Robby Tumewu Sempat 2 Kali Kena Stroke Sebelum Tutup Usia. Apa Penyebabnya?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Belum pulih dari berita kepulangan Torro Margens, dunia hiburan Tanah Air kembali dikejutkan oleh kabar duka dari sesama aktor senior Robby Tumewu. Robby yang namanya juga harum sebagai perancang busana kenamaan Indonesia ini diberitakan meninggal dunia di usia 65 tahun akibat stroke pada Senin (14/1) dini hari.

Robby Tumewu dua kali kena stroke berselang 3 tahun

Robby diketahui pertama kali mengalami serangan stroke pada tahun 2010 di tengah-tengah syuting acara televisi.

Selang tiga tahun kemudian, stroke kembali menyerang Robby pada tahun 2013 dan mengakibatkan perdarahan otak merembes hingga ke kedua sisi otak. Sebelumnya, perdarahan hanya terjadi pada sisi kiri otak.

Stroke kedualah yang membuat kondisi eks-penggawa Lenong Rumpi ini semakin melemah dan akhirnya diharuskan menjalani operasi untuk menyedot kelebihan cairan dalam otak.

Sudah pernah kena stroke, berisiko kena lagi

Stroke terjadi saat suplai darah beroksigen ke otak terhambat sehingga sel-sel otak perlahan mati.

Mengutip rilis media terbitan WebMD, orang yang sudah pernah sekali kena stroke nyatanya memiliki risiko 7 kali lipat lebih tinggi untuk mengalami serangan stroke kedua dalam 5 tahun selanjutnya. Risiko ini bahkan tetap menghantui penyintas stroke yang tidak mengalami komplikasi apa pun pascaserangan pertama. Kenapa?

Penanganan untuk serangan stroke pada dasarnya bertujuan hanya sebatas untuk menyelamatkan sel otak dan fungsi-fungsi tubuh yang masih bisa diselamatkan. Kematian sel otak yang sudah terjadi akibat stroke tidak bisa disembuhkan, diperbaiki, atau dihidupkan kembali seperti sedia kala.

Serangan stroke kedua juga umumnya lebih ganas sehingga memiliki risiko kematian atau cacat permanen yang lebih besar. Ini karena bagian otak yang sudah pernah terserang stroke sebetulnya tidak benar-benar pulih atau tidak sekuat sebelumnya. Jadi ketika otak kembali tersumbat, dampak yang muncul akan lebih parah.

Gaya hidup pengaruhi risiko stroke kambuh

Selain karena sifat dasar penyakitnya, risiko kemunculan stroke kedua kemungkinan juga dipengaruhi oleh penanganan stroke pertama yang tidak berjalan sebaik yang diperkirakan. Hal ini dituturkan Prof. dr. Teguh Ranakusuma, SpS (K) dokter spesialis saraf di RSCM, dilansir dari laman Detik Health.

Risiko serangan stroke kedua bisa muncul dipengaruhi oleh faktor gaya hidup yang dijalani pasien sepulihnya dari serangan stroke pertama.

Waspada gejala stroke kedua

Mengenali gejala stroke gampang-gampang susah, bahkan meski Anda sudah pernah mengalaminya dulu.

Namun umumnya, waspadai tanda dan gejala stroke dengan mengingat slogan “SEGERA KE RS

  • Senyum mencong, miring; sisi kiri dan kanan mulut saat senyum tidak sejajar.
  • Gerak tubuh tiba-tiba tidak terkoordinasi; sulit menggenggam barang atau sulit berjalan; tiba-tiba jatuh
  • Bicara pelo; tiba-tiba cadel; sulit berbicara; bicara tidak jelas; sulit memahami orang bicara.
  • Kebas (sensasi mati rasa) atau kelemahan mendadak pada separuh sisi wajah, lengan, atau kaki.
  • Rabun tiba-tiba, baik salah satu mata atau keduanya.
  • Sakit kepala atau pusing parah yang muncul mendadak tanpa sebab jelas.

Cara mencegah serangan stroke kedua

Serangan stroke kedua adalah penyebab kematian terbesar bagi penyintas stroke. Namun, 80% risiko stroke berulang dapat dicegah dengan kombinasi perubahan gaya hidup dan perawatan medis yang tepat.

1. Berhenti merokok dan minum alkohol

Rokok dan alkohol mempersempit pembuluh darah di otak. Penyintas stroke yang masih aktif merokok dan minum-minum miras punya risiko 2 kali lebih cepat mengalami serangan stroke kedua daripada yang tidak.

2. Jaga tensi dan kolesterol

Hipertensi dan kolesterol tinggi adalah faktor risiko utama dari stroke. Pengidap hipertensi memiliki risiko 1,5 kali lipat untuk terkena stroke berulang. Selain risiko stroke berulang, dua masalah ini juga meningkatkan risiko Anda terkena penyakit jantung.

Penumpukan kolesterol dalam pembuluh darah otak dapat menghambat aliran darah menuju sel-sel otak. Tekanan darah tinggi dalam otak menyebabkan pembuluh darah pecah dan mengakibatkan stroke hemoragik.

3. Minum obat teratur

Minum obat kolesterol atau penurun tekanan darah sesuai petunjuk dokter.

Kebanyakan orang menghentikan dosis obat mereka dalam 3 bulan setelah diresepkan. Padahal kenyataannya, 90 hari pertama setelah serangan stroke terjadi adalah rentang waktu kemunculan stroke kedua yang paling berisiko.

Maka itu, penting bagi penyintas stroke tetap minum obat teratur meski sudah merasa baikan. Jangan kurangi atau hentikan dosis tanpa sepengetahuan dokter.

4. Kelola penyakit lain yang dimiliki

Jika Anda pernah kena stroke dan juga mempunyai diabetes atau masalah irama jantung (fibrilasi atrial), risiko serangan stroke kedua Anda bisa naik hingga 4-5 kali lipat daripada orang lain yang tidak punya.

Bicarakan lebih lanjut dengan dokter mengenai pengobatan penyakit dan kondisi lainnya yang Anda miliki agar tidak menghambat jalannya terapi stroke.

5. Makan sehat dan olahraga

Olahraga teratur dan makan sehat dapat membantu Anda memulihkan fungsi otak sekaligus mengurangi risiko stroke berulang.

Hindari makanan yang mengandung garam tinggi, lemak trans, dan kolesterol tinggi. Perbanyak makan buah dan sayuran segar untuk menjaga kesehatan otak, jantung, serta pembuluh darah.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca