Demam berdarah mungkin menjadi yang pertama terlintas di benak Anda ketika membicarakan tentang penyakit yang disebabkan oleh nyamuk.
Demam berdarah mungkin menjadi yang pertama terlintas di benak Anda ketika membicarakan tentang penyakit yang disebabkan oleh nyamuk.

Nyatanya, ada penyakit lain yang tidak kalah penting untuk diwaspadai. Apa saja penyakit tersebut dan bagaimana pencegahannya? Berikut ulasannya.
Setiap jenis nyamuk bisa membawa mikroorganisme yang berbeda. Itulah mengapa ada beragam jenis penyakit yang dapat disebabkan oleh gigitan nyamuk.
Berikut adalah beberapa di antaranya yang paling umum ditemukan di Indonesia.

Gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus tidak hanya menyebarkan demam berdarah dengue, tetapi juga penyakit lain yang disebut chikungunya.
Gejala infeksi chikungunya juga mirip dengan DBD, seperti demam, menggigil, sakit kepala, dan munculnya bintik kemerahan yang menyebar di kulit.
Bedanya, chikungunya disertai dengan rasa nyeri pada persendian tubuh, khususnya bagian lutut dan siku. Inilah mengapa chikungunya juga dikenal sebagai flu tulang.
Sampai saat ini, belum ada obat atau vaksin khusus yang bisa mengatasi chikungunya. Pengobatan biasanya berfokus untuk meredakan gejala, khususnya nyeri sendi.
Selain chikungunya, ada pula yellow fever atau biasa dikenal sebagai demam kuning. Penyakit ini biasanya dibawa dan ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes atau Haemagogus.
Pada fase awal, demam kuning tidak memiliki gejala khusus. Perubahan warna kulit menjadi kekuningan menunjukkan bahwa gigitan nyamuk tersebut sudah menyebabkan kerusakan hati atau hepatitis.
Ketika kondisinya belum memburuk, pasien yellow fever biasanya cukup dirawat dengan pemberian cairan dan oksigen. Jika sudah terjadi komplikasi, pasien mungkin membutuhkan transfusi hingga cuci darah.
Cara terbaik untuk menekan risiko tertular demam kuning adalah melakukan vaksinasi. Ibu hamil, bayi di bawah sembilan bulan, dan seseorang dengan sistem imun lemah adalah yang diutamakan menerima vaksin.
Malaria adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dari gigitan nyamuk Anopheles.
Laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan bahwa penyebaran penyakit malaria hanya bisa dilakukan oleh nyamuk betina.
Secara umum, gejala malaria sama seperti demam berdarah dan baru muncul sekitar satu minggu setelah digigit nyamuk.
Ketika infeksi sudah sangat parah, malaria bisa menyebabkan komplikasi berupa anemia, penyakit kuning, hingga gagal ginjal.
Pengobatan malaria akan disesuaikan dengan jenis parasit Plasmodium yang dibawa oleh nyamuk Anopheles, salah satunya adalah obat artemisinin.
Pada tahun 2021 lalu, Badan kesehatan Dunia (WHO) telah menyetujui penggunaan vaksin Mosquirix untuk mencegah malaria.
Filariasis atau kaki gajah adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing spesies filaria, seperti Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori.
Cacing-cacing tersebut bisa dibawa oleh nyamuk Culex, Anopheles, Mansonia, dan Aedes sampai akhirnya ditularkan ke manusia melalui gigitan dan menyerang kelenjar getah bening.
Meski diberi nama kaki gajah, kondisi ini juga bisa menyebabkan pembengkakan pada anggota tubuh lainnya, seperti lengan, penis, wajah, dan payudara.
Jika sudah menyebabkan pembengkakan, ukuran kaki seseorang dengan filariasis tidak bisa kembali ke semula. Apabila ukurannya terlalu besar, dokter mungkin menyarankan operasi.
Cara terbaik untuk mencegah infeksi filariasis adalah menghindari gigitan nyamuk yang membawanya.
Selain DBD dan chikungunya, gigitan nyamuk Aedes aegypti serta Aedes albopictus bisa menyebabkan penyakit Zika.
Virus ini pertama kali terdeteksi pada tahun 1953 di Nigeria. Gejala infeksi virus Zika di antaranya ruam kulit, gatal di seluruh tubuh, dan nyeri di belakang mata.
Pada ibu hamil, infeksi virus Zika bisa meningkatkan risiko mikrosefalus (ukuran kepala lebih kecil dari normal) dan kelainan bawaan lainnya pada janin.
Sebagian besar infeksi virus Zika bisa membaik dengan sendirinya. Meski begitu, Anda tetap perlu ke rumah sakit agar dokter dapat memantau kondisi Anda.
Seseorang yang digigit nyamuk Culex, terutama Culex tritaeniorhynchus, berisiko mengalami penyakit radang otak yang disebut Japanese encephalitis.
Gejala penyakit yang lebih sering terjadi di musim penghujan ini biasanya mulai muncul selang 5–15 hari setelah Anda digigit nyamuk.
Beberapa gejala umum Japanese encephalitis adalah demam, sakit kepala, dan mual. Pada anak-anak, infeksi Japanese encephalitis umumnya menyebabkan kejang.
Pengobatan pasien Japanese encephalitis akan disesuaikan dengan gejalanya. Sementara itu, pencegahannya bisa dilakukan dengan vaksinasi Japanese encephalitis (JE).

Beberapa penyakit yang menular lewat nyamuk bisa menimbulkan komplikasi dan bahkan membahayakan nyawa.
Untuk menghindari gigitan nyamuk penyebar penyakit, cobalah beberapa cara berikut.
Selain nyamuk, ada pula serangga lain yang bisa menyebabkan penyakit dan sama-sama harus dihindari, misalnya lalat dan kutu.
Contoh penyakit yang penyebarannya melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan lalat yaitu:
Sementara itu, penyakit yang disebarkan oleh kutu di antaranya penyakit Lyme, penyakit Chagas, dan scabies (kudis).
Cara terbaik untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh serangga adalah menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, jangan ragu untuk segera pergi ke rumah sakit jika Anda merasakan gejalanya.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Yellow fever. (2023, May 31). World Health Organization (WHO). Retrieved 10 October 2024, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/yellow-fever
Fact sheet about malaria. (2023, March 29). World Health Organization (WHO). Retrieved 10 October 2024, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/malaria
Zika virus. (2022, December 8). World Health Organization (WHO). Retrieved 10 October 2024, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/zika-virus
Japanese encephalitis. (2019, May 9). World Health Organization (WHO). Retrieved 10 October 2024, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/japanese-encephalitis
Elephantiasis (Lymphatic filariasis) causes, symptoms & treatment. (2024, July 23). Cleveland Clinic. Retrieved 10 October 2024, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/elephantiasis
Symptoms, diagnosis, & treatment | Chikungunya virus | CDC. (2023, March 10). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved 10 October 2024, from https://www.cdc.gov/chikungunya/symptoms/index.html
Institution, S. (n.d.). Diseases caused by insects and arachnids. Smithsonian Institution. Retrieved 10 October 2024, from https://www.si.edu/spotlight/buginfo/diseases
Malaria. (2024, May 17). Retrieved 10 October 2024, from Malaria. https://www.cdc.gov/malaria/index.html
WHO product information. (n.d.). World Health Organization. Retrieved 10 October 2024, from https://extranet.who.int/prequal/sites/default/files/vwa_vaccine/pq_376_Mosquirix_2dose_GSK_PI.pdf
Versi Terbaru
21/10/2024
Ditulis oleh Novita Joseph
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri
Diperbarui oleh: Edria