Garis Rambut di Sepanjang Dahi Mundur? Hati-hati, Ini Tanda Anda Mulai Botak

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 26 September 2018 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Garis rambut mundur perlahan alias receding hairline adalah salah satu tanda pertama dari kebotakan. Wanita dan pria sama-sama bisa mengalami hal ini, tapi memang lebih sering terjadi pada pria. Selain faktor usia, ada berbagai faktor lainnya yang bisa menyebabkan garis rambut Anda mulai mundur ke atas kepala.

Bagaimana saya tahu jika garis rambut sekitar dahi sudah mundur?

rambut botak pria tidak subur
Garis rambut mundur membentuk pola V alias widow peak

Garis rambut mundur ke atas kepala biasanya mulai tampak terlihat ketika pria berusia 30-an. Rata-rata, kondisi ini dimulai dari garis rambut di atas pelipis pada kedua sisi kepala, sementara garis rambut di bagian tengahnya tetap berada dekat dahi. Pola surutnya garis rambut ini akan membentuk huruf V di atas kepala, dan sering disebut sebagai widow peak. Lambat laun, kedua sisi dan bagian belakang kepala bisa botak sehingga tersisa hanya rambut di puncak kepala saja.

Kebalikannya pada wanita, garis rambut yang pertama kali akan mundur adalah bagian tengahnya hingga ke puncak kepala sementara kedua sisi dan bagian belakangnya akan menetap. Pola kemunduran garis rambut ini akan membentuk huruf U. Namun nyatanya, wanita lebih cenderung mengalami penipisan rambut dibandingkan pemunduran garis rambut atau kebotakan total.

Apa yang menyebabkan garis rambut mundur?

Ada banyak penyebab garis rambut sekitar dahi semakin mundur.

1. Usia

Penuaan adalah faktor kemunduran garis rambut yang paling utama. Penelitian menunjukkan bahwa pola kebotakan pada pria berhubungan dengan hormon androgen. Nah, semakin usia bertambah tua, semakin sedikit hormon androgen yang diproduksi oleh tubuh.

Setiap rambut pada kepala Anda memiliki siklusnya masing-masing. Setelah tumbuh maksimal, rambut akan rontok dan untuk digantikan dengan rambut baru. Biasanya, folikel rambut yang telah rontok akan diganti dengan folikel baru dalam ukuran yang sama.

Namun karena suplai hormon androgen tidak mencukupi, folikel rambut menyusut sehingga rambut baru tumbuh lebih tipis, pendek-pendek, dan lebih halus. Seiring waktu, folikel rambut makin menyusut, siklus pertumbuhan rambut berakhir, dan pada akhirnya tidak ada rambut baru lagi yang tumbuh.

2. Perubahan hormon

Selain dipengaruhi oleh usia, kebotakan juga dipicu oleh peningkatan hormon kebotakan DHT (dihydrotestosterone) dalam tubuh. Hormon ini dihasilkan dengan mengubah testosteron menjadi dihydrotestosterone oleh bantuan enzim tertentu. Sekitar 10% testosteron dalam tubuh pria akan diubah menjadi dihydrotestosterone. DHT menyebabkan folikel mengecil hingga tidak ada rambut yang tumbuh lagi di dalamnya.

Sebuah penelitian menemukan bahwa folikel dari kulit kepala yang botak mengandung kadar hormon DHT yang lebih tinggi daripada hormon DHT pada kulit kepala yang tidak botak. Beberapa peneliti percaya bahwa pola kebotakan pada beberapa pria disebabkan oleh tubuh mereka yang lebih sensitif terhadap kadar androgen (terutama DHT) normal yang diwariskan secara turun temurun.

Hormon DHT juga bisa ditemukan pada perempuan.

3. Riwayat keluarga

Faktor genetika memainkan peran dalam garis rambut sekitar dahi yang lebih mundur. Pria dengan riwayat keluarga dengan kebotakan lebih mungkin mengalami kerontokan rambut. Bahkan mungkin mengikuti pola yang sama dengan generasi sebelumnya.

4. Obat atau perawatan

Beberapa prosedur atau perawatan medis juga dapat menyebabkan kerontokan rambut. Contoh yang umum adalah kemoterapi, yang sering menyebabkan rambut seseorang rontok.

5. Penyakit atau stres

Penyakit atau stres dapat menyebabkan kerontokan rambut yang tiba-tiba disebut telogen effluvium. Kebanyakan orang biasanya mengalami ini sebagai hal yang tak terduga, di mana kehilangan lebih banyak rambut daripada biasanya dalam waktu singkat.

Namun, kerontokan rambut ini biasanya sering sembuh sendiri tanpa perawatan.

6. Gaya hidup

Gaya hidup diduga kuat berkaitan dengan kemunduran garis rambut yang terlalu dini. Orang yang aktif merokok dilaporkan mengalami kerontokan rambut lebih cepat daripada yang tidak merokok. Selain itu, orang-orang yang kekurangan protein juga lebih rentan mengalami kerontokan rambut daripada mereka yang cukup makan protein.

Bisakah hal ini dicegah atau diatasi sebelum jadi benar-benar botak?

Apabila garis rambut mundur disebabkan oleh faktor usia, tentu hal ini tidak dapat dicegah. Namun bila nyatanya kondisi Anda disebabkan oleh faktor lain, seperti stres, ketidakstabilan hormon, atau bahkan masalah medis tertentu, perawatannya mungkin akan disesuaikan dengan penyebab pastinya.

Perawatan kebotakan rambut biasanya melibatkan salah satu atau kombinasi dari berbagai cara di bawsah ini:

Obat-obatan

Jika tanda-tanda kebotakan Anda dipicu oleh masalah hormon atau gangguan sistem imun, cara mengatasinya adalah dengan resep obat prednisone atau obat minoxidil yang dijual bebas.

Minoxidil harus dioleskan ke kulit kepala. Efek samping yang mungkin muncul dari obat ini adalah iritasi kulit kepala dan kambuhnya kerontokan rambut jika Anda berhenti meminum obat.

Obat lainnya adalah finasteride, pil yang dapat membantu meningkatkan pertumbuhan rambut. Kerja obat ini adalah dengan menghambat hormon DHT. Efek samping yang mungkin adalah berkurangnya gairah seksual dan risiko kanker prostat yang lebih tinggi.

Operasi

Solusi lainnya untuk garis rambut mundur adalah operasi cangkok rambut. Ini melibatkan transplantasi bagian-bagian kecil kulit kepala dan folikel rambut dari bagian belakang kepala ke daerah rambut yang telah berhenti tumbuh. Transplantasi kulit ini dapat terus tumbuh rambut sehat di lokasi baru.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Penyebab Rambut Rontok pada Remaja dan Cara Mengatasinya

Rambut rontok pada remaja bisa disebabkan oleh beberapa kondisi. Namun, sering kali hanya sementara dan bisa tumbuh kembali.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Perawatan Rambut & Kulit Kepala, Kesehatan Kulit 8 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Inilah Ragam Penyebab Rambut Rontok yang Tak Anda Duga

Sudah merawat rambut baik-baik, tapi kok rambut masih saja rontok? Simak penyebab rambut rontok yang perlu Anda ketahui berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Perawatan Rambut & Kulit Kepala, Kesehatan Kulit 10 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

Bagaimana Mencegah Kebotakan Dini pada Pria?

Apakah Anda mengalami kebotakan dini? Ketahui penyebab dan berbagai tips cara mengatasinya yang tepat dalam artikel berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Roby Rizki
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 3 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Serba-serbi Creambath Rambut dan Perbedaannya dengan Hair Spa

Berencana creambath rambut di salon akhir pekan nanti? Cari tahu durasi creambath yang direkomendasikan dan perbedaannya dengan hair spa.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Perawatan Rambut & Kulit Kepala, Kesehatan Kulit 24 November 2020 . Waktu baca 4 menit



Direkomendasikan untuk Anda

cara detoks rambut adalah

Mengenal Detoks Rambut untuk Menjaga Kesehatan dan Keindahannya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
kurang asupan makanan

7 Ciri-Ciri pada Tubuh yang Menandakan Anda Kurang Asupan Makanan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
penyebab kebotakan pria

7 Hal Ini Bisa Menyebabkan Pria Mengalami Kebotakan Dini, Anda Termasuk?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
proses penuaan

Proses Penuaan Pada Pria dan Wanita Itu Berbeda, Lho. Apa Sebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit