Hipertensi Pulmonal, Jenis Tekanan Darah Tinggi yang Harus Diwaspadai

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 10/06/2020 . 9 menit baca
Bagikan sekarang

Tekanan darah tinggi atau hipertensi tak hanya menyerang tubuh secara keseluruhan, tetapi juga bisa mengenai paru-paru. Penyakit ini dikenal dengan istilah hipertensi paru atau pulmonal. Meski jarang terjadi, kondisi ini tak boleh dianggap remeh. Bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat, penderitanya berisiko tinggi mengalami berbagai komplikasi penyakit. Lantas, apa itu hipertensi pulmonal?

Apa itu hipertensi pulmonal?

Hipertensi pulomal atau hipertensi paru adalah jenis tekanan darah tinggi yang spesifik memengaruhi pembuluh darah arteri di paru-paru (arteri pulmonal) dan bilik kanan jantung.

Kondisi ini terjadi ketika tekanan darah pada pembuluh arteri pulmonal terlalu tinggi. Adapun arteri pulmonal adalah pembuluh darah yang membawa darah kurang oksigen dan kaya karbon dioksida dari bilik kanan jantung ke paru-paru.

Peningkatan tekanan darah ini terjadi akibat adanya kerusakan pada arteri pulmonal, yang membuat arteri pulmonal menjadi sempit dan kaku, sehingga bilik kanan jantung menegang dan harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke paru-paru. Semakin lama, kondisi ini bisa menyebabkan otot jantung Anda menjadi lemah dan menimbulkan gagal jantung.

Perbedaan hipertensi pulmonal dengan hipertensi sistemik

Penyakit hipertensi paru berbeda dengan hipertensi biasa alias hipertensi sistemik. Dokter spesialis jantung dan ahli hipertensi paru dari Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, dr. Lucia Kris Dinarti, Sp.PD, Sp.JP mengatakan, hipertensi sistemik lebih banyak berkaitan dengan bilik kiri jantung, sedangkan hipertensi pulmonal terjadi pada bilik kanan jantung.

Berdasarkan American Heart Association, tekanan darah di paru-paru lebih rendah dari tekanan darah sistemik. Tekanan darah normal sistemik berada di kisaran 90/60 mmHg – 120/80 mmHg, sedangkan tekanan darah normal di paru-paru berada di kisaran 8-20 mmHg saat istirahat.

Apa saja tanda dan gejala hipertensi paru?

sesak napas

Secara umum, gejala hipertensi biasa dengan hipertensi paru itu berbeda. Menurut dr. Lucia Kris, gejala hipertensi paru lebih banyak mengarah pada masalah pernapasan.

Sesak napas atau pusing selama beraktivitas  merupakan gejala-gejala awal yang biasanya muncul. Denyut jantung juga dapat menjadi cepat (palpitasi). Seiring berjalannya waktu,  gejala‐gejala lain muncul saat melakukan  aktivitas ringan atau bahkan saat sedang istirahat. Gejala lainnya meliputii:

  • Bengkak di kaki dan pergelangan kaki.
  • Warna kebiruan pada bibir atau kulit (sianosis).
  • Nyeri dada seperti ditekan, biasanya di bagian depan.
  • Pusing atau bahkan pingsan.
  • Kelelahan.
  • Peningkatan ukuran perut.
  • Badan lemas.

“Tidak mudah untuk mendeteksi tanda hipertensi paru, karena gejala-gejalanya memang tidak khas dan mirip dengan penyakit lain. Bahkan anak-anak sering salah didiagnosis dengan penyakit TBC. Padahal, sebetulnya bisa jadi hipertensi paru,” ungkap dr. Lucia Kris yang juga menjalin kerja sama erat dengan Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YHPI).

Selain yang disebutakan di atas, kemungkinan terdapat gejala dan tanda lain yang dirasakan. Apabila Anda memiliki kekhawatiran mengenai gejala penyakit ini, silakan konsultasikan dengan dokter Anda.

Apa penyebab hipertensi pulmonal?

Penyebab hipertensi pulmonal, yaitu adanya penyumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah arteri pulmonal. Sebenarnya, penyebab kondisi tersebut tidak pernah jelas. Namun, ada dua faktor yang membuat seseorang biasanya terkena hipertensi paru, yaitu genetik atau keturunan dan kondisi medis tertentu.

Adapun beberapa kondisi medis atau penyakit yang bisa menyebabkan hipertensi paru, yaitu:

  • Penyakit paru-paru, seperti  emfisema, bronkitis kronis, fibrosis paru, atau emboli paru.
  • Penyakit ginjal.
  • Gagal ginjal kronis.
  • Cacat jantung kongenital atau penyempitan arteri paru-paru bawaan sejak lahir.
  • Gagal jantung kongestif atau congestive heart failure (CHF).
  • Penyakit jantung kiri, seperti gagal jantung kiri, penyakit jantung iskemik, atau penyakit katup jantung, seperti stenosis aorta dan penyakit katup mitral.
  • HIV.
  • Penyakit hati, seperti sirosis.
  • Penyakit autoimun, seperti lupus, skleroderma, radang sendi atau rheumatoid arthritis, dan lainnya.
  • Sleep apnea.
  • Gangguan metabolisme, seperti gangguan tiroid atau penyakit Gaucher.
  • Sarkoidosis.
  • Infeksi parasit, seperti schistosomiasis atau echinococcus, yang merupakan jenis cacing pita.
  • Tumor di paru-paru.

Faktor risiko

Hipertensi pulmonal adalah kondisi kesehatan yang dapat terjadi pada hampir setiap orang. Namun, selain genetik dan kondisi medis tertentu, terdapat beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini.

  • Pertambahan usia

Meski bisa diderita oleh siapapun, tetapi hipertensi paru biasanya didiagnosa pada seseorang yang berusia antara 30-60 tahun.

  • Jenis kelamin

Hipertensi paru lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Ini sama halnya dengan penyakit gagal jantung yang lebih sering terjadi pada wanita.

  • Tinggal di dataran tinggi

Hidup di dataran tinggi  selama bertahun‐tahun dapat membuat Anda cenderung mengidap penyakit ini.

  • Obesitas atau kegemukan

Mengalami obesitas atau kegemukan dapat memperbesar risiko mengalami hipertensi pulmonal.

  • Konsumsi obat tertentu

Beberapa pengobatan yang dapat berpengaruh, misalnya obat penurunan berat badan (fenfluramin dan deksfenfluramin), obat kemoterapi untuk kanker (dasatinib, mitomycin C, dan cyclophosphamide), atau obat antidepresan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI).

  • Kebiasaan atau gaya hidup tidak sehat

Beberapa kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko hipertensi pulmonal, seperti penggunaan obat-obatan terlarang (kokain dan methamphetamin) dan merokok.

Apa saja jenis hipertensi paru?

hipertensi paru

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi pulmonal dibedakan ke dalam beberapa jenis. Berikut adalah pembagian jenis hipertensi pulmonal berdasarkan standar World Health Organization (WHO):

Kelompok 1

Jenis hipertensi paru kelompok 1 umumnya terkait dengan masalah pada pembuluh darah. Berikut adalah penyebab hipertensi paru pada kelompok 1:

  • Penyebab yang tidak jelas atau disebut hipertensi paru idiopatik. Namun, kondisi ini umumnya disebabkan oleh genetik atau keturunan dengan penyakit yang sama.
  • Konsumsi obat-obatan terlarang, seperti metamfetamin.
  • Cacat jantung bawaan lahir (congenital heart disease).
  • Kondisi lainnya, seperti penyakit autoimun (skleroderma dan lupus), infeksi HIV, atau penyakit hati kronis (sirosis).

Kelompok 2

Penyebab hipertensi paru kelompok 2 berhubungan dengan penyakit jantung, terutama yang menyerang sisi kiri jantung, seperti:

  • Penyakit pada katup jantung, seperti pada katup mitral atau aorta.
  • Gagal fungsi di bagian kiri bawah jantung (ventrikel kiri).
  • Tekanan darah tinggi jangka panjang.

Kelompok 3

Penyebab hipertensi paru kelompok 3 berkaitan dengan kondisi yang menyerang paru-paru, seperti:

  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
  • Emfisema
  • Fibrosis paru
  • Gangguan tidur atau sleep apnea
  • Terlalu lama berada di dataran tinggi atau ketinggian tertentu

Kelompok 4

Penyebab hipertensi paru kelompok 4 dihubungkan dengan penyakit pembekuan darah. Entah itu pembekuan darah secara umum atau pembekuan darah yang hanya terjadi di paru-paru (emboli paru).

Kelompok 5

Hipertensi paru yang masuk kelompok 5 sering dipicu oleh masalah medis tertentu. Sayangnya, sampai saat ini tidak diketahui pasti kenapa berbagai masalah medis di bawah ini bisa menyebabkan hipertensi paru.

  • Kelainan darah polycythemia vera dan thrombocythemia esensial.
  • Gangguan sistemik seperti sarkoidosis dan vaskulitis.
  • Gangguan metabolisme seperti tiroid dan penyakit penyimpanan glikogen.
  • Penyakit ginjal.
  • Tumor yang menekan arteri paru.

Sindrom Eisenmenger

Sindrom Eisenmenger merupakan salah satu jenis penyakit jantung bawaan lahir dan dapat mengakibatkan terjadinya hipertensi paru. Kondisi ini biasanya terjadi karena ada lubang di antara kedua ventrikel jantung, yang disebut dengan defek septum ventrikel.

Bagaimana mendiagnosis penyakit hipertensi pulmonal?

Hipertensi  pulmonal  sulit  untuk  didiagnosa  pada  tahap  awal  karena  sering tidak terdeteksi dalam  pemeriksaan  fisik  rutin. Bahkan ketika penyakit ini semakin  berkembang, tanda‐tanda dan gejalanya  mirip  dengan penyakit jantung dan paru‐paru lain.

Dokter akan melakukan beberapa  tes untuk membuat diagnosa yang tepat bila Anda dicurigai memiliki hipertensi paru. Tes ini meliputi:

  • Tes darah.
  • Kateterisasi jantung kanan.
  • Rontgen dada.
  • CT scan di dada.
  • Ekokardiografi.
  • Elektrokardiografi (EKG).
  • Tes fungsi paru‐paru.
  • Pemindaian paru.
  • Arteriogram paru.
  • Tes berjalan selama enam menit.
  • Penelitian kebiasaan tidur.

Apa saja pilihan pengobatan untuk hipertensi pulmonal?

penggumpalan darah setelah operasi

Menurut Prof. Dr. dr. Bambang Budi Siswanto, Sp.JP(K), FAsCC, FAPSC, FACC., ahli hipertensi paru dari Rumah Sakit Harapan Kita, hipertensi pulmonal adalah penyakit yang tidak bisa sembuh total. Apalagi jika sudah masuk tahap yang cukup parah.

“Penyakit ini bukanlah kondisi yang berdiri sendiri, melainkan akibat dari penyakit tertentu. Oleh sebab itu, pengobatan yang dilakukan harus menyeluruh tidak bisa hanya mengobati penyakit hipertensi paru saja, ” ucap Prof. Bambang Budi.

Perawatan yang diberikan dokter pada pasien hipertensi paru bertujuan untuk mengurangi keparahan gejala, agar kondisinya tetap stabil guna memperpanjang angka harapan hidup. Pengobatan untuk setiap orang pun berbeda, tergantung pada kondisinya masing-masing.

Konsultasikan dengan dokter untuk pengobatan yang tepat. Berikut beberapa pengobatan yang mungkin diberikan dokter:

  • Obat-obatan, yaitu antikoagulan seperti warfarin, obat vasodilator untuk membantu  melonggarkan pembuluh darah, termasuk obat darah tinggi lain, seperti calcium channel blockers dan diuretik.
  • Terapi, seperti terapi oksigen.
  • Operasi endarterektomi paru.
  • Prosedur lain, seperti atrial septostomy atau balloon pulmonary angioplasty (BPA).
  • Transplantasi paru-paru atau jantung.

Gaya hidup sehat

Untuk membantu memperpanjang angka harapan hidup, selain pengobatan dari dokter, pasien hipertensi pulmonal pun perlu menerapkan hal lainnya, termasuk gaya hidup sehat. Hal ini juga penting untuk mencegah hipertensi pulmonal Anda semakin parah, yang berujung pada komplikasi hipertensi lainnya.

  • Banyak istirahat.
  • Tetap  aktif  sebisa  mungkin.
  • Tidak  merokok.
  • Tunda kehamilan dan jangan  menggunakan pil KB.
  • Hindari bepergian ke atau tinggal di dataran tinggi.
  • Hindari  hal­-hal  yang  dapat menurunkan tekanan darah secara berlebihan, termasuk berendam di bak air panas berlama-lama atau sauna.
  • Hindari mengangkat benda atau beban berat.
  • Cari cara sehat untuk mengurangi stres, seperti yoga, meditasi,  mendengarkan musik, atau melakukan hobi.
  • Menjalani diet hipertensi serta menjaga berat badan yang sehat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Didi Kempot Tutup Usia Diduga Kelelahan, Bagaimana Hingga Jadi Fatal?

Kabari berita duka datang kembali dari dunia musik tanah air. Penyanyi campur sari, Didi Kempot dikabarkan meninggal dunia. Apa penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Berita Dalam Negeri, Berita 05/05/2020 . 5 menit baca

5 Tips Lancar Puasa Bagi Anda yang Punya Tekanan Darah Tinggi

Punya masalah hipertensi alias tekanan darah tinggi saat puasa tentu memberikan tantangan sendiri. Agar puasa tetap lancar, ikuti tips ampuhnya berikut ini!

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Hari Raya, Ramadan 04/05/2020 . 5 menit baca

Panduan Lengkap Mengukur Tekanan Darah Anak di Rumah

Anak-anak mungkin mengalami tekanan darah tinggi. Orangtua dapat mengukur tekanan darah anak di rumah dengan panduan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Hipertensi, Health Centers 22/04/2020 . 7 menit baca

Bagaimana Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) Bisa Memicu Hipertensi?

Menurut penelitian di tahun 2018, keadaan post-traumatic stress disorder yang dimiliki seseorang bisa memicu naiknya risiko hipertensi.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Hipertensi, Health Centers 20/04/2020 . 4 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

kacang almond

Khasiat Mujarab Kacang Almond untuk Penderita Hipertensi

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca
senam hipertensi

Manfaat dan Jenis-jenis Senam untuk Penderita Hipertensi

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020 . 7 menit baca
pantangan darah tinggi

11 Pantangan Darah Tinggi yang Harus Anda Hindari

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Dipublikasikan tanggal: 14/05/2020 . 11 menit baca
Latihan pernapasan asma

Teknik Latihan Pernapasan untuk Mengurangi Gejala Asma

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 11/05/2020 . 4 menit baca