12 Penyakit yang Mungkin Mengintai Wanita Setelah Menopause

    12 Penyakit yang Mungkin Mengintai Wanita Setelah Menopause

    Bila Anda saat memasuki usia 40—50 tahunan, siapkan diri Anda untuk menghadapi masa menopause. Sama seperti ketika pertama kali Anda mengalami datang bulan, tubuh wanita juga mengalami perubahan saat menopause. Wanita yang memasuki masa menopause berpotensi untuk mengalami beberapa komplikasi dan kondisi medis. Lantas, apa saja penyakit yang mungkin timbul setelah wanita menopause?

    Penyakit yang mungkin timbul setelah menopause

    penyakit yang timbul setelah menopause

    Pasca-menopause merupakan saat-saat tersulit bagi wanita. Hal ini karena akan terjadi peningkatan risiko sejumlah penyakit akibat berkurangnya hormon estrogen.

    Estrogen adalah hormon yang sangat penting untuk wanita, terutama dalam proses reproduksi.

    Hormon estrogen bertugas melindungi sejumlah sistem dalam tubuh, seperti otak, kulit, vagina, tulang, dan jantung.

    Ketika Anda membuang hormon estrogen, terjadi penuaan yang mendalam pada seluruh sistem tubuh, terutama hati dan tulang.

    Sayangnya, banyak sekali wanita yang tidak memperhatikan bahkan mengacuhkan kondisi dirinya setelah mengalami menopause.

    Oleh sebab itu, sangat penting bagi wanita untuk mengetahui penyakit apa saja yang mungkin timbul setelah menopause.

    1. Diabetes

    Estrogen rendah dapat meningkatkan resistensi insulin dan memicu keinginan untuk ngemil yang menyebabkan kenaikan berat badan.

    Hal ini berisiko menimbulkan diabetes. Itu sebabnya, diabetes termasuk penyakit yang mungkin timbul setelah seorang wanita menopause.

    Anda akan lebih rentan terkena diabetes jika memiliki beberapa faktor.

    Faktor tersebut seperti punya keturunan diabetes, riwayat polycystic ovary syndrome (yang berhubungan dengan resistensi insulin), diabetes gestasional, atau memiliki berat badan berlebih.

    American Diabetes Association merekomendasikan agar para wanita melakukan tes kesehatan secara rutin setiap 3 tahun, dimulai pada usia 45 tahun, terutama jika menderita berat badan berlebih atau obesitas.

    2. Kondisi autoimun

    Faktanya, wanita lebih mungkin menderita gangguan autoimun dibandingkan dengan laki-laki. Wanita menopause akan menjadi sangat rentan terkena kondisi tersebut.

    Wanita yang telah menopause berisiko lebih tinggi menderita penyakit autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis, multiple sclerosis, dan psoriasis meningkat pasca menopause.

    Penjelasan tersebut menurut sebuah studi dalam jurnal Frontiers in Endocrinology.

    Hal ini diduga karena wanita mengalami beberapa kali perubahan pada sistem endokrin, yaitu saat pubertas, hamil dan menyusui, lalu menopause.

    3. Nyeri sendi

    penyakit yang timbul setelah menopause

    Menurut The Menopause Charity, sendi yang kaku dan pegal akan terjadi seiring dengan penuaan, tapi keluhan ini cenderung dialami oleh wanita setelah menopause.

    Inflamasi yang disebabkan oleh perubahan hormon bisa menjadi penyebabnya.

    Estrogen memiliki efek anti-inflamasi sehingga ketika tubuh kekurangan estrogen, ada respons inflamasi yang lebih besar.

    Hubungan antara estrogen dan inflamasi telah dinyatakan dalam studi sehingga terapi penggantian hormon akan dapat meringankan nyeri sendi.

    Jadi, wajar jika Anda kerap mengeluhkan nyeri sendi setelah menopause karena termasuk salah satu penyakit yang bisa timbul.

    4. Hepatitis C

    Melansir dari World Journal of Gastroenterology, wanita yang lebih rentan terjangkit hepatitis C persisten (yang berlangsung selama 6 bulan atau lebih) merupakan wanita pasca menopause.

    Para ahli menduga bahwa estrogen dapat melindungi tubuh dari kerusakan hati yang dapat menyebabkan masuknya virus kronis.

    Oleh sebab itu, wanita yang kehilangan estrogen akan kehilangan perlindungan tersebut sehingga virus dapat melakukan lebih banyak kerusakan pada tubuh.

    5. Infeksi saluran kemih (ISK)

    Estrogen memainkan peran yang cukup besar pada sistem kandung kemih.

    Fungsi hormon tersebut adalah mempertahankan elastisitas jaringan dan memperkuat sel-sel dinding kandung kemih untuk mencegah bakteri keluar.

    Jadi, ketika hormon estrogen berkurang, Anda mungkin dapat mengalami gejala kencing tertentu, termasuk risiko yang lebih tinggi dari ISK.

    6. Penyakit jantung dan pembuluh darah

    Ketika kadar estrogen menurun, risiko mengidap penyakit jantung akan semakin meningkat. Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian pada wanita maupun pria.

    Ini juga termasuk satu dari beragam penyakit yang mungkin timbul setelah seorang wanita menopause.

    Jadi, penting untuk mendapatkan latihan rutin, makan makanan yang sehat, dan menjaga berat badan normal.

    7. Atrofi vagina

    Tanpa hormon estrogen di dalam tubuh, Anda dapat mengalami penipisan, pengeringan, dan radang pada dinding vagina, atau disebut sebagai atrofi vagina.

    Ya, atrofi vagina merupakan penyakit yang juga mungkin timbul setelah menopause.

    Gejala yang terjadi termasuk vagina terasa panas, gatal, seks terasa menyakitkan, dan buang air kecil terasa menyakitkan.

    8. Inkontinensia urine

    ipenyakit yang timbul setelah menopause

    Seiring dengan bertambahnya usia, otot-otot tubuh Anda tidak lagi sekuat ketika Anda masih muda. Salah satu otot yang melemah adalah di bagian vagina dan kandung kemih.

    Ketika jaringan vagina dan uretra kehilangan elastisitas, Anda mungkin sering mengalami dorongan kuat untuk buang air kecil secara tiba-tiba.

    Hal itu biasanya diikuti dengan keluarnya urine tanpa kendali (inkontinensia urine) dan keluarnya urine saat batuk, tertawa, maupun mengangkat sesuatu (stres inkontonensia).

    9. Pelvic organ prolapse

    Masih terkait dengan penurunan kemampuan otot pemicu penyakit yang timbul setelah menopause pada wanita.

    Pelvic organ prolapse dapat muncul akibat otot dan ligamen yang menyokong organ-organ di sekitar panggul melemah.

    Kondisi ini mengakibatkan organ-organ mencuat keluar dari posisi rahim dan membuat rahim, kandung kemih, serta dubur menurun dari posisi awalnya.

    10. Penyakit gusi

    Karena kadar estrogen menurun pascamenopause, wanita cenderung kehilangan kepadatan tulang, termasuk pada gigi.

    Hal ini berisiko tinggi menimbulkan penyakit gusi yang parah, bahkan menyebabkan gigi Anda copot jika tidak diobati.

    Menurut penelitian, kadar estrogen yang lebih rendah dapat menyebabkan perubahan inflamasi pada tubuh yang dapat menyebabkan radang gusi, suatu keadaan awal penyakit gusi.

    11. Mata kering

    Tidak hanya hormon estrogen yang menjadi penyebab utama dari penyakit yang timbul setelah menopause, tetapi penurunan hormon testosteron juga demikian.

    Meski sering kali disebut sebagai hormon pria, wanita juga memiliki hormon ini walaupun dalam jumlah sedikit.

    Hormon testoteron berperan dalam mengatur kelenjar meibom yang berfungsi untuk menghasilkan cairan di mata dan mencegahnya kering.

    Penurunan hormon testosteron dapat membuat mata Anda menjadi lebih sering kering.

    12. Gangguan mental

    Pada sebagian wanita, gangguan mental menjadi satu dari beberapa penyakit yang timbul setelah menopause.

    Perubahan hormon dapat menyebabkan gangguan mental, seperti perubahan suasana hati, gangguan kecemasan, depresi, dan bahkan demensia.

    Salah satu sebabnya bisa karena fungsi otak wanita mengalami perubahan setelah menopause.

    Gangguan mental tersebut dapat dipicu oleh stres yang sedang dialami, seperti merasa sedih karena masa subur yang telah berakhir maupun perubahan gairah seksual.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Menopause – Symptoms and causes. (2022). Retrieved 16 March 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/menopause/symptoms-causes/syc-20353397 

    Prevention of diseases after menopause – Australasian Menopause Society. (2022). Retrieved 16 March 2022, from https://www.menopause.org.au/about-ams/media-info/prevention-of-diseases-after-menopause 

    Menopause Information | Mount Sinai – New York. (2022). Retrieved 16 March 2022, from https://www.mountsinai.org/health-library/report/menopause 

    What Is Menopause?. (2022). Retrieved 16 March 2022, from https://www.nia.nih.gov/health/what-menopause 

    Postmenopause: Signs, Symptoms & What to Expect. (2022). Retrieved 16 March 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21837-postmenopause 

    Joint Pain and Muscles – The Menopause Charity. (2022). Retrieved 16 March 2022, from https://www.themenopausecharity.org/2021/10/21/joint-pain-and-muscles/ 

    Desai, M. K., & Brinton, R. D. (2019). Autoimmune Disease in Women: Endocrine Transition and Risk Across the Lifespan. Frontiers in endocrinology, 10, 265. https://doi.org/10.3389/fendo.2019.00265 

    Brady C. W. (2015). Liver disease in menopause. World journal of gastroenterology21(25), 7613–7620. https://doi.org/10.3748/wjg.v21.i25.7613

    Living with Autoimmune in Your 40s and 50s – Autoimmune Association. (2022). Retrieved 16 March 2022, from https://autoimmune.org/living-with-autoimmune-in-your-40s-50s/ 

    Gestational Diabetes – Symptoms, Treatments | ADA. (2022). Retrieved 16 March 2022, from https://www.diabetes.org/diabetes/gestational-diabetes

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Adinda Rudystina Diperbarui May 30
    Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita