Mendeteksi Gejala HIV & AIDS Sesuai Dengan Stadiumnya

Oleh

HIV dan AIDS adalah penyakit mematikan yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Sebelum akhirnya benar-benar melumpuhkan, kebanyakan penderitanya tidak menyadari tanda dan gejala awal HIV AIDS. Hal ini karena infeksi ini punya gejala yang sangat mirip dengan gejala penyakit lain akibat serangan virus, misalnya flu. Tak heran bila banyak orang dengan HIV AIDS (ODHA) terlambat diobati dan kerusakan sistem tubuh yang mereka alami sudah terlanjur terjadi sangat parah dan fatal. 

Bagaimana seseorang bisa terjangkit gejala HIV dan AIDS

HIV dan AIDS bukanlah penyakit yang sama. HIV adalah jenis virus, kepanjangan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini menghancurkan sel CD4 (sel T), yaitu sel darah putih yang berperan besar menjaga kekebalan tubuh. Semakin sedikit sel T CD4 yang Anda miliki, semakin lemah sistem kekebalan tubuh Anda. Akibatnya, orang dengan HIV akan lebih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi. 

AIDS itu sendiri adalah kumpulan gejala kronis yang muncul sebagai tahapan terakhir dari gejala HIV stadium lanjut. AIDS adalah singkatan dari Aquired Immune Deficiency Syndrome. Jadi, seseorang dapat menderita AIDS  jika ia sudah lebih dulu terjangkit atau terinfeksi virus penyebab AIDS.

Dalam banyak kasus, AIDS juga bisa muncul karena seseorang mengalami lebih dari satu penyakit infeksi akibat komplikasi HIV. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua pengidap HIV akan menderita AIDS.

Dengan mendeteksi gejala sendiri mungkin, menjalani pengobatan teratur, serta menerapkan perawatan preventif yang tepat, pengidap HIV dapat hidup sehat tanpa takut mengalami AIDS. 

Tanda dan gejala HIV sesuai stadium

Ada beberapa tahapan infeksi HIV hingga seseorang menjadi AIDS. WHO membaginya sesuai gejala klinis dan beberapa tes pemeriksaan yang dilakukan dokter.

Banyak ODHA tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi karena gejala awal HIV mirip dengan infeksi virus biasa. Misalnya saja penyakit flu, yang dapat hilang-kambuh kembali.

Di samping itu, gejala HIV AIDS pun umumnya berlangsung secara lambat, sehingga penyakit ini sangat mungkin untuk terlambat dideteksi. Bahkan, HIV bisa saja menggerogoti tubuh bertahun-tahun lamanya tanpa memunculkan gejala apa pun.

Maka dari itu, sebelum semuanya terlambat, penting untuk mengetahui tanda dan gejala HIV AIDS sejak dini. Apalagi bila seseorang punya tingkat risiko penularan infeksi yang besar.

Gejala HIV awal

Gejala HIV awal dapat terjadi beberapa minggu setelah seseorang terpapar oleh virus HIV. Biasanya berlangsung 3-6 minggu, dan terjadi paling lama 3 bulan setelah virus tersebut masuk ke tubuh.

Virus HIV sendiri dapat masuk ke dalam tubuh melalui pertukaran cairan tubuh. Misalnya lewat air mani, cairan vagina dari seks tanpa kondom, transfusi darah, hingga air susu ibu dalam proses menyusui.

Ketika virus sudah menginfeksi tubuh, seseorang dapat mengalami sejumlah gejala yang mirip-mirip dengan gejala sakit flu, yaitu:

1. Demam

Demam pada gejala HIV bisa terjadi akibat adanya peradangan dari dalam tubuh. Demam dengan suhu kira-kira mencapai 38 derajat Celcius, juga bisa menjadi gejala pertama HIV yang harus diwaspadai. Saat demam birus HIV mulai masuk ke dalam aliran darah dan bertambah banyak. Sistem kekebakan tubuh Anda lantas akan melawan virus HIV tersebut, dan tanda reaksi peradangan ini akan hadir dalam bentuk demam atau suhu badan yang meningkat.

2. Kelenjar getah bening membesar

Kelenjar getah bening umumnya terletak di leher, ketiak, dan pangkal paha. Kelenjar getah bening ini bertugas memproduksi sel-sel kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. Nah pada saat terserah HIV, kelenjar getag bening akan bekerja amat keras mengeluarkan sistem kekebalan tubuh untuk membasmi virus HIV. Pada saat yang sama, kelenjar getah bening juga diserang ole virus HIV. Akibatnya, kelenjar getah bening, teruma di bagian leher akan bengkak dan meradang saat tubuh mengalami gejala HIV

3. Badan terasa lemas

Dikutip dari Women’s Health, dr. Michael Horberg mengatakan bahwa salah satau gejala tanda HIV dan AIDS adalah badan yang terasa lelah terus menerus. Anda mungkin akan merasakan gejala sangat lelah, kurang lebih selama satu minggu setelah pertama kali terinfeksi HIV.

Kondisi ini disebabkan karena tubuh Anda sedang melawan virus HIV yang dapat berkembang banyak. Jelas ini akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh bekerja berat membunuh virus HIV tersebut. Hasilnya, badan jadi terasa lelah, walaupun tanpa melakukan aktivitas yang berat sekalipun.

4. Sakit tenggorokan

Saat tubuh mengalami gejala HIV, terkadang sering ditandai dengan kondisi sakit tenggorokan. Sakit tenggorokan sering disertai dengan sakit saat menelan juga. Kondisi ini merupakan dampak dari HIV yang melemahkan sistem kekebalan Anda. Alhasil, virus mudah masuk lewat mulut dan membuat peradangan di tenggorokan

5. Diare

Diare dapat menjadi salah satu gejala HIV AIDS yang harus diwaspadai. Pasalnya, ketika Anda mulai terinfeksi HIV, bakteri seperti Mycobacterium avium complex (MAC) atau Cryptosporidium, dapat dengan mudahnya masuk dan menyerang sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Inilah yang menyebabkan orang HIV mudaj kena diare. Gejala ini dapat berlangsung beberapa hari, kemudian sembuh spontan walaupun tanpa pengobatan. Pada saat ini, penderita sudah mulai dapat menularkan penyakitnya ke orang lain.

6. Infeksi jamur

Infeksi jamur atau ragi, adalah kondisi yang dapat dialami oleh orang yang menderita gejala HIV awal. Ragi a atau jamur adalah mikroorganisme yang secara alami hidup di mulut dan juga vagina. Pada kondisi tubuh yang normal dan sehat, jamur dapat  tumbuh seimbang dan tidak menyebabkan masalah kesehatan apapun. n

Namun saat tubuh terkena HIV, sistem kekebalan tubuh yang mengatur keseimbangan jamur di tubuh jadi lemah. Alhasi, jamur dapat tumbuh menyebar dan menyebabkan masalah kesehatan.

Segera periksakan pada dokter, apabila di vagina, terutama untuk wanita, mengalami tanda-tanda infeksi jamur. Infeksi ragi ini bisa menjadi pertanda awal bahwa tubuh Anda telah terinfeksi dan mengalami gejala HIV.

7. Ruam merah

Pada beberapa orang yang mengalami gejala HIV, kemungkinan di tubuhnya akan terdapat 1 sampai 2 bercak ruam merah di kulitnya. Ruam merah bisa terdapat di seluruh tubuh, misalnya di lengan, dada, dan kaki Ruam merah gejala HIV biasanya tidak benjol dan tidak gatal. Ruam ini terjadi dibarengi dengan demam, yang mana merupakan reaksi peradangan alami tubuh Anda saat ia melawan infeksi.

Gejala HIV stadium I

Stadium 1 adalah fase di mana gejala awal sudah mulai hilang, disebut sebagai infeksi HIV asimtomatik. Meski begitu, fase ini tidak atau belum dikategorikan sebagai AIDS.

Pada stadium ini, penderita tidak menunjukkan gejala, dan kalau pun ada gejalanya hanya berupa pembesaran kelenjar getah bening di berbagai bagian tubuh penderita, misalnya leher, ketiak, dan lipatan paha.

Periode tanpa gejala dapat terjadi bertahun-tahun, bisa 5-10 tahun tergantung dari daya tahan tubuh penderita. Rata-rata, para penderita HIV akan berada di stadium ini selama 7 tahun.

ODHA pun kerap masih tampak normal layaknya orang sehat pada umumnya. Alhasil, banyak yang tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi virus HIV dan menularkannya ke orang lain

Gejala HIV stadium II

Pada gejala HIV stadium ini, daya tahan tubuh ODHA umumnya sudah mulai turun. Virus menunjukkan aktivitasnya pada daerah yang memiliki membran mukosa kecil. Gejalanya beragam, tapi masih belum khas atau begitu spesifik.

Biasanya hal ini terjadi pada pasien yang memiliki gaya hidup tidak berisiko tinggi dan masih belum mengetahui bahwa dirinya sudah terinfeksi. Akibatnya, mereka tidak melakukan pemeriksaan darah dan otomatis tidak memperoleh pengobatan dini untuk mencegah percepatan masuk ke stadium infeksi HIV berikutnya.

Tanda dan gejala HIV dalam tahap ini berupa:

  • Penurunan berat badan yang drastis tanpa sebab yang jelas. Penderita pun tidak dalam diet atau pengobatan yang dapat menurunkan berat badan. Diperkirakan penurannya terjadi kurang dari 10% berat badan sebelum terkena penyakit. Padahal. 
  • Infeksi saluran napas atas yang sering kambuh, seperti sinusitis, bronkitis radang telinga tengah (otitis media), radang tenggorokan (faringitis).
  • Herpes zoster yang berulang dalam 5 tahun.
  • Radang pada mulut dan stomatitis (sariawan) yang berulang.
  • Gatal pada kulit (papular pruritic eruption).
  • Dermatitis seboroik yang ditandai ketombe luas yang tiba-tiba muncul.
  • Infeksi jamur pada kuku dan jari-jari.

Gejala HIV stadium III

Fase ini disebut fase simptomatik, yang sudah ditandai dengan adanya gejala-gejala infeksi primer. Gejala yang timbul pada stadium III ini cukup khas sehingga kita bisa mengarah pada dugaan diagnosis infeksi HIV/AIDS.

Penderita biasanya akan merasa lemah dan menghabiskan waktu 50% di tempat tidur. Namun, diperlukan pemeriksaan darah untuk menegakkan diagnosis dengan tepat. Rentang waktu dari  gejala HIV stadium III menuju AIDS rata-rata 3 tahun.

Gejala HIV pada stadium III antara lain:

  • Penurunan berat badan lebih dari 10% dari perkiraan berat badan sebelumnya tanpa penyebab yang jelas.
  • Mencret-mencret (diare Kronis) yang tidak jelas penyebabnya dan sudah berlangsung lebih dari 1 bulan.
  • Demam yang terus menerus atau hilang timbul selama lebih dari 1 bulan yang tidak jelas penyebabnya.
  • Infeksi jamur di mulut (candidiasis oral).
  • Oral hairy leukoplakia, munculnya bercak putih pada lidah yang permukaannya kasar, tampak berombak, dan berbulu.
  • Tuberkulosis paru yang terdiagnosis 2 tahun terakhir.
  • Radang mulut akut nekrotik, gingivitis (radang gusi), periodontitis yang berulang dan tidak kunjung sembuh.
  • Hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan turunnya sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

Tanda dan gejala AIDS

Stadium IV penyakit HIV disebut juga stadium akhir AIDS. 

Biasanya AIDS hanya akan berkembang bila kadar sel CD4 dalam tubuh penderita terlampau rendah, yaitu di bawah angka 200 sel/mm3. Pada orang dewasa normal, kadar sel CD4 idealnya berkisar antara 500 sel/mm3 sampai 1600 sel/mm3.

Tanda dan gejala khas AIDS pada stadium HIV akhir ini berupa munculnya pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh. Pengidapnya juga dapat memunculkan beberapa infeksi oportunistik.

Gejala HIV dan AIDS pada tahap lanjut dapat meliputi:

  1. HIV wasting syndrome, di mana penderita menjadi kurus kering dan tidak bertenaga.
  2. Pneumonia pneumocystis yang ditandai dengan batuk kering, sesak yang progresif, demam, dan kelelahan berat. 
  3. Infeksi bakteri yang berat seperti infeksi paru (pneumonia, empyema, pyomyositis), infeksi sendi dan tulang dan radang otak (meningitis).
  4. Infeksi herpes simplex kronis (lebih dari 1 bulan).
  5. Penyakit tuberkulosis di luar paru, misalnya tuberkulosis kelenjar.
  6. Candidiasis esofagus yaitu infeksi jamur di kerongkongan yang membuat penderita sangat sulit untuk makan.
  7. Sarcoma Kaposi.
  8. Toxoplasmosis cerebral yaitu infeksi toksoplasma di otak yang dapat menyebabkan abses atau borok otak.
  9. Encephalophaty HIV, keadaan di mana penderita sudah mengalami penurunan dan perubahan tingkat kesadaran.

Pada fase ini, umumnya ODHA sudah sangat lemah sehingga aktivitas sehari-hari mereka 50%-nya dilakukan di atas tempat tidur.

Cara memastikan tanda dan gejala HIV AIDS

Berhubung HIV AIDS kerap kali tidak memunculkan tanda dan gejala yang berarti, maka cara terbaik untuk mendiagnosis penyakit tersebut adalah dengan tes HIV. Tes HIV penting dilakukan, terlebih untuk orang yang aktif secara seksual dan pernah berganti-ganti pasangan seks.

Selain untuk mendiagnosis orang yang baru terinfeksi virus, tes HIV juga dapat mendeteksi infeksi yang sebelumnya tidak diketahui. Tak hanya itu saja. Prosedur medis satu ini pun dapat memastikan status HIV Pada orang yang berisiko tinggi untuk terinfeksi.

Jika hasil tes positif, dokter dapat segera menentukan tindakan pengobatan atau pencegahan supaya kondisi Anda tidak semakin memburuk. Ingat, siapa pun dapat terkena virus HIV.

Semakin cepat terdiagnosis, Anda akan semakin cepat mendapatkan perawatan supaya dapat tetap sehat selama bertahun-tahun dan mengurangi kemungkinan penularan HIV ke pasangan atau keturunan Anda.

Nah, mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, tes HIV biasanya direkomendasikan untuk:

  • Ibu hamil di wilayah epidemi meluas dan epidemi terkonsentrasi.
  • Bayi yang baru lahir dari ibu terinfeksi HIV dan sudah mendapatkan tindakan pencegahan penularan dari ibu ke anak.
  • Anak yang riwayat keluarganya tidak diketahui dengan jelas.
  • Korban kekerasan seksual, entah itu anak-anak maupun orang dewasa.
  • Seseorang yang sering menerima transfusi berulang atau terpajan jarum suntik.
  • Pekerja seks.
  • Pengguna obat-obatan terlarang (NAPZA) terutama dalam bentuk suntik.
  • Laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL), dan waria.
  • Pasangan ODHA.
  • Orang yang sakit tuberculosis (TB).
  • Orang yang punya riwayat penyakit kelamin.
  • Orang yang punya riwayat penyakit hepatitis.

Baca Juga:

Sumber