home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Kenali Pneumoconiosis, Penyakit Sistem Pernapasan dari Lingkungan Kerja

Kenali Pneumoconiosis, Penyakit Sistem Pernapasan dari Lingkungan Kerja

Bekerja di lingkungan yang berisiko tinggi seperti pabrik atau tambang tak hanya berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja, namun juga meningkatkan peluang terkena penyakit. Salah satunya adalah penyakit pernapasan yang dikenal dengan nama pneumoconiosis. Artikel kali ini akan mengulas secara lengkap seputar penyakit ini, mulai dari gejala, penyebab, hingga penanganannya.

Apa itu pneumoconiosis?

Pneumoconiosis adalah penyakit sistem pernapasan yang disebabkan oleh penumpukan partikel debu di dalam paru-paru. Partikel debu penyebab penyakit ini biasanya berasal dari asbestos, batu bara, silika, dan lain sebagainya yang umumnya ada di area industri atau pertambangan lalu terhirup dalam jangka waktu panjang.

Karena partikel penyebab pneumoconiosis lebih sering ditemukan di area pabrik, industri, dan tambang maka penyakit ini juga umum disebut dengan “penyakit akibat kerja” (occupational disease).

Ketika partikel-partikel berbahaya itu masuk ke dalam saluran pernapasan, akan timbul peradangan sebagai reaksi dari tubuh yang berupaya melawan masuknya benda asing. Seiring dengan perkembangan penyakit, pneumoconiosis berisiko menyebabkan kerusakan paru-paru hingga kematian.

Hingga sekarang belum ditemukan cara untuk menyembuhkan penyakit ini secara tuntas. Hal yang bisa dilakukan adalah mengendalikan gejala-gejalanya saja.

Seberapa umumkah kondisi ini?

faktor risiko pneumoconiosisPneumoconiosis adalah salah satu penyakit pernapasan yang paling banyak terjadi dalam lingkungan atau tempat kerja.

Berdasarkan jurnal Occupational and Environmental Medicine, kasus pneumoconiosis mengalami peningkatan sebesar 66% sejak tahun 1990 hingga 2017. Kasus kejadian penyakit ini lebih banyak ditemukan pada pasien berjenis kelamin pria, terutama mereka yang sudah lama aktif merokok.

Sementara itu, menurut Kemenkes, diperkirakan sekitar 9% pekerja tambang di Indonesia menderita penyakit ini akibat sering terpapar batu bara, mineral, silika, dan asbestos.

Apa saja gejala pneumoconiosis?

Penyakit ini biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berkembang sampai menimbulkan gejala pertama. Pasalnya, penumpukan debu di dalam paru-paru bisa memakan waktu bertahun-tahun lamanya.

Ini artinya, jika seseorang menghirup partikel debu di tempat kerja, belum tentu gejala-gejala akan muncul saat itu juga.

Apabila pneumoconiosis sudah semakin berkembang, di bawah ini gejala-gejala yang perlu diwaspadai.

  • Sesak napas atau napas memendek
  • Batuk disertai dahak
  • Rasa sesak atau menekan di dada

Gejala pneumoconiosis bisa menyerupai penyakit infeksi pernapasan atau batuk pilek biasa. Namun, gejala yang timbul cenderung bertahan lebih lama dari biasanya.

Kapan saya harus ke dokter?

Jika peradangan dalam paru-paru kian memburuk dan menyebabkan luka, kemungkinan akan terjadi kekurangan pasokan oksigen dalam darah. Kadar oksigen yang terlalu rendah dalam darah dapat menyebabkan masalah pada organ tubuh lain, seperti jantung dan otak.

Apabila Anda memiliki riwayat bekerja di tempat berisiko dan mengalami gejala-gejala di atas, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Apa penyebab pneumoconiosis?

faktor risiko pneumoconiosis

Ketika benda atau partikel asing terhirup dan masuk ke dalam saluran pernapasan, sistem kekebalan akan merespons dengan peradangan. Peradangan yang terus terjadi dapat memicu munculnya jaringan luka pada paru-paru, yang disebut dengan fibrosis.

Jaringan luka tersebut mengakibatkan kantung udara dan saluran udara menebal serta kaku sehingga pasien kesulitan bernapas. Jenis partikel asing yang paling sering menyebabkan pneumoconiosis adalah:

  • debu batu bara,
  • serat asbestos,
  • debu kapas,
  • silika,
  • berilium, dan
  • aluminium oksida.

Pneumoconiosis terbagi menjadi beberapa bentuk, tergantung pada penyebabnya. Di bawah ini adalah beberapa bentuknya yang paling umum.

  • Coal workers’ pneumoconiosis (CWP) atau penyakit paru-paru hitam
  • Byssinosis (akibat paparan serat kapas)
  • Silikosis (penumpukan materi silika)
  • Asbestosis (akibat paparan asbestos)

Apa saja faktor yang meningkatkan risiko saya terkena penyakit ini?

