Abses Gigi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Desember 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu abses gigi?

Abses gigi adalah kantong atau benjolan berisi nanah yang terbentuk di sekitar gigi akibat infeksi bakteri. Abses bisa mengenai area dalam gigi, gusi, atau tulang belakang yang menahan gigi.

Kondisi ini dapat muncul di bagian gigi mana pun dengan alasan yang berbeda-beda. Ada tiga jenis abses gigi tergantung dari tempat kemunculannya, yaitu:

  • Abses gingival: hanya terjadi pada jaringan gusi dan tidak berdampak pada gigi atau ligamen gusi.
  • Abses periodontal: biasanya dimulai dari struktur jaringan tulang penunjang di sekitar gigi.
  • Abses periapikal: terjadi saat kantong nanah terbentuk di akar gigi.

Ketika terjadi abses, Anda sebaiknya segera berobat ke dokter karena kondisi penyakit gigi yang satu ini tidak bisa membaik dengan sendirinya.

Abses gigi butuh ditangani oleh dokter gigi. Jika tidak, kondisinya bisa bertambah parah dan mengakibatkan kerusakan jaringan tulang gigi.

Seberapa umumkah kondisi kesehatan gigi ini?

Abses gigi merupakan masalah kesehatan gigi yang umum. Kondisi ini dapat dialami anak-anak dan orang dewasa.

Anda dapat mencegah kondisi ini dengan menghindari faktor risiko yang ada. Silakan berkonsultasi ke dokter gigi untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala abses gigi?

Gejala utama abses gigi adalah timbulnya rasa nyeri berdenyut di mulut yang mungkin sangat menyakitkan. Rasa sakitnya bisa muncul tiba-tiba, lalu menjadi lebih intens selama beberapa jam dan dapat bertambah parah di malam hari.

Nyeri pun bisa menjalar hingga telinga, tulang rahang, dan leher. Berikut tanda dan gejala khas abses gigi lain yang perlu Anda perhatikan:

  • Nyeri di area yang ditumbuhi abses, terutama saat menggigit atau disentuh
  • Gigi jadi sensitif terhadap makanan serta minuman yang panas dan dingin
  • Gusi bengkak, kemerahan, dan terasa lunak
  • Rasa anyir di mulut
  • Bau mulut yang tidak sedap
  • Tidak enak badan
  • Susah menelan (disfagia)
  • Bengkak di wajah, pipi, atau leher

Ketika infeksi mulai menjalar ke bagian tubuh lainnya, Anda mungkin akan  mengalami demam dan merasa tidak enak badan.

Dalam kasus yang parah, Anda mungkin akan sulit membuka mulut. Alhasil aktivitas seperti mengunyah, menelan, berbicara, bahkan bernapas bisa jadi terasa sangat menyiksa.

Kemungkinan, masih ada gejala lain selain yang telah disebutkan di atas. Bila Anda khawatir akan gejala tertentu, segera hubungi dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas atau Anda memiliki pertanyaan tertentu, segera bicarakan dengan dokter. 

Tubuh setiap orang berbeda, karena itu diskusikan dengan dokter Anda untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan terbaik.

Penyebab

Apa saja penyebab abses gigi?

Kebanyakan abses gigi terjadi sebagai akibat dari komplikasi infeksi bakteri di gigi dan mulut. Bakteri jahat yang biasanya tinggal dalam plak akan menginfeksi dan mencari jalur untuk menyerang gigi.

Maka dari itu, terjadilah pembengkakan dan peradangan di ujung akar. Berikut beberapa penyebab terjadinya abses gigi.

Abses periapikal

Bakteri masuk ke gigi melalui lubang-lubang kecil yang disebabkan oleh karies. Lubang gigi atau karies terbentuk pada enamel gigi (lapisan luar gigi yang keras). Karies akhirnya memecah jaringan di bawah enamel gigi yang disebut dentin.

Bila hal ini terus terjadi, akhirnya lubang tersebut akan sampai dan mengenai bagian gigi yang lunak bernama pulpa. Infeksi pulpa disebut dengan pulpitis.

Seiring dengan perkembangan pulpitis, bakteri akan menembus tulang yang menyangga gigi (tulang alveolar). Alhasil, terbentuklah abses periapikal.

Abses gusi

Bakteri yang hidup di plak bisa menginfeksi gusi sehingga menyebabkan penyakit periodontitis. Kondisi ini menyebabkan gusi meradang, sehingga ligamen gusi (jaringan yang mengelilingi akar gigi) akan terlepas dari pangkal gigi.

Lepasnya ligamen gusi akan menciptakan lubang kecil yang mudah kotor dan sulit dibersihkan. Semakin banyak bakteri yang tinggal di lubang tersebut, abses gusi pun akan terjadi.

Selain kondisi mulut yang kotor, abses gusi juga bisa disebabkan karena efek samping dari operasi atau prosedur medis lainnya pada gigi dan mulut. 

Dalam beberapa kasus, kerusakan gusi bisa berujung menjadi abses gusi meskipun tidak mengalami periodontitis.

Faktor-faktor risiko

gusi berdarah saat sikat gigi

Apa saja faktor risiko abses gigi?

Umumnya, faktot risiko penyebab abses gigi berasal dari kebiasaan buruk yang memengaruhi kesehatan gigi. Beberapa hal di bawah ini dapat membuat Anda lebih rentan mengalami abses gigi. 

1. Jarang menyikat gigi

Kebersihan gigi yang buruk karena Anda jarang menyikat gigi merupakan penyebab utama berbagai masalah gigi dan mulut. Sisa-sisa makanan yang tertinggal di permukaan atau di sela-sela gigi dapat membentuk plak.

Kalau Anda jarang menyikat gigi, plak akan terus-menerus menumpuk dan menyebabkan pembusukan. Pembusukan inilah yang dapat memicu abses gigi. 

2. Cara menyikat gigi yang salah

Anda mungkin merasa sudah rajin menyikat gigi setiap hari. Namun, sudah benarkah cara menyikat gigi Anda? Teknik menyikat gigi yang salah bisa jadi faktor penyebab abses tanpa pernah disadari.

Kesalahan yang paling sering adalah menyikat gigi terlalu keras atau kencang. Menyikat gigi terlalu keras justru merusak gigi dan gusi Anda. Tekanan yang kuat pada gigi dapat mengikis enamel dan membuat gigi lebih sensitif.

Hal yang sama juga terjadi bila Anda terlalu kencang menarik-ulur benang ketika flossing. Ingat, gusi Anda terdiri dari jaringan lunak yang tipis.

Ini artinya, gesekan atau benturan yang keras dapat menyebabkan gusi terluka dan berdarah. Nah, luka inilah yang dapat memicu munculnya kantong abses.

Anda memang dianjurkan untuk menyikat gigi dan flossing secara teratur. Namun, pastikan Anda melakukannya dengan cara yang tepat supaya gigi dan gusi senantiasa sehat.

3. Merokok

Center for Diseases Control and Prevention (CDC) alias Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat mengatakan perokok aktif dua kali lebih berisiko mengalami penyakit gusi (periodontitis) ketimbang non-perokok.

Pada prinsipnya, semakin banyak rokok yang diisap setiap hari maka semakin besar pula risiko Anda mengalami penyakit gusi. Apalagi bila kebiasaan ini sudah Anda lakukan sejak dulu.

Kandungan bahan kimia yang beracun dan berbahaya dalam rokok dapat memicu pertumbuhan bakteri jahat di dalam mulut.

Hal inilah yang membuat Anda lebih mudah terkena infeksi yang dapat menyebabkan gusi meradang, gusi bengkak, hingga bernanah.

Di sisi lain, merokok juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan bakteri penyebab infeksi. Sistem imun yang lemah membuat jaringan gusi yang sudah terlanjur rusak jadi lebih sulit untuk diperbaiki.

Itu sebabnya perokok lebih rentan mengalami berbagai masalah gusi dan gigi.

Obat dan pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana cara mendiagnosis abses gigi?

Abses gigi dapat didiagnosis dengan pemeriksaan fisik. Pertama-tama, dokter akan meminta Anda untuk membuka mulut. Dengan menggunakan alat khusus dokter akan mengamati satu per satu keadaan gusi dan gigi Anda.

Selama pemeriksaan, dokter mungkin akan menanyakan perihal riwayat kesehatan gigi Anda. Dokter juga dapat menanyakan seputar kebiasaan Anda dalam merawat gigi.

Beberapa obat memiliki efek samping yang memengaruhi gigi Anda. Oleh karena itu, beri tahu dokter semua obat-obatan yang sedang rutin Anda minum. Entah itu obat dengan atau tanpa resep dokter, suplemen makanan maupun obat herbal.

Bila diperlukan, dokter dapat merontgen gigi dengan sinar X. Rontgen gigi dapat memberikan gambaran kondisi rongga mulut Anda lebih detail. Termasuk di mana lokasi infeksi berada dan apa kemungkinan penyebab abses gigi yang Anda alami.

CT Scan juga dapat dilakukan bila infeksi sudah menyebar ke bagian tubuh lainnya. 

Bagaimana cara mengobati abses gigi?

Hanya dokter gigi yang bisa menangani abses gigi. Pengobatan abses gigi mungkin meliputi prosedur-prosedur medis seperti di bawah ini. 

1. Insisi drainase abses

Abses yang muncul harus disayat supaya terbuka sehingga nanah yang mengandung bakteri bisa keluar dan mengering. Anda mungkin diberikan bius lokal supaya tidak merasa sakit selama proses tersebut berlangsung.  

2. Perawatan saluran akar (root canal)

Perawatan akar kanal gigi juga bisa dilakukan untuk menghilangkan kantong nanah di gigi. Gigi yang bermasalah akan dilubangi agar nanahnya bisa keluar. Jaringan yang rusak akan disingkirkan dari pulpa gigi. Kemudian untuk mencegah infeksi, bagian yang berlubang akan ditambal.

Abses pun akan mengering dan lubang dibersihkan. Permukaan akar gigi akan dihaluskan dengan scaling di bawah tepi gusi. Hal ini akan membantu gigi cepat sembuh sekaligus mencegah infeksi.

3. Cabut gigi

Pasien dengan abses gigi dan infeksi yang sering terjadi mungkin harus menjalani operasi untuk mengangkat jaringan yang rusak. Biasanya prosedur ini dilakukan oleh dokter gigi bedah mulut.

Kalau abses gigi masih terjadi setelah operasi, opsi untuk melakukan cabut gigi mungkin bisa dipertimbangkan.

4. Obat antibiotik

Dokter dapat meresepkan antibiotik untuk mencegah infeksi menyebar ke gusi, rahang, atau bagian lainnya. Antibiotik efektif melawan dan membunuh bakteri penyebab infeksi.

Obat ini hanya tersedia dengan resep dokter. Pastikan Anda minum obat antibiotik sesuai anjuran. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik.

Biasanya dokter juga meresepkan obat antibiotik untuk orang dengan sistem imun yang lemah. 

5. Obat pereda nyeri

Obat pereda nyeri yang dijual bebas bisa membantu mengurangi nyeri. Namun, baca informasi yang tertera pada kemasan obat. Ingat, obat pereda nyeri hanya bisa membantu mengendalikan rasa sakit, bukan mengobati penyakit. Anda tetap harus pergi ke dokter gigi.

Obat-obatan yang boleh dikonsumsi antara lain aspirin, ibuprofen, atau paracetamol (acetaminophen). Namun, beberapa obat tidak direkomendasikan bagi pasien dengan kondisi tertentu.

  • Ibuprofen tidak dianjurkan bagi orang dengan asma dan tukak lambung.
  • Aspirin tidak boleh diberikan untuk anak berusia di bawah 16 tahun, ibu hamil, atau wanita yang sedang menyusui.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi abses gigi?

Sebelum mengunjungi dokter, ada beberapa cara untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan akibat abses gigi. Berikut adalah beberapa gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu mengatasi nyeri sekaligus mencegah abses gigi.

  • Menyikat gigi secara perlahan dengan pasta gigi yang mengandung fluoride
  • Pilihlah jenis sikat gigi dengan bulu sikat yang sangat lembut
  • Hindari membersihkan gigi dengan benang gigi (floss) di area yang sakit
  • Hindari makanan atau minuman yang panas
  • Hindari makanan atau minuman yang tinggi gula dan terlalu asam
  • Kunyah makanan di sisi mulut yang tidak terlalu sakit

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

7 Cara Mengobati Rasa Sakit Akibat Tumbuh Gigi Bungsu Sebelum Cabut Gigi

Gigi bungsu biasanya baru tumbuh belakangan. Bagaimana mengobati rasa sakit ketik gigi bungsu tumbuh? Perlukah operasi gigi bungsu?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 10 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Perawatan Setelah Cabut Gigi, Ini Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Anda Lakukan

Rasa sakit setelah cabut dapat segera pulih bila Anda mengikuti anjurannya dengan benar. Apa saja pantangan dan perawatannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Perawatan Gigi, Gigi dan Mulut 9 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

4 Tips Ampuh Menghentikan Gusi Berdarah Setelah Cabut Gigi

Gusi berdarah setelah cabut gigi adalah hal yang wajar. Tapi, adakah cara menghentikan pendarahan setelah cabut gigi? Selengkapnya di sini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Perawatan Gigi, Gigi dan Mulut 5 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Gigi Copot Saat Remaja, Apakah Bisa Tumbuh Lagi?

Gigi yang copot di masa anak-anak akan langsung diganti dengan gigi baru. Namun, apakah gigi copot saat remaja masih bisa tumbuh lagi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Gigi dan Mulut 1 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

jenis tambal gigi

4 Jenis Tambalan Gigi dan Prosedur Pemasangannya di Dokter Gigi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
sakit kepala setelah cabut gigi

Kenapa Bisa Sakit Kepala Setelah Cabut Gigi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
lansia mulai ompong

Usia Berapa Gigi Lansia Akan Mulai Ompong?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
merawat gigi lansia

Merawat Kesehatan Gigi dan Mulut Lansia, Kunci Senyum Indah di Hari Tua

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 11 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit