Pengertian

Apa itu penyakit skizofrenia?

Skizofrenia adalah penyakit mental kronis yang menyebabkan gangguan proses berpikir. Orang dengan skizofrenia tidak bisa membedakan mana khayalan dan kenyataan. Itu sebabnya masyarakat Indonesia sering menyebut skizofrenia dengan “gila”. Penyakit ini juga menyebabkan pengidapnya tidak memiliki kemampuan untuk berpikir, mengingat, ataupun memahami masalah tertentu.

Skizofrenia paranoid merupakan jenis skizofrenia yang paling sering ditemukan di tengah masyarakat. Gejala paling khas dari skizofrenia paranoid adalah delusi (waham) dan halusinasi. Itulah sebabnya, orang dengan skizofrenia paranoid cenderung mendengar suara-suara di dalam pikiran mereka dan melihat sesuatu yang tidak nyata.

Tidak hanya itu, orang yang memiliki skizofrenia paranoid juga sering menunjukkan perilaku kacau yang menyebabkan diri mereka tidak dapat mengendalikan perilakunya. Akibatnya, pengidap skizofrenia paranoid sering berperilaku tidak pantas, sulit mengendalikan emosi, hasrat, serta keinginannya.

Secara umum, skizofrenia adalah gangguan kejiwaan kronis yang membutuhkan pengobatan berkepanjangan untuk meringankan gejalanya.

Seberapa umumkah penyakit skizofrenia?

Sebanyak 1 dari 100 orang, atau sekitar 1 persen populasi dunia, terkena penyakit ini. Skizofrenia adalah penyakit yang dapat dialami oleh pria dan wanita dari rentang usia 16-30 tahun.. Namun dalam banyak kasus, penyakit ini lebih sering dialami oleh pasien pria daripada wanita.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja ciri dan gejala skizofrenia?

Gejala skizofrenia pada dasarnya bervariasi berdasarkan jenis dan tingkat keparahannya. Meski begitu, ada beberapa gejala yang paling khas di antaranya:

  • Halusinasi. Orang yang terkena skizofrenia paranoid sering mendengar, melihat, mencium, atau merasakan hal-hal yang tidak nyata. Paling sering mereka mendengar suara yang jelas dari orang yang dikenal ataupun orang yang tidak dikenal. Suara ini mungkin akan memberi tahu penderita untuk melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, seperti bunuh diri atau membunuh orang lain.
  • Delusi. Orang dengan skizofrenia paranoid juga mungkin memiliki keyakinan kuat akan suatu hal yang salah, misalnya merasa orang lain ingin mencelakakan atau membunuh dirinya. Gejala skizofrenia yang satu ini akan berdampak langsung pada perilaku pengidapnya.
  • Pikiran kacau dan ucapan membingungkan. Orang dengan kondisi ini sering kesulitan untuk mengatur pikiran mereka. Mereka mungkin tidak memahami apa yang Anda bicarakan saat Anda mengajaknya berbicara. Tidak hanya itu, ketika mereka berbicara, mereka sering mengeluarkan ucapan yang tidak masuk akan dan terdengar membingkungkan.
  • Sulit konsentrasi. Pikiran yang carut marut membuat orang dengan kondisi ini kesulitan untuk berkonsetrasi atau fokus pada satu hal.
  • Gerakan berbeda. Beberapa orang dengan kondisi ini sering nampak gelisah. Sering kali mereka melakukan gerakan yang sama berulang kali. Meski begitu, terkadang mereka dapat juga diam selama berjam-jam (katatonik).

Gejala skizofrenia lainnya juga dapat meliputi:

  • Kurangnya minat pada hal-hal yang dulunya sangat disukai.
  • Tidak peduli terhadap kebersihan dan penampilan diri.
  • Penarikan diri dari lingkungan sosial, seperti teman dan keluarga.
  • Kesulitan tidur atau pola tidur yang berubah.
  • Sangat sensitif dan memiliki suasana hati yang tertekan.
  • Tidak responsif terhadap lingkungan sekitar
  • Kurang motivasi dalam menjalani hidup, termasuk untuk menjalin hubungan dengan orang lain.
  • Konflik pada pikiran, sulit membuat keputusan
  • Kesulitan untuk mengekspresikan dan memperlihatkan emosi
  • Ketakutan akan tempat umum yang ramai
  • Paranoia, seperti kecemasan berlebihan, percaya dirinya mempunyai kemampuan khusus atau mengidap penyakit tertentu yang sebenarnya tidak ada pada dirinya.

Gejala di atas terkadang sulit dikenali karena biasanya umum terjadi pada remaja. Akibatnya, banyak orang menganggap jika gejala tersebut adalah hal yang lumrah sebagai fase remaja. Pada pria, gejala penyakit ini biasanya dimulai pada awal puberitas hingga pertengah usia 20-an. Sementara pada wanita, gejala biasanya dimulai pada akhir usia 20-an. Anak-anak dan lansia di atas 45 tahun jarang memiliki kondisi ini.

Kemungkinan ada beberapa tanda dan gejala skizofrenia yang tidak disertakan di atas. Apabila Anda memiliki kekhawatiran tentang gejala skizofrenia, segera konsultasikanlah ke dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Dalam banyak kasus, orang dengan kondisi ini biasanya tidak menyadari jika mereka memiliki gejala skizofrenia dan membutuhkan pengobatan. Oleh sebab itu, jika Anda mencurigai seseorang di sekitar Anda menunjukkan gejala skizofrenia seperti yang sudah disebutkan di atas, segera ajak orang tersebut ke dokter.

Pasien mungkin akan berontak dan mencoba untuk lari, jadi Anda harus berdiskusi dengan pihak rumah sakit atau ahli jiwa untuk mengusahakan upaya pengobatan yang aman bagi pasien.

Selengkapnya

Penyebab

Apa penyebab penyakit skizofrenia?

Sampai saat ini para ahli belum mengetahui apa yang menyebabkan seseorang mengalami penyakit kejiwaan. Meski begitu, para peneliti percaya bahwa ada beberapa hal yang dapat memicu penyakit ini. Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab penyakit skizofrenia adalah:

  • Senyawa kimia di otak. Kadar seratonin dan dopamine di dalam otak yang tidak seimbang diyakini apara hli bisa menyebabkan penyakit ini.
  • Perbedaan struktur otak. Studi pemindai saraf otak menunjukkan perbedaan dalam struktur otak dan sistem saraf pusat orang dengan penyakit ini Para peneliti tidak yakin mengapa hal tersebut bisa terjadi, namun mereka menyebutkan bahwa gangguan kejiwaan ini terkait dengan penyakit otak.
  • Genetik. Penyakit ini mungkin diwariskan di dalam keluarga. Jadi, jika salah satu keluarga inti Anda terkena penyakit ini, Anda berisiko tinggi mengalami hal yang serupa.
  • Faktor lingkungan. Terkena infeksi virus dan kekurangan beberapa nutrisi ketika masih dalam kandungan.
  • Obat-obatan tertentu. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang seperti narkotika.

Faktor-faktor risiko

Siapa saja yang berisiko mengidap penyakit skizofrenia?

Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit skizofrenia adalah:

  • Memiliki keluarga yang terkena penyakit ini. Apabila Anda memiliki keluarga, khususnya orangtua atau saudara kandung yang terkena penyakit ini, risiko Anda 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain.
  • Infeksi virus, keracunan, dan kekurangan gizi saat masih di dalam kandungan khususnya pada usia kandungan 6 bulan pertama.
  • Memiliki ayah yang sudah tua saat Anda dilahirkan.
  • Menggunakan inhibitor atau stimulasi saraf pada usia dini.
  • Memiliki penyakit autoimun.

Selain beberapa hal yang disebutkan di atas, ternyata stres juga berpotensi sebagai penyebab seseorang mengalami penyakit skizofrenia. Banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang terkena stres, misalnya masalah keuangan, rumah tangga, pekerjaan, dan lain sebagainya.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana cara mengobati penyakit skizofrenia?

Skizofrenia adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara total. Akan tetapi, beberapa gejalanya dapat ditangani dengan pengobatan dan terapi perilaku kognitif, sehingga penderitanya dapat lebih mudah untuk menjalani aktivitas.

Orang dengan kondisi ini bisanya dirawat oleh seorang psikiater dan psikolog berpengalaman. Dalam banyak kasus, perawatan di rumah sakit jiwa diperlukan agar kebersihan, nutrisi, serta keamanan pasien terjamin. Secara umum,  beberapa pilihan pengobatan untuk penyakit skizofrenia adalah:

Obat skizofrenia

Obat-obatan memegang peranan penting untuk membantu mengendalikan gejala sikozofrenia. Obat skizofrenia yang biasa diresepkan adalah antipsikotik. Obat antipsikotik bekerja dengan memengaruhi neurotransmitter dopamin dan serotonin di dalam otak, sehingga obat ini dapat membantu meringankan gejala skizofrenia.

Obat skizofrenia ini dapat digunakan lewat oral atau suntikan. Jika pasien mengembangkan gejala yang tergolong ringan sehingga masih mudah diatur, dokter akan memberikan obat skizofrenia oral. Sementara jika pasien mengembaangkan gejala yang tergolong berat sehingga sulit untuk diatur, dokter terpaksa akan memberikan obat skizofrenia suntik.

Antipsikotik dibagi menjadi dua kelompok, yaitu antipsikotik generasi pertama dan generasi kedua. Antipsikotik generasi kedua umumnya lebih sering diresepkan dokter karena memiliki risiko efek samping yang lebih rendah daripadai antipsikotik generasi pertama. Obat skizofrenia antipsikotik generasi kedua meliputi:

  • Aripiprazole (Abilify)
  • Asenapine (Saphris)
  • Brexpiprazole (Rexulti)
  • Cariprazine (Vraylar)
  • Clozapine (Clozaril)
  • Iloperidone (Fanapt)
  • Lurasidone (Latuda)
  • Olanzapine (Zyprexa)
  • Paliperidone (Invega)
  • Quetiapine (Seroquel)
  • Risperidone (Risperdal)
  • Ziprasidone (Geodon)

Obat antipsikotik generasi pertama memiliki efek samping yang memengaruhi saraf (neurologis), seperti kejang otot, kedutan, serta gemetar. Meski obat antipsikotik kedua sering diresepkan karena minim efek samping, antipsikotik generasi pertama umumnya lebih murah. Terutama pada versi generik, yang dapat menjadi pertimbangan penting untuk pengobatan jangka panjang. Beberapa obat skizofrenia antipsikotik generasi pertama meliputi:

  • Chlorpromazine
  • Fluphenazine
  • Haloperidol
  • Perphenazine

Dokter Anda juga mungkin akan meresepkan obat lain, seperti antidepresan atau obat antikecemasan. Selalu konsultasi ke dokter tentang manfaat dan efek samping dari obat apapun yang diresepkan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang serius.

Terapi kognitif

Penyakit kejiwaan sering terjadi karena pasien memiliki konsep pemikiran yang dibangun bukan berdasarkan logika, dalam jangka waktu yang lama. Dokter akan menyarankan terapi kognitif untuk membantu pasien menemukan kebiasaan alam bawah sadar yang menyebabkan penyakit ini.

Kemudian, akan dilakukan terapi perilaku dan pelatihan secara psikologis untuk memperbaiki cara berpikir yang salah tersebut. Saat pemikiran-pemikiran negatif tersebut berkurang dan kognitif Anda kembali normal (kemampuan mengingat sampai pada kemampuan memecahkan masalah), tandanya gejala telah berhasil diatasi.

Dokter Anda mungkin akan memberi resep antineurotik harian untuk mencegah gejala seperti delusi dan paranoid. Tambahannya, dokter Anda mungkin akan menggunakan pengobatan psiko-sosial untuk para pasien. Pengobatan psikososial adalah terapi konseling yang mendukung kegiatan sehari-hari dan juga aktivitas-aktivitas komunitas.

Grup pekerja sosial yang dipandu oleh para dokter akan mengajarkan Anda dan orang terdekat Anda seputar soft skill yang dibutuhkan dalam aktivitas sehari-hari.

Apa saja tes untuk mendiagnosis penyakit skizofrenia?

Saat dokter mencurigai adanya gejala skizofrenia pada pasien, umumnya mereka akan memeriksa riwayat medis, evaluasi kejiwaan, dan beberapa pemeriksaan fisik. Beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan dokter untuk mendiagnosis skizofrenia adalah:

  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini dilakukan untuk membantu memastikan ada tidaknya masalah lain yang dapat menyebabkan gejala.
  • Pemeriksaan darah lengkap. Tes ini dilakukan untuk memastikan jika gejala yang ditimbulkan pasien bukan karena pengaruh alkohol, obat-obatan tertentu, ataupun kondisi medis lainnya. 
  • Dokter juga mungkin akan meminta tes gambar, seperti MRI atau CT scan untuk melihat ada tidaknya kelainan pada struktur otak dan sistem saraf pusat pasien.
  • Evaluasi kejiwaan. Dokter atau ahli kesehatan mental akan memeriksa status mental pasien dengan mengamati penampilan, pikiran, suasana hati, serta diskusi tentang keluarga atau pengalaman pribadi pasien.

Pengobatan di rumah

Apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyakit skizofrenia?

Gaya hidup dan pengobatan rumahan yang mungkin dapat membantu Anda mengatasi penyakit skizofrenia adalah:

  • Minum obat Anda setiap hari seperti pada resep dokter.
  • Saat halusinasi muncul, cobalah untuk mengabaikan halusinasi itu dengan memfokuskan diri Anda pada hal lain, misalnya dengan membaca buku, mendengarkan musik, berdoa, atau berbicara dengan teman.
  • Ikut berpartisipasi dalam program atau aktivitas yang dianjurkan. Pertimbangkan untuk ikut dalam support group pekerja sosial.
  • Hindari alkohol karena alkohol dapat menghambat efek obat skizofrenia.
  • Jangan biarkan anggota keluarga yang mengidap penyakit ini merasa tertekan. Stres, kurang tidur, diet yang tidak seimbang, dan kafein dapat menyebabkan gejala kambuh.
  • Hubungi dokter apabila Anda atau keluarga Anda mendengar suara, merasa paranoid atau memiliki pikiran-pikiran yang aneh.
  • Hubungi dokter Anda apabila Anda atau anggota keluarga Anda kurang tidur, terlihat depresi, atau mempunyai perasaan ingin bunuh diri.
  • Jangan menggunakan obat skizofrenia yang ilegal.
  • Jangan menggunakan obat skizofrenia di luar resep tanpa sepengetahuan dokter Anda

Tips merawat orang dengan penyakit ini di rumah

Hidup serumah dengan orang yang memiliki penyakit ini memang bukan hal yang mudah. Anda membutuhkan sejumlah strategi untuk membimbing dan menghadapi pasien agar mempercepat proses pemulihannya. Tips merawat orang dengan skizofrenia adalah:

1. Pelajari penyakitnya sebaik mungkin

Belajar tentang penyebab, faktor pemicu, gejala, hingga pengobatannya akan membantu Anda dalam membuat keputusan bagaimana cara terbaik merawat pasien.

2. Konsultasi ke psikiater atau lembaga bantuan lokal

Supaya dapat memberikan dukungan dan perawatan yang baik kepada pasien, Anda membutuhkan bantuan dari pihak luar. Itu sebabnya, jangan ragu untuk meminta bantuan dengan ahli kejiwaan, psikiater, atau komunitas terkait penyakit ini. Semakin banyak Anda mendapatkan dukungan, semakin baik gai Anda dan jalannya pemulihan pasien.

3. Pandu pasien untuk mendapatkan perawatan medis

Dalam banyak kasus, orang yang memiliki penyakit ini sering diasingkan atau bahkan dipasung karena banyak orang menganggap mereka berbahaya. Ingat, seseorang dengan penyakit ini sering tidak menyadari bahwa mereka tidak sehat, sampai mereka mendapatkan perawatan. Oleh karena itu, memotivasinya untuk mendapatkan bantuan medis guna mengelola gejala adalah landasan perawatan yang tepat.

4. Selalu dampingi pasien

Meski pasien sudah keluar dari rawat inap, mereka juga butuh didampingi agar teta berada di jalur pemulihan yang benar. Dorongan dan dukungan Anda serta orang-orang di sekitarnya adalah hal yang penting baginya untuk melanjutkan terapi.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber

Direview tanggal: April 25, 2018 | Terakhir Diedit: April 25, 2018