Oliguria, Keluarnya Urine Lebih Sedikit dari Biasanya

    Oliguria, Keluarnya Urine Lebih Sedikit dari Biasanya

    Pernahkah Anda merasakan buang air kecil lebih sedikit dari biasanya? Mungkin saja, Anda sedang mengalami kondisi yang disebut oliguria.

    Yuk, ketahui penyebab dan cara mengobati oliguria berikut ini.

    Apa itu oliguria?

    Oliguria adalah istilah medis untuk menggambarkan kondisi penurunan volume urine atau air kencing yang keluar dari dalam tubuh.

    Gangguan saluran kemih ini biasanya Anda alami akibat dehidrasi, penyumbatan, atau efek samping obat-obatan tertentu.

    Orang dewasa normal umumnya mengeluarkan 1.000–2.000 ml urine per hari. Sementara bila mengalami oliguria, volume urine bisa menurun hingga kurang dari 400 ml per hari.

    Sebagian besar kasus oliguria dapat diobati di rumah. Namun, kondisi ini bisa menjadi serius bila urine keluar sangat sedikit atau tidak sama sekali yang disebut anuria.

    Dalam kasus anuria, volume air kencing dapat berkurang mulai dari 0–100 ml dalam 24 jam.

    Meski banyak faktor yang bisa memengaruhinya, anuria umumnya menunjukkan gejala akut atau kronis yang terjadi pada organ ginjal.

    Seberapa umum kondisi ini?

    Oliguria dapat memengaruhi siapa saja dari segala usia yang umumnya menjadi tanda paling awal dari gangguan ginjal.

    Dikutip dari Medscape, bayi dan anak-anak lebih rentan terhadap oliguria. Hal ini lebih sering terjadi akibat kelainan bawaan atau penyakit yang memicu dehidrasi.

    Tanda dan gejala oliguria

    batu ginjal atau kencing batu

    Oliguria bukanlah penyakit tertentu, melainkan tanda dari gangguan pada saluran kemih.

    Orang yang mengalami oliguria akan mengeluarkan urine lebih sedikit dari biasanya. Hal ini juga bisa disertai gejala lain, tergantung pada kondisi yang menyebabkannya.

    Beberapa tanda yang umum menyertai kondisi ini, antara lain:

    • warna urine lebih pekat dan gelap dari biasanya,
    • terdapat darah dalam urine (hematuria),
    • pembengkakan kaki dan lengan,
    • sakit pinggang bagian samping,
    • mual dan muntah,
    • kelesuan, serta
    • demam.

    Kapan harus periksa ke dokter?

    Jika merasakan penurunan pada produksi urine, segera periksa ke dokter. Hal ini membantu Anda mendapatkan penanganan yang tepat sekaligus mengurangi risiko komplikasi.

    Pasalnya, fungsi organ ginjal yang terganggu atau saluran kemih yang tersumbat bisa memicu kerusakan yang lebih serius dan mengancam jiwa.

    Segera hubungi dokter Anda bisa berkurangnya produksi urine disertai dengan:

    • muntah, diare, dan demam tinggi,
    • jantung berdetak cepat,
    • sakit kepala,
    • pusing, dan
    • rasa ingin pingsan.

    Penyebab oliguria

    Terdapat berbagai kondisi yang bisa menyebabkan penurunan produksi urine, mulai dari yang bersifat sementara hingga gangguan lain yang lebih serius.

    Berikut ini adalah sejumlah kondisi penyebab oliguria yang perlu Anda waspadai.

    1. Dehidrasi

    Dehidrasi disebabkan oleh hilangnya terlalu banyak cairan dari tubuh. Kondisi ini merupakan penyebab paling umum dari menurunnya produksi air kencing.

    Diare, muntah, atau terlalu banyak berkeringat bisa menjadi penyebab dehidrasi bila Anda tidak segera mengganti cairan tubuh yang hilang.

    2. Cedera atau infeksi

    Cedera serius seperti luka bakar dapat membuat Anda dehidrasi dan lebih jarang buang air kecil.

    Jenis trauma dan infeksi lain juga lebih berisiko mengalami oliguria, termasuk perdarahan, syok anafilaksis, dan syok septik setelah infeksi atau operasi.

    3. Penyumbatan saluran kemih

    Berkurangnya volume urine juga bisa terjadi saat terjadi penyumbatan atau obstruksi saluran kemih. Kondisi ini bisa memengaruhi ginjal, ureter, kandung kemih, hingga uretra.

    Penyumbatan bisa terjadi akibat pembesaran prostat atau batu ginjal yang menghambat aliran urine. Orang dewasa umumnya lebih berisiko terkena gangguan ini.

    4. Efek samping obat-obatan

    Konsumsi obat-obatan tertentu membuat Anda merasakan efek samping berupa buang air kecil lebih sedikit dari biasanya.

    Berikut ini sejumlah obat-obatan yang bisa menimbulkan efek samping oliguria.

    • Obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID), seperti aspirin dan ibuprofen.
    • Obat tekanan darah tinggi, seperti ACE inhibitor.
    • Antibiotik, seperti ciprofloxacin dan penicillin.
    • Antikoligernik untuk memblokir gerakan otot tak sadar.

    Komplikasi oliguria

    Jika mengalami oliguria, Anda perlu segera menanganinya. Penurunan produksi urine yang tidak diobati berisiko menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa.

    Orang dengan oliguria berisiko 30–70% mengembangkan infeksi. Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh konsumsi antibiotik tertentu hingga uremia, kondisi urine masuk ke dalam darah.

    Komplikasi kardiovaskular juga dapat terjadi akibat kelebihan cairan dan natrium dalam tubuh.

    Anda tentu lebih berisiko untuk mengembangkan sejumlah gangguan, seperti tekanan darah tinggi, anemia, disfungsi trombosit, hingga gagal jantung.

    Oliguria akibat dehidrasi mungkin bisa Anda tangani sendiri, tetapi sebagian besar kasus membutuhkan perawatan medis.

    Maka dari itu, Anda lebih baik segera berkonsultasi kepada dokter bila merasakan volume air kencing lebih sedikit daripada biasanya.

    Diagnosis oliguria

    jenis inkontinensia urine

    Oliguria umumnya dapat didiagnosis melalui pemeriksaan fisik. Dokter bisa menyarankan tes medis lainnya untuk mengetahui penyebab pasti dari kondisi ini.

    Pertama kali, dokter akan menanyakan tentang riwayat medis dan gejala yang Anda alami, seperti dehidrasi dan nyeri perut bagian bawah atau panggul.

    Dokter juga dapat mengetahui oliguria dengan mengukur volume urine yang Anda keluarkan selama 24 jam seperti berikut ini.

    • Bayi: kurang dari 1 ml per kilogram berat badan per jam dalam waktu 24 jam.
    • Anak-anak: kurang dari 0,5 ml per kilogram berat badan per jam dalam waktu 24 jam.
    • Orang dewasa: kurang dari 400 ml atau 17 ml per jam dalam waktu 24 jam.

    Pemeriksaan medis lainnya

    Selanjutnya, Anda juga bisa mendapatkan lebih banyak tes medis untuk menentukan penyebab penurunan jumlah urine dari dalam tubuh.

    Pemeriksaan berikut ini juga sekaligus mengetahui apakah oliguria menyebabkan kerusakan ginjal atau tidak.

    • Tes urine: memeriksa sampel urine untuk mengecek infeksi saluran kemih.
    • Tes darah: memeriksa sampel darah untuk mengecek kadar elektrolit dan fungsi ginjal.
    • USG atau CT Scan: tes pencitraan untuk memeriksa penyumbatan (obstruksi) atau ginjal bengkak (hidronefrosis).
    • Sistoskopi: memeriksa dengan tabung kecil lentur dengan lensa kamera (sistoskop) untuk melihat ke dalam kandung kemih.

    Pengobatan oliguria

    Umumnya dokter spesialis ginjal (nefrologi) yang akan membantu dalam mengatasi oliguria.

    Pengobatan oliguria tergantung dari penyebabnya. Jika Anda mengalami dehidrasi, dokter akan menyarankan Anda untuk minum lebih banyak air dan elektrolit.

    Namun dalam kasus dehidrasi parah, Anda akan mendapatkan cairan melalui infus intravena yang akan langsung masuk ke pembuluh darah di lengan.

    Sementara itu, minum air lebih banyak dapat membantu membersihkan batu ginjal kecil yang menimbulkan sumbatan dan memicu air kencing berkurang.

    Jika batu ginjal berukuran lebih besar, dokter akan menyarankan terapi gelombang kejut untuk memecah batu atau operasi bedah untuk mengangkatnya.

    Dalam kasus oliguria yang disertai gagal ginjal, Anda mungkin memerlukan prosedur cuci darah (dialisis) atau transplantasi ginjal sesuai tingkat keparahannya.

    Pencegahan oliguria

    Pada umumnya, kebanyakan kasus oliguria disebabkan oleh dehidrasi. Hilangnya cairan tubuh bisa menurunkan frekuensi buang air kecil dan volume urine yang Anda keluarkan.

    Maka dari itu, penuhi kebutuhan cairan tubuh dengan rutin minum air putih. Anda mungkin perlu meningkatkan asupan cairan saat demam, diare, atau mengalami sakit lainnya.

    Oliguria bisa terjadi akibat masalah kesehatan yang Anda alami, mulai dari dehidrasi hingga gangguan pada saluran kemih.

    Penanganan segera untuk kondisi ini dapat membantu Anda mencegah komplikasi. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasikan kepada dokter.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Oliguria. MSD Manual Professional Edition. (2020). Retrieved 24 November 2021, from https://www.merckmanuals.com/professional/critical-care-medicine/approach-to-the-critically-ill-patient/oliguria

    Oliguria: Background, Etiology, Epidemiology. Medscape. (2017). Retrieved 24 November 2021, from https://emedicine.medscape.com/article/983156-overview

    Urine output – decreased. MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2019). Retrieved 24 November 2021, from https://medlineplus.gov/ency/article/003147.htm

    Dehydration. MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2021). Retrieved 24 November 2021, from https://medlineplus.gov/dehydration.html

    Urinary obstruction. University of Iowa Hospitals & Clinics. (2016). Retrieved 24 November 2021, from https://uihc.org/health-topics/urinary-obstruction

    How much water do you need to stay healthy?. Mayo Clinic. (2020). Retrieved 24 November 2021, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/water/art-20044256

    Chen, J., & Zeng, R. (2019). Oliguria, Anuria and Polyuria. Handbook Of Clinical Diagnostics, 77-78. https://doi.org/10.1007/978-981-13-7677-1_25

    Ghane Shahrbaf, F., & Assadi, F. (2015). Drug-induced renal disorders. Journal of renal injury prevention, 4(3), 57–60. https://doi.org/10.12861/jrip.2015.12

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Dec 02, 2021
    Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro