home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Tes VCT

Apa itu tes VCT?|Kapan perlu melakukan tes VCT?|Persiapan sebelum tes VCT|Prosedur tes VCT|Konseling setelah tes |Hasil pemeriksaan VCT
Tes VCT

Apa itu tes VCT?

VCT atau singkatan dari voluntary counseling and testing adalah serangkaian tes dan konseling yang dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang positif atau negatif mengidap HIV.

Pemeriksaan HIV ini bisa dilakukan di puskesmas, klinik, atau rumah sakit yang menyediakan layanan tes VCT.

Pemeriksaan VCT bersifat sukarela yang berarti keputusan untuk mengikuti tes sepenuhnya berdasarkan inisiatif dan pilihan Anda sendiri.

Selain itu, Anda juga dapat meminta pihak penyelenggara untuk menjaga kerahasiaan hasil tes.

Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, jumlah kasus HIV terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Jumlah kasus mencapai puncaknya pada tahun 2019 yaitu sebanyak 50.282 kasus.

Kasus HIV tertinggi dilaporkan terjadi pada kelompok usia produktif 25-49 tahun (70.4%). Kasus paling banyak dialami oleh laki-laki (64.5%) dibandingkan perempuan (35,5%).

Infeksi HIV pada awalnya tidak menimbulkan gejala awal HIV yang jelas sehingga seseorang sering tidak menyadari jika sudah terinfeksi dan berisiko menularkannya pada orang lain.

Oleh karena itu, diperlukan tes skrining penyakit kelamin untuk mendeteksi HIV sedini mungkin sehingga dapat mencegah penularan virus berbahaya ini.

Diagnosis dini dari pemeriksaan VCT juga membantu Anda mendapatkan pengobatan lebih cepat sehingga infeksi HIV tidak terlambat berkembang menjadi AIDS.

Siapa saja yang perlu tes VCT?

Setiap orang yang aktif secara seksual (pernah dan/atau sering berhubungan seks) perlu menjalani pemeriksaan VCT.

Orang yang melakukan hubungan seks berisiko, seperti seks tanpa kondom dan berganti-ganti pasangan berisiko terkena HIV.

Pasangan yang merencanakan pernikahan dan kehamilan serta wanita hamil juga perlu menjalani tes HIV ini apabila berisiko tinggi.

Seseorang dikatakan berisiko tinggi bila memiliki riwayat hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi.

Tes sukarela sedari dini penting dilakukan karena HIV dapat mengancam nyawa bila terlambat dideteksi dan tidak mendapatkan pengobatan yang tepat.

Kapan perlu melakukan tes VCT?

Pemeriksaan VCT terdiri dari 3 tahapan yang melibatkan konseling pra-tes, tes, dan konseling setelah tes.

Tes VCT ini bersifat rahasia karena Anda akan menandatangani lembar persetujuan tertulis sebelum mulai menjalani pemeriksaan.

Dalam tahap tes HIV, tes serologi akan dilakukan untuk mendeteksi virus HIV-1 dan HIV-2 di dalam darah.

Anda disarankan untuk melakukan tes HIV minimal setelah 3 bulan (90 hari) melakukan hubungan seks berisiko HIV untuk memastikan apakah benar Anda telah terinfeksi virus.

Tubuh umumnya mulai membentuk antibodi dalam sistem imun sekitar 90 hari setelah pertama kali terjangkit virus HIV. Periode ini disebut dengan masa jendela HIV.

Namun, seberapa cepat tubuh membentuk antibodi bisa berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Ada orang yang bisa membutuhkan waktu lebih lama dari 3 bulan maupun lebih cepat.

Aturan tes serologi HIV

Berdasarkan Peraturan Kementerian Kesehatan RI bila hasil tes serologi pertama menunjukkan hasil non-reaktif, Anda bisa langsung dinyatakan negatif.

Akan tetapi, jika Anda termasuk kelompok berisiko seperti memiliki pasangan seksual yang terinfeksi, Anda dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ulang.

Pemeriksaan ulang bisa dilakukan minimal 3 bulan setelah tes pertama dan maksimal 1 tahun.

Tes serologi HIV kedua diperlukan jika tes pertama menunjukkan hasil reaktif. Anda perlu melakukan tes serologi yang ketiga jika tes kedua juga menunjukkan hasil reaktif.

Apabila hasil pemeriksaan kedua adalah non-reaktif, Anda akan diminta mengulang tes serologi pertama dan kedua.

Apapun hasil pemeriksaan ulang tersebut, Anda tetap perlu melakukan tes serologi selanjutnya (tes ketiga) untuk mendapatkan hasil diagnosis akhir.

Persiapan sebelum tes VCT

Tahapan awal untuk tes VCT adalah konseling. Konseling ini bertujuan untuk memberikan pemahaman seputar penyakit HIV/AIDS dan mempersiapkan sebelum tes.

Konseling juga dapat membantu Anda untuk mengantisipasi hasil pemeriksaan VCT nantinya.

Prosedur konseling pra-tes VCT

Pemandu dalam konseling pada tes VCT adalah seorang konselor terlatih. Biasanya, konselor akan memulai konseling dengan bertanya mengenai alasan Anda mengikuti tes.

Anda akan diminta untuk berbicara sejujur mungkin tentang ketakutan dan kekhawatiran yang mungkin sedang dirasakan. Tak perlu khawatir, semua yang Anda katakan dalam proses ini bersifat rahasia.

Selanjutnya, konselor akan menjelaskan kepada Anda tentang apa itu HIV, bagaimana penularannya, dan seberapa besar risiko Anda untuk terinfeksi.

Informasi prosedur pemeriksaan akan diterangkan secara lengkap beserta panduan pengobatan dan pencegahan penularan HIV.

Konselor juga akan memperbaiki kesalahpahaman yang mungkin Anda miliki tentang HIV serta menjelaskan pentingnya mengetahui status HIV Anda.

Melalui sesi konseling ini Anda dapat lebih memahami cara mengurangi risiko penularan HIV dari ibu hamil ke anak (bila Anda sedang hamil) dan mencegah penyakit menular seksual (penyakit kelamin).

Terakhir, konselor juga akan memberi Anda kesempatan untuk mengajukan pertanyaan tentang HIV atau pemeriksaan yang akan dijalani.

Namun, perlu dicatat bahwa orang yang tidak menginginkan konseling sebelum tes tidak akan dipaksakan untuk menjalaninya.

Tahapan konseling pada tes VCT adalah bersifat sukarela dan memerlukan persetujuan dari pasien itu sendiri.

Prosedur tes VCT

Pada tahapan tes HIV, ada tiga jenis tes serologi yang umum dilakukan yaitu tes Elisa atau EIA, tes Western Blot, dan rapid test.

Tes serologi HIV pada rangkaian tes VCT bertujuan mendeteksi antibodi terhadap virus HIV-1 atau HIV-2 setelah tubuh menghasilkan jumlah antibodi yang cukup.

Tes Elisa dan Western Blot

Pada tes Elisa (enzyme-linked immunisorbent assay) dan Western blot, pemeriksaan dilakukan dengan mengambil sampel darah. Sampel darah Anda akan dikirim ke laboratorium untuk pengujian antibodi HIV-1 dan HIV-2.

Tes Elisa atau EIA lebih umum digunakan dalam pemeriksaan VCT. Tes Western Blot lebih diandalkan ketika sulit mendeteksi antibodi HIV pada kasus-kasus tertentu.

Kedua tes ini memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan rapid-test HIV.

Rapid test HIV

Sementara pada rapid test sampel, darah akan diambil oleh petugas melalui jari. Sampel darah ini ditempatkan di kaca objek untuk kemudian diteteskan bahan kimia khusus.

Hasil dari rapid test HIV biasanya keluar dalam waktu 20 menit. Jika hasil tes reaktif, Anda disarankan untuk melakukan tes lagi guna memastikan diagnosisnya.

Setiap tes antibodi dalam pemeriksaan VCT (tes Elisa, tes Western Blot dan rapid test) memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda. Hal ini berpengaruh pada tingkat keakuratan hasil tes.

Oleh karena itu, tes serologi mungkin perlu dilakukan beberapa kali sampai memberikan hasil diagnosis yang tepat.

Konseling setelah tes

Setelah menjalani tes dan mendapatkan hasilnya, konselor akan menjelaskan arti dan cara membaca hasil tes tersebut dengan jelas serta sederhana.

Konselor akan memberi Anda waktu untuk memahami penjelasan tersebut dan bertanya lebih lanjut.

Prosedur konseling pasca-tes VCT

Jika tes VCT menunjukkan hasil negatif, konselor tetap menyarankan pasien untuk mengurangi risiko tertular HIV/AIDS.

Ambil contohnya, konselor akan memberikan informasi mengenai pentingnya melakukan hubungan seksual yang aman dengan menggunakan kondom.

Konselor juga akan memberi pengertian bila nantinya perlu pemeriksaan ulang karena kemungkinan kesalahan akibat faktor akurasi dan sensitivitas tes.

Saat tes menunjukkan hasil Anda telah terinfeksi HIV, konselor akan memberikan pendampingan dan dukungan moral untuk menguatkan mental Anda.

Selama masa pendampingan, konselor akan merujuk Anda ke dokter agar segera mendapatkan obat ARV sebagai pengobatan HIV. Dokter akan membantu merawat kondisi Anda sekaligus memantau pengobatan dilakukan secara teratur.

Selain itu, konselor akan mengingatkan dan memberikan tips untuk senantiasa menjalani gaya hidup sehat untuk HIV.

Orang yang positif HIV juga akan tetap dibimbing untuk mencegah penularan HIV kepada orang-orang terdekat atau menghindari infeksi menular seksual (IMS) lainnya.

Hasil pemeriksaan VCT

Ada 3 kriteria diagnosis dalam pemeriksaan VCT, yaitu hasil tes HIV positif, negatif, dan indeterminate (tidak dapat ditentukan). Hasil dikatakan positif bila tiga tes serologi yang Anda lakukan menunjukkan hasil reaktif.

Sementara hasil negatif diperoleh ketika hasil tes serologi pertama negatif, tes pengulangan non reaktif, atau salah satu tes pengulangan reaktif tetapi pasien tidak termasuk kelompok berisiko.

Hasil dinyatakan indeterminate bila 2 dari 3 tes menunjukkan hasil reaktif atau 1 hasil reaktif pada pasien yang memiliki pasangan terinfeksi.

Penting diketahui bahwa melakukan tes pada periode masa jendela di mana antibodi tidak dapat terdeteksi dalam bisa menyebabkan hasil tes HIV keliru.

Hasil bisa menunjukkan Anda negatif HIV, tetapi sebenarnya virus HIV ada dalam tubuh Anda.

Pada kasus seperti ini, biasanya Anda harus melakukan tes VCT kedua setelah 3 bulan untuk mengonfirmasi hasil tes pertama yang negatif.

Pemeriksaan VCT adalah tes yang dapat digunakan sebagai pencegahan HIV yang efektif serta menurukan risiko penyakit kelamin menular lainnya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 87 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pengobatan Antiretroviral. Retrieved 14 January 2021, from https://siha.kemkes.go.id/portal/files_upload/Buku_Permenkes_ARV_Cetak.pdf

Fonner, V. A., Denison, J., Kennedy, C. E., O’Reilly, K., & Sweat, M. (2012). Voluntary counseling and testing (VCT) for changing HIV-related risk behavior in developing countries. The Cochrane database of systematic reviews, 9(9), CD001224. https://doi.org/10.1002/14651858.CD001224.pub4

WHO. (2002). HIV/AIDS Voluntary Counselling and Testing Review of Policies, Programmes and Guidelines. Retrieved 20 January 2021, from https://www.who.int/hiv/topics/vct/toolkit/components/policy/review_of_policies_programmes_and_guidelines.pdf

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 26/07/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.