Nyatanya, Ada Banyak Jenis Hipertensi, Mana yang Anda Alami?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Berdasarkan penyebabnya tekanan darah tinggi, juga dikenal sebagai hipertensi, dikelompokan ke dalam beberapa kategori, mulai dari hipertensi primer, sekunder, hingga resisten. Mengetahui berbagai jenis hipertensi dapat menurunkan risiko Anda terkena penyakit ini di kemudian hari.

Jenis-jenis hipertensi

1. Hipertensi primer

Dalam banyak kasus, kebanyakan orang dengan tekanan darah tinggi mengalami hipertensi primer. Jenis hipertensi satu ini cenderung muncul secara bertahap selama bertahun-tahun. Para ahli menduga bahwa faktor genetik merupakan salah satu penyebab hipertensi primer.

Meski begitu beberapa kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat juga ikut menjadi penyebab hipertensi primer. Beberapa kebiasaan tidak sehat ini meliputi:

  • Terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi garam seperti makanan kemasan, fast foodjunk food dan lain sebagainya.
  • Minim aktivitas fisik, alias malas gerak.
  • Konsumsi alkohol secara berlebihan.
  • Mengalami obesitas.
  • Stres.
  • Merokok.

Hipertensi primer dapat dialami oleh semua kalangan usia. Namun orang dewasa yang berusia paruh baya cenderung lebih berisiko mengalami jenis hipertensi ini.

Kebanyakan orang yang memiliki hipertensi primer tidak menunjukkan gejala sama sekali. Beberapa orang bahkan tidak mengetahui bahwa memiliki gejala tekanan darah tinggi karena seringkali gejala penyakit ini tampak mirip dengan kondisi medis lainnya.

Karena tekanan darah tinggi adalah penyakit tersembunyi dan sulit terdeteksi, Anda perlu memeriksakan tekanan darah Anda secara teratur bila Anda berisiko terkena tekanan darah tinggi.

2. Hipertensi sekunder

Di sisi lain, seseorang bisa mengalami tekanan darah tinggi karena memiliki satu atau beberapa kondisi medis. Ya, kondisi medis lain yang sudah lebih dulu menyerang bisa jadi penyebab tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang meningkat karena alasan tersebut dinamakan dengan hipertensi sekunder.

Kondisi ini cenderung muncul secara tiba-tiba dan dapat menyebabkan tekanan darah melonjak tinggi dibandingkan dengan hipertensi primer.

Tidak hanya pengaruh kondisi medis tertentu, penggunaan obat-obatan tertentu juga dapat berkontribusi besar menjadi penyebab hipertensi sekunder.

Beberapa kondisi yang bisa memicu hipertensi jenis ini di antaranya:

  • Gangguan kelenjar adrenal termasuk sindrom Cushing (suatu kondisi yang disebabkan oleh kelebihan produksi kortisol), hiperaldosteronisme (terlalu banyak aldosteron), dan pheochromocytoma (tumor langka yang menyebabkan sekresi hormone berlebih seperti adrenalin)
  • Penyakit ginjal termasuk di dalamnya penyakit ginjal polikistik, tumor ginjal, gagal ginjal, atau penyempitan serta penyumbatan arteri utama yang mensuplai ginjal.
  • Mengonsumsi obat-obatan seperti kortikosteroid, NSAID, obat penurunan berat badan (seperti phentermine), beberapa obat flu dan batuk, pil KB, dan obat migrain.
  • Mengalami sleep apnea, yaitu kondisi yang terjadi ketika seseorang memiliki jeda singkat di mana ia berhenti bernapas selama tidur. Sekitar setengah dari pasien dengan kondisi ini memiliki tekanan darah tinggi.
  • Koarktasio aorta, cacat lahir di mana aorta menyempit.
  • Preeklampsia, suatu kondisi yang berhubungan dengan kehamilan.
  • Masalah tiroid dan paratiroid.

3. Prehipertensi

Prehipertensi adalah kondisi kesehatan di mana tekanan darah Anda lebih tinggi dari biasanya, namun tidak cukup tinggi untuk dikategorikan sebagai hipertensi.

Apabila Anda mengidap kondisi ini, hal tersebut merupakan tanda peringatan bahwa Anda berisiko terkena hipertensi.

Pada dasarnya, tekanan darah dibagi menjadi dua angka, yaitu angka tekanan sistolik dan diastolik. Angka sistolik menunjukkan tekanan ketika jantung memompa darah, sementara angka diastolik adalah tekanan ketika jantung beristirahat dan terisi dengan darah.

Angka sistolik dan diastolik yang normal berkisar di bawah 120 dan 80 mmHg. Jika Anda terkena prehipertensi, angka sistolik dan diastolik yang tertera berada di antara 120/80 dan 140/90. Apabila angka sistolik atau diastolik melebihi batas tersebut, kemungkinan Anda menderita hipertensi.

Jenis hipertensi yang satu ini umumnya tidak menunjukkan tanda-tanda dan gejala apapun. Apabila gejala sudah mulai muncul, Anda perlu memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui kemungkinan adanya hipertensi.

Biasanya, dokter tidak akan memberikan penanganan medis atau obat-obatan khusus untuk kondisi ini. Dengan melakukan perubahan pada pola makan dan gaya hidup, tekanan darah Anda dapat kembali ke angka yang normal.

4. Hipertensi gestasional

Hipertensi gestasional, atau yang disebut juga dengan pregnancy-induced hypertension (PIH), adalah kondisi ketika tekanan darah meningkat saaat hamil. Sebanyak 6-8% ibu hamil diperkirakan mengalami kondisi ini.

Apabila dibiarkan, hipertensi gestasional dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang serius, yaitu preeklampsia.

Berikut adalah kelompok yang memiliki risiko tinggi untuk terkena hipertensi gestasional:

  • Wanita yang hamil untuk pertama kali
  • Wanita dengan saudara perempuan dan ibu yang pernah menderita hipertensi gestasional
  • Wanita hamil anak kembar
  • Wanita di bawah usia 20 tahun, atau di atas 40 tahun
  • Wanita yang pernah menderita tekanan darah tinggi atau penyakit ginjal sebelum hamil

Umumnya, kondisi ini tediagnosis ketika ibu hamil sedang melakukan pemeriksaan rutin, terutama saat sedang menjalani pemeriksaan tekanan darah dan kadar urin. Ketika kondisi ini telah terdiagnosis, dokter akan memeriksa fungsi ginjal, tes darah, serta memeriksa kondisi bayi Anda dengan tes ultrasonografi (USG).

Hipertensi gestasional berpotensi mencegah plasenta atau ari-ari mendapat suplai darah yang cukup. Jika plasenta tidak mendapat asupan darah yang cukup, bayi yang di dalam kandungan akan kekurangan oksigen dan makanan. Hal ini dapat menyebabkan bayi terlahir dengan berat badan di bawah normal.

5. Hipertensi pulmonal

Jenis hipertensi lainnya adalah pulmonal, yaitu tekanan darah tinggi yang terjadi di pembuluh darah dari jantung menuju paru-paru.

Tekanan darah pulmonal merupakan seberapa besar tekanan yang dikeluarkan jantung untuk memompa darah menuju pembuluh arteri paru-paru. Dengan kata lain, kondisi ini berfokus pada tekanan darah yang mengalir di dalam paru-paru.

Tekanan darah yang normal pada pembuluh darah paru-paru seharusnya berkisar di angka 8-20 mmHg saat tubuh beristirahat, dan 30 mmHg ketika tubuh melakukan aktivitas fisik.

Apabila tekanan arteri paru-paru berada di atas 25-30 mmHg, kondisi ini dapat dikategorikan sebagai hipertensi pulmonal.

Beberapa gejala yang mungkin muncul jika Anda menderita kondisi ini adalah:

  • Napas memendek, bahkan ketika tidak sedang melakukan aktivitas berat
  • Tubuh kelelahan
  • Nyeri dada
  • Jantung berdetak cepat
  • Sakit di bagian kanan atas perut
  • Nafsu makan menurun

Penyebab dari hipertensi pulmonal dapat bervariasi. Beberapa di antaranya adalah konsumsi obat-obatan terlarang, cacat pada jantung sejak lahir, menderita penyakit paru lainnya, serta terlalu lama berada di ketinggian tertentu.

Bila kondisi ini tidak segera ditangani, jantung akan bekerja lebih keras saat memompa darah, sehingga Anda berisiko mengalami gagal jantung.

6. Krisis hipertensi

Krisis hipertensi merupakan jenis hipertensi yang sudah mencapai tahap parah. Tekanan darah melonjak secara drastis dan dapat mengakibatkan terjadinya stroke.

Angka sistolik ketika seseorang mengalami krisis hipertensi telah mencapai 180 mmHg bahkan lebih, sedangkan angka diastolik berada di kisaran 120 mmHg atau lebih.

Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat merusak pembuluh darah, menyebabkan peradangan, dan mungkin terjadi pendarahan dalam. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi yang membahayakan nyawa.

Terdapat 2 jenis krisis hipertensi, yaitu urgensi dan emergensi. Pada krisis hipertensi urgensi, tekanan darah Anda sudah sanat tinggi, namun diperkirakan belum terjadi kerusakan pada organ-organ tubuh Anda.

Sementara itu, pada krisis hipertensi emergensi, tekanan darah yang terlewat tinggi telah menyebabkan kerusakan pada organ tubuh.

Kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa hal dan penyakit, seperti lupa minum obat tekanan darah yang diresepkan, menderita stroke, serangan jantung, gagal jantung, hingga gagal ginjal.

Beberapa tanda dan gejala dari kondisi ini meliputi:

  • Nyeri dada yang parah
  • Sakit kepala parah
  • Penglihatan buram
  • Kebingungan, sulit fokus
  • Mual dan muntah
  • Kecemasan berlebihan
  • Napas memendek
  • Kejang
  • Tubuh tidak responsif

Kondisi ini harus segera ditangani oleh tim medis di unit gawat darurat (UGD). Pengobatan untuk krisis hipertensi biasanya dilakukan dengan obat-obatan minum serta infus.

Bagaimana hipertensi terdiagnosis?

Tekanan darah Anda bisa dilihat dari dua jenis angka. Angka yang ada di atas adalah tekanan darah sistolik, yaitu tekanan dalam pembuluh darah ketika jantung Anda berdegup. Angka yang di bawah adalah tekanan darah diastolik, yaitu tekanan dalam pembuluh darah ketika jantung Anda beristirahat di antara setiap detakan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Anda didiagnosis hipertensi apabila tekanan darah sistolik (tekanan darah atas) setara dengan atau berada di atas angka 140 mmHg dan/ atau tekanan darah diastolik (tekanan darah bawah) setara dengan atau di atas angka 90 mmHg. Singkatnya, Anda didiagnosis hipertensi jika memiliki tekanan darah di atas 140 mmHG/90 mmHG.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca