Gangguan Skizoafektif

    Gangguan Skizoafektif

    Schizoaffective disorder atau gangguan skizoafektif adalah salah satu jenis penyakit mental yang sering disangka sebagai “gila” atau kesurupan. Akses kesehatan yang masih terbatas membuat banyak orang dengan penyakit ini tidak mendapatkan penanganan dengan tepat.

    Bagaimana penyakit ini bisa terjadi? Tindakan apa yang harus dilakukan untuk menanganinya?

    Apa itu skizoafektif?

    kesurupan merupakan salah satu bentuk skizoafektif

    Gangguan skizoafektif adalah penyakit mental ketika seseorang mengalami gabungan gejala skizofrenia seperti halusinasi atau delusi, juga gejala gangguan suasana hati seperti depresi atau mania.

    Jumlah kasus schizoaffective disorder diperkirakan mencapai sepertiga kasus skizofrenia dan lebih sering terjadi pada wanita.

    Ada dua jenis gangguan skizoafektif yang masuk ke dalam gejala skizofrenia. Keduanya mencakup tipe bipolar yang meliputi mania dan depresi berat, serta tipe depresi yang hanya mencakup gejala depresi.

    Dilansir dari situs Mayo Clinic, gangguan skizoafektif sangat sulit untuk dipahami, tidak seperti penyakit mental lainnya. Ini karena gejalanya cenderung berbeda pada masing-masing pasien.

    Pengidap gangguan skizoafektif yang tidak segera mendapatkan pengobatan dan perawatan dapat mengalami berbagai masalah dalam melakukan tugas sehari-hari.

    Contohnya yakni penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah akibat gejala penyakit mental yang dialami.

    Gejala gangguan skizoafektif

    Gejala gangguan skizoafektif bisa berbeda pada setiap orang, tergantung jenisnya, apakah tipe bipolar atau depresi. Seseorang yang mengalami penyakit ini biasanya akan mengalami sebuah siklus gejala.

    Ada saat ketika pasien mengalami gejala berat, kemudian diikuti dengan membaiknya gejala. Berikut gejala yang biasa ditunjukkan oleh seseorang yang mengalami gangguan skizoafektif.

    • Delusi, yakni meyakini sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
    • Halusinasi dalam bentuk melihat, mendengar, mencium bau, atau merasakan hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
    • Gejala depresi, seperti kerap merasa hampa, sedih, dan tak berharga.
    • Perubahan suasana hati atau peningkatan energi secara tiba-tiba yang tidak sesuai dengan perilaku atau karakter.
    • Kika diberikan pertanyaan, pasien hanya akan menjawab sebagian pertanyaan atau malah memberikan jawaban yang sama sekali tidak berhubungan.
    • Tidak bisa melakukan aktivitas keseharian, termasuk mengalami penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah.
    • Tidak peduli dengan penampilan, tidak bisa merawat diri sendiri, dan tidak peduli dengan kebersihan.

    Gangguan skizoafektif ditandai dengan setidaknya dua dari gejala-gejala di atas serta kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) sebagai berikut.

    • Delusi atau halusinasi selama dua minggu berturut-turut atau lebih.
    • Episode perubahan mood (baik depresi maupun mania) yang berlangsung berturut-turut.
    • Perubahan mood sering terjadi selama berlangsungnya penyakit.
    • Gejala-gejala tidak disebabkan oleh penggunaan zat atau obat-obatan.

    Apa penyebab gangguan skizoafektif?

    Hingga saat ini, para ahli belum mengetahui apa yang menjadi penyebab skizoafektif secara pasti secara pasti.

    Meski begitu, ada sejumlah faktor risiko yang berkontribusi dalam munculnya gangguan ini pada diri Anda. Berikut beberapa faktor risiko yang diduga berpengaruh dalam pembentukan skizoafektif.

    • Struktur otak: kelainan komposisi atau ukuran bagian tertentu pada otak (misalnya hipokampus dan talamus).
    • Genetik: memiliki anggota keluarga yang mengidap gangguan skizoafektif, skizofrenia atau gangguan bipolar.
    • Lingkungan: masalah atau orang sekitar yang menyebabkan stres berlebihan atau trauma secara emosional.
    • Konsumsi obat: penggunaan obat psikoaktif dan psikotropika yang mengganggu pikiran.

    Dampak gangguan skizoafektif

    gangguan kecemasan merupakan salah satu dampak skizoafektif

    Gangguan skizoafektif merupakan masalah kesehatan mental yang perlu mendapatkan penanganan serius.

    Jika dibiarkan begitu saja, penyakit ini dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang lebih serius, bahkan kematian pada pengidapnya.

    Sejumlah dampak skizoafektif yang perlu diwaspadai, meliputi:

    • pengangguran,
    • komplikasi kesehatan,
    • gangguan kecemasan,
    • kemiskinan dan tunawisma,
    • konflik keluarga atau dengan orang lain,
    • merasa terkucilkan dengan lingkungan sekitar,
    • mudah terlibat dalam penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan terlarang, serta
    • munculnya pikiran atau upaya bunuh diri.

    Diagnosis gangguan skizoafektif

    Skizoafektif adalah gangguan mental, maka dari itu pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan atau psikiater.

    Untuk menentukan diagnosis dan pemilihan pengobatan yang tepat, dokter atau psikiater umumnya melakukan serangkaian tes berikut.

    • Tes fisik untuk mengesampingkan kemungkinan penyebab lain serta mengecek kemungkinan adanya komplikasi fisik.
    • MRI atau CT scan untuk melihat adanya kelainan pada struktur otak dan sistem saraf pusat.
    • Pemeriksaan darah untuk memastikan bahwa gejala yang ditimbulkan pasien bukan dari pengaruh obat-obatan, alkohol, atau kondisi kesehatan lainnya.

    Pengobatan gangguan skizoafektif

    beda psikolog dan psikiater

    Cara mengatasi gangguan skizoafektif bergantung pada jenis dan tingkat keparahan gejala.

    Umumnya, pasien akan mendapatkan kombinasi perawatan dengan obat-obatan, terapi psikologis, dan pelatihan keterampilan untuk beraktivitas sehari-hari.

    Perubahan gaya hidup juga dapat membantu memudahkan Anda hidup dengan penyakit ini. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.

    • Belajar lebih jauh tentang gangguan skizoafektif sehingga Anda dapat mengikuti pengobatan yang telah direncanakan dokter dengan disiplin.
    • Mencari tahu hal-hal yang dapat memicu gejala sebagai langkah pencegahan.
    • Membuat rencana terkait tindakan yang harus dilakukan ketika gejala kambuh.
    • Menerapkan pola hidup sehat dengan menjauhi narkoba, alkohol, dan rokok karena dapat mengganggu pengobatan dan memperparah gejala.
    • Bergabung dengan support group untuk bertukar pikiran dengan sesama pasien terkait cara menghadapi penyakit ini dengan baik.

    Dalam beberapa kasus, rawat inap di rumah sakit untuk sementara waktu mungkin diperlukan. Selain itu, pengobatan jangka panjang yang dilakukan secara rutin juga mungkin bisa membantu mengendalikan gejala.

    Kesimpulan

    Skizoafektif adalah masalah kesehatan mental yang membuat pengidapnya mengalami gabungan gejala skizofrenia dan gangguan suasana hati.
    Cara mengatasinya harus disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala, bisa dengan konsumsi obat, terapi, pelatihan keterampilan, atau kombinasi antara ketiganya.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Schizoaffective disorder – Symptoms and causes. (2022). Retrieved 15 August 2022, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/schizoaffective-disorder/symptoms-causes/syc-20354504

    Schizoaffective Disorder: Schizophrenia, Mood Disorder, Treatment. (2022). Retrieved 15 August 2022, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/21544-schizoaffective-disorder

    Schizoaffective disorder: MedlinePlus Genetics. (2018). Retrieved 15 August 2022, from https://medlineplus.gov/genetics/condition/schizoaffective-disorder/

    Schizoaffective Disorder. (2022). Retrieved 15 August 2022, from https://www.mind.org.uk/information-support/types-of-mental-health-problems/schizoaffective-disorder/about-schizoaffective-disorder/

    Schizoaffective Disorder Symptoms, Signs & Effects | Ohio Hospital for Psychiatry. (2022). Retrieved 15 August 2022, from https://www.ohiohospitalforpsychiatry.com/cognitive/schizoaffective/signs-effects-symptoms/

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Bayu Galih Permana Diperbarui Aug 25
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa