Apa Akibatnya Jika Kulit di Area Kewanitaan Mengalami Iritasi?

Ini adalah artikel sponsor. Informasi selengkapnya mengenai Kebijakan Pengiklan dan Sponsor kami, silakan baca di sini.

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 September 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Menjaga dan merawat kesehatan kulit itu penting. Sayangnya, banyak wanita yang cenderung lebih fokus merawat kulit wajah, tangan, dan kaki saja. Padahal, semua kulit yang ada pada tubuh juga perlu mendapatkan perawatan, termasuk kulit di sekitar vagina. Akibatnya, banyak wanita yang memiliki keluhan seperti rasa gatal, perih, dan ruam, tanda-tanda iritasi vagina.

Jika tidak segera ditangani, apa efeknya bagi kesehatan? Lalu, bagaimana caranya menjaga kebersihan? Yuk, cari tahu jawabannya pada ulasan berikut ini.

Kenapa kulit di sekitar vagina bisa iritasi?

Tahukah Anda bahwa vagina sangat sensitif? Ya, ketebalan kulit pelindung yang dikenal dengan stratum corneum atau horny cell jauh lebih tipis dibanding area lainnya.

Selain itu, area kulit sekitar kemaluan ini juga cenderung lebih sering lembap. Risiko iritasi semakin besar ditambah dengan penggunaan berbagai produk yang mengenai kulit vagina, seperti pembalut, produk pembersih, tekstur kain celana, dan juga alat kontrasepsi seperti kondom.

Kondisi ini bisa terjadi kapan saja, namun lebih sering dialami oleh wanita menjelang dan selama menstruasi. Perubahan hormonal yang menyebabkan lendir jadi lebih banyak serta pembalut yang berbahan tidak lembut, tidak menyerap darah dengan baik, serta unbreathable (tidak memungkinkan sirkulasi udara) bisa jadi biang keladinya.

Area vagina yang terlalu lembap bisa menyebabkan gesekan serta pertumbuhan jamur jadi lebih aktif. Akibatnya, vagina akan terasa gatal, kemerahan, dan menimbulkan bercak ruam. Kondisi ini pasti membuat Anda tidak nyaman dalam melakukan berbagai aktivitas, bukan?

Ini dampaknya jika iritasi vagina tidak diobat atau tidak dicegah?

Gejala iritasi yang paling awal adalah munculnya kemerahan yang kadang disertai rasa gatal. Sayangnya, banyak wanita yang tidak mengetahui tanda-tanda ini dan membiarkan kondisi ini begitu saja. Menganggap kondisi akan baik dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, hingga akhirnya baru menyadari vagina menjadi iritasi setelah ruam bermunculan.

Tanpa perawatan dan pencegahan, gejala iritasi pada vagina bisa semakin parah. Kombinasi antara kelembapan vagina, kondisi iritasi yang sudah ada, serta tidak terjadinya sirkulasi di kulit area vagina, bisa menjadi sarang bagi bakteri untuk berkembang biak. Berikut beberapa kemungkinan penyakit yang berisiko terjadi jika iritasi vagina tidak diobati.

1. Bacterial vaginosis

Sebenarnya bakteri itu tidak selalu jahat, ada juga bakteri baik yang ikut menjaga kesehatan tubuh, seperti bakteri baik pada sistem pencernaan dan juga vagina. Namun, bakteri baik dan bakteri jahat akan terus bersaing, jika lebih banyak jumlahnya maka bakteri tersebutlah yang akan menang.

Nah, bakteri baik pada vagina bisa kalah bersaing dengan bakteri jahat akibat kondisi vagina yang terlalu lembap Akibatnya, bakteri jahat bisa berkembang biak secara aktif yang menyebabkan bakterial vaginosis.

Penyakit ini menyebabkan perubahan pada lendir; menjadi lebih banyak dan berbau tidak sedap serta akan menimbulkan sensasi nyeri dan terbakar saat buang air atau berhubungan seks. Jika tidak diatasi, kondisi ini bisa memengarungi kesuburan.

2. Infeksi saluran kemih

Selain bacterial vaginosis, bakteri jahat yang terus berkembang biak bisa menyebabkan penyakit infeksi saluran kemih (ISK). Bakteri jahat, terutama bakteri E. colli yang menumpuk pada vagina, bisa menyebar ke kandung kemih dan menyebabkan peradangan.

Gejala ISK yang umumnya terjadi adalah demam, rasa sakit dan sensasi terbakar saat buang air kecil, serta nyeri pada punggung bawah dan perut bagian bawah. Kondisi ini mungkin membuat Anda ingin terus buang air, tapi hanya sedikit urine yang dikeluarkan.

Perhatikan tanda dan gejala dari kedua penyakit ini. Segera lakukan pemeriksaan ke dokter sebelum kondisi bertambah parah dan mempersulit pengobatan.

Tips mencegah vagina tetap bersih dan menstruasi bebas iritasi

Anda tentu tidak ingin terkena iritasi vagina dan berisiko penyakit pada vagina lainnya, bukan? Tentu, lebih baik mencegah daripada mengobati. Untuk itu, simak tips merawat dan menjaga kebersihan vagina agar tetap sehat seperti berikut ini:

  • Bijak memilih pembalut. Kelembapan yang tinggi terjadi saat menstruasi.  Artinya, Anda harus memilih pembalut yang tidak membuat area vagina bertambah lembab. Carilah pembalut berbahan lembut dan cepat menyerap. Dan yang terpenting, pembalut harus memiliki pori-pori yang memungkinkan adanya sirkulasi udara sehingga area vagina akan tetap kering.
  • Tidak menggunakan produk pembersih vagina yang bisa merusak keseimbangan asam vagina. Sebaiknya, basuh vagina dengan lembut dengan air bersih dan mengalir setiap kali buang air. Kemudian, usap dengan tisu supaya vagina tetap kering.
  • Hindari celana yang ketat dan berbahan kasar. Pilih celana yang berbahan katun yang lembut dan dapat menyerap keringat dengan baik.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tidak Semua Perawatan Vagina Baik untuk Kesehatan, Ini 4 yang Bahaya

Siapa sangka ada beberapa perawatan vagina yang bisa menimbulkan bahaya bagi kesehatan organ intim wanita tersebut? Yuk, kenali apa saja!

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Perawatan Kewanitaan, Hidup Sehat 31 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit

Apa Saja Penyebab dan Cara Mengatasi Migrain Saat Haid?

Siklus bulanan seperti haid tidak hanya membuat perut terasa kram, tapi juga bisa menyebabkan migrain. Simak penyebab migrain saat haid di bawah ini!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Nyeri Kronis, Health Centers 18 Mei 2020 . Waktu baca 6 menit

Apakah Masker Vagina Aman untuk Digunakan? Ini Jawabannya

Tidak sekadar mengikut tren, penggunaan masker vagina sebaiknya dilakukan dengan hati-hati. Apa sebenarnya masker vagina? Apakah produk ini aman?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Perawatan Kewanitaan, Hidup Sehat 29 April 2020 . Waktu baca 4 menit

Berapa Lama Masa Pakai Menstrual Cup?

Menggunakan menstrual cup lebih hemat biaya dan ramah lingkungan. Namun, sebenarnya berapa lama masa pakai menstrual cup yang ideal?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Perawatan Kewanitaan, Hidup Sehat 25 April 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

menghadapi anak masturbasi

Yang Perlu Ortu Lakukan Saat Memergoki Anak Masturbasi

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 8 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
pubertas atau masa puber

Ciri-Ciri Pubertas pada Remaja Perempuan dan Laki-laki

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Dipublikasikan tanggal: 20 September 2020 . Waktu baca 12 menit
kista ovarium harus dioperasi

Kapan Kista Ovarium Dianggap Bahaya dan Harus Dioperasi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit
bercak darah saat tidak sedang haid

Ada Bercak Darah Saat Tidak Sedang Haid? Ini Penyebabnya

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 14 Juli 2020 . Waktu baca 3 menit