Penyakit Arteri Koroner Lebih Fatal Pada Wanita

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: Hello Sehat Medical Review Team

Lebih banyak wanita meninggal karena kardiovaskular daripada penyebab lainnya, dan kebanyakan kematian karena penyakit arteri koroner.

Sebagian besar wanita dengan penyakit arteri koroner memiliki bentuk penyakit yang termasuk “umum”—sama seperti pada pria. Rata-rata, wanita yang mulai mengalami penyakit arteri koroner sekitar 10 tahun lebih tua daripada pria dengan penyakit arteri koroner, dan wanita yang “lebih tua” ini memiliki hasil yang hampir sama dengan pria, jika membandingkan umur dibandingkan—setidaknya ketika penyakit arteri koroner terdiagnosis dan diobati secepatnya.

Sayangnya, lebih banyak lagi wanita dengan pria menunjukkan pola “atipikal” saat mengalami penyakit arteri koroner, dan pola atipikal ini sering mengakibatkan diagnosis yang salah dan terapi yang tidak memadai, dan karena itulah, biasanya memberikan hasil yang lebih buruk.

Umumnya, 3 aspek penyakit arteri koroner sering menyebabkan masalah pada wanita:

  • Gejala penyakit arteri koroner bisa berbeda-beda pada setiap wanita
  • Metode standar dalam mendiagnosis penyakit arteri koroner bisa menyesatkan pada wanita
  • Penyakit arteri koroner bisa saja atipikal pada wanita

Ciri-ciri penyakit arteri koroner yang atipikal ini, jika digabungkan dengan gagasan yang salah (yang masih dipercaya oleh banyak dokter) bahwa “wanita tidak mendapatkan serangan jantung,” berkontribusi besar dalam menunda diagnosis dan pengobatan penyakit arteri koroner pada wanita. Tiga faktor tersebut adalah:

Gejala penyakit arteri koroner bisa berbeda pada setiap wanita

Ketika wanita memiliki angina, mereka lebih sering mengalami gejala “atipikal” daripada pria. Daripada nyeri dada, mereka lebih sering mengalami sensasi panas atau terbakar, atau bahkan lunak saat disentuh, yang mungkin berada di punggung, bahu, lengan, atau rahang—dan wanita sering tidak mengalami ketidaknyamanan pada dada sama sekali.

Dokter yang waspada akan memikirkan angina setiap kali pasien menggambarkan rasa tidak nyaman sekilas saat beraktivitas yang bertempat di manapun di atas pinggang, dan mereka benar-benar tidak boleh dianggap remeh oleh gambaran gejala “atipikal” tersebut. Namun, jika dokter tidak berpikir secara spesifik mengenai kemungkinan penyakit arteri koroner, mereka kemungkinan besar akan menganggap gejala tersebut hanya sebagai nyeri otot dan tulang atau gangguan pencernaan.

Serangan jantung (atau infark myokardia) juga cenderung bertindak berbeda pada wanita. Daripada nyeri dada menyakitkan yang dianggap umum untuk serangan jantung, wanita sering mengalami mual, muntah, gangguan pencernaan, napas pendek atau kelelahan ekstrem—tapi tidak nyeri dada. Sayangnya, gejala ini juga mudah dianggap sesuatu selain penyakit jantung. Selain itu, wanita (terutama dengan diabetes) juga lebih sering terkena serangan jantung “diam-diam” daripada pria—yaitu serangan jantung tanpa gejala akut apapun sama sekali, dan yang hanya terdiagnosis nantinya, jika gejala jantung berikutnya muncul.

Diagnosis penyakit arteri koroner pada wanita bisa lebih sulit

Tes diagnosis yang bekerja sangat baik pada pria bisa menyesatkan pada wanita. Masalah paling umum adalah saat tes stres—pada wanita, electrocardiogram (ECG) selama olahraga sering menunjukkan perubahan yang mengindikasikan penyakit arteri koroner, apakah muncul penyakit arteri koroner, membuat studi sulit diterjemahkan. Banyak ahli jantung secara rutin menambahkan echocardiogram atau studi thallium saat melakukan tes stres pada wanita, yang meningkatkan akurasi diagnosis secara drastis.

Pada wanita dengan penyakit arteri koroner tipikal, angiografi koroner sama bergunanya dengan yang dilakukan pada pria; mengidentifikasi lokasi plak yang pasti (yaitu penyumbatan) dalam arteri koroner, dan memandu keputusan terapi. Namun, pada wanita dengan kelainan arteri koroner atipikal, angiogram koroner sering tampak normal yang sebenarnya salah. Karena itulah, angiografi wanita sering bukan merupakan standar diagnosis, yang biasanya bermanfaat pada pria.

Penyakit arteri koroner pada wanita bisa berbentuk atipikal

Setidaknya 4 kelainan arteri koroner atipikal dapat muncul pada wanita, biasanya pada wanita muda (yang belum menopause). Setiap kondisi ini dapat menghasilkan gejala angina dengan arteri koroner yang terlihat “normal” (arteri koroner yang sering tampak normal di angiogram). Masalahnya, tentu saja, adalah jika dokter mempercayai hasil angiogram, diagnosis sebenarnya akan terlewatkan.

Kesimpulan

Walaupun penyakit arteri korner sangat umum pada wanita, terlihat jelas dalam beberapa tahun sebelumnya bahwa penyakit arteri koroner pada wanita bisa sangat berbeda dari penyakit arteri koroner pada pria. Hal ini membuat diagnosis penyakit arteri koroner yang tepat menantang bagi wanita.

Bila Anda atau orang-orang terdekat Anda cemas bahwa Anda mungkin mengidap penyakit arteri koroner, pastikan Anda tahu tentang gejala atipikal yang menyertai penyakit arteri koroner pada wanita, dan hasil tes diagnosis yang atipikal yang mungkin Anda temui selama evaluasi. Ditambah lagi, pastikan dokter juga menyadari pola atipikal ini, sebelum dokter menganggap gejala ini sebagai non-jantung.

BACA JUGA:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca