Apa Bedanya Fibroid Rahim dan Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 23 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Fibroid rahim dan sindrom ovarium polikistik (PCOS) adalah dua dari sekian banyak penyakit yang terjadi pada sistem reproduksi wanita. Kendati sama-sama berkaitan dengan hormon, menyebabkan gangguan ketika menstruasi, dan perlu ditangani secara medis, fibroid rahim serta PCOS sebenarnya memiliki sejumlah perbedaan.

Penyakit pada sistem reproduksi wanita sering kali menunjukkan ciri-ciri yang mirip satu sama lain.

Padahal, setiap kondisi menimbulkan dampak yang beragam sehingga perlu ditangani dengan metode yang berbeda pula. Hal yang sama pun berlaku pada fibroid rahim maupun PCOS.

Perbedaan fibroid rahim dan PCOS

mengatasi fibroid rahim

Fibroid rahim dan PCOS dapat dibedakan berdasarkan penyebab, gejala, komplikasi, serta metode penanganannya.

Walau demikian, tidak menutup kemungkinan wanita yang memiliki fibroid rahim bisa saja menunjukkan karakteristik PCOS atau sebaliknya.

Sebagai gambaran, berikut ini perbedaan antara fibroid rahim dengan PCOS.

1. Definisi

Fibroid rahim adalah jaringan tak normal yang tumbuh pada dinding rahim. Jaringan ini tersusun dari sel-sel yang membelah hingga menjadi tumor. Fibroid biasanya bersifat jinak, tapi sekitar 1 dari 1000 fibroid rahim bisa saja berkembang menjadi kanker.

Sindrom polikistik ovarium (PCOS) adalah kumpulan gangguan yang berkaitan dengan tingginya hormon androgen pada wanita. Tingginya androgen memicu pertumbuhan banyak kista berukuran kecil pada ovarium sehingga fungsi ovarium pun terganggu.

2. Penyebab

Penyebab fibroid rahim dan PCOS tidak diketahui secara pasti, tetapi ada perbedaan antara faktor risiko keduanya. Mengacu Mayo Clinic, fibroid rahim kemungkinan ada kaitannya dengan kondisi berikut:

  • Perubahan gen pada sel-sel otot yang menyusun rahim.
  • Ketidakseimbangan jumlah hormon estrogen dan progesteron.
  • Terdapat zat yang merangsang pembelahan sel secara abnormal.
  • Adanya matriks ekstraseluler yang menyebabkan sel-sel saling menempel dan membentuk fibroid.

Sementara itu, PCOS diduga berhubungan dengan faktor-faktor berikut:

  • Hormon androgen yang berlebihan dalam tubuh.
  • Adanya gen tertentu yang meningkatkan risiko PCOS.
  • Kelebihan insulin, yakni hormon yang mengubah gula menjadi cadangan energi. Insulin yang berlebihan dapat meningkatkan produksi androgen.
  • Peradangan ringan pada tubuh yang terjadi terus-menerus.

3. Gejala

Perbedaan lain antara fibroid rahim dan PCOS terletak pada gejalanya. Fibroid rahim maupun PCOS sama-sama menyebabkan gangguan saat menstruasi, tapi kedua kondisi ini juga menimbulkan gejala lain yang spesifik.

Fibroid rahim umumnya ditandai dengan gejala berupa:

  • Perdarahan menstruasi hebat
  • Menstruasi yang berlangsung lebih dari seminggu
  • Nyeri atau sensasi tertekan pada panggul
  • Nyeri saat berhubungan intim
  • Sering buang air kecil
  • Kembung dan sembelit

PCOS adalah sindrom, atau dengan kata lain merupakan kumpulan gejala. Maka dari itu, gejala PCOS biasanya lebih bervariasi dibandingkan fibroid rahim, misalnya:

  • Menstruasi tidak teratur atau tidak menstruasi sama sekali
  • Pertumbuhan rambut tubuh yang berlebihan
  • Pertambahan berat badan
  • Kulit berminyak atau berjerawat
  • Rambut tipis dan rontok

4. Komplikasi

bahaya fibroid rahim

Perbedaan gejala fibroid rahim dan PCOS berdampak pada komplikasi yang berlainan pula.

Meski tidak berbahaya, menstruasi hebat akibat fibroid rahim dapat menyebabkan anemia. Selain itu, fibroid rahim juga bisa meningkatkan risiko komplikasi kehamilan.

Sementara itu, PCOS yang tidak dikelola dapat menimbulkan komplikasi berupa:

  • Sulit hamil, keguguran, atau melahirkan bayi prematur
  • Depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan makan
  • Penyakit diabetes tipe 2
  • Hipertensi dan kolesterol tinggi
  • Gangguan tidur
  • Kanker rahim

5. Penanganan

Jika fibroid rahim tidak menimbulkan gejala, Anda kemungkinan hanya perlu memantau perkembangannya. Namun, dengan pertimbangan tertentu, dokter dapat memberikan obat-obatan, menyarankan penggunaan IUD (spiral), atau melakukan operasi.

Bagi wanita dengan PCOS, fokus penanganan adalah untuk mengelola gejala yang ada. Dokter mungkin akan menyarankan gaya hidup sehat agar berat badan Anda tetap ideal.

Berat badan ideal dapat menunjang kesehatan, fungsi obat, bahkan membantu masalah kesuburan.

Jenis obat yang diberikan disesuaikan dengan keluhan Anda. Guna mengatasi masalah menstruasi, Anda mungkin memerlukan pil KB atau terapi progestin. Bila Anda bermasalah dengan rambut yang tumbuh berlebihan, jenis obatnya tentu berbeda.

Fibroid rahim dan PCOS sama-sama memengaruhi sistem reproduksi wanita, tapi ada perbedaan di antara keduanya.

Dengan memahami perbedaan tersebut, akan lebih mudah bagi Anda untuk menangani gejala maupun menjalani perawatan.

Berapa Banyak Kalori yang Anda Butuhkan?

Selain rajin berolahraga, mengetahui berapa banyak asupan kalori yang harus dikonsumsi juga penting untuk menjaga kesehatan. Cari tahu kalori harian yang Anda butuhkan di sini.

Cari Tahu!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Pilihan Pengobatan Bagi Pengidap PCOS

Sindrom ovarium polikistik (PCOS) dapat membuat wanita sulit hamil. Enam jenis pengobatan ini paling direkomendasikan untuk wanita pengidap PCOS.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Kesehatan Wanita, Sindrom Polikistik Ovarium (PCOS) 4 Agustus 2019 . Waktu baca 4 menit

Apakah Fibroid Rahim Berbahaya Bagi Kehamilan?

Fibroid rahim memang tergolong sebagai tumor jinak. Namun, apakah fibroid rahim memiliki bahaya tertentu terhadap kesehatan ibu dan janin?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Masalah Kehamilan, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 10 Mei 2019 . Waktu baca 4 menit

5 Penyebab yang Bisa Bikin Wanita Punya Kumis Tebal Seperti Pria

Selain faktor hormon dan keturunan, ada banyak kondisi yang bisa jadi seorang wanita memiliki kumis tebal. Apa saja? Cari tahu di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Wanita 23 Desember 2018 . Waktu baca 3 menit

Perut Kembung Setelah Berhubungan Seks, Apa Penyebabnya?

Apa yang biasanya Anda rasakan setelah seks? Capek dan ngantuk, tapi bahagia? Atau malah kembung dan begah? Apa penyebab kembung setelah berhubungan seks?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Seksual, Tips Seks 17 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mioma uteri atau fibroid rahim

Mioma Uteri (Fibroid Rahim)

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
pcos atau sindrom ovarium polikistik adalah

PCOS (Sindrom Ovarium Polikistik)

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 2 Januari 2021 . Waktu baca 17 menit
melahirkan normal setelah miomektomi

Masih Bisakah Menjalani Persalinan Normal Setelah Miomektomi?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 26 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit
flek cokelat setelah haid

Apakah Normal Jika Muncul Flek Cokelat Setelah Haid?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 12 Agustus 2019 . Waktu baca 7 menit