Berbagai Cara Paling Umum Anda Bisa Tertular Tuberkulosis (TB)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Mikhael Yosia

Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara dengan kasus TBC terbanyak di dunia, menyusul India. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan ada 442.000 kasus TBC di Indonesia pada tahun 2017, meningkat dari tahun 2016 sebesar 351.893 kasus. Semakin meningkatnya kasus TBC di tanah air dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran masyarakat dan terbatasnya informasi mengenai penyakit ini. Maka dari itu, penting bagi Anda untuk mengetahui cara penularan TBC yang paling umum, sehingga Anda dapat menghindari risiko terinfeksi dari orang yang sakit.

Mengenal lebih dekat karakteristik bakteri penyebab tuberkulosis

Sebelum mengetahui bagaimana penularan TBC, ada baiknya Anda mengetahui terlebih dahulu seperti apa bakteri penyebab tuberkulosis itu sendiri, serta bagaimana bakteri bisa hidup dan berkembang biak dalam tubuh.

Tuberkulosis adalah infeksi sangat menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri TB memiliki karakteristik layaknya jenis bakteri pada umumnya, yaitu:

  • Tahan terhadap suhu rendah sehingga dapat bertahan hidup dalam jangka waktu lama pada suhu antara 4 derajat celcius hingga minus 70 derajat celcius.
  • Kuman yang terpapar sinar ultraviolet secara langsung akan mati dalam beberapa menit.
  • Udara segar biasanya juga dapat membunuh kuman dalam waktu singkat.
  • Bakteri akan mati jika dalam jangka waktu satu minggu jika berada di dalam dahak yang berada pada suhu di antara 30-37 derajat celcius.
  • Kuman bisa tidur dan tidak berkembang di dalam tubuh dalam waktu yang lama.

Ketika bakteri TBC masuk ke dalam tubuh Anda, bakteri belum tentu langsung berkembang menjadi penyakit. Dalam sebagian besar kasus, kuman akan tidur dan tidak berkembang dalam jangka waktu tertentu. Kondisi tersebut dinamakan dengan TB laten.

Bagaimana cara penularan bakteri TBC?

Mycobacterium tuberculosis menyebar dari satu orang ke orang lainnya ketika penderita TB mengeluarkan dahak atau cairan liur dari mulutnya yang berisi kuman ini ke udara — misalnya saat batuk, bersin, berbicara, bernyanyi, atau bahkan tertawa.

Menurut data dari Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis yang dikeluarkan oleh Kemenkes RI, dalam satu kali batuk seseorang biasanya menghasilkan sekitar 3.000 percikan dahak atau disebut juga droplet nuclei.

Tergantung pada bagaimana keadaan lingkungan, kuman yang keluar dari batuknya penderita TB dapat bertahan di udara lembab yang tidak terpapar sinar matahari selama berjam-jam. Akibatnya, setiap orang yang berdekatan dan memiliki kontak dengan penderita TBC secara langsung berpotensi menghirupnya sehingga akhirnya tertular.

Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention, terdapat empat faktor utama yang menentukan kemungkinan penularan TBC:

  • Kerentanan seseorang, yang biasanya bergantung pada kondisi sistem kekebalan tubuhnya
  • Seberapa banyak droplet bakteri M. tuberculosis yang keluar dari tubuhnya
  • Faktor lingkungan yang dapat memengaruhi jumlah droplet serta ketahanan bakteri M. tuberculosis di udara
  • Kedekatan, durasi, serta seberapa sering paparan seseorang terhadap bakteri M. tuberculosis di udara

Keempat faktor di atas dapat didukung dengan syarat-syarat di bawah ini:

  • Kadar konsentrasi droplet nucei: semakin banyak droplet yang terdapat di udara, semakin mudah bakteri TBC ditularkan
  • Ruang: Paparan terhadap bakteri di ruangan yang kecil dan tertutup meningkatkan risiko penularan TBC
  • Ventilasi: Potensi penularan lebih besar jika terpapar di ruangan dengan ventilasi yang buruk, mengakibatkan bakteri tidak dapat keluar ruangan
  • Sirkulasi udara: sirkulasi udara yang buruk juga menyebabkan droplet bakteri dapat bertahan hidup di udara lebih lama
  • Penanganan medis yang tidak tepat: prosedur medis tertentu dapat menyebabkan droplet bakteri menyebar dan meningkatkan risiko penularan
  • Tekanan udara: tekanan udara dalam keadaan tertentu dapat mengakibatkan bakteri M. tuberculosis menyebar ke tempat lain

Menurut sebuah jurnal dari National Institute of Health tahun 2013, penularan umumnya dapat terjadi ketika penderita berbicara selama kurang lebih 5 menit, atau batuk sekali saja. Dalam kurun waktu tersebut, droplet bakteri yang terlepas dapat bertahan di udara selama kurang lebih 30 menit.

Infeksi terjadi ketika seseorang menghirup droplet nuclei yang mengandung bakteri M. tuberculosis. Kemudian, bakteri tersebut akan masuk ke dalam alveoli paru-paru. Sebagian besar bakteri akan dihancurkan oleh makrofag yang dihasilkan oleh sel darah putih.

Sisa bakteri yang ada dapat tertidur dan tidak berkembang di dalam alveoli. Kondisi ini yang dinamakan dengan TB laten. Saat bakteri tertidur, Anda tidak dapat menularkan bakter TB ke orang lain.

Jika sistem kekebalan tubuh tidak dapat mengendalikan bakteri TB, kondisi TB laten dapat berkembang menjadi penyakit TB aktif. Saat inilah bakteri akan menyebar ke bagian tubuh lainnya, serta dapat ditularkan ke orang lain.

Secara umum, cara penularan TBC dapat terjadi di 3 tempat, yaitu di fasilitas kesehatan, rumah, dan tempat-tempat khusus seperti penjara.

1. Penularan di fasilitas kesehatan

Kasus penularan di fasilitas kesehatan sangat sering terjadi, terutama di fasilitas kesehatan yang terdapat di negara-negara berkembang, seperti Afrika Selatan dan Asia Tenggara.

Kondisi ini umumnya disebabkan karena fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit atau puskesmas, terlalu ramai dipadati orang, sehingga risiko penularan pun lebih tinggi.

Masih dari jurnal yang sama, penularan penyakit ini 10 kali lebih tinggi dibanding dengan tempat lainnya.

2. Penularan di rumah

Apabila Anda tinggal satu rumah dengan penderita TBC, penularan pun lebih mudah terjadi. Hal ini dikarenakan Anda terpapar bakteri dalam durasi yang lebih lama, serta ada kemungkinan bakteri hidup lebih lama di udara dalam rumah Anda.

Diperkirakan, kemungkinan seseorang untuk tertular TBC apabila tinggal bersama penderita dapat mencapai 15 kali lipat lebih besar dibanding dengan penularan di luar rumah.

3. Penularan di penjara

Di penjara, baik tahanan maupun petugasnya, sama-sama memiliki risiko yang cukup tinggi. Risiko tersebut semakin tinggi di penjara-penjara yang berada di negara-negara berkembang.

Umumnya, kondisi di penjara yang menyebabkan penularan TBC lebih mudah terjadi. Lingkungan di penjara biasanya tidak dilengkapi dengan ventilasi yang cukup, sehingga sirkulasi udara pun buruk.

Berdasarkan sebuah studi mengenai kasus TBC di penjara di Afrika Selatan, persentase risiko penularan di penjara dapat mencapai sekitar 90%.

Penting untuk Anda ketahui bahwa cara penularan TBC hanya terjadi melalui kontak udara. Ini artinya, Anda tidak akan tertular hanya dengan menyentuh penderita yang mengidap penyakit ini.

Berikut adalah kondisi-kondisi di mana TB tidak akan ditularkan:

  • Melalui makanan atau air
  • Melalui kontak kulit, seperti bersalaman atau berpelukan dengan penderita TBC
  • Duduk di kloset
  • Berbagi sikat gigi dengan penderita TBC
  • Mengenakan pakaian penderita TBC

Lain lagi ceritanya jika Anda berdekatan dengan penderita dan tidak sengaja menghirup udara yang mengandung droplet dari tubuh penderita. Droplet tersebut dapat menyebar di udara ketika penderita bersin atau batuk, bahkan mungkin saat berbicara.

Sayangnya, stigma mengenai cara penularan penyakit TBC masih cukup tinggi di negara-negara berkembang, terutama yang masih belum mendapatkan edukasi mengenai TBC secara mendalam. Akibatnya, banyak orang yang masih percaya bahwa penularan dapat terjadi melalui makanan, minuman, kontak kulit, atau bahkan keturunan.

Beragam faktor yang meningkatkan risiko penularan TBC

Selain mengetahui jalur-jalur penularan TBC, Anda juga harus memahami dan mewaspadai faktor-faktor risikonya.

Dilansir dari Central for Disease Control and Prevention, berikut ini ada empat faktor yang menentukan kemungkinan penularan TB, yaitu:

1. Sistem imun orang yang memiliki kontak langsung dengan penderita TB

Jika Anda tinggal dan merawat pasien TB dalam satu atap dan sistem imun Anda sedang lemah, risiko Anda ikut tertular TB akan semakin tinggi. Semakin lemah sistem imun tubuh, maka akan semakin mudah terinfeksi.

2. Seberapa banyak bakteri yang ditularkan

Orang yang sering terpapar oleh penderita TB maka akan lebih besar risiko infeksinya dibandingkan dengan orang yang lebih sedikit terpapar kuman.

3. Faktor lingkungan

Misalnya, lingkungan yang lembap, sempit, dan tidak terpapar sinar matahari biasanya akan meningkatkan kemungkinan penularan yang mengakibatkan infeksi.

Selain itu, tempat dengan ventilasi udara yang buruk atau bahkan tidak terdapat ventilasi akan meningkatkan risiko penularan. Hal ini dikarenakan kuman yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk atau bersin berkumpul di dalam ruangan tersebut.

4. Keterpaparan

Keterpaparan seseorang terhadap penularan bakteri ditentukan oleh beberapa faktor yaitu kedekatan atau jarak antara penderita dengan orang yang sehat, frekuensi atau seberapa sering Anda terpapar, dan durasi atau seberapa lama paparan yang terjadi di antara orang yang sehat dengan penderita.

Selain faktor penentu kemungkinan penularan, terdapat pula faktor yang menentukan seberapa mungkin penderita TBC menularkan bakteri ke orang lain:

  • Penderita mengalami batuk terus menerus selama lebih dari 3 minggu
  • Menderita penyakit gangguan pernapasan
  • Tidak menutup hidung dan mulut saat sedang batuk
  • Tidak menjalani pengobatan TBC dengan tepat, misalnya tidak sesuai dosis atau berhenti sebelum habis
  • Menjalani prosedur medis seperti bronkoskopi, induksi dahak, atau menerima obat-obatan aerosol
  • Adanya kelainan saat dicek dengan radiografi dada
  • Tes kultur dahak menunjukkan adanya bakteri M. tuberculosis

Siapa saja orang-orang yang lebih mudah tertular TBC?

Tidak semua orang yang menghirup kuman TB langsung memiliki penyakit ini. Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat, kuman bisa ditangkal dengan baik sehingga akan mati sebelum berkembang.

Orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah biasanya cenderung lebih mudah terinfeksi. Lansia, orang dengan HIV atau AIDS, penderita kanker, diabetes, ginjal, dan penyakit autoimun lainnya berisiko lebih tinggi untuk terinfeksi karena sistem imunnya tidak mampu menekan pertumbuhan bakteri.

Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai orang-orang yang lebih rentan tertular TBC:

1. Bayi dan anak-anak

Bayi dan anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna. Maka itu, mereka lebih rentan terhadap penularan TBC.

Selain rawan tertular, bayi dan anak-anak juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi serius ketika sudah terinfeksi bakteri.

2. Penderita diabetes, tukak lambung, dan kondisi lainnya

Orang yang menderita diabetes, tukak lambung, atau pernah menjalani gastrektomi, operasi bypass usus, dialisis (cuci ginjal), atau memiliki hemofilia, memiliki peluang lebih besar untuk terinfeksi bakteri TB.

3. Mengonsumsi obat-obatan tertentu

Beberapa jenis obat-obatan, seperti obat anti kanker dan obat kortikosteroid untuk pengobatan asma, penyakit kolagen, dan penyakit autoimun lainnya dapat meningkatkan risiko penularan TBC.

Orang-orang yang menggunakan obat-obatan TNF-α inhibitors (obat biologis) untuk mengatasi penyaki tertentu, seperti rheumatoid arthritis, juga lebih rentan tertular bakteri M. tuberculosis

4. Terinfeksi HIV/AIDS

Di Afrika dan beberapa negara di Asia, kasus kejadian infeksi TB termasuk tinggi, terutama pada populasi dengan sistem kekebalan tubuh yang buruk akibat infeksi HIV/AIDS.

Dengan kata lain, penderita HIV/AIDS jauh lebih rentan tertular bakteri TBC dibanding dengan orang lain.

5. Mengalami stres

Ternyata, kondisi stres juga dapat meningkatkan risiko seseorang terhadap penularan TBC. Hal ini dikarenakan stres berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh Anda.

Lalu, bagaimana penularan TBC dapat dicegah?

Mengetahui cara mencegah penularan sangat penting agar risiko penyakit ini mewabah di daerah atau masyarakat tertentu dapat menurun.

Salah satu langkah utama yang dapat diambil dalam skala besar untuk mencegah penularan adalah sosialisasi mengenai penyakit ini. Baik pemerintah, tenaga medis, maupun masyarakat harus bekerja sama demi berkurangnya angka kejadian TBC di suatu negara.

Berikut adalah berbagai hal yang dapat Anda lakukan secara mandiri untuk menghindari penularan TBC:

  • Menjalani gaya hidup yang sehat
  • Memilih pola makan yang sehat dan bergizi seimbang agar daya tahan tubuh tetap terjaga
  • Hindari rokok dan minum minuman beralkohol
  • Pastikan rumah Anda memiliki sirkulasi udara yang baik dan mendapatkan sinar matahari yang cukup, agar rumah tidak lembap dan kotor
  • Berolahraga secara teratur
  • Mendapatkan istirahat yang cukup
  • Usahakan untuk tidak tidur terlalu malam
  • Mendapatkan vaksin BCG, terutama jika Anda memiliki bayi berusia di bawah 3 bulan

Sementara itu, bagi Anda yang mengidap TBC, Anda dapat turut melakukan pencegahan penularan dengan langkah-langkah berikut:

  • Gunakan masker, terutama saat Anda keluar ruangan
  • Saat Anda batuk atau bersin, tutup mulut dan hidung Anda
  • Jika perlu, gunakan tisu untuk menutup mulut dan hidung saat Anda batuk atau bersin
  • Jangan lupa membuang tisu dan masker di tempat sampah
  • Pastikan Anda cuci tangan dengan menggunakan air mengalir dan sabun antiseptik

Khusus penderita HIV yang mengalami koinfeksi TBC, Anda juga dapat mencegah penularan TBC dengan obat pencegahan isoniazid (INH).

Pemberian isoniazid sebagai penangkalan penting untuk mengurangi risiko penularan di tengah-tengah masyarakat. Obat ini akan diberikan kepada penderita HIV selama 6 bulan, khususnya kepada penderita yang terbukti tidak terinfeksi.

Baca Juga:

Sumber