Cara Mendiagnosis Penyakit Arteri Koroner

Oleh

Mendiagnosis penyakit arteri koroner bisa menantang baik pasien maupun dokter, karena banyak sekali orang berisiko terkena penyakit arteri koroner dan begitu banyak tes yang bisa dimanfaatkan. Siapa saja yang harus dites, dan tes apa saja yang harus mereka jalani?

Apa itu penyakit arteri koroner?

Penyakit arteri koroner adalah penyakit kronis arteri koroner. Dalam penyakit arteri koroner, atherosclerosis menyebabkan jalur arteri yang halus dan elastis menjadi keras, kaku, dan bengkak oleh “plak”, yang merupakan kumpulan kalsium, lemak, dan peradangan sel yang abnormal.

Plak ini dapat menonjol dalam saluran arteri, menyebabkan penyumbatan aliran darah sebagian, kondisi yang sering menyebabkan angina. Plak juga bisa mendadak pecah, menyebabkan penggumpalan darah terbentuk dalam arteri koroner yang menghasilkan penyumbatan aliran darah mendadak. Kebanyakan infark myokardia (serangan jantung) karena pecahnya plak akut.

Penyakit arteri koroner adalah penyakit kronis dan progresif yang biasanya muncul selama beberapa tahun sebelum seseorang sadar ada yang salah dengan diri mereka. Indikasi pertama yang sering kali muncul adalah terdapat masalah ketika kejadian yang tidak dapat berubah muncul, misalnya infark myokardia atau serangan jantung. Ini berarti bahwa jika Anda berisiko tinggi terkena penyakit arteri koroner, Anda tidak harus menunggu gejala tersebut muncul sebelum mencari tahu apakah Anda memang memiliki masalah.

Berikut ini adalah cara-cara mendiagnosis jika Anda memiliki penyakit arteri koroner.

1. Mengidentifikasi penyumbatan “signifikan”

Secara tradisional, diagnosis penyakit arteri koroner telah bergantung pada tes yang mencari bukti penyumbatan “signifikan” dalam arteri koroner. Pada umumnya, ahli jantung menganggap penyumbatan “signifikan” menghalangi 70% atau lebih saluran arteri.

Tes olahraga (atau tes stres) sering membantu dalam mendiagnosis arteri koroner yang tersumbat sebagian. Tes stres yang terkontrol sering mampu menemukan gejala angina dan perubahan karakterisitik pada electrocardiogram (ECG)—penemuan yang mengindikasikan bahwa terdapat penyumbatan.

Melakukan tes stres bersamaan dengan studi thallium/Cardiolite atau echocardiogram meningkatkan kemampuan untuk menemukan arteri koroner yang tersumbat sebagian. Thallium dan Cardiolite adalah zat radioaktif yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah selama olahraga. Zat ini disalurkan menuju otot jantung oleh arteri koroner, maka memungkinkan gambar jantung ditampilkan dengan kamera khusus. Jika salah satu atau lebih arteri koroner sebagian tersumbat, area otot jantung yang disuplai oleh arteri tersebut muncul di gambar sebagai bercak gelap.

Echocardiogram menciptakan gambar jantung berdetak dengan gelombang suara. Pergerakan otot jantung abnormal yang terlihat di echocardiogram selama olahraga kemungkinan adalah penyakit arteri koroner.

Jika tes stres menyatakan bahwa terdapat satu atau lebih penyumbatan, pasien umumnya dirujuk untuk kateterisasi jantung. Tujuan kateterisasi adalah untuk sepenuhnya mencirikan lokasi dan sejauh mana semua penyumbatan arteri koroner, biasanya dengan tujuan angioplasti, stenting, atau operasi bypass.

Tes noninvasif sedang dikembangkan yang mungkin suatu hari menggantikan kebutuhan kateterisasi jantung, termasuk CT scan sayatan majemuk dan MRI jantung. Sayangnya, tidak ada pendekatan saat ini yang bisa sepenuhnya menggantikan kebutuhan kateterisasi jantung.

2. Mengidentifikasi plak yang tidak menyebabkan penyumbatan signifikan

Dalam beberapa tahun belakangan ini, ahli jantung telah mengetahui bahwa infark myokardia dan angina tidak stabil disebabkan oleh pecahnya plak dalam arteri koroner. Ternyata dalam sebagian besar kasus, plak yang akhirnya pecah akan telah dianggap “nonsignifikan” (yaitu tidak menyebabkan penyumbatan signifikan) sebelum pecah. Inilah sebabnya kita sering mendengar orang menderita serangan jantung segera setelah diberi tahu bahwa mereka tidak mengidap penyakit arteri koroner signifikan.

Karena plak apapun dapat pecah, penting untuk mengetahui apakah terdapat plak—yang terkecil sekalipun. Orang yang mengidap arteri koroner harus mengambil langkah untuk menstabilkan plak dan mengurangi risiko pecahnya plak. (pengukuran tersebut sering termasuk mengatasi faktor risiko, perubahan gaya hidup, statin, dan aspirin.)

Scan kalsium termasuk cara yang bermanfaat dalam mendeteksi kehadiran penyakit arteri koroner yang ringan sekalipun. Scan kalsium adalah bentuk CT scan yang dapat menghitung jumlah kalsium dalam arteri koroner. Karena kalsium biasanya muncul di plak, mengukur jumlah kalsium dalam arteri memberikan indikasi apakah terdapat penyakit arteri koroner (dan kemudian plak) serta penyebaran penyakit arteri koroner.

Dengan memperingatkan Anda bahwa Anda setidaknya mengalami penyakit jantung koroner yang cukup untuk memproduksi plak “diam-diam”, scan kalsium dapat memberikan Anda kesempatan untuk mengubah gaya hidup, dan mungkin minum obat-obatan yang tepat, saat masih terdapat waktu untuk melakukannya.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca