Kenali Periode Perimenopause, Masa Transisi Wanita Menuju Menopause

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 1 Maret 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Perimenopause (premenopause) adalah sebuah masa transisi dari siklus menstruasi normal menuju menopause. Biasanya, ada beberapa gejala yang menandai kondisi ini sehingga Anda bisa mengetahui kapan waktu reproduksi akan berakhir. Kenali lebih dalam soal perimenopause melalui penjelasan di bawah ini.

 

Berapa Banyak Kalori yang Anda Butuhkan?

Selain rajin berolahraga, mengetahui berapa banyak asupan kalori yang harus dikonsumsi juga penting untuk menjaga kesehatan. Cari tahu kalori harian yang Anda butuhkan di sini.

Cari Tahu!
active

Apa itu perimenopause?

Perimenopause adalah periode yang menandakan bahwa Anda sudah mendekati masa menopause.

Masa ini ditandai dengan ketidakstabilan hormon reproduksi. Perlu diketahui bahwa kemungkinan setiap wanita akan mengalaminya pada usia yang berbeda.

Sebagian wanita yang berusia sekitar 40 tahun akan merasakan gejala dari masa transisi ini, tetapi tidak sedikit pula wanita yang mengalami hal tersebut di usia 30-an.

Gejala perimenopause akan bertahan sampai Anda mencapai menopause, yaitu ketika indung telur berhenti melepaskan telur.

Setelah itu, selama 1-2 tahun terakhir dari masa transisi ini, kemungkinan besar Anda akan mengalami gejala menopause.

Apa saja gejala perimenopause?

Sebenarnya, durasi serta gejala perimenopause atau premenopause yang dialami setiap wanita sangat beragam.

Ada sebagian wanita yang hanya merasakan gejalanya selama beberapa bulan, ada pula yang mengalaminya selama 3-4 tahun.

Beberapa gejala umum yang menandakan Anda sedang berada dalam masa transisi ini, antara lain:

1. Menstruasi tidak teratur

lama masa menstruasi pendek

Salah satu gejala perimenopause atau premenopause yang cukup umum adalah menstruasi tidak teratur.

Seperti dilansir dari laman American College of Obstetricians and Gynecologist, kadar hormon progesteron dan estrogen akan tetap stabil pada siklus menstruasi normal.

Ovulasi biasanya terjadi pada pertengahan siklus dan menstruasi akan terjadi sekitar 2 minggu setelahnya.

Akan tetapi, jika Anda mengalami premenopause, keteraturan tersebut mungkin tidak terjadi. Gejala yang akan muncul, seperti:

  • Menstruasi lebih lama dan darah yang mengalir lebih deras.
  • Beberapa bulan lainnya mungkin durasi haid lebih pendek dan ringan.
  • Jumlah hari antarsiklus menstruasi dapat bertambah maupun berkurang.

2. Hot flashes dan kesulitan tidur

penyebab hot flashes adalah

Hot flashes adalah gejala yang paling umum dari perimenopause. Biasanya, gejala ini akan berlangsung selama bertahun-tahun.

Semakin dini Anda mengalami gejala ini, tidak menutup kemungkinana hot flashes akan semakin lama mengganggu aktivitas harian.

Jika terjadi pada malam hari, hawa panas yang terasa akan membuat Anda berkeringat sehingga disebut sebagai keringat malam.

Tidak jarang kualitas tidur dapat berkurang karena rasa panas tersebut membuat para wanita tetap terjaga pada malam hari.

Oleh karena itu, ada beberapa tips yang mungkin bisa Anda coba untuk menghadapi hot flashes, seperti:

  • Minum sedikit air dingin sebelum tidur.
  • Membuat suhu kamar tetap nyaman dan dingin.

3. Suasana hati tidak menentu

suasana hati

Tidak jarang, wanita yang mengalami premenopause identik dengan perubahan suasana hati. Mulai dari cepat marah hingga meningkatnya risiko depresi.

Ada beberapa faktor yang memengaruhi perubahan suasana hati. Sebagai contoh, produksi hormon estrogen dan progesteron yang berkurang membuat tubuh dan otak mengalami banyak perubahan.

4. Gairah seksual menurun

gejala perimenopause

Seiring bertambahnya usia, tidak jarang para wanita yang memasuki masa perimenopause mengalami penurunan hasrat seksual.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa ketidakstabilan hormon reproduksi membuat Anda tidak begitu bergairah untuk berhubungan intim.

Akan tetapi, jika Anda memiliki kehidupan seks yang memuaskan sebelum premenopause, kemungkinan hasrat seksual pun tidak akan berubah drastis.

5. Tingkat kesuburan menurun

gejala perimenopause

Selain gairah seks yang berubah, gejala umum perimenopause atau premenopause lainnya adalah tingkat kesuburan menurun.

Penyebabnya adalah masa subur yang tidak teratur sehingga peluang kehamilan pun menurun. Namun, bukan berarti Anda tidak bisa mempunyai anak sama sekali.

Selama masih mengalami menstruasi, meskipun tidak teratur, Anda masih berpeluang untuk hamil. Cobalah untuk berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan solusi tepat.

Selain hal-hal yang sudah disebutkan di atas, berikut adalah gejala atau tanda lainnya dari perimenopause:

  • Sakit kepala.
  • Tubuh, otot, serta sendi terasa sakit.
  • Sering ke toilet untuk buang air kecil.
  • Tulang menjadi lebih rapuh.
  • Perubahan pada tingkat kolesterol.
  • Area vagina menjadi lebih kering.

Apa penyebab terjadinya perimenopause?

perimenopause

Setidaknya, Anda sudah mengetahui bahwa premenopause adalah proses alami yang kemungkinan terjadi pada setiap wanita.

Mengutip dari Mayo Clinic, penyebab dari transisi menopause atau perimenopause yang kebanyakan dialami wanita adalah ketidakseimbangan produksi hormon estrogen dan progesteron.

Selain itu, berikut adalah faktor risiko yang kemungkinan dapat membuat Anda lebih cepat mengalami perimenopause, seperti:

Faktor keturunan.

  • Merokok.
  • Sedang dalam masa perawatan kanker.
  • Pernah melakukan histeroktomi.

Apa saja pengobatan perimenopause?

Ada kalanya, dokter sulit untuk mendiagnosis salah satu kondisi atau masalah kesehatan wanita yang satu ini.

Tidak bisa sembarangan, dokter akan melihat terlebih dahulu riwayat kesehatan, usia, gejala, serta melakukan pemeriksaan fisik.

Lalu, ada kemungkinan Anda akan melakukan tes darah untuk mengukur kadar hormon.

Berikut adalah perawatan serta pengobatan premenopause, di antaranya adalah:

1. Terapi hormon

Terapi hormon estrogen menjadi pilihan pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi gejala perimenopause seperti hot flashes.

Dokter mungkin akan memberikan dosis estrogen terendah untuk meredakan sebagian gejala.

Lalu, ada kemungkinan Anda juga diberikan hormon progestin untuk membantu mencegah tulang keropos.

2. Estrogen untuk vagina

Salah satu cara untuk meredakan vagina kering adalah memberikan estrogen yang tersedia dalam bentuk tablet atau krim.

Perawatan atau pengobatan gejala perimenopause ini akan diserap oleh jaringan vagina sehingga membantu meredakan kekeringan dan ketidaknyamanan saat berhubungan intim.

3. Antidepresan

Pada kondisi tertentu, ada kemungkinan sebagian wanita tidak bisa mendapatkan perawatan gejala premenopause seperti terapi hormon.

Maka dari itu, dokter akan memberikan antidepresan jenis SSRIs untuk membantu mengatasi hot flashes dan perubahan suasana hati.

4. Gabapentin

Selain antidepresan, dokter juga kemungkinan akan memberikan alternatif obat lainnya seperti gabapentin.

Tidak hanya untuk mengobati kejang, obat ini juga dapat membantu mengurangi gejala seperti hot flashes.

Sebelum mengonsumsi obat, jangan lupa untuk tetap berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter karena setiap orang mempunyai kondisi tubuh yang berbeda.

Apa saja perawatan rumahan yang bisa dilakukan?

Anda juga bisa melakukan perawatan rumahan atau gaya hidup sehat utuk membantu meringankan gejala perimenopause. Berikut adalah perawatan yang direkomendasikan dokter, yaitu:

  • Melakukan aktivitas fisik serta olahraga untuk meningkatkan kualitas tidur dan suasana hati.
  • Melakukan kegiatan yang dapat mengurangi perasaan stres.
  • Usahakan untuk menjaga jadwal tidur yang konsisten.
  • Mengonsumsi makanan bernutrisi untuk mencegah osteoporosis dan penyakit jantung.
  • Tetap aktif secara seksual untuk membantu meningkatkan aliran darah ke vagina.

Komplikasi perimenopause

darah haid

Pada dasarnya, semua wanita pasti akan mengalami masa perimenopause dan kondisi ini sangat normal terjadi.

Namun, ada pula beberapa komplikasi yang mungkin bisa terjadi, seperti:

  • Perdarahan menstruasi sangat berat dan banyak yang ditandai dengan terlalu sering mengganti pembalut.
  • Perdarahan berlangsung selama lebih dari tujuh hari.
  • Perdarahan terjadi di antara siklus menstruasi berlangsung.
  • Siklus menstruasi terjadi kurang dari 21 hari secara teratur.

Jika Anda mengalami gejala atau tanda di atas, segera periksakan ke dokter karena dikhawatirkan terdapat gangguan pada sistem reproduksi dan membutuhkan penanganan yang tepat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Obat Pelancar Haid untuk Anda yang Sering Telat Datang Bulan

Sering telat haid umumnya bukan masalah besar. Namun jika Anda ingin cepat hamil, mungkin ada baiknya mulai mengonsumsi obat pelancar haid. Apa yang bagus?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Wanita, Menstruasi 14 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit

Menopause

Pada akhirnya setiap wanita akan mengalami menopause. Untuk itu, cari tahu informasi lengkap seputar menopause di artikel ini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Wanita, Menopause 12 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

Setelah Kuret, Kapan Bisa Menstruasi Lagi Seperti Biasa?

Setelah kuret, seringkali wanita merasa khawatir dengan siklus menstruasinya. Kapan menstruasi terjadi kembali setelah keguguran?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Persalinan, Melahirkan, Kehamilan 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Endometriosis

Endometriosis adalah penyakit. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, pengobatan, obat, diet, serta cara mengontrol dan mencegah penyakit ini di Hello Sehat

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Wanita, Penyakit pada Wanita 3 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

Direkomendasikan untuk Anda

alat reproduksi wanita

Mengenal Alat Reproduksi Wanita dan Fungsinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
haid hanya 2 hari

Haid Hanya Berlangsung 2 Hari, Normal Apa Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 8 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
vaginitis atau radang vagina

Vaginitis

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 1 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
bumetanide

Kenapa Perempuan Wajib Buang Air Kecil Setelah Berhubungan Seks?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 29 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit