Apa Itu Herd Immunity dan Hubungannya dengan COVID-19?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Pandemi COVID-19 telah membuat banyak orang bertanya-tanya kapan dan bagaimana wabah dapat mereda. Penelitian terus dilakukan dan terus berkembang, segala cara dan kemungkinan mulai disuarakan. Belakangan Inggris dan Belanda membunyikan soal kemungkinan herd immunity (kekebalan kelompok) dalam melawan COVID-19.

Apa itu kekebalan kelompok atau Herd immunity dan apakah diperlukan dalam penanganan COVID-19? Berikut ulasannya. 

Usul herd immunity (kekebalan kelompok) untuk penanganan COVID-19

herd immunity covid-19

Sir Patrick Vallance, kepala ilmiah pemerintah Inggris mengatakan membuka pilihan untuk membentuk herd immunity sebagai salah satu pilihan penanganan COVID-19. Ia mengusulkan untuk membentuk kekebalan kelompok dengan membiarkan lebih kurang 60 persen dari populasinya terinfeksi COVID-19.

Pada Jumat (13/3), kepala penasihat medis dan urusan sains pemerintah Inggris, Sir Patrick Vallance, mengatakan di BBC Radio4 bahwa salah satu hal utama yang perlu kita lakukan adalah membangun semacam kekebalan kelompok.

“Sehingga lebih banyak orang kebal terhadap penyakit ini dan kami mengurangi perpindahan,” ujarnya.

Selain Inggris, Belanda juga menyuarakan hal serupa. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengatakan lockdown tidak menjadi salah satu pilihan mereka. Rutte menyebut akan mencari cara lain salah satunya  pilihannya adalah “penyeberan terkontrol dalam kelompok yang memiliki risiko paling rendah.” Maksudnya adalah membiarkan virus menginfeksi kelompok muda dan sehat.

Usul tersebut lalu memunculkan banyak komentar dan kritik dari para ahli.

Dua hari kemudian Matt Hancock, Sekretaris Negara untuk Perawatan Kesehatan dan Sosial Inggris, menyangkal hal usulan tersebut. Ia mengatakan bahwa “kekebalan kelompok adalah cara lain yang alami dari suatu epidemi”.

“Kami akan mendengarkan semua ilmuwan yang kredibel dan kita akan melihat semua buktinya,” katanya. “Herd immunity bukan tujuan atau kebijakan kami, ini adalah konsep ilmiah.”

Apa itu herd immunity dalam penanganan hal menular semacam COVID-19?

herd immunity covid-19

Menurut Proyek Pengetahuan Vaksin Universitas Oxford, herd immunity (kekebalan kelompok) adalah kondisi di mana sekelompok besar orang menumbuhkan kekebalan imun atas suatu penyakit. 

Ketika cukup banyak orang di suatu komunitas kebal terhadap suatu penyakit, maka akan sulit bagi virus tersebut untuk menyebar karena tidak banyak orang yang dapat terinfeksi. 

Sebagai contoh, saat satu orang sakit campak dikelilingi oleh orang yang sudah divaksin dan kebal terhadap campak, maka penyakit itu akan sulit untuk menular ke individu lain. Lalu orang-orang yang kebal ini jadi semacam benteng pertahanan. 

Dengan begitu akan dengan cepat menghilang karena virusnya tidak mudah ditularkan kepada kelompok yang rentan (atau tidak kebal).

Herd immunity, atau kekebalan kelompok, atau perlindungan kawanan memberikan perlindungan kepada orang-orang yang rentan seperti bayi yang baru lahir, orang tua, dan mereka yang terlalu sakit untuk divaksin,” tulis University of Oxford.

Hanya saja, kekebalan kelompok tidak melindungi dari semua macam penyakit menular yang dapat divaksin.

Contohnya pada penyakit tetanus yang berasal dari bakteri di lingkungan dan bukan dari orang ke orang. Jadi tidak peduli berapa banyak orang yang divaksinasi atau kebal pada tetanus, itu tidak akan melindungi satu individu yang rentan untuk terinfeksi hal tersebut.

Dalam konsep kekebalan kelompok ini, tidak penting bagaimana cara mereka kebal terhadap virus, apakah itu karena vaksinasi atau karena sudah tertular.

Kekebalan kelompok biasanya dicapai melalui vaksinasi daripada melalui penyebaran atau membiarkan sebagian besar orang terinfeksi yang lalu disembuhkan.

Mengapa kekebalan kelompok tidak perlu dilakukan?

COVID-19 bertahan di udara

Dengan belum adanya vaksin, berarti membentuk herd immunity yang disampaikan Inggris dan Belanda  tersebut adalah dengan membiarkan sebagian besar orang terinfeksi.

Ide tersebut ditentang banyak ahli. Mereka mengingatkan bahwa membiarkan COVID-19 menyebar di antara masyarakat yang lebih muda dan lebih sehat merupakan cara berbahaya untuk membangun kekebalan.

Beberapa ahli menjelaskan mengapa herd immunity tidak bisa melawan penyebaran infeksi COVID-19 dan tidak perlu dilakukan.

Di balik tercetusnya pembentukan kekebalan kelompok ini adalah meminimalkan penyebaran COVID-19 seperti gelombang flu Spanyol pada 1918.

Skenario kekebalan kelompok yang termasuk berhasil adalah saat populasi satu kawanan terinfeksi, sembuh, dan berhasil membentuk imunitas. Membuat mereka resisten terhadap infeksi ulang.

Menurut Sir Patrick Vallance, agar bisa terbentuk herd immunity seperti ini di Inggris, virus COVID-19 perlu menyebar ke sekitar 60 persen populasi Inggris. 

Berikut perhitungan yang dilansir Vox.

Total ada 66 juta orang yang tinggal di Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara. Dengan strategi herd immunity tersebut, berarti COVID-19 harus dibiarkan menginfeksi sekitar 40 juta orang. 

Mengingat minimnya akses ke perawatan medis dan faktor-faktor lainnya, tingkat kematian dari pembentukan kekebalan kelompok tersebut akan mencapai angka 300 ribu sampai satu juta jiwa.

Hal tersebut menyebabkan lebih dari 200 ilmuwan dan profesional medis menentang strategi kekebalan kelompok dalam sebuah surat terbuka.

Para ahli berpendapat bahwa kekebalan kawanan bukanlah pilihan yang layak. “Cara ini akan membuat tingkat stres bertambah dan tentunya membahayakan banyak nyawa,” tulis para pakar dalam surat tersebut.

Sebaliknya, mereka menyerukan langkah social distancing yang ketat dan lebih serius daripada yang direkomendasikan pemerintah saat ini.

“Dengan menerapkan langkah-langkah social distancing, penyebaran dapat diperlambat, dan ribuan nyawa dapat terhindar dari bahaya. Langkah-langkah tambahan dan lebih ketat harus segera diambil, karena sudah menyebar di negara-negara di seluruh dunia.” ujar mereka.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Maret 26, 2020 | Terakhir Diedit: Maret 31, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca