home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Jenis Gigitan Serangga yang Bisa Menyebabkan Masalah Kulit

Jenis Gigitan Serangga yang Bisa Menyebabkan Masalah Kulit

Saat beraktivitas di luar ruangan, Anda tentu lebih berisiko mendapatkan sengatan atau gigitan serangga. Mengenali perbedaan masing-masing jenis gigitan serangga, bisa membantu Anda menangani dan mewaspadai gejala parah yang ditimbulkan.

Berbagai jenis gigitan serangga dan penanganannya

Sebagian besar sengatan atau gigitan serangga tidak bergejala serius. Reaksinya bersifat ringan dan membaik dengan sendirinya dalam beberapa jam atau hari.

Efek gigitan yang ringan bisa menyebabkan kulit kemerahan, bengkak, hingga gatal.

Namun, ada pula serangga dengan gigitan beracun dan menyebarkan penyakit berbahaya.

Setiap jenis gigitan serangga bisa menimbulkan bekas luka dan masalah kulit yang berbeda sehingga penting melakukan langkah penanganan yang tepat.

1. Tawon

Daripada lebah, tawon cenderung lebih agresif dan dapat menyengat berulang kali. Sengatan tawon akan menimbulkan rasa sakit yang tiba-tiba dan tajam.

Kondisi ini juga disertai dengan kemerahan, bengkak, gatal, hingga terbakar pada area sekitar sengatan yang bisa bertahan hingga seminggu.

Obat antihistamin dan salep kortikosteroid bisa membantu meredakan rasa gatal. Anda juga dapat minum paracetamol atau ibuprofen untuk meredakan nyeri.

Sengatan tawon bisa memicu reaksi alergi parah (anafilaksis) pada sebagian orang.

Segera kunjungi rumah sakit bila timbul gejala, seperti pusing dan sulit bernapas.

2. Lebah

alergi sengatan lebah

Berbeda dengan sengatan tawon, lebah hanya bisa menyengat sekali karena sengatnya akan tertinggal di kulit.

Jenis sengatan serangga ini pun menimbulkan reaksi serupa, seperti rasa sakit, kemerahan, dan bengkak yang umumnya hanya berlangsung selama beberapa jam.

Ketika Anda tersengat lebah, segera cabut sengatnya dari kulit Anda.

Cuci bersih area kulit di sekitarnya dan kompres dingin untuk mengurangi nyeri dan bengkak.

Anda mungkin juga memerlukan obat gatal dan pereda nyeri.

Bagi sebagian orang yang punya alergi sengatan lebah, segera cari pertolongan darurat untuk menanganinya.

3. Nyamuk

Anda mungkin sudah akrab dengan gigitan nyamuk saat tidur di malam hari. Gigitan nyamuk menimbulkan benjolan kecil kemerahan dan terasa gatal.

Supaya nyamuk tidak berkeliaran, Anda perlu menjaga kebersihan dan mencegah genangan di lingkungan rumah.

Memakai losion anti-nyamuk juga cukup membantu menghindari gigitan nyamuk.

Gigitan nyamuk umumnya tidak menimbulkan gejala serius.

Namun, beberapa jenis nyamuk bisa menyebarkan penyakit, termasuk malaria dan demam berdarah.

4. Kutu daun

Gigitan kutu daun atau tick lebih sering terjadi apabila Anda sering beraktivitas di luar ruangan yang banyak rerumputan dan dedaunan.

Awalnya, Anda mungkin tidak menyadari gigitan kutu ini. Gejala yang mungkin timbul, seperti ruam merah berbentuk lingkaran, melepuh, dan rasa gatal di kulit.

Selain reaksi ringan yang bisa Anda sembuhkan dengan obat alergi dan gatal, jenis gigitan serangga ini juga bisa memicu penyakit Lyme.

Penyakit akibat infeksi bakteri Borrelia melalui gigitan kutu bisa menimbulkan gejala lain, termasuk demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.

5. Tungau

Tungau yang masih berkerabat dengan kutu ini banyak Anda temukan pada sudut rumah yang berdebu, seperti karpet, korden, bahkan bulu hewan peliharaan.

Gigitan tungau dapat menyebabkan benjolan merah yang gatal pada kulit.

Beberapa tungau juga bisa masuk ke dalam kulit dan menyebabkan kudis (scabies).

Gejala kudis muncul dalam 4‒6 minggu setelah Anda terkena tungau. Untuk mengobatinya, dokter dapat memberikan resep salep dan obat minum.

6. Agas

Agas adalah sejenis serangga mirip nyamuk yang menimbulkan bentol pada kulit.

Namun, penelitian dari Iran menunjukkan gigitan agas bisa memicu gejala lebih serius.

Jenis gigitan serangga dengan nama ilmiah Simulium kiritshenkoi ini bisa menyebabkan mual, sakit kepala, demam, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.

Apabila Anda menemukan bentol mirip gigitan nyamuk dan gejalanya cukup parah, lebih baik segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit.

7. Kutu kasur

gigitan kutu kasur

Selain nyamuk, gigitan kutu kasur dapat menghantui Anda saat terlelap di malam hari. Namun, kedua gigitan serangga ini memiliki karakteristik yang berbeda.

Gigitan kutu kasur cenderung menimbulkan kemerahan di kulit dalam pola garis lurus atau berkelompok.

Bentol akibat gigitan kutu kasur sering Anda temui di bagian tubuh yang terbuka, seperti wajah, leher, tangan, atau kaki.

Obat gigitan kutu kasur, seperti salep kortikosteroid, antihistamin, dan antibiotik cukup untuk mencegah infeksi.

Jika gigitan menimbulkan reaksi alergi parah, segera kunjungi rumah sakit. Dokter akan memberikan suntikan epinefrin untuk meredakan alerginya.

8. Kutu rambut

Kulit kepala gatal dan benjolan merah kecil bisa menjadi pertanda adanya kutu rambut.

Jenis serangga kecil ini hidup dengan mengisap darah pada kulit kepala Anda.

Penyakit kulit kepala ini umumnya terjadi akibat kurangnya kebersihan rambut.

Anda bisa membunuh kutu dan telurnya dengan sampo, kondisioner, krim, atau losion khusus untuk kulit kepala.

Selain itu, Anda juga bisa menghilangkan kutu dengan rutin menyisir rambut dengan sisir bergigi rapat (serit).

9. Semut

Tidak semua jenis semut menggigitan atau punya gigitan berbahaya. Namun, lain halnya dengan semut api atau semut merah.

Spesies semut dari genus Solenopsis ini memiliki sejumlah racun yang bisa menyebabkan kemerahan, bentol, kulit melepuh, gatal, hingga sensasi perih dan terbakar.

Jika Anda terkena gigitan dari jenis serangga ini, segera cuci bersih bagian yang tergigit dan olesan krim hidrokortison untuk mengobati rasa gatal.

10. Laba-laba

Kebanyakan laba-laba tidak beracun, tapi akan sangat sulit untuk membedakan mana jenis gigitan dari serangga ini yang berbahaya atau tidak.

Gigitan laba-laba akan meninggalkan bekas luka berupa dua tusukan kecil. Hal ini juga bisa disertai dengan bengkak, kemerahan, dan kulit gatal.

Kondisi ini umumnya tergolong darurat medis. Jika memungkinkan, Anda perlu menangkap laba-laba yang menggigit Anda agar dokter bisa mengetahui jenisnya.

Bagaimana cara menghindari gigitan serangga?

Obat disengat tawon

Sebagian besar reaksi kulit terhadap sengatan atau gigitan serangga tergolong ringan, mulai dari kemerahan, gatal, perih, hingga pembengkakan.

Walaupun begitu, Anda tetap perlu waspada karena beberapa jenis gigitan serangga mungkin memicu reaksi alergi parah atau menularkan penyakit.

American Academy of Dermatology Association menjelaskan sejumlah langkah yang dapat Anda lakukan untuk menghindari gigitan serangga seperti berikut ini.

  • Menggunakan obat nyamuk yang mengandung sekitar 20 hingga 30 persen DEET (N,N-diethyl-m-toluamide) pada kulit yang tidak tertutupi pakaian.
  • Menggunakan obat nyamuk semprot, salah satunya dengan bahan aktif golongan pyrethroid untuk membantu mengusir nyamuk dan serangga.
  • Memasang kelambu di tempat tidur untuk melindungi dari nyamuk selama Anda tidur.
  • Memakai pakaian yang tertutup, seperti baju lengan panjang, celana panjang, kaos kaki, dan sepatu, bila hendak beraktivitas luar ruangan yang rentan terkena gigitan serangga.

Mengetahui jenis gigitan serangga bisa membantu Anda melakukan langkah penanganan yang tepat sesuai gejala yang ditimbulkan.

Apabila gejalanya makin parah, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Insect bites and stings. NHS. (2019). Retrieved 1 October 2021, from https://www.nhs.uk/conditions/insect-bites-and-stings/

Insect bites and stings: First aid. Mayo Clinic. (2018). Retrieved 1 October 2021, from https://www.mayoclinic.org/first-aid/first-aid-insect-bites/basics/art-20056593

Tips to prevent and treat bug bites. American Academy of Dermatology Association. Retrieved 1 October 2021, from https://www.aad.org/public/everyday-care/injured-skin/bites/prevent-treat-bug-bites

Tabatabaei, F., Azarmi, S., Abbaszadeh Afshar, M., Yarizadeh, H., & Mohtasebi, S. (2020). Blackfly fever and dermatitis caused by Simulium kiritshenkoi: a human case report in Iran. BMC Infectious Diseases, 20(1). https://doi.org/10.1186/s12879-020-05070-y

Chandler, D., & Fuller, L. (2018). A Review of Scabies: An Infestation More than Skin Deep. Dermatology, 235(2), 79-90. https://doi.org/10.1159/000495290

Borchers, A., Keen, C., Huntley, A., & Gershwin, M. (2015). Lyme disease: A rigorous review of diagnostic criteria and treatment. Journal Of Autoimmunity, 57, 82-115. https://doi.org/10.1016/j.jaut.2014.09.004

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 15/10/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan