Kenali Gangguan Skizoafektif, Gabungan Gejala Skizofrenia dan Depresi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 12 Maret 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Skizoafektif adalah salah satu jenis penyakit mental yang sering disangka sebagai “gila” atau kesurupan. Akses kesehatan yang masih terbatas membuat banyak orang dengan penyakit skizoafektif tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Kenali gangguan skizoafektif lebih lengkap dalam artikel ini. 

Apa itu gangguan skizoafektif?

Gangguan skizoafektif adalah gangguan mental di mana seseorang mengalami gabungan gejala skizofrenia, seperti halusinasi atau delusi, dan gejala gangguan suasana hati seperti depresi atau mania.

Ada dua jenis gangguan penyakit mental ini yang  masuk ke dalam gejala skizofrenia. Kedua jenis gangguan skizoafektif tersebut adalah tipe bipolar yang meliputi mania dan depresi berat, dan tipe depresi yang hanya mencakup gejala depresi saja.

Seperti yang dilansir dari situs Mayo Clinic, gangguan skizoafektif sangat sulit untuk dipahami, tidak seperti penyakit gangguan mental lainnya. Mengapa sulit untuk dipahami? Karena gejala skizoafektif sendiri cenderung berbeda-beda pada setiap orang yang mengalami gangguan ini.

Gangguan skizoafektif yang tidak segera mendapatkan pengobatan dan perawatan akan menyebabkan berbagai masalah dalam melakukan tugas sehari-hari, termasuk penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah akibat gejala-gejala penyakit mental ini.

Apa saja gejalanya?

Gejala gangguan skizoafektif bisa berbeda pada setiap orang, tergantung pada jenis gangguannya, apakah tipe bipolar atau tipe depresi. Seseorang yang mengalami gangguan skizoafektif biasanya akan mengalami sebuah siklus gejala. Ada saat di mana mereka mengalami gejala berat dari gangguan ini, lalu diikuti dengan membaiknya gejala. Berikut gejala yang biasa ditunjukkan oleh seseorang yang mengalami gangguan skizoafektif:

  • Delusi. Memiliki kesadaran palsu dari pemaknaan kenyataan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
  • Halusinasi. Sering mendengar suara atau melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
  • Gejala depresi. Sering kali merasa hampa, sedih, dan tak berharga.
  • Gangguan suasana hati. Terjadi perubahan suasana hati atau peningkatan energi secara tiba-tiba yang tidak sesuai dengan perilaku atau karakter.
  • Gangguan komunikasi. Jika diberikan pertanyaan hanya akan menjawab sebagian pertanyaan atau malah memberikan jawaban yang sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan.
  • Tidak bisa melakukan aktivitas keseharian. Mengalami penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah.
  • Tidak peduli dengan penampilan. Seseorang yang mengalami gangguan ini, tidak bisa merawat dirinya sendiri dan tidak peduli dengan kebersihan.

Penyebab seseorang bisa mengalami gangguan skizoafektif

Sebenarnya para ahli belum mengetahui apa yang menjadi penyebab skizoafektif secara pasti. Kondisi ini diduga berisiko terbentuk oleh kombinasi dari banyak faktor, seperti psikologis, fisik, genetik, dan lingkungan. Namun ada beberapa faktor risiko yang diduga berpengaruh dalam pembentukan kondisi ini, di antaranya:

  • Faktor genetik dalam keluarga yang memiliki  gangguan skizoafektif, skizofrenia atau gangguan bipolar.
  • Mengalami stres berlebihan yang bisa memicu gejala.
  • Mengonsumsi obat psikoaktif dan psikotropika.

Seseorang yang memiliki gangguan skizoafektif berisiko tinggi terhadap:

  • Bunuh diri, usaha bunuh diri atau pikiran untuk bunuh diri.
  • Merasa terkucilkan dengan lingkungan sekitar.
  • Konflik keluarga atau dengan orang lain.
  • Pengangguran.
  • Gangguan kecemasan.
  • Mudah terlibat dalam penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan terlarang.
  • Masalah kesehatan.
  • Kemiskinan dan tunawisma.

Diagnosis gangguan skizoafektif

Skizoafektif adalah gangguan mental, maka pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan atau psikiater. Untuk menentukan diagnonis dan pemilihan pengobatan yang tepat, dokter atau psikiater umumnya melakukan serangkaian tes yang meliputi:

  • Tes fisik
  • Evaluasi psikolgis pasien
  • CT scan
  • MRI
  • Tes darah

Pemeriksaan CT scan ataupun MRI pada kasus skizoafektif dimaksudkan untuk melihat adanya kelainan pada struktur otak dan sistem saraf pusat. Sementara pemeriksaan darah dilakukan untuk memastikan bahwa gejala yang ditimbulkan pasien bukan dari pengaruh obat-obatan, alkohol, atau kondisi kesehatan lainnya.

Pilihan pengobatan untuk skizoafektif

Pengobatan untuk skizoafektif sebenarnya akan bervariasi tergantung pada jenis dan tingkat keparahan gejala. Dalam beberapa kasus, rawat inap di rumah sakit untuk sementara waktu mungkin diperlukan. Sementara pengobatan jangka panjang yang dilakukan secara rutin juga mungkin bisa membantu mengendalikan gejala penyakit ini.

Orang dengan gangguan skizoafektif umumnya akan mendapatkan pengobatan kombinasi dari obat-obatan, terapi psikologis, dan pelatihan keterampilan untuk beraktivitas sehari-hari.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Gejala Depresi Suka Muncul di Pagi Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Depresi bisa menyerang kapan saja. Tapi pada sebagian orang, depresi hanya muncul di pagi hari. Inilah yang dinamakan depresi pagi hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 13 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Anxiety Disorder (Gangguan Kecemasan)

Pernahkah Anda mendengar tentang anxiety disorder atau gangguan kecemasan? Berikut informasi mengenai penyebab, tes gangguan kecemasan dan cara mengobati.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Mental, Gangguan Kecemasan 12 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit

Kleptomania

Kleptomania atau klepto adalah kondisi gangguan perilaku yang dilakukan dengan mencuri atau mengutil. Apa saja Penyebab dan Gejalanya? Simak Selengkapnya di Hello Sehat

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 8 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

Kenapa Penderita Depresi Harus Banyak Konsumsi Probiotik?

Makanan probiotik memang baik untuk sistem pencernaan Anda. Namun siapa sangka probiotik ternyata juga bisa meredakan gejala depresi? Ini dia penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Direkomendasikan untuk Anda

cara melancarkan haid

Sederet Cara Melancarkan Jadwal Haid Agar Kembali Teratur

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit
sedih

11 Cara Jitu Mengusir Rasa Sedih dan Galau Dalam Hati

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
mental illness atau gangguan mental

Mental Illness (Gangguan Mental)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 17 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
serangan panik atau panic attack

Mengenal Perbedaan Panic Attack dan Anxiety Attack

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit