Berbagai Cara Paling Umum Anda Bisa Tertular Tuberkulosis (TB)

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update Mei 18, 2020
Bagikan sekarang

Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara dengan kasus TBC terbanyak di dunia, menyusul India. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan ada 442.000 kasus TBC di Indonesia pada tahun 2017, meningkat dari tahun 2016 sebesar 351.893 kasus. Meningkatnya kasus TBC di tanah air dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran masyarakat dan terbatasnya informasi mengenai penyakit ini. Itu sebabnya, penting bagi Anda untuk mengetahui cara penularan TBC, sehingga Anda dapat menghindari risiko terinfeksi dari orang yang sakit.

Mengenal karakteristik bakteri penyebab tuberkulosis

Sebelum mengetahui cara penularan TBC, Anda perlu mengetahui terlebih dahulu bagaimana bakteri penyebab tuberkulosis bisa hidup dan berkembang biak dalam tubuh.

Tuberkulosis adalah infeksi sangat menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri TB memiliki karakteristik layaknya jenis bakteri pada umumnya, yaitu:

  • Mampu bertahan hidup di suhu rendah, antara 4 sampai minus 70 derajat Celcius pada waktu yang lama.
  • Kuman yang terpapar sinar ultraviolet secara langsung akan mati dalam beberapa menit.
  • Udara segar biasanya juga dapat membunuh bakteri dalam waktu singkat.
  • Bakteri akan mati dalam jangka waktu satu minggu jika terdapat di dalam dahak yang berada pada suhu di antara 30-37 derajat celcius.
  • Kuman bisa tidur dan tidak berkembang di dalam tubuh dalam waktu yang lama.

Ketika bakteri TBC masuk ke dalam tubuh Anda, bakteri belum tentu langsung berkembang menjadi penyakit. Dalam sebagian besar kasus, kuman akan tidur dan tidak berkembang dalam jangka waktu tertentu. Kondisi tersebut dinamakan dengan TB laten.

Bagaimana cara penularan bakteri TBC?

Batuk menular

Mengetahui karakter bakteri penyebab TB juga membantu Anda memahami tempat-tempat yang berisiko. Dengan begitu, penularan TBC pun dapat diminimalisir.

Mycobacterium tuberculosis menyebar dari satu orang ke orang lainnya ketika penderita TB mengeluarkan dahak atau cairan liur dari mulutnya yang berisi kuman ini ke udara—misalnya saat batuk, bersin, berbicara, bernyanyi, atau bahkan tertawa.

Menurut data dari Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis yang dikeluarkan oleh Kemenkes RI, dalam satu kali batuk seseorang biasanya menghasilkan sekitar 3.000 percikan dahak, atau disebut juga droplet.

Tergantung pada bagaimana keadaan lingkungan, kuman yang keluar dari batuknya penderita TB dapat bertahan di udara lembap yang tidak terpapar sinar matahari selama berjam-jam.

Akibatnya, setiap orang yang berdekatan dan memiliki kontak dengan penderita TBC secara langsung berpotensi menghirupnya sehingga akhirnya tertular.

Dilansir dari CDC, terdapat empat faktor utama yang menentukan kemungkinan penularan TBC:

  • Kerentanan seseorang, yang biasanya bergantung pada kondisi sistem kekebalan tubuhnya
  • Seberapa banyak droplet (percikan dahak) bakteri M. tuberculosis yang keluar dari tubuhnya
  • Faktor lingkungan yang dapat memengaruhi jumlah droplet serta kemampuan bertahan hidup bakteri M. tuberculosis di udara
  • Kedekatan, durasi, serta seberapa sering paparan seseorang terhadap bakteri M. tuberculosis di udara

Risiko penularan TBC akibat keempat faktor di atas akan semakin tinggi jika:

  • Kadar konsentrasi droplet nuklei: semakin banyak droplet yang terdapat di udara, semakin mudah bakteri TBC ditularkan.
  • Ruang: Paparan terhadap bakteri di ruangan kecil dan tertutup meningkatkan risiko penularan TBC.
  • Ventilasi: Potensi penularan TBC lebih besar jika terpapar di ruangan dengan ventilasi yang buruk (bakteri tidak dapat keluar ruangan).
  • Sirkulasi udara: sirkulasi udara yang buruk juga menyebabkan droplet bakteri dapat bertahan hidup di udara lebih lama.
  • Penanganan medis yang tidak tepat: prosedur medis tertentu dapat menyebabkan droplet bakteri menyebar dan meningkatkan risiko penularan TBC.
  • Tekanan udara: tekanan udara dalam keadaan tertentu dapat mengakibatkan bakteri M. tuberculosis menyebar ke tempat lain.

Tempat penularan TBC

Menurut sebuah jurnal dari National Institute of Health tahun 2013, cara penularan TBC umumnya dapat terjadi ketika penderita berbicara selama kurang lebih 5 menit, atau batuk sekali saja. Dalam kurun waktu tersebut, droplet atau percikan dahak yang mengandung bakteri dapat terlepas dan bertahan di udara selama kurang lebih 30 menit.

Penularan TBC terjadi ketika seseorang menghirup droplet yang mengandung bakteri M. tuberculosis. Bakteri tersebut kemudian akan masuk ke alveoli (kantung udara tempat perukaran oksigen dan karbondioksida). Sebagian besar bakteri akan dihancurkan oleh makrofag yang dihasilkan oleh sel darah putih.

Sisa bakteri yang ada dapat tertidur dan tidak berkembang di dalam alveoli. Kondisi ini yang dinamakan dengan TB laten. Saat bakteri tertidur, Anda tidak dapat menularkan bakteri TB ke orang lain.

Jika sistem kekebalan tubuh melemah, TB laten dapat berkembang menjadi penyakit TB aktif. Saat inilah bakteri akan menyebar ke bagian tubuh lainnya dan dapat menular ke orang lain.

Secara umum, cara penularan TBC dapat terjadi di 3 tempat, yaitu di fasilitas kesehatan, rumah, dan tempat-tempat khusus, seperti penjara.

1. Penularan di fasilitas kesehatan

Kasus penularan TBC di fasilitas kesehatan sangat sering terjadi, khususnya di negara berkembang, seperti Afrika Selatan dan Asia Tenggara.

Kondisi ini umumnya disebabkan karena fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit atau puskesmas, terlalu ramai dipadati orang, sehingga risiko penularan pun lebih tinggi.

Masih dari jurnal yang sama, penularan penyakit di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya ini 10 kali lebih tinggi dibanding tempat lainnya.

2. Penularan di rumah

Apabila Anda tinggal satu rumah dengan penderita TBC, penularan pun lebih mudah terjadi. Hal ini dikarenakan Anda terpapar bakteri dalam durasi yang lebih lama. Ada kemungkinan pula bakteri hidup lebih lama di udara dalam rumah Anda.

Diperkirakan, kemungkinan seseorang untuk tertular TBC apabila tinggal bersama penderita dapat mencapai 15 kali lipat lebih besar dibanding penularan di luar rumah.

3. Penularan di penjara

Di penjara, baik tahanan maupun petugasnya, sama-sama memiliki risiko yang cukup tinggi tertular TB paru. Risiko tersebut semakin tinggi di penjara-penjara yang berada di negara berkembang.

Umumnya, kondisi di penjara yang tidak dilengkapi dengan ventilasi yang cukup membuat sirkulasi udara memburuk. Hal inilah yang menyebabkan penularan TBC lebih mudah terjadi.

Berdasarkan sebuah studi mengenai kasus TBC di penjara di Afrika Selatan, persentase risiko penularan TBC di penjara dapat mencapai sekitar 90 persen.

Penting untuk Anda ketahui bahwa cara penularan TBC hanya terjadi melalui penyebaran di udara. Ini artinya, Anda tidak akan tertular hanya dengan menyentuh penderita yang mengidap penyakit ini.

Berikut adalah kondisi-kondisi di mana TB tidak akan ditularkan:

  • Melalui makanan atau air
  • Melalui kontak kulit, seperti bersalaman atau berpelukan dengan penderita TBC
  • Duduk di kloset
  • Berbagi sikat gigi dengan penderita TBC
  • Mengenakan pakaian penderita TBC
  • Melalui aktivitas seksual

Lain lagi ceritanya jika Anda berdekatan dengan penderita dan tidak sengaja menghirup udara yang mengandung droplet dari tubuh penderita. Droplet tersebut dapat menyebar di udara ketika penderita bersin atau batuk, bahkan mungkin saat berbicara.

Sayangnya, stigma mengenai cara penularan penyakit TBC masih cukup tinggi di negara-negara berkembang, terutama yang masih belum mendapatkan edukasi mengenai TBC secara mendalam.

Akibatnya, banyak orang yang masih percaya bahwa penularan dapat terjadi melalui makanan, minuman, kontak kulit, atau bahkan keturunan.

Faktor keterpaparan meningkatkan risiko penularan TBC

Batuk menerus

Dilansir dari Central for Disease Control and Prevention, keterpaparan seseorang terhadap penularan bakteri TBC ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:

  • Kedekatan atau jarak antara penderita dengan orang yang sehat: semakin dekat jarak kontak antara orang yang sehat dengan penderita, semakin besar peluang terinfeksi bakteri TBC.
  • Frekuensi atau seberapa sering Anda terpapar: semakin sering orang sehat berinteraksi dengan pasien, maka semakin berisiko tertular TBC.
  • Durasi atau seberapa lama paparan terjadi: semakin lama orang sehat berinteraksi dengan pasien, maka risiko penularan TBC semakin tinggi.

Oleh karena itu, Anda perlu mewaspadai jika berinteraksi dengan orang yang menunjukkan gejala TBC  seperti:

  • Batuk terus menerus (selama lebih dari 3 minggu).
  • Sesak napas
  • Sering berkeringat di malam hari

Bagi penderita TB paru aktif, Anda bisa membuat orang sehat jadi lebih berisiko tertular jika:

  • Tidak menutup hidung dan mulut saat sedang batuk.
  • Tidak menjalani pengobatan TBC dengan tepat, misalnya tidak sesuai dosis atau berhenti sebelum habis.
  • Menjalani prosedur medis seperti bronkoskopi, induksi dahak, atau menerima obat-obatan aerosol.
  • Adanya kelainan saat dicek dengan radiografi dada.
  • Tes kultur dahak menunjukkan adanya bakteri M. tuberculosis.

Lalu, bagaimana cara mencegah penularan TBC?

Berbaring di kasur karena anak batuk terus

Mengetahui cara mencegah penularan TBC sangat penting untuk menjaga kesehatan sekaligus menghindari penyebaran penyakit lebih luas.

Berikut adalah berbagai hal yang dapat Anda lakukan secara mandiri untuk menghindari penularan TBC:

  • Mendapatkan vaksin BCG, terutama jika Anda memiliki bayi berusia di bawah 3 bulan
  • Menghindari faktor yang membuat Anda berisiko tertular TBC.
  • Menghindari kontak dekat dengan penderita TBC.
  • Pastikan rumah Anda memiliki sirkulasi udara yang baik dan mendapatkan sinar matahari yang cukup, agar tidak lembap dan kotor
  • Memilih pola makan yang sehat dan bergizi seimbang agar daya tahan tubuh tetap terjaga.
  • Menjalani gaya hidup yang sehat dengan rutin berolahraga dan menghindari konsumsi rokok dan minuman beralkohol.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Penyakit TB XDR dan Pengobatannya

Lebih parah dari TB MDR, kondisi TB XDR bahkan tidak dapat diobati dengan obat lini kedua. Simak penjelasan lengkapnya di sini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Winona Katyusha

Panduan Merawat Orang yang Menderita Tuberkulosis di Rumah

Perawatan pasien tuberkulosis di rumah membutuhkan pengetahuan khusus agar Anda sebagai perawat tidak tertular penyakit tersebut. Ini tips-tipsnya.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Hidup Sehat, Tips Sehat Februari 9, 2020

Penyakit TBC Bisa Kambuh, Ini Ciri-Ciri, Penyebab dan Cara Mencegahnya

Penyakit tuberkulosis (TBC) tidak hanya sulit diobati, tapi juga berisiko muncul kembali. Lalu, bagaimana cara mencegah agar TBC tidak kambuh?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Diah Ayu

Jangan Sampai Pengobatan Gagal, Ini 4 Tips Taat Aturan Minum Obat TBC

Jika tak mematuhi aturan minum obat TBC dengan benar, penderita bisa mengalami efek samping yang lebih merugikan. Ikuti tips ini agar tidak lupa!

Ditulis oleh Fidhia Kemala

Direkomendasikan untuk Anda

Pilihan Olahraga yang Aman untuk Pasien TBC

Pilihan Olahraga yang Aman untuk Pasien TBC

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Winona Katyusha
Tanggal tayang April 24, 2020
Kenali Pola Makan Sehat dan Pantangan Makanan Penderita TBC

Kenali Pola Makan Sehat dan Pantangan Makanan Penderita TBC

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Ihda Fadila
Tanggal tayang April 4, 2020
Mewaspadai TB Laten, Perlukah Melakukan Pengobatan?

Mewaspadai TB Laten, Perlukah Melakukan Pengobatan?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Ihda Fadila
Tanggal tayang Maret 31, 2020
Tips Sederhana Terhindar dari Penyebaran dan Penularan TBC

Tips Sederhana Terhindar dari Penyebaran dan Penularan TBC

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh Roby Rizki
Tanggal tayang Maret 24, 2020