Ada beberapa jenis bidang pekerjaan yang dapat meningkatkan risiko seseorang secara tak sengaja menghirup partikel asing dan berbahaya ini setiap harinya. Beberapa profesi yang berpotensi memperbesar peluang seseorang untuk terkena pneumoconiosis adalah:

  • tukang ledeng atau tukang bangunan yang sering bekerja dengan asbestos,
  • penambang batu bara, dan
  • pekerja tekstil.

Meski demikian, tidak semua pekerja dari bidang-bidang tersebut pasti akan mengidap pneumoconiosis. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan supaya pekerja terlindungi dari risiko paparan debu dan partikel asing, seperti menggunakan masker khusus atau memasang ventilasi yang baik di tempat kerja.

Seperti apa diagnosis dan pengobatan pneumoconiosis?

Pneumoconiosis adalah penyakit yang cukup sulit untuk didiagnosis. Pasalnya, gejala penyakit ini serupa dengan penyakit pernapasan lainnya.

Apabila Anda memiliki gejala-gejala pernapasan dan riwayat bekerja di tempat berisiko, dokter akan melakukan beberapa cara untuk memastikan adanya pneumoconiosis.

  • Melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
  • Menganjurkan tes pengambilan gambar dengan rontgen dada atau CT scan.
  • Mengukur fungsi paru-paru dengan spirometri.
  • Mengambil sampel jaringan paru-paru dengan bronkoskopi atau thoracentesis.

Pilihan pengobatan pneumoconiosis

Jika penyakit telah dipastikan, dokter akan memberikan anjuran pengobatan yang sesuai dengan kondisi Anda. Sayangnya, pneumoconiosis tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Pengobatan yang ada saat ini hanya berfokus untuk mengendalikan gejala yang timbul serta mencegah komplikasi.

Untuk mengatasi gejala kesulitan bernapas, dokter akan menyarankan pemakaian alat bantu pernapasan untuk menambah pasokan oksigen dalam tubuh. Selain itu, Anda juga dianjurkan mengikuti program rehabilitasi paru-paru untuk mempelajari teknik pernapasan dan relaksasi yang tepat.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan fungsi paru-paru, meringankan gejala gangguan pernapasan, serta memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan.

Apa saja perubahan gaya hidup yang diperlukan untuk mengendalikan penyakit ini?

Walaupun pneumoconiosis tidak dapat disembuhkan, Anda dapat melakukan beberapa penyesuaian gaya hidup guna mencegah komplikasi penyakit.

Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda ikuti:

  • Hindari merokok. Zat di dalam rokok hanya akan memperburuk kondisi paru-paru Anda. Segera berhenti jika Anda termasuk perokok aktif.
  • Dapatkan vaksinasi flu. Dengan vaksinasi secara berkala, Anda akan melindungi diri dari risiko infeksi paru-paru yang lebih parah.
  • Olahraga rutin. Memilih jenis olahraga yang tepat untuk kesehatan paru-paru akan berdampak positif pada pernapasan Anda.
  • Pilih makanan sehat dan bergizi. Ada baiknya Anda mulai makan dengan porsi sedikit, namun lebih sering.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Pekerja Industri Pertambangan Rentan Terkena Pneumoconiosis – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Retrieved July 22, 2021, from https://www.kemkes.go.id/article/view/15111300003/pekerja-industri-pertambangan-rentan-terkena-pneumoconiosis.html 

Pneumoconiosis – University of Rochester Medical Center. (2021). Retrieved July 22, 2021, from https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=134&ContentID=162 

Pneumoconiosis – Chest Foundation. (2020). Retrieved July 22, 2021, from https://foundation.chestnet.org/lung-health-a-z/pneumoconiosis/ 

Byssinosis – Chest Foundation. (2020). Retrieved July 22, 2021, from https://foundation.chestnet.org/lung-health-a-z/byssinosis/ 

Coal Worker’s Pneumoconiosis (Black Lung Disease) – American Lung Association. (2021). Retrieved July 22, 2021, from https://www.lung.org/lung-health-diseases/lung-disease-lookup/black-lung 

Asbestosis – Mayo Clinic. (2019). Retrieved July 22, 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/asbestosis/symptoms-causes/syc-20354637 

Pneumoconiosis – Johns Hopkins Medicine. (2021). Retrieved July 22, 2021, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/pneumoconiosis 

Pneumoconioses – CDC. (2011). Retrieved July 22, 2021, from https://www.cdc.gov/niosh/topics/pneumoconioses/default.html#iden 

Shi, P., Xing, X., Xi, S., Jing, H., Yuan, J., Fu, Z. and Zhao, H., 2020. Trends in global, regional and national incidence of pneumoconiosis caused by different aetiologies: an analysis from the Global Burden of Disease Study 2017. Occupational and Environmental Medicine, 77(6), pp.407-414. http://dx.doi.org/10.1136/oemed-2019-106321 

Chuang, C. S., Ho, S. C., Lin, C. L., Lin, M. C., & Kao, C. H. (2016). Risk of Cerebrovascular Events in Pneumoconiosis Patients: A Population-based Study, 1996-2011. Medicine, 95(9), e2944. https://doi.org/10.1097/MD.0000000000002944

DeLight, N., Sachs, H. (2020). Pneumoconiosis. StatPearls Publishing.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 06/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri