Awas! Erosi Arteri Koroner Lebih Mungkin Terjadi Pada Wanita

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: Hello Sehat Medical Review Team

Beberapa tahun ini, kardiolog telah mengetahui bahwa erosi arteri koroner atau coronary artery erosion (CAD) yang terjadi pada kaum hawa berbeda dengan CAD yang terjadi pada kaum pria. Gejala-gejala yang muncul pada wanita pun dapat berbeda. Tes diagnostik yang biasanya digunakan untuk mengetahui penyakit CAD dapat memberikan informasi yang ‘salah’ kepada wanita, dan penyebab utama penyakit tersebut pun dapat berbeda pula.

Saat ini telah muncul penemuan baru yang lebih signifikan untuk menjelaskan perbedaan gejala CAD pada wanita dan pria.

Baru-baru ini peneliti telah menemukan fakta pada wanita muda, yang secara mendadak meninggal dunia karena trombosis koroner (gumpalan darah yang terbentuk di arteri koroner dan dapat menyumbat aliran darah). Menggumpalnya darah yang bersifat fatal ini dapat berbeda situasinya dengan korban pria, yang juga mengalami kematian mendadak.

Bagaimana trombosis koroner terjadi?

Umumnya, sindrom koroner akut dapat disebabkan oleh pecahnya plak aterosklerosis. Hal ini memicu ‘gunk’ di dalam plaque (kolesterol, kalsium, penyumbatan sel-sel, dan bahan lainnya) ke dalam aliran darah yang dapat memicu pembekuan.

Jika pembekuan menyebabkan obstruksi secara sempurna (atau hampir sempurna) dari ateri koroner, aliran darah ke bagian otot jantung yang disediakan oleh arteri tersebut tidak akan berfungsi. Obstruksi ini dapat menyebabkan serangan jantung (yang juga dikenal sebagai myocardial infarction), dan jika terjadi terlalu sering dapat menyebabkan kematian fungsi jantung secara mendadak.

Perbedaan baru pada wanita yang terserang penyakit arteri koroner

Penemuan terbaru menguak fakta bahwa pada wanita yang berusia di bawah 50 tahun (secara umum berada dalam fase premenopause), terjadinya plaque rupture terkadang tidak disebabkan oleh pembekuan darah.

Akan tetapi, sebagai gantinya, pembekuan dapat dipicu oleh erosi yang terjadi pada dinding pembuluh darah.

Apa perbedaan antara rupture (pecah) dan erosion (erosi)?

Perbedaannya adalah pecahnya plak dianalogikan seperti jerawat yang bermunculan. (Faktanya, material yang ada di dalamnya tidak sepenuhnya sama dengan material yang ada di dalam atherosclerotic plaque). Akan tetapi, sebuah erosi lebih seperti shallow ulcer – sebuah plak yang berkaitan dengan erosi mungkin cukup kecil, atau mungkin tidak ada sama sekali. Sebuah erosi, seperti pecahnya plak, dapat menyebabkan pembentukan pembekuan darah.

Apa arti dari penemuan baru ini?

Penemuan baru ini dapat menjelaskan mengapa sebagian besar wanita bisa lebih berisiko dibandingkan dengan pria, walaupun sama-sama memiliki trombosis koroner. Hal ini disebabkan oleh pembekuan yang terbentuk karena erosi yang terkadang lebih berbahaya daripada pembekuan yang terbentuk akibat pecah. Gumpalan erosi tidak terbentuk secara tiba-tiba, yang memiliki arti bahwa gumpalan dapat memiliki waktu untuk tumbuh. Jadi, saat hal ini menyebabkan obstruksi, kejadian ini akan sangat sulit untuk dibuat kembali seperti semula.

Lebih jauh, erosi arteri koroner sangat sulit atau bahkan tidak mungkin terlihat saat terjadinya katerisasi jantung atau stress/thallium testing. Dengan demikian, erosi arteri koroner saat ini masih terlihat sebagai bentuk lain dari penyakit arteri koroner yang dihubungkan dengan arteri koroner ‘normal’.

Siapa yang dapat mengidap erosi arteri koroner?

Erosi arteri koroner merupakan sebuah kondisi yang hampir selalu terlihat pada wanita yang sedang berada pada fase premenopause, dan juga terjadi pada wanita yang merokok. Dengan demikian, selain menjadi faktor risiko bagi kesehatan semua orang, merokok pun menjadi faktor risiko terpenting bagi penyakit erosi arteri koroner.

Koroner setelah erosi juga dapat menyerang wanita yang secara berulang mengalami kejang arteri koroner, seperti Prinzmental’s angina.

Saat ini semakin terlihat bahwa CAD yang terjadi pada wanita muda berbeda dengan penyakit CAD klasik yang terjadi pada wanita yang lebih tua dan juga pada pria. Penemuan fakta ini menggiring kepada usaha untuk mendapatkan pemahaman penuh mengenai perbedaan tersebut dan menentukan strategi efektif untuk menjalani pengobatan.

BACA JUGA:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca