mengurangi waktu peralihan dari Anda terjaga hingga terlelap.
  • Membuat tidur lebih nyenyak.
  • Menurunkan jumlah terbangun pada malam hari.
  • Mengurangi gejala insomnia.

Beberapa studi memang menunjukkan bahwa akar ini memiliki potensi untuk kualitas tidur. Namun, ada pula beberapa penelitian yang menunjukkan hasil sebaliknya.

Riset yang menemukan potensinya pun rata-rata masih menggunakan sampel yang minim, jumlah valerian yang berbeda-beda, dan hasil penelitian yang tidak konsisten.

Secara keseluruhan, bukti uji coba ini masih belum meyakinkan.

2. Cemas berlebih

Selain dipercaya untuk perbaiki kualitas tidur, kegunaan akar valerian berkhasiat sebagai obat penenang.

Tanaman ini dipercaya untuk kurangi cemas, mirip dengan kava dan chamomile.

Dikutip dari studi terbitan Phytotherapy Research (2018), kandungan valerenic acid berpotensi meningkatkan meningkatkan jumlah zat kimia yang disebut asam gamma aminobutyric (GABA) di otak.

GABA adalah senyawa yang menghambat saraf untuk menerima atau mengirim pesan berlebih pada sel saraf. Kadar GABA yang rendah berkaitan dengan kecemasan.

Penelitian ini juga meninjau bahwa efek peningkatan GABA dari akar valerian tidak menimbulkan efek samping sedatif yang lebih besar daripada obat anticemas lainnya, seperti diazepam.

Efek samping sedatif diketahui menyebabkan penekanan saraf pusat sehingga memicu rasa kantuk dan sulit berkonsentrasi.

3. Meredakan stres

Karena punya potensi mengurangi kecemasan dan membuat tidur lebih nyenyak, manfaat akar valerian juga bisa berdampak bagi orang yang sedang mengalami stres.

Pasalnya, stres kronis dan rasa cemas berhubungan erat satu sama lain. Tak jarang kedua hal ini tidak dapat dipisahkan.

Lalu, bila salah satu dapat diatasi, dampak lain antara stres dan rasa cemas juga bisa berkurang.

Akar valerian bisa membuat tubuh jadi rileks dan tenang. Tubuh yang rileks bisa mengusir dan mencegah stres datang.

4. Hot flashes

Hot flashes adalah rasa panas yang tiba-tiba muncul tanpa sebab. Kondisi ini umumnya muncul pada wanita menopause.

Saat sudah berhenti haid, tubuh mengalami penurunan kadar hormon estrogen sehingga memengaruhi suhu tubuh.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Women Health (2018) menunjukkan konsumsi kapsul valerian sebesar 530 mg sebanyak 2 kali sehari selama 2 bulan berpotensi mengurangi keparahan hot flashes.

Studi ini menduga bahwa manfaat akar valerian ini berasal dari kandungan fitoestrogen. Ini adalah senyawa tanaman yang menyerupai hormon estrogen.

Jadi, studi ini melihat bahwa bahan herbal ini bisa jadi membantu menyeimbangkan kadar estrogen pada wanita menopause. Dengan begitu, hot flashes bisa berkurang.

5. Nyeri saat menstruasi

Manfaat akar valerian selanjutnya adalah bisa menjadi obat pereda rasa nyeri saat wanita sedang sindrom pramenstruasi atau saat menstruasinya berlangsung.

Hal ini pun diuji dan diterbitkan dalam jurnal Journal of Traditional and Complementary Medicine (2016).

Studi ini menemukan bahwa mengonsumsi pil akar valerian dengan dosis 530 mg sebanyak 2 kali selama seminggu dalam 3 siklus haid berturut-turut mungkin mengurangi gejala dismenore atau nyeri haid.

Akar ini mengandung valrnic acid yang bersifat sebagai antispasmodik. Senyawa ini menghambat pelepasan senyawa prostaglandin penyebab kontraksi otot rahim.

Jadi, rasa nyeri saat haid pun berkurang.


Pernah alami gangguan menstruasi?

Gabung bersama Komunitas Kesehatan Wanita dan dapatkan berbagai tips menarik di sini.


Cara pemakaian akar valerian

Cara pemakaian akar valerian

Akar ini dikonsumsi dalam bentuk teh, cairan, atau dalam bentuk suplemen pil dan kapsul.

Untuk pemakaian yang paling tepat, selalu baca aturan pakai pada kemasan sebelum mengonsumsinya.

Umumnya, dosis suplemen yang beredar di pasaran sekitar 300 dan 600 gram.

Bila Anda ingin mengonsumsi dalam bentuk teh, seduh 2 – 3 gram akar kering ke dalam air panas selama 10 hingga 15 menit. Minumlah 30 hingga 2 jam sebelum tidur.

Efek samping akar valerian

Memang, obat herbal ini bisa ditoleransi tubuh dengan baik dan aman untuk jangka pendek. Umumnya, efek samping yang muncul relatif ringan, yakni:

  • migren,
  • mual,
  • sakit perut, dan
  • pusing.

Namun, jika Anda sudah mengonsumsi dosis tinggi dalam jangka panjang, hati-hati dengan efek samping berikut.

1. Efek penarikan (withdrawal symptom)

Jika Anda bila ingin berhenti mengonsumsi akar ini secara mendadak setelah dalam jumlah besar dan sering, sebaiknya pertimbangkan lagi.

Pasalnya, ada bahaya obat herbal yang muncul menyerupai efek penghentian benzodiazepin mendadak, yakni efek penarikan.

Beberapa gejala efek penarikan benzodiazepin yang mungkin mirip dengan efek penarikan akar valerian, yakni:

  • cemas,
  • insomnia,
  • mudah marah,
  • gelisah,
  • tremor,
  • otot kejang,
  • sakit kepala,
  • berkeringat,
  • serangan panik,
  • kulit merinding, dan
  • masalah memori dan konsentrasi.

2. Kerusakan liver

Meski jarang terjadi, ditemukan pula kasus obat herbal merusak hati akibat konsumsi bahan ini. Kondisi ini ditandai dengan:

  • nyeri perut bagian atas,
  • lelah berlebihan,
  • sakit kuning,
  • urine menggelap, dan
  • tidak nafsu makan.

Hingga saat ini, tidak diketahui apakah kerusakan tersebut akibat akar valeriannya atau bahan-bahan lain yang mencemari produk tersebut.

Interaksi akar valerian dengan obat lainnya

Sama seperti konsumsi obat pada umumnya, akar ini ternyata bisa memengaruhi kinerja obat lain, begitu juga sebaliknya.

Sebelum konsumsi obat herbal ini, konsultasikan ke dokter bila Anda menggunakan obat-obatan sedatif atau antidepresan penekan sistem saraf pusat, seperti:

  • benzodiazepin,
  • fenobarbital,
  • morfin,
  • suplemen kava,
  • melatonin,
  • propofol, dan
  • suplemen St. John’s wort.

Tak hanya itu, valerian akan dipecah di liver oleh enzim bernama cytochrome P450 (CYP450).

Oleh karena itu, bahan herbal ini bisa mengganggu efektivitas obat yang juga dipecah CYP450, seperti:

  • fexofenadine,
  • itraconazole,
  • fluconazole,
  • irinotecan,
  • etoposide,
  • paclitaxel,
  • vinblastine,
  • vincristine,
  • lovastatin, dan
  • atorvastatin.

Akar valerian berpotensi mengendalikan rasa cemas dan stres, serta nyeri haid dan gejala menopause.

Meski demikian, sebaiknya tidak menggunakan sumber herbal ini menjadi satu-satunya obat untuk menyembuhkan masalah kesehatan berikut.

Pasalnya, hingga saat ini belum ada penelitian relevan berskala besar yang membuktikan bila akar ini benar-benar bisa menyembuhkannya.

Ringkasan

  • Manfaat untuk gangguan tidur hingga saat ini belum konsisten.
  • Akar ini diyakini bisa mengendalikan mood dengan cara meningkatkan senyawa otak bernama asam gamma aminobutyric.
  • Manfaat bisa didapat secara maksimal bila bahan herbal ini digunakan dengan cara diminum.
  • Konsumsi obat-obatan bersifat sedatif dan dipecah oleh enzim cytochrome P450 memicu interaksi obat.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Office of Dietary Supplements – Valerian. (2022). Retrieved 20 June 2022, from https://ods.od.nih.gov/factsheets/Valerian-HealthProfessional/

Taibi, D., & Landis, C. (2009). Valerian and Other CAM Botanicals in Treatment of Sleep Disturbances. Complementary And Alternative Therapies And The Aging Population, 57-81. doi: 10.1016/b978-0-12-374228-5.00004-4

Gamma-Aminobutyric Acid (GABA): What It Is, Function & Benefits. (2022). Retrieved 20 June 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/articles/22857-gamma-aminobutyric-acid-gaba

Savage, K., Firth, J., Stough, C., & Sarris, J. (2017). GABA-modulating phytomedicines for anxiety: A systematic review of preclinical and clinical evidence. Phytotherapy Research, 32(1), 3-18. doi: 10.1002/ptr.5940

Jenabi, E., Shobeiri, F., Hazavehei, S., & Roshanaei, G. (2018). The effect of Valerian on the severity and frequency of hot flashes: A triple-blind randomized clinical trial. Women & Health, 58(3), 297-304. doi: 10.1080/03630242.2017.1296058

Hot flashes – Symptoms and causes. (2022). Retrieved 20 June 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hot-flashes/symptoms-causes/syc-20352790

Behboodi Moghadam, Z., Rezaei, E., Shirood Gholami, R., Kheirkhah, M., & Haghani, H. (2016). The effect of Valerian root extract on the severity of pre menstrual syndrome symptoms. Journal of Traditional and Complementary Medicine, 6(3), 309-315. doi: 10.1016/j.jtcme.2015.09.001

Hadley, S., & Petry, J. (2003). Valerian. American Family Physician, 67(8), 1755-1758. Retrieved from https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2003/0415/p1755.html

Brett, J., & Murnion, B. (2015). Management of benzodiazepine misuse and dependence. Australian prescriber, 38(5), 152.

Kia, Y. H., Alexander, S., Dowling, D., & Standish, R. (2016). A case of steroid-responsive valerian-associated hepatitis. Internal medicine journal, 46(1), 118-119.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui Jul 07
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan