9 Penyakit yang Mengintai Wanita Setelah Menopause

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 November 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Pasca-menopause merupakan saat-saat tersulit bagi wanita. Mengapa? Karena ada banyak penyakit yang sedang “menunggu” Anda hingga waktu menopause tiba, akibat berkurangnya estrogen, hormon yang sangat penting untuk wanita, terutama dalam reproduksi.

“Estrogen melindungi sejumlah sistem dalam tubuh, seperti otak, kulit, vagina, tulang, dan jantung,” jelas Michelle Warren, MD., direktur kesehatan Center for Menopause, Hormonal Disorders and Women’s Health di New York. “Ketika Anda membuang estrogen tersebut, akan terjadi penuaan yang mendalam pada seluruh sistem mereka, terutama hati dan tulang.”

Sayangnya, banyak sekali wanita yang tidak memperhatikannya dan bahkan mengacuhkannya. Untuk mengetahui apa saja penyakit yang dapat muncul pada wanita pasca menopause, mari kita lihat di bawah ini.

1. Diabetes

“Estrogen rendah dapat meningkatkan resistensi insulin dan memicu keinginan untuk ngemil yang menyebabkan kenaikan berat badan, sehingga besar kemungkinan untuk menderita diabetes,” ujar Warren. Anda akan lebih rentan terkena diabetes jika Anda sudah memiliki faktor keturunan untuk diabetes, riwayat Polycystic Ovary Syndrome (yang berhubungan dengan resistensi insulin), diabetes gestasional, atau memiliki berat badan berlebih. American Diabetes Association merekomendasikan agar para wanita melakukan tes kesehatan secara rutin setiap 3 tahun, dimulai pada usia 45 tahun, terutama jika kelebihan berat badan.

2. Kondisi autoimun

Wanita lebih mungkin menderita gangguan autoimun dibandingkan dengan laki-laki, dan wanita menopause sangat rentan terkena kondisi tersebut. Risiko pengembangan penyakit autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis, penyakit Graves, scleroderma, dan tiroiditis meningkat pasca menopause, menurut sebuah studi dalam jurnal Expert Review of Obstetrics and Gynecology, meskipun alasannya tidak jelas.

Meski para ahli ahli tidak tahu pasti mengapa, namun penelitian baru-baru ini berfokus kepada subset sel imun yang memompa keluar antibodi, dan mengikat serta menyerang jaringan tubuh. Hasilnya, menurut sebuah studi tahun 2011, telah ditemukan kadar yang lebih tinggi pada tikus betina dan pada orang dengan penyakit autoimun.

3. Nyeri sendi

Menurut North American Menopause Society, sendi yang kaku dan pegal akan terjadi seiring dengan penuaan, namun keluhan ini cenderung dialami oleh orang pasca menopause. Inflamasi yang disebabkan oleh perubahan hormon bisa menjadi penyebabnya. “Estrogen memiliki efek anti-inflamasi, sehingga ketika tubuh kekurangan estrogen, ada respon inflamasi yang lebih besar,” sahut Warren. Hubungan antara estrogen dan inflamasi telah dinyatakan dalam studi, sehingga terapi penggantian hormon akan dapat meringankan nyeri sendi.

4. Hepatitis C

Para peneliti dari Montefiore Medical Center dan Albert Einstein College of Medicine di New York, menemukan bahwa wanita yang terjangkit hepatitis C persisten (yang berlangsung selama 6 bulan atau lebih), merupakan wanita pasca menopause. Para ahli menduga bahwa estrogen dapat melindungi tubuh dari kerusakan hati yang dapat menyebabkan masuknya virus kronis, sehingga jika kita kehilangan estrogen kita akan kehilangan perlindungan itu, dan virus dapat melakukan lebih banyak kerusakan.

5. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Estrogen memainkan peran yang cukup besar pada sistem kandung kemih, dengan mempertahankan elastisitas jaringan dan memperkuat sel-sel dinding kandung kemih untuk mencegah bakteri keluar. Jadi, ketika estrogen berkurang, Anda mungkin dapat mengalami gejala kencing tertentu, termasuk risiko yang lebih tinggi dari ISK. Sebuah studi tahun 2013 dari Washington University School of Medicine, menegaskan bahwa ISK lebih umum terjadi setelah menopause, dengan ¼ wanita mengalami infeksi berulang.

6. Penyakit jantung dan pembuluh darah

Ketika kadar estrogen menurun, risiko mengidap penyakit jantung akan semakin meningkat. Penyakit jantung adalah penyebab utama kematian pada wanita maupun pria. Jadi, penting untuk mendapatkan latihan rutin, makan makanan yang sehat, dan menjaga berat badan normal.

7. Atrofi vagina

Tanpa estrogen, Anda dapat mengalami penipisan, pengeringan, dan radang pada dinding vagina, atau disebut sebagai atrofi vagina. Gejala yang terjadi termasuk vagina terasa panas, gatal, dan seks terasa menyakitkan, ditambah lagi urgensi buang air kecil dan buang air kecil terasa menyakitkan.

8. Inkontinensia urin

Ketika jaringan vagina dan uretra kehilangan elastisitas, Anda mungkin sering mengalami dorongan kuat untuk buang air kecil secara tiba-tiba. Hal itu biasanya diikuti dengan keluarnya urin tanpa kendali (inkontinensia urin), atau keluarnya urin saat batuk, tertawa atau mengangkat sesuatu (stres inkontonensia).

9. Penyakit gusi

Karena kadar estrogen menurun selama satu dekade pasca menopause, wanita cenderung akan kehilangan tulang, termasuk gigi mereka. Hal itu dapat berisiko tinggi untuk penyakit gusi yang parah, dan dapat kehilangan gigi jika tidak diobati. Menurut penelitian, kadar estrogen yang lebih rendah dapat menyebabkan perubahan inflamasi pada tubuh yang dapat menyebabkan radang gusi, suatu keadaan awal penyakit gusi.

BACA JUGA

Berapa Banyak Kalori yang Anda Butuhkan?

Selain rajin berolahraga, mengetahui berapa banyak asupan kalori yang harus dikonsumsi juga penting untuk menjaga kesehatan. Cari tahu kalori harian yang Anda butuhkan di sini.

Cari Tahu!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Sederet Cara Melancarkan Jadwal Haid Agar Kembali Teratur

    Haid yang tidak teratur dapat membuat rencana liburan dan program hamil sulit terwujud. Berikut cara melancarkan haid yang bisa Anda coba.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Kesehatan Wanita, Menstruasi 21 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit

    Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

    Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    8 Buah Terbaik yang Aman untuk Gula Darah Pengidap Diabetes

    Meski sehat, Anda tak bisa sembarangan makan buah jika punya diabetes. Untuk itu, pilih beberapa buat untuk diabetes yang aman berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Penyakit Diabetes 20 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit

    Bahaya Merokok Terhadap Daya Tahan Tubuh Manusia

    Kenapa perokok lebih gampang sakit? Merokok ternyata memiliki dampak berbahaya terhadap daya tahan tubuh. Lalu apa yang bisa dilakukan?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Berhenti Merokok, Hidup Sehat 20 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    mencium bau

    Sering Mencium Sesuatu Tapi Tak Ada Wujudnya? Mungkin Anda Mengalami Phantosmia!

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

    Cara Tepat Menyuntik Insulin dan Lokasi Terbaiknya

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Fidhia Kemala
    Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 9 menit
    memotong kuku

    Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    manfaat yoga untuk diabetes

    4 Manfaat Yoga untuk Diabetesi yang Sayang Jika Dilewatkan

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit