Waspada Risiko Sakit Lambung Akibat Keseringan Pakai Obat Antinyeri

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Kebanyakan orang terbiasa mengatasi berbagai keluhan nyeri dan rasa sakit dengan mengonsumsi obat antinyeri yang dapat dengan mudah ditemukan di toko obat tanpa memerlukan resep dokter. Namun, jangan terlalu sering mengonsumsinya. Pasalnya, jika dikonsumsi terus menerus dan dalam jangka waktu panjang, obat ini bisa memberi dampak serius bagi kesehatan. Termasuk meningkatkan risiko sakit lambung. Mengapa demikian? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini.

Apa itu obat antinyeri?

Obat antinyeri atau bisa juga disebut dengan NSAID (non-steroid anti-inflamasi) adalah obat yang umumnya digunakan untuk mengurangi rasa sakit tingkat ringan hingga menengah, serta mengurangi peradangan. NSAID sering digunakan untuk mengatasi sakit kepala, nyeri menstruasi, radang sendi, sampai dengan cedera sendi. Contoh obat NSAID yang paling umum adalah paracetamol, aspirin, dan ibuprofen. Obat ini bisa Anda temukan di toko obat terdekat tanpa atau dengan resep dokter.

Obat antinyeri bekerja dengan menghalangi efek zat kimia dalam tubuh yang meningkatkan rasa sakit. Tidak seperti banyak obat penghilang rasa sakit lainnya, obat ini juga mengurangi pembengkakan yang pada akhirnya bisa mengurangi rasa sakit.

Meskipun obat nyeri sangat bermanfaat dan sudah digunakan secara luas, tapi obat ini memiliki sejumlah efek samping yang tidak boleh diremehkan jika digunakan terus menerus dalam waktu jangka panjang.

Efek samping penggunaan obat antinyeri jangka panjang

Dilansir dari WebMD, menurut ahli gastroenterologi Byron Cryer, MD, efek samping yang paling umum dari penggunaan semua jenis obat antinyeri dalam jangka panjang selain meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke adalah kerusakan pada saluran cerna, yang meliputi kerongkongan, perut, dan usus halus Anda. Bahkan, lebih dari setengah kasus perdarahan di lambung disebabkan oleh penggunaan obat antinyeri jangka panjang. Ulkus dan perdarahan dapat terjadi tanpa gejala peringatan dan dalam beberapa kasus bisa berakhir pada kematian.

Pendarahan yang terjadi di lambung adalah masalah serius. Tapi sayangnya, banyak orang meremehkan kondisi ini. Beberapa jenis obat antinyeri yang meningkatkan risiko sakit lambung di antaranya ibuprofen, aspirin, indometasin, piroksikam, ketoprofen, ketorolac, diklofenak, dan lain sebagainya.

apa itu penyakit maag

Obat antinyeri menyebabkan pengikisan dinding lambung

Efek samping obat antinyeri terhadap kerusakan saluran cerna disebabkan karena mekanisme dari obat ini dalam menghambat enzin COX (siklooksigenase) di lambung. Secara sederhana, enzim COX ini adalah enzim yang bertanggung jawab terhadap rangsangan nyeri.

Tapi ternyata, selain bertanggungjawab terhadap mekanisme nyeri, enzim COX juga bertanggungjawab dalam pertahanan lapisan kulit dalam lambung. Pasalnya, penghambatan enzim COX di lambung dari obat antinyeri akan menyebabkan pengikisan dinding lambung.

Akibatnya, lambung jadi rentan teriritasi oleh asam lambung apabila terpapar terus menerus. Sehingga, perdarahan lambung dapat terjadi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, lambung akan berlubang. Dalam kondisi medis, kondisi ini disebut sebagai perforasi lambung.

Perforasi lambung dapat menyebabkan isi lambung bocor ke rongga perut dan menimbulkan infeksi. Nah, jika rongga perut sudah terinfeksi, hal tersebut akan menyebabkan peritonitis, yaitu infeksi pada jaringan yang melapisi bagian dalam perut. Infeksi ini dapat mengakibatkan komplikasi yang membuat berbagai organ dalam tubuh berhenti berfungsi. Kondisi ini termasuk gawat darurat medis dan dapat mengancam nyawa.

Ada beberapa kondisi tertentu yang membuat orang lebih rentan terkena sakit lambung

Siapapun bisa mendapatkan risiko sakit lambung akibat mengonsumsi obat antinyeri jangka panjang, tapi akan risiko ini akan lebih tinggi jika Anda:

  • Memiliki riwayat sakit lambung, sakit maag aktif (sakit pada lapisan perut)
  • Minum lebih dari tiga gelas minuman beralkohol setiap hari
  • Mengonsumsi obat steroid antiperadangan, seperti prednisone
  • Memiliki penyakit gangguan ginjal dan hati
  • Orang dengan tekanan darah tinggi
  • Sudah berumur lebih dari 60 tahun
  • Merokok

Jika Anda memiliki salah satu dari kondisi di atas, Anda harus memberi tahu dokter atau apoteker sebelum menggunakan obat antinyeri untuk perawatan Anda.

Pastikan Anda mengikuti saran dan anjuran dokter, ingatlah bahwa obat anti nyeri di samping memiliki banyak manfaat juga memiliki berbagai efek samping potensial, terutama jika digunakan jangka panjang dan pada pada orang yang memiliki risiko lebih tinggi.

Cek Arti Warna Feses Bayi

Kebanyakan orangtua baru mungkin akan bingung apakah feses bayi mereka normal atau tidak. Wajar, sebab terdapat beragam warna dan tekstur yang mungkin belum pernah dilihat sebelumya.

Cari Tahu di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Menggunakan Krim untuk Menghilangkan Bulu, Amankah?

Selain mencukur, waxing, dan laser, ada juga krim untuk menghilangkan bulu yang mudah dan murah. Apa krim perontok bulu aman untuk tubuh?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Kecantikan 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Apa Perbedaan Tekanan Darah di Pagi, Siang, dan Malam Hari?

Pengukuran tekanan darah banyak dianjurkan untuk dilakukan pada pagi hari. Apakah akan ada perbedaan tekanan darah, jika dilakukan di lain waktu?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Panduan Memilih Makanan yang Tepat Kalau Maag Anda Sering Kambuh

Selain mengonsumsi obat, Anda yang memiliki sakit maag juga perlu mengubah pola makan dengan memilah-milah jenis makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Gangguan Pencernaan, Gastritis, Health Centers 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Osteopenia

Osteopenia adalah kondisi pengeroposan tulang sebelum berlanjut menjadi osteoporosis. Yuk, pelajari lebih dalam gejala, penyebab, dan cara mengobatinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

veneer gigi

Semua yang Perlu Anda Ketahui tentang Veneer Gigi

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 12 menit
hamil di usia 20-an

Kelebihan dan Kekurangan Hamil di Usia 20-an

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
cepat turun berat badan pagi hari

7 Kebiasaan di Pagi Hari yang Bikin Cepat Turun Berat Badan

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
berapa banyak makan nasi saat sarapan

Seberapa Banyak Harusnya Porsi Makan Nasi Saat Sarapan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit