home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Masokis, Ketika Seseorang Merasa Puas Berhubungan Seks Pakai Kekerasan

Masokis, Ketika Seseorang Merasa Puas Berhubungan Seks Pakai Kekerasan

Semua orang di dunia ini pasti memiliki fantasi seksual yang berbeda-beda. Namun tak jarang, fantasi-fantasi tersebut mengarah ke penyimpangan seksual yang membahayakan, misalnya berhubungan seks sembari menyakiti pasangannya bahkan menyakiti diri sendiri demi mencapai kepuasan. Nah, kelainan seksual ini disebut dengan masokis (masokisme).

Sebenarnya, seberapa berbahayakah kondisi ini dan apakah perlu pengobatan khusus? Simak penjelasan selengkapnya, ya!

Apa itu masokis?

orgasme prematur wanita

Masokis atau masokisme adalah kondisi saat seseorang merasa terangsang ketika dipukul, dicaci-maki, diikat, maupun disakiti secara fisik saat sedang berhubungan seksual.

Bahkan, rangsangan yang ia dapat meski harus disakiti secara fisik tersebut tetap bisa membuatnya mencapai orgasme.

Kondisi masokis ini termasuk dalam kategori parafilia alias kelainan seksual.

Selain masokis, beberapa kelainan seksual lain juga meliputi eksibionis (menunjukkan alat kelamin di depan umum) dan voyeurism (mengintip orang lain tanpa ketahuan).

Nekrofilia (berhubungan seks dengan mayat), fetish, hingga pedofilia juga termasuk beberapa bentuk kelainan seksual atau parafilia.

Parafilia adalah dorongan serta perilaku tidak wajar atau menyimpang untuk membangkitkan gairah seksual seseorang.

Seseorang yang didiagnosis masokisme biasanya akan mengalami gejala tertentu.

Gejala tersebut di antaranya berupa rasa cemas berlebih, mengalami rasa malu tanpa sebab, dan pikirannya dipenuhi berbagai ide masokis.

Namun, seseorang yang punya kecenderungan melakukan masokisme bisa saja tidak dikatakan sebagai masokis apabila mereka mampu mengendalikan pikirannya.

Artinya, seseorang bukan termasuk masokis apabila tidak memiliki gejala lain seperti yang dijelaskan di atas dan mampu memenuhi kepuasan seksnya tanpa melakukan masokisme.

Masokis ternyata punya jenis lainnya

posisi seks aman, hubungan seksual dengan arthritis

Masokisme sebetulnya punya jenis spesifik lain, namanya asphyxiophilia.

Asphyxiophilia adalah kondisi ketika seseorang menerima kepuasan seksual dengan cara menahan napas dirinya sendiri yang dibantu dilakukan oleh pasangannya.

Hal itu bisa dilakukan dengan cara dicekik, menutup wajah dengan bantal, atau hal lain yang membuat mereka menahan napas.

Tak jarang, banyak penderita masokisme jenis ini yang berujung fatal karena kehabisan napas.

Apakah masokis cukup umum terjadi?

mengatasi kecanduan seks

Ternyata, masokis adalah kondisi yang tergolong cukup umum. Fenomena kelainan seksual ini juga telah dikaji dalam beberapa studi.

Salah satunya adalah sebuah studi dari Journal of Sex Research. Penelitian tersebut melibatkan 1.040 responden dewasa berusia 18-64 tahun.

Hasilnya, sebanyak 33,9% setidaknya pernah 1 kali melakukan perilaku parafilia seumur hidupnya.

Sementara itu, sebanyak 23,8% pria dan 19,2% wanita tergolong ke dalam masokis.

Apa tanda dan gejala seseorang yang masokis?

pura-pura orgasme

Tak semua orang yang memiliki kecenderungan untuk menerima kekerasan saat berhubungan seksual bisa dikategorikan sebagai masokis.

Lalu, bagaimana cara mengetahui jika seseorang memiliki masokis?

Menurut situs Grace Point Wellness, berikut adalah gejala-gejala yang menentukan seseorang mengalami kelainan seksual masokis:

  • Dorongan fantasi atau perilaku seksual telah ia rasakan setidaknya selama 6 bulan, meliputi aktivitas kekerasan seperti dipermalukan, dihina, diikat, atau dipukul.
  • Dorongan fantasi atau perilaku seksual tersebut cukup mengganggu aspek kehidupan lain, seperti pekerjaan dan hubungan sosial.

Perilaku seksual masokisme ini biasanya sudah bisa terlihat dan terdiagnosis sejak usia dewasa awal, bahkan kadang-kadang dimulai dari usia anak-anak.

Jika dilihat sekilas, masokis tampak mirip dengan BDSM.

Hanya saja, BDSM lebih melibatkan 2 orang pelaku hubungan seksual yang sama-sama menikmati kekerasan fisik dan verbal selama melakukan hubungan intim.

Apa penyebab seseorang mengalami masokis?

tentang seks

Sampai saat ini penyebab kelainan seksual masokisme belum diketahui secara pasti.

Namun, Psychology Today mengatakan bahwa ada beberapa teori yang menduga kelainan seksual ini terjadi ketika fantasi seseorang tidak tertahankan.

Ada juga teori lain yang mengatakan bahwa masokis adalah sebuah cara untuk diri dari kenyataan, misalnya seseorang merasa lebih gagah saat ia melakukan tindakan ini di ranjang.

Akan tetapi, di balik itu, ia sebenarnya merupakan orang yang pemalu, pendiam, bahkan takut kepada lawan jenis.

Nah, dengan menjalankan peran sesuai dengan fantasinya, orang-orang yang terg0long masokis ini merasa menjadi pribadi baru yang berbeda.

Selain itu, beberapa teori psikoanalitik menduga bahwa perilaku masokis ini disebabkan oleh trauma masa kecil (misalnya pelecehan seksual) atau pengalaman masa kecil yang berhubungan dengan kasus parafilia lainnya.

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi masokis?

penyebab wanita susah orgasme

Biasanya, dokter atau psikiater dapat mendiagnosis kasus masokis bila seseorang telah mengalami rangsangan seksual berulang yang intens selama setidaknya 6 bulan.

Namun, rangsangan seksual yang diterima juga disertai dengan aktivitas kekerasan lainnya, seperti dipukul, dihina, diikat, atau mengalami beberapa bentuk penderitaan lainnya.

Oleh karena itu, berikut adalah beberapa pertanyaan yang biasanya diajukan dokter atau psikiater untuk mendiagnosis masokisme:

  1. Bagaimana kondisi kesehatan mental, fisik, serta keadaan emosional Anda?
  2. Apakah ada pikiran, perilaku, serta dorongan seksual yang sulit dikendalikan, seperti hypersex?
  3. Apakah Anda mengonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang?
  4. Bagaimana hubungan sosial Anda, misalnya dengan keluarga atau pasangan?
  5. Apakah ada masalah-masalah yang dipicu dari perilaku seksual Anda?

Apa masokisme bisa diobati?

terapis seks

Masokis mungkin terasa menyenangkan bagi orang yang menyukainya.

Hanya saja, jika kelainan seksual ini sudah cukup parah, pengobatan bisa jadi jalan tempuh terbaik.

Ya, masokis adalah kelainan seksual yang bisa diatasi secara medis. Ada beberapa cara yang harus dilakukan untuk mengatasi kelainan seksual masokisme, yakni:

1. Metode psikoterapi

Psikoterapi dilakukan untuk mengetahui dan mengatasi penyebab pasien masokisme melakukan hal menyimpang serta senang menerima kekerasan dari pasangan seksualnya.

Terapis nantinya akan membantu pelaku mengubah pola pikir saat berhubungan seks dan berupaya memunculkan empati di dalam diri pelaku masokis.

Hal ini bertujuan untuk mengubah keyakinan pelaku bahwa perilaku seks yang ia lakukan selama ini salah, berbahaya, dan tidak boleh dilakukan.

Sementara itu, upaya memunculkan empati dilakukan dengan tujuan membantu pelaku memahami sisi korban yang menderita akibat perilaku masokis.

Pemahaman bahwa perilaku itu berakibat fatal, baik dari sisi korban maupun pelaku, akan berusaha ditanamkan di dalam diri pelaku.

2. Terapi kognitif

Kelainan seksual yang satu ini juga bisa dibantu dengan terapi kognitif. Terapi kognitif membantu pasien untuk mengelola hasrat seksual mereka dengan cara yang lebih sehat.

Salah satu strategi psikoterapi ini adalah dengan cara membuat pelaku yang terlibat masokisme menjadi korban, kemudian mengalami peristiwa negatif.

Ini bertujuan untuk mengurangi keinginan pelaku dalam melakukan kekerasan saat berhubungan seksual.

3. Terapi psikodinamik

Pengobatan masokis ini mengaitkan kenangan dan konflik masa lalu yang mungkin tidak Anda sadari tetapi turut memengaruhi perilaku menyimpang seksual Anda saat ini.

Terapi psikodinamik akan membantu mengungkap pengaruh masa awal anak-anak mengenai kebiasaan pelaku masokis saat ini.

Metode ini juga membantu menggali faktor saat ini yang turut memicu munculnya kecanduan perilaku seks.

4. Minum obat antidepresan

Obat antidepresan sering diresepkan sebagai pengobatan untuk mengurangi dorongan seks seseorang.

Selain itu, para penderita masokis mungkin diberi obat yang berguna untuk menurunkan kadar testosteron agar mengurangi intensitas ereksi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Sexual Masochism Disorder – Psychology Today. (2019). Retrieved January 26, 2021, from https://www.psychologytoday.com/us/conditions/sexual-masochism-disorder 

Betchen, SJ. (2014). Sexual Masochism – Psychology Today. Retrieved January 26, 2021, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/magnetic-partners/201403/sexual-masochism 

Masochism – Tufts Medical Center. (n.d.). Retrieved January 26, 2021, from https://hhma.org/healthadvisor/aha-masochis-bha/ 

Compulsive sexual behavior – Mayo Clinic. (2020). Retrieved January 26, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/compulsive-sexual-behavior/diagnosis-treatment/drc-20360453 

Compulsive sexual behavior – NCH Healthcare System. (2020). Retrieved January 26, 2021, from https://www.nchmd.org/education/mayo-health-library/details/CON-20319256 

Sexual Masochism Disorder – Gracepoint Wellness. (n.d.). Retrieved January 26, 2021, from https://www.gracepointwellness.org/98-sexual-disorders/article/586-sexual-masochism-disorder 

Coluccia, A., Gabbrielli, M., Gualtieri, G., Ferretti, F., Pozza, A., & Fagiolini, A. (2016). Sexual Masochism Disorder with Asphyxiophilia: A Deadly yet Underrecognized Disease. Case Reports In Psychiatry, 2016, 1-4.

Segarra-Echebarría, R., Crego-Meda, M., Arrillaga-Trueba, A., & Sáenz-Herrero, M. (2014). Paraphilic Disorders: Sexual Sadist and Masochistic Disorders. Psychopathology In Women, 237-265. https://doi.org/10.1007/978-3-319-05870-2_11

McManus, M., Hargreaves, P., Rainbow, L., & Alison, L. (2013). Paraphilias: definition, diagnosis and treatment. F1000prime Reports, 5. https://doi.org/10.12703/P5-36 

Beech, A., & Harkins, L. (2012). DSM-IV paraphilia: Descriptions, demographics and treatment interventions. Aggression And Violent Behavior, 17(6), 527-539. https://doi.org/10.1016/j.avb.2012.07.008 

Joyal, C. C., & Carpentier, J. (2017). The Prevalence of Paraphilic Interests and Behaviors in the General Population: A Provincial Survey. Journal of sex research, 54(2), 161–171. https://doi.org/10.1080/00224499.2016.1139034 

Fisher, KA., Marwaha, R. (2020). Paraphilia. StatPearls.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Novita Joseph
Tanggal diperbarui 3 minggu lalu
x