home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

BDSM, Praktik Seksual yang Melibatkan Permainan Peran dan Kekerasan

BDSM, Praktik Seksual yang Melibatkan Permainan Peran dan Kekerasan

Sudahkah Anda menonton film Fifty Shades of Grey? Ya, film yang cukup kontroversial dan menggemparkan ini mengangkat tema BDSM di dalamnya. Tak sedikit yang mulai mencari tahu apa arti dari istilah tersebut serta bagaimana praktiknya di dunia nyata.

Nah, agar tidak lagi bertanya-tanya, artikel kali ini akan mengupas tuntas seputar BDSM serta pemaparannya dari kacamata dunia medis.

Apa itu BDSM?

bercinta di bawah shower

Arti dari istilah BDSM atau bondage/discipline, dominance/submission, and sadism/masochism adalah serangkaian aktivitas seksual yang melibatkan permainan peran.

Biasanya, pasangan yang melakukan BDSM akan terbagi menjadi 2 peran, yaitu dominan dan submisif.

Aktivitas seksual yang termasuk dalam praktik BDSM umumnya meliputi kekerasan fisik, kekerasan verbal, mengikat pasangan, serta perbudakan.

Namun, kekerasan ini bertujuan untuk mencapai kepuasan seksual, baik bagi pelaku maupun penerima kekerasan tersebut.

Oleh karena itu, BDSM sebenarnya berbeda dengan kekerasan seksual yang dilakukan atas dasar “menyiksa” korbannya.

Praktik BDSM ini dilakukan atas dasar suka sama suka alias keputusan bersama antara pelaku dan penerima kekerasan seksual.

Umumnya, aktivitas seksual ini dilakukan dengan peraturan yang disetujui oleh kedua belah pihak.

Ambil contohnya, kekerasan yang dilakukan tidak boleh melebihi batas tertentu, atau masing-masing pihak boleh menegosiasikan apa saja jenis kekerasan yang ingin dipraktikkan dalam hubungan seks.

Bahkan, aktivitas ini sudah diregulasi sedemikian rupa di bawah peraturan, nilai-nilai, serta norma yang berlaku di kalangan penyuka BDSM.

Meski demikian, masih banyak orang yang melihat praktik ini sebagai hal yang bersifat negatif dan tabu.

Memang, tindakan kekerasan yang dilakukan sebagai rangsangan seksual sulit diterima sebagai sesuatu yang lazim.

Akan tetapi, sebenarnya BDSM bisa jadi aktivitas seks yang menarik dan menggairahkan bagi mereka para penggemarnya, lho!

Lagi-lagi, dengan catatan, kegiatan ini dilakukan atas dasar suka sama suka dan tanpa paksaan, ya.

Apa saja ciri-ciri BDSM?

bdsm dan kekerasan seksual

Kekerasan memang menjadi bumbu dari BDSM. Namun, penting untuk diingat bahwa BDSM tidak sama dengan kekerasan seksual.

Ini karena BDSM sangat dinikmati oleh pelaku maupun penerima kekerasan seksual sesuai dengan batasan-batasan yang telah mereka tetapkan bersama.

Menurut situs National Domestic Violence Hotline, sebuah hubungan BDSM ditandai dengan ciri-ciri berikut:

  • Selalu dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak.
  • Mengikuti aturan yang berlaku.
  • Mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan kedua belah pihak.
  • Dilakukan untuk mencapai kenikmatan seksual kedua belah pihak.
  • Penerima perlakuan kekerasan dapat menggunakan “kata aman” atau safe word untuk meminta pelaku kekerasan berhenti.
  • Tidak melibatkan obat-obatan terlarang dan alkohol.

Salah satu bagian dari praktik BDSM adalah sadomasokisme.

Menurut Psychology Today, sadomasokisme adalah kondisi di mana seseorang merasa terangsang secara seksual ketika melakukan atau menerima kekerasan, rasa sakit, atau penghinaan.

Berikut adalah beberapa ciri dari seseorang yang memiliki kecenderungan sadisme atau masokisme:

  • Merasakan kepuasan seksual saat memegang kekuasaan dan kendali penuh atas “penderitaan” pasangannya
  • Merasa senang saat pasangannya tersiksa, menderita, atau tak berdaya terutama saat melakukan hubungan seksual
  • Sering memiliki fantasi seksual yang dilakukan dengan kekerasan, seperti diikat, dipukul, atau ditampar

Namun, penting pula untuk diingat bahwa seseorang dengan gejala sadomasokisme belum tentu bisa mempraktikkan BDSM.

Artinya, tak semua orang yang termasuk sadomasokisme mau dan mampu berkompromi dengan aturan serta batasan dalam aktivitas BDSM.

Adakah manfaat dari praktik BDSM?

Sampai saat ini belum ada studi yang dapat mencari jawaban pasti penyebab dari BDSM.

Akan tetapi, menariknya, para ahli justru berpendapat bahwa praktik seksual ini memberikan manfaat kesehatan serta kedekatan suatu hubungan.

Berikut adalah beberapa manfaat yang mungkin bisa diperoleh dari aktivitas seksual BDSM:

1. Mengurangi stres

Salah satu manfaat kesehatan yang tak diduga dari BDSM adalah membantu mengurangi tingkat stres seseorang.

Manfaat BDSM yang satu ini ini setara seperti sehabis melakukan yoga atau latihan kardio.

Hal ini dikaji dalam sebuah studi dari Journal of Positive Sexuality. Studi tersebut meneliti sampel air liur dari partisipan sebelum dan sesudah melakukan praktik BDSM.

Hasilnya, terjadi pengurangan kadar kortisol pada tubuh partisipan. Perlu Anda ketahui bahwa hormon kortisol biasanya meningkat ketika seseorang merasa stres atau tertekan.

Tak hanya membuat Anda merasa lebih baik secara mental, kadar kortisol yang rendah juga dikaitkan dengan penurunan tekanan darah, sistem kekebalan tubuh yang membaik, serta terhindar dari risiko depresi.

2. Memperbaiki kesehatan mental

Manfaat lain yang niscaya bisa didapatkan dari praktik BDSM adalah kesehatan mental Anda akan terjaga.

Sebuah penelitian dari The Journal of Sexual Medicine mengungkapkan kemungkinan tersebut.

Penelitian tersebut mencari tahu kondisi kesehatan mental orang-orang yang menikmati aktivitas “liar” ini dengan cara meneliti kepribadian khas dari masing-masing orang.

Berdasarkan hasil studi tersebut diperoleh hasil bahwa orang-orang yang melakukan aktivitas seksual ini tidak memiliki gangguan psikologis seperti yang kebanyakan orang duga.

Ditambah lagi, partisipan dari studi ini juga merasa lebih aman dalam menjalani hubungan asmaranya.

Bahkan, penikmat BDSM merasa nyaman dalam membangun kesejahteraan mental dirinya, lebih berhati-hati dalam bertindak, serta terbuka dengan pengalaman baru.

3. Meningkatkan kualitas komunikasi dengan pasangan

Selain bermanfaat untuk kesehatan, BDSM juga diyakini dapat membantu Anda dan pasangan mempelajari cara terbaik untuk berkomunikasi secara terbuka, terutama mengenai urusan ranjang.

Praktik seksual ini dapat membuat Anda dan pasangan memahami cara mematuhi aturan, batasan, serta ekspektasi selama berhubungan seks.

Dengan kata lain, praktik seks ini dapat mendorong Anda dan pasangan untuk saling memahami dan menghargai satu sama lain.

Perlukah BDSM diobati?

menghadapi pelaku pelecehan seksual

Sejatinya, BDSM adalah preferensi seksual yang tidak akan merugikan orang lain dan diri sendiri selama masing-masing pihak melakukannya berdasarkan persetujuan bersama.

Namun, aktivitas seks yang satu ini berisiko membahayakan apabila salah satu pihak mulai melakukan tindakan yang merugikan.

Tindakan merugikan tersebut seperti memaksakan kehendak, menekan pasangannya, atau enggan berkomunikasi secara terbuka.

Jika tidak dilakukan sesuai aturan, beberapa pelaku praktik BDSM bisa saja memiliki kelainan seksual yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.

Sebagai contoh, seseorang dengan kecenderungan sadomasokisme yang sulit dikendalikan dan hal tersebut mulai mengganggu kehidupannya sehari-hari.

Jadi, bila aktivitas BDSM sudah dirasa mengganggu kehidupan Anda atau pasangan, tidak dilakukan sesuai persetujuan, bahkan menimbulkan kekerasan seksual, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter atau psikolog.

Kelainan seksual yang tak terkendali atau parafilia umumnya dapat diatasi dengan terapi-terapi seperti berikut:

  • Terapi perilaku kognitif atau CBT
  • Psikoanalisis tradisional
  • Hipnosis

Pada kasus yang lebih parah ketika pasien tidak dapat mengendalikan hasrat seksualnya, ia mungkin akan diberikan resp obat anti-androgen untuk mengurangi kadar testosteron dalam tubuhnya.

Kesimpulannya, meski masih dianggap hal yang tabu oleh masyarakat luas, ternyata BDSM bukanlah aktivitas seks yang berbahaya selama masih dilakukan sesuai dengan aturan dan batas yang wajar.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

McGreal, SA. (2013). BDSM, Personality, and Mental Health – Psychology Today. Retrieved February 1, 2021, from  https://www.psychologytoday.com/us/blog/unique-everybody-else/201307/bdsm-personality-and-mental-health 

Paraphilias – Psychology Today. (2019). Retrieved February 1, 2021, from https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/paraphilias 

Burton, N. (2014). The Psychology of Sadomasochism – Psychology Today. Retrieved February 1, 2021, from https://www.psychologytoday.com/us/blog/hide-and-seek/201408/the-psychology-sadomasochism 

Healthy BDSM Relationships Are Possible – National Domestic Violence Hotline. (n.d.). Retrieved February 1, 2021, from https://www.thehotline.org/resources/healthy-bdsm-relationships-are-possible/ 

Sexual Sadism Disorder: An Introduction for Mental Health Professionals. (2018). Retrieved February 1, 2021, from https://online.csp.edu/blog/forensic-scholars-today/sexual-sadism-disorder/ 

Sagarin, B., Lee, E., Klement, KR. (2015). Sadomasochism without Sex? Exploring the Parallels between BDSM and Extreme Rituals. Journal of Positive Sexuality.

Wismeijer, A., & van Assen, M. (2013). Psychological Characteristics of BDSM Practitioners. The Journal Of Sexual Medicine, 10(8), 1943-1952. https://doi.org/10.1111/jsm.12192 

Carlström, C. (2018). BDSM, becoming and the flows of desire. Culture, Health & Sexuality, 21(4), 404-415. https://doi.org/10.1080/13691058.2018.1485969 

McManus, M. A., Hargreaves, P., Rainbow, L., & Alison, L. J. (2013). Paraphilias: definition, diagnosis and treatment. F1000prime reports, 5, 36. https://doi.org/10.12703/P5-36 

Jozifkova, E., Bartos, L., & Flegr, J. (2012). Evolutional background of dominance/submissivity in sex and bondage: the two strategies?. Neuro endocrinology letters, 33(6), 636–642.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 04/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
x