Mendeteksi Gejala HIV & AIDS Sesuai Dengan Stadiumnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Maret 2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

HIV dan AIDS adalah penyakit yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. Sebelum infeksi HIV akhirnya benar-benar menggerogoti tubuh, kebanyakan penderitanya awalnya “hanya” menampakkan gejala awal berupa flu umum yang dapat sembuh sewaktu-waktu. Namun jika terlambat didiagnosis dan diobati, gejala HIV/AIDS sangat mungkin bertambah parah hingga berakibat fatal.

Bagaimana seseorang bisa terjangkit gejala HIV dan AIDS

HIV dan AIDS bukanlah kondisi yang sama. HIV adalah nama virus yang merupakan kepanjangan dari Human Immunodeficiency Virus.

Virus HIV sendiri dapat masuk ke dalam tubuh melalui pertukaran cairan tubuh. Misalnya lewat air mani, cairan vagina dari seks tanpa kondom, transfusi darah, hingga air susu ibu dalam proses menyusui.

Virus ini menghancurkan sel CD4 (sel T), yaitu sel darah putih yang bertugas untuk melawan infeksi. Semakin sedikit sel T CD4 yang Anda miliki, semakin lemah sistem kekebalan tubuh Anda. Akibatnya, orang dengan HIV akan lebih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi.

Sementara AIDS itu sendiri adalah kumpulan gejala kronis yang muncul sebagai tahapan terakhir dari gejala HIV stadium lanjut. AIDS adalah singkatan dari Aquired Immune Deficiency Syndrome. Jadi, seseorang dapat menderita AIDS  jika ia sudah lebih dulu terjangkit atau terinfeksi virus penyebab HIV.

Dalam banyak kasus, AIDS juga bisa muncul karena seseorang mengalami lebih dari satu penyakit infeksi akibat komplikasi HIV. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua pengidap HIV akan menderita AIDS.

Dengan mendeteksi gejala HIV sendiri mungkin, menjalani pengobatan teratur, serta menerapkan perawatan preventif yang tepat, pengidap HIV dapat hidup sehat tanpa takut mengalami AIDS. 

Tanda dan gejala HIV per stadium

Seseorang pengidap HIV/AIDS, biasa disebut ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS), bisa saja tidak menyadari mereka memiliki penyakit tersebut sampai bertahun-tahun lamanya karena kondisi ini umumnya tidak memunculkan gejala pasti.

Maka dari itu, penting untuk mengetahui tanda dan gejala HIV sejak dini sebelum terlambat. Apalagi bila seseorang punya tingkat risiko penularan infeksi yang besar. Gejala HIV bahkan umumnya tidak langsung muncul setelah paparan virus pertama sehingga sangat mungkin untuk terlambat dideteksi. 

WHO telah membagi perkembangan infeksi HIV hingga menjadi AIDS berdasarkan gejala klinis dan beberapa tes diagnostik yang dilakukan dokter. Berikut rinciannya

Gejala HIV awal

Gejala HIV awal dapat mulai terjadi dalam 3-6 minggu atau paling lama 3 bulan setelah virus masuk ke tubuh. Ketika virus sudah menginfeksi tubuh, seseorang dapat mengalami sejumlah gejala HIV yang mirip-mirip dengan gejala sakit flu, yaitu:

1. Demam

Demam sebagai gejala HIV terjadi akibat adanya peradangan dari dalam tubuh. Demam dengan suhu kira-kira mencapai 38 derajat Celcius, juga bisa menjadi gejala HIV pertama yang harus diwaspadai. Ini bisa disebabkan dan  menjadi tanda bahwa tubuh Anda sedang berusaha melawan infeksi 

Gejala HIV tahap awal ini bisa berlangsung selama satu hingga dua minggu. Saat demam, virus HIV mulai masuk ke dalam aliran darah dan bertambah banyak.

Sistem kekebakan tubuh Anda lantas akan melawan virus HIV tersebut, dan tanda reaksi peradangan ini akan hadir dalam bentuk demam atau suhu badan yang meningkat.

2. Kelenjar getah bening membesar

Gejala HIV selanjutnya yang kerap muncul adalah pembengkakan pada kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening umumnya terletak di leher, ketiak, dan pangkal paha. Kelenjar getah bening ini bertugas memproduksi sel-sel kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

Pada saat terserang HIV, kelenjar getah bening akan bekerja amat keras mengeluarkan sistem kekebalan tubuh untuk membasmi virus HIV. Akibatnya, kelenjar getah bening, teruma di bagian leher akan membengkak dan meradang.

3. Badan terasa lemas

Mengutip Women’s Health, dr. Michael Horberg mengatakan salah satu gejala tanda HIV dan AIDS adalah badan yang terasa lelah terus menerus. Pengidap HIV mungkin akan terus merasa mudah lelah kurang lebih selama satu minggu setelah pertama kali terinfeksi HIV.

Gejala HIV ini disebabkan karena tubuh Anda sedang melawan virus HIV yang dapat berkembang banyak. Jelas ini akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh bekerja berat membunuh virus HIV tersebut. Hasilnya, badan jadi terasa lelah, walaupun tanpa melakukan aktivitas yang berat sekalipun.

4. Sakit tenggorokan

Saat tubuh mengalami gejala HIV, terkadang sering ditandai dengan kondisi sakit tenggorokan. Sakit tenggorokan sering disertai dengan sakit saat menelan juga. Gejala HIV merupakan dampak dari HIV yang melemahkan sistem kekebalan Anda. Alhasil, virus mudah masuk lewat mulut dan membuat peradangan di tenggorokan.

5. Diare

Diare dapat menjadi salah satu gejala HIV dan AIDS yang harus diwaspadai. Pasalnya, ketika Anda mulai terinfeksi HIV, bakteri seperti Mycobacterium avium complex (MAC) atau Cryptosporidium, dapat dengan mudahnya masuk dan menyerang sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Inilah yang menyebabkan orang HIV mudaj kena diare. Gejala HIV ini dapat berlangsung beberapa hari, kemudian sembuh spontan walaupun tanpa pengobatan. Pada saat mengalami gejala HIV ini, penderita sudah mulai dapat menularkan penyakitnya ke orang lain.

6. Infeksi jamur

Pada dasarnya, gejala HIV pada wanita sangat mirip dengan gejala HIV pada pria. Satu-satunya gejala HIV yang khas pada wanita adalah tubuh yang lebih rentan terserang infeksi jamur. Infeksi jamur atau ragi, adalah kondisi yang dapat dialami oleh orang yang menderita gejala HIV awal.

Ragi atau jamur adalah mikroorganisme yang secara alami hidup di mulut dan juga vagina. Pada kondisi tubuh yang normal dan sehat, jamur dapat  tumbuh seimbang dan tidak menyebabkan masalah kesehatan apapun.

Namun saat tubuh terkena HIV, sistem kekebalan tubuh yang mengatur keseimbangan jamur di tubuh jadi lemah. Alhasi, jamur dapat tumbuh menyebar dan menyebabkan masalah kesehatan.

Segera periksakan pada dokter, apabila Anda mengalami gejala HIV berupa infeksi jamur pada vagina. Infeksi ragi ini bisa menjadi pertanda awal bahwa tubuh Anda telah terinfeksi dan mengalami gejala HIV.

7. Ruam merah

Pada beberapa orang yang mengalami gejala HIV, kemungkinan di tubuhnya akan terdapat 1 sampai 2 bercak ruam merah di kulitnya. Gejala HIV berupa ruam merah bisa terdapat di seluruh tubuh, misalnya di lengan, dada, dan kaki Ruam merah gejala HIV biasanya tidak benjol dan tidak gatal. Ruam ini terjadi dibarengi dengan demam, yang mana merupakan reaksi peradangan alami tubuh Anda saat ia melawan infeksi.

Gejala HIV stadium I

Stadium 1 adalah fase di mana gejala HIV awal sudah mulai hilang, disebut sebagai infeksi HIV asimtomatik. Meski begitu, fase ini tidak atau belum dikategorikan sebagai AIDS.

Pada stadium ini, penderita tidak menunjukkan gejala, dan kalau pun ada gejalanya hanya berupa pembesaran kelenjar getah bening di berbagai bagian tubuh penderita, misalnya leher, ketiak, dan lipatan paha.

Periode tanpa gejala dapat terjadi bertahun-tahun, bisa 5-10 tahun tergantung dari daya tahan tubuh penderita. Rata-rata, para penderita HIV akan berada di stadium ini selama 7 tahun.

ODHA pun kerap masih tampak normal layaknya orang sehat pada umumnya. Alhasil, banyak yang tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi virus HIV dan menularkannya ke orang lain

Gejala HIV stadium II

Pada gejala HIV stadium ini, daya tahan tubuh ODHA umumnya sudah mulai turun. Virus menunjukkan aktivitasnya pada daerah yang memiliki membran mukosa kecil. Gejalanya beragam, tapi masih belum khas atau begitu spesifik.

Biasanya hal ini terjadi pada pasien yang memiliki gaya hidup tidak berisiko tinggi dan masih belum mengetahui bahwa dirinya sudah terinfeksi. Akibatnya, mereka tidak melakukan pemeriksaan darah dan otomatis tidak memperoleh pengobatan dini untuk mencegah percepatan masuk ke stadium infeksi HIV berikutnya.

Tanda dan gejala HIV dalam tahap ini berupa:

  • Penurunan berat badan yang drastis tanpa sebab yang jelas. Penderita pun tidak dalam diet atau pengobatan yang dapat menurunkan berat badan. Diperkirakan penurannya terjadi kurang dari 10% berat badan sebelum terkena penyakit. Padahal. 
  • Infeksi saluran napas atas yang sering kambuh, seperti sinusitis, bronkitis radang telinga tengah (otitis media), radang tenggorokan (faringitis).
  • Herpes zoster yang berulang dalam 5 tahun.
  • Radang pada mulut dan stomatitis (sariawan) yang berulang.
  • Gatal pada kulit (papular pruritic eruption).
  • Dermatitis seboroik yang ditandai ketombe luas yang tiba-tiba muncul.
  • Infeksi jamur pada kuku dan jari-jari.

Gejala HIV stadium III

Fase ini disebut fase simptomatik, yang sudah ditandai dengan adanya gejala-gejala infeksi primer. Gejala yang timbul pada stadium III ini cukup khas sehingga kita bisa mengarah pada dugaan diagnosis infeksi HIV/AIDS.

Penderita biasanya akan merasa lemah dan menghabiskan waktu 50% di tempat tidur. Namun, diperlukan pemeriksaan darah untuk menegakkan diagnosis dengan tepat. Rentang waktu dari  gejala HIV stadium III menuju AIDS rata-rata 3 tahun.

Gejala HIV pada stadium III antara lain:

  • Penurunan berat badan lebih dari 10% dari perkiraan berat badan sebelumnya tanpa penyebab yang jelas.
  • Mencret-mencret (diare Kronis) yang tidak jelas penyebabnya dan sudah berlangsung lebih dari 1 bulan.
  • Demam yang terus menerus atau hilang timbul selama lebih dari 1 bulan yang tidak jelas penyebabnya.
  • Infeksi jamur di mulut (candidiasis oral).
  • Oral hairy leukoplakia, munculnya bercak putih pada lidah yang permukaannya kasar, tampak berombak, dan berbulu.
  • Tuberkulosis paru yang terdiagnosis 2 tahun terakhir.
  • Radang mulut akut nekrotik, gingivitis (radang gusi), periodontitis yang berulang dan tidak kunjung sembuh.
  • Hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan turunnya sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

Tanda dan gejala AIDS

Stadium IV penyakit HIV disebut juga stadium akhir AIDS. 

Biasanya gejala AIDS ditandai dengan kadar sel CD4 dalam tubuh penderita terlampau rendah, yaitu di bawah angka 200 sel/mm3. Pada orang dewasa normal, kadar sel CD4 idealnya berkisar antara 500 sel/mm3 sampai 1600 sel/mm3.

Tanda dan gejala AIDS pada stadium HIV akhir ini berupa munculnya pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh. Pengidapnya juga dapat memunculkan beberapa infeksi oportunistik.

Gejala AIDS atau gejala HIV tahap lanjut dapat meliputi:

  • HIV wasting syndrome, di mana penderita menjadi kurus kering dan tidak bertenaga.
  • Pneumonia pneumocystis yang ditandai dengan batuk kering, sesak yang progresif, demam, dan kelelahan berat. 
  • Infeksi bakteri yang berat seperti infeksi paru (pneumonia, empyema, pyomyositis), infeksi sendi dan tulang dan radang otak (meningitis).
  • Infeksi herpes simplex kronis (lebih dari 1 bulan).
  • Penyakit tuberkulosis di luar paru, misalnya tuberkulosis kelenjar.
  • Candidiasis esofagus yaitu infeksi jamur di kerongkongan yang membuat penderita sangat sulit untuk makan.
  • Sarcoma Kaposi.
  • Toxoplasmosis cerebral yaitu infeksi toksoplasma di otak yang dapat menyebabkan abses atau borok otak.
  • Encephalophaty HIV, keadaan di mana penderita sudah mengalami penurunan dan perubahan tingkat kesadaran.

Khususnya pada wanita, gejala AIDS dapat pula berwujud sebagai:

  • Pelvic Inflammatory Disease atau radang panggul. Peradangan ini menyerang bagian reproduksi wanita seperti rahim, leher rahim, tuba fallopi, dan indung telur. 
  • Perubahan terhadap siklus haid, menjadi lebih sering atau bahkan jarang, darah yang keluar sangat banyak, atau mengalami amenorrhea (tidak haid) selama lebih dari 90 hari.

Selain mengalami berbagai gejala AIDS di atas, umumnya ODHA sudah sangat lemah sehingga aktivitas sehari-hari mereka 50%-nya dilakukan di atas tempat tidur.

Cara memastikan tanda dan gejala HIV AIDS

Dikarenakan tanda dan gejala HIV AIDS sering kali tidak muncul di awal, maka cara terbaik untuk mendiagnosis penyakit tersebut adalah dengan tes HIV. Tes HIV penting dilakukan, terlebih untuk orang yang aktif secara seksual dan pernah berganti-ganti pasangan seks.

Selain untuk mendiagnosis orang yang baru terinfeksi virus, tes HIV juga dapat mendeteksi infeksi yang sebelumnya tidak diketahui. Tak hanya itu, prosedur medis satu ini pun dapat memastikan status HIV pada orang yang berisiko tinggi untuk terinfeksi.

Jika hasil tes positif, apalagi sudah sampai ke tahap infeksi yang lebih parah, dokter dapat segera menentukan tindakan pengobatan. Hal ini dilakukan guna mencegah  gejala AIDS yang Anda alami tidak semakin memburuk. Ingat, siapa pun dapat terkena virus HIV.

Semakin cepat gejala AIDS teridentifikasi dan terdiagnosis, Anda akan semakin cepat mendapatkan perawatan supaya dapat tetap sehat selama bertahun-tahun dan mengurangi kemungkinan penularan HIV ke pasangan atau keturunan Anda.

Nah, mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, tes HIV biasanya direkomendasikan dilakukan sebelum mengalami gejala AIDS pada:

  • Ibu hamil di wilayah epidemi meluas dan epidemi terkonsentrasi.
  • Bayi yang baru lahir dari ibu terinfeksi HIV dan sudah mendapatkan tindakan pencegahan penularan dari ibu ke anak.
  • Anak yang riwayat keluarganya tidak diketahui dengan jelas.
  • Korban kekerasan seksual, entah itu anak-anak maupun orang dewasa.
  • Seseorang yang sering menerima transfusi berulang atau terpajan jarum suntik.
  • Pekerja seks.
  • Pengguna obat-obatan terlarang (NAPZA) terutama dalam bentuk suntik.
  • Laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL), dan waria.
  • Pasangan ODHA.
  • Orang yang sakit tuberculosis (TB).
  • Orang yang punya riwayat penyakit kelamin.
  • Orang yang punya riwayat penyakit hepatitis.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

3 Kandungan Jambu Biji yang Ampuh Menjaga Imun Tubuh

Entah itu dibuat jus atau dimakan secara langung, kandungan pada jambu biji ternyata memberi manfaat untuk menjaga dan meningkatkan sistem imun Anda.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Konten Bersponsor
manfaat jus jambu biji
Nutrisi, Hidup Sehat 7 April 2020 . Waktu baca 4 menit

Cara Merawat Anak yang Terkena HIV/AIDS

Pasti Anda sedih bila tahu anak Anda kena virus HIV. Namun, Anda harus tetap melakukan perawatan kepada anak sebaik mungkin. Apa tips merawat anak HIV/AIDS?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
HIV/AIDS 21 Maret 2020 . Waktu baca 3 menit

Pasien Kedua yang Dinyatakan Sembuh dari HIV, Ini Faktanya

Obat untuk menyembuhkan pasien HIV memang belum ditemukan. Namun, untuk kedua kalinya dalam sejarah ada pasien yang dinyatakan sembuh dari HIV.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Berita Luar Negeri, Berita 14 Maret 2020 . Waktu baca 6 menit

Cara Mengatur Gaya Hidup Sehat untuk Penderita Autoimun

Penyakit autoimun belum memiliki obat atau penawarnya. Untuk itu, bantu gejalanya dengan merubah gaya hidup Anda. Bagaimana caranya?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Hidup Sehat, Tips Sehat 29 Desember 2019 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Konten Bersponsor
kekebalan tubuh saat hamil

Kekebalan Tubuh Berubah saat Hamil? Ini Penanganannya

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 1 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Konten Bersponsor
jamur cordyceps untuk kesehatan paru

Berkenalan dengan Cordyceps Millitaris, Jamur yang Baik untuk Kesehatan Paru

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 21 Juli 2020 . Waktu baca 4 menit
antibodi sars untuk covid-19 herd immunity indonesia

Antibodi dari Pasien SARS Dikabarkan Dapat Melawan COVID-19

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 28 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit
penyakit berisiko pada ODHA

Penyakit yang Paling Berisiko Dialami oleh Orang dengan HIV/AIDS (ODHA)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 27 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit