backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Silikosis

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 27/04/2023

Silikosis

Hidung bisa menghirup berbagai partikel dalam udara yang berbahaya untuk kesehatan paru-paru. Salah satu partikel berbahaya tersebut adalah silika yang bisa menyebabkan penyakit silikosis.

Simak gejala, penyebab, dan cara mengobatinya berikut ini.

Apa itu silikosis?

Silikosis adalah penyakit paru-paru yang terjadi karena seseorang terlalu banyak menghirup partikel silika dalam jangka waktu yang lama.

Silika umumnya ditemukan pada pasir, batu, dan kuarsa. Paparan partikel dari mineral ini bisa berakibat fatal bagi orang-orang dengan pekerjaan yang melibatkan batu, beton, maupun kaca.

Paparan partikel silika dari pekerjaan sehari-hari dapat menimbulkan luka dan jaringan parut pada paru-paru. Seiring waktu, hal ini akan mengganggu kemampuan bernapas.

Secara umum, ada tiga jenis utama silikosis yang dapat dibedakan berdasarkan gejalanya.

  • Silikosis akut: dapat menyebabkan batuk, penurunan berat badan, dan lemas dalam beberapa bulan atau selama dua tahun setelah seseorang terpapar silika dengan konsentrasi sangat tinggi.
  • Silikosis kronis: muncul 15–20 tahun setelah paparan silika. Paru-paru bagian atas bisa terpengaruh dan kadang menyebabkan luka berkepanjangan.
  • Silikosis terakselerasi: gejala kronis seperti sesak napas ekstrem, nyeri dada, dan gagal napas dapat terjadi lebih cepat sekitar 1–10 tahun setelah paparan silika.

Pada dasarnya, penyakit ini bisa dicegah dengan mengurangi faktor risikonya. Diskusikan dengan dokter Anda untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Tanda dan gejala silikosis

Silikosis bersifat progresif atau akan makin memburuk dari waktu ke waktu. Salah satu gejala awalnya ialah batuk.

Dalam kasus silikosis akut, gejala khasnya yaitu demam, nyeri dada yang terasa menusuk, dan kesulitan bernapas yang terjadi secara tiba-tiba.

Kemungkinan tanda dan gejala lain dari kondisi ini, meliputi:

  • nyeri dada,
  • demam,
  • berkeringat pada malam hari,
  • penurunan berat badan, dan
  • kegagalan pernapasan.

Gejala silikosis bisa terjadi dalam hitungan minggu hingga tahun setelah Anda terpapar silika. Gejala akan makin memburuk seiring berjalannya waktu, terutama saat luka muncul pada paru-paru.

Mungkin ada tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Jika Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Penyebab silikosis

menggunakan masker saat batuk

Paparan terhadap partikel silika atau crystalline silica adalah penyebab utama dari penyakit silikosis.

Partikel silika yang terhirup ukurannya sangat kecil. Dikutip dari laman Occupational Safety and Health Administration, partikel ini setidaknya berukuran 100 kali lebih kecil dari pasir pantai.

Umumnya, partikel silika terbentuk selama proses memotong, menggergaji, mengebor, maupun menghancurkan batuan, batu bata, dan beton.

Selain itu, material pasir yang digunakan dalam proses pengamplasan dengan teknik abrasive blasting juga berisiko menyebarkan partikel silika ke udara.

Paparan silika tidak hanya dapat menyebabkan silikosis. Kondisi ini juga meningkatkan risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kanker paru, dan gangguan ginjal.

Faktor risiko silikosis

Pekerja pabrik, tambang, dan perbatuan memiliki risiko paling tinggi untuk terkena silikosis. Hal ini karena mereka berhadapan langsung dengan partikel silika di lingkungan kerjanya. 

Adapun, beberapa pekerjaan dan industri yang memiliki risiko tertinggi, meliputi:

  • pabrik aspal,
  • produksi beton,
  • konstruksi bangunan,
  • penghancuran bangunan,
  • pabrik kaca,
  • pertambangan,
  • penggalian,
  • sandblasting, dan
  • pemotongan batu.

Diagnosis silikosis

Dokter akan terlebih dahulu menanyakan mengenai kondisi pernapasan Anda. Selain itu, dokter juga akan menanyakan riwayat pekerjaan untuk menentukan kemungkinan paparan silika.

Beberapa rangkaian tes untuk membantu menegakkan diagnosis silikosis yakni sebagai berikut.

  • Tes pencitraan: rontgen dada atau CT-scan memberikan gambaran tentang kerusakan paru-paru yang mungkin disebabkan paparan silika.
  • Tes fungsi paru-paru: mengukur kemampuan paru-paru untuk bernapas dengan benar dan memasukkan oksigen ke dalam aliran darah.
  • Tes sputum: mengambil sampel dahak yang dibatukkan untuk diperiksa di laboratorium.
  • Bronkoskopi: mengevaluasi bagian dalam paru-paru dengan memasukkan tabung tipis dan lentur yang dilengkapi kamera pada ujungnya (bronkoskop) ke dalam tenggorokan. 
  • Biopsi paru: mengambil sampel jaringan atau cairan paru-paru untuk pengujian lebih lanjut, baik melalui prosedur bronkoskopi maupun pembedahan.

Pengobatan silikosis

Hasil rontgen paru

Tujuan utama dari pengobatan ini adalah untuk mengurangi gejala yang muncul akibat penyakit silikosis.

Penggunaan obat batuk membantu mengurangi gejala batuk. Sementara itu, antibiotik bisa membantu mengatasi infeksi pernapasan, terutama pada orang yang berisiko tinggi.

Inhaler dapat digunakan untuk melegakan saluran pernapasan. Beberapa pasien juga memakai masker oksigen untuk meningkatkan jumlah oksigen dalam aliran darah.

Jika Anda didiagnosis mengidap silikosis, hindarilah paparan silika. Berhenti merokok juga menjadi cara terbaik untuk melindungi paru-paru dari kerusakan lebih lanjut.

Pengidap silikosis juga memiliki risiko tuberkulosis (TB atau TBC) yang lebih tinggi. Anda harus melakukan pemeriksaan TB secara rutin dan minum obat yang dokter resepkan.

Sementara itu, pasien dengan kerusakan paru-paru yang parah mungkin memerlukan cangkok atau transplantasi paru-paru.

Pencegahan silikosis

Bagi orang-orang dengan pekerjaan berisiko, sejumlah langkah di bawah ini bisa Anda lakukan untuk membantu mencegah dan mengurangi risiko silikosis.

  • Tempat kerja dan lingkungan harus melaksanakan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), termasuk dengan menyediakan ventilasi yang tepat.
  • Sediakan monitor kualitas udara di lingkungan kerja untuk memastikan tidak ada partikel silika berlebihan di udara.
  • Kenakan masker khusus (respirator) untuk menghindari terhirupnya silika, terutama saat melakukan “abrasive blasting“.
  • Semprotan air dan metode pemotongan basah dapat mengurangi risiko paparan silika.
  • Pekerja harus makan, minum, atau merokok jauh dari area yang terkontaminasi silika.
  • Cuci tangan sebelum melakukan aktivitas untuk membersihkan tangan dari debu.

Apabila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai kondisi ini, konsultasikanlah dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik.

Kesimpulan

  • Silikosis adalah penyakit paru-paru akibat menghirup partikel silika dalam waktu lama.
  • Partikel silika yang terhirup bisa menimbulkan luka dan jaringan parut dalam paru-paru. Hal ini bisa mengganggu kemampuan pengidapnya untuk bernapas.
  • Gangguan ini ditandai dengan batuk, nyeri dada, demam, berkeringat malam hari, penurunan berat badan, hingga gagal napas.
  • Pengobatan bertujuan untuk meredakan gejala yang muncul dan mencegah kondisi ini bertambah parah.
  • Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui perawatan yang tepat sesuai dengan kondisi yang Anda alami.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 27/04/2023

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan