backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

3

Tanya Dokter
Simpan
Konten

Erosi Serviks

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Putri Ica Widia Sari · Tanggal diperbarui 7 hari lalu

Erosi Serviks

Erosi serviks atau yang juga dikenal sebagai ectropion mungkin jarang didengar oleh sebagian orang. Penyakit pada sistem reproduksi ini biasanya dialami oleh wanita muda dengan perubahan hormon. 

Sebenarnya apa itu erosi serviks? Untuk mengetahuinya lebih lanjut, simak penjelasannya berikut ini.

Apa itu erosi serviks?

Erosi serviks atau ectropion adalah kondisi di mana jaringan lunak di luar permukaan serviks (leher rahim) terpapar ke dalam vagina

Ini terjadi ketika jaringan epitel yang biasanya melapisi bagian dalam serviks tumbuh di luar dan menjadi terlihat di dalam vagina. 

Meski namanya erosi serviks (portio), tapi ini bukan berarti serviks mengalami pengikisan.

Ini merupakan kondisi yang ditandai dengan sel skuamosa normal (sel yang lebih keras) di luar serviks bergantian dengan sel kelenjar dari dalam serviks yang lebih lunak.

Kondisi ini bisa terlihat bila wanita melakukan skrining serviks (pap smear) dan area luar serviks terlihat merah.

Namun, jangan khawatir, hal ini tidak berbahaya dan tidak berhubungan dengan perkembangan kanker serviks.

Apa tanda dan gejala erosi serviks?

vagina basah

Gejala atau ciri-ciri erosi serviks yang paling umum adalah terdapat peradangan pada leher rahim dan zona transformasi. 

Namun, pada kebanyakan kasus, wanita tidak mengalami gejala erosi serviks. Kalaupun ada, gejala ini biasanya akan hilang dengan sendirinya tanpa perawatan apa pun. 

Akan tetapi, ada pula wanita yang merasakan gejala ringan sampai mengalami ketidaknyamanan yang lebih parah.

Melansir Cleveland Clinic, berikut ini ciri-ciri erosi serviks yang mungkin dialami oleh wanita. 

  • Perdarahan selama atau setelah berhubungan seks.
  • Sakit saat berhubungan seks.
  • Keputihan yang sangat banyak dan tidak berbau. Keputihan cenderung berbau jika erosi serviks mengalami infeksi.
  • Bercak darah yang tidak normal padahal tidak sedang menstruasi.
  • Nyeri dan perdarahan selama atau setelah pemeriksaan panggul atau pap smear. Hal ini biasanya terjadi saat spekulum dimasukkan ke dalam vagina atau selama pemeriksaan bimanual.
  • Namun, perlu dicatat bahwa gejala di atas tidak selalu mengarah pada ectropion serviks. Jika Anda mengalami salah satu atau beberapa gejala di atas, sebaiknya bicarakan kepada dokter untuk memastikan diagnosisnya.

    Apa penyebab erosi serviks?

    Ektropion atau erosi serviks dapat disebabkan oleh perubahan hormon, terutama hormon estrogen yang tinggi. 

    Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan hormon estrogen adalah karena kehamilan atau wanita sedang menggunakan pil KB yang mengandung hormon. 

    Hal ini karena peningkatan kadar hormon estrogen dapat menyebabkan serviks membengkak dan terbuka.

    Membengkak dan terbukanya serviks dapat membuat sejumlah sel kelenjar yang ada di dalam serviks berpindah keluar serviks.

    Akibatnya, terjadi peradangan pada serviks karena sel lembut yang berada di dalam serviks bertemu dengan sel keras yang ada di luar serviks.

    Walaupun bukan disebabkan oleh hal-hal yang serius, kondisi ini dapat membahayakan kesehatan wanita jika dibiarkan terus.

    Pasalnya, ectropion membuat wanita yang mengalaminya lebih rentan terkena bakteri dan jamur yang kemudian mengakibatkan infeksi.

    Oleh karena itu, biasanya wanita yang memiliki erosi serviks juga mempunyai infeksi serviks.

    Selain itu, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terjadinya erosi serviks, di antaranya:

    Bagaimana cara mendiagnosis erosi serviks?

    periksa vagina

    Mengingat ektropion sering tidak menimbulkan gejala, kebanyakan wanita tidak sadar saat mengalaminya. Biasanya, kondisi ini baru diketahui setelah menjalani pemeriksaan panggul oleh dokter.

    Untuk memastikan diagnosisnya, Anda dapat berkonsultasi kepada dokter untuk menjalani prosedur medis yang sesuai dengan kondisi. 

    Beberapa pemeriksaan yang mungkin ditawarkan adalah sebagai berikut. 

    • Pemeriksaan panggul. Untuk memeriksa organ reproduksi guna melihat tanda-tanda penyakit. 
    • Pap smear. Pemeriksaan sel serviks untuk melihat adanya perubahan sel kanker atau prakanker yang mengarah pada virus HPV.
    • Kolposkopi. Memeriksa serviks menggunakan pencahayaan terang dan alat pembesar untuk melihat serviks lebih dekat. 
    • Biopsi. Pengambilan sampel jaringan kecil untuk diuji dugaan sel kanker. Prosedur ini biasanya membuat wanita merasakan kram di bagian tertentu.

    Apa pengobatan untuk erosi serviks?

    Pada sebagian besar kasus, ektropion serviks tidak memerlukan pengobatan. Apalagi bila gejala yang ditimbulkan tergolong ringan dan tidak mengganggu. 

    Hal ini karena pengobatan yang dilakukan dapat memperparah keputihan (meskipun hanya sementara) dan dapat menyebabkan stenosis serviks, yaitu kondisi di mana saluran endoserviks atau terowongan di bagian bawah rahim tersumbat atau menyempit. 

    Namun, bila gejala yang dialaminya tergolong berat, seperti keluarnya cairan atau bercak yang berlebihan, dokter akan memberikan opsi pengobatan. 

    Beberapa pengobatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

    • Diatermi. Sebuah alat kecil akan mengalirkan panas tinggi ke sel-sel serviks yang tidak pada tempatnya. 
    • Cryotherapy. Sebuah probe dengan suhu dingin tinggi akan membekukan sel-sel di leher rahim dan menghentikan gejala yang timbul. 
    • Silver nitrate. Dokter akan mengoleskan bahan kimia ke leher rahim untuk menutup sel-sel yang menyebabkan perdarahan. 

    Setelah melakukan perawatan ini, Anda mungkin akan merasakan nyeri ringan seperti kram menstruasi dan sedikit perdarahan atau keluarnya cairan. 

    Apakah erosi serviks dapat sembuh?

    Erosi serviks dapat sembuh. Pada umumnya, erosi mulut rahim tidak menyebabkan masalah yang serius dan bisa disembuhkan tanpa pengobatan apa pun, kecuali jika disertai dengan infeksi. Mengutip dari Health Navigator New Zealand, jika kondisi ini disebabkan oleh kehamilan, erosi serviks akan hilang setelah bayi lahir dengan melahirkan normal atau operasi caesar. Sementara bila karena mengonsumsi pil KB dan kondisi semakin mengganggu Anda, Anda umumnya akan diminta untuk mengubah jenis kontrasepsi yang digunakan.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Carla Pramudita Susanto

    General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


    Ditulis oleh Putri Ica Widia Sari · Tanggal diperbarui 7 hari lalu

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan