backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri · General Practitioner · Integrated Therapeutic


Ditulis oleh Shylma Na'imah · Tanggal diperbarui 12/04/2024

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam berdarah dengue masih menjadi ancaman kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Jika tidak ditangani dengan baik, salah satu jenis penyakit yang ditularkan oleh nyamuk ini berisiko menyebabkan komplikasi yang serius dan terkadang berujung pada kematian.

Apa itu demam berdarah dengue?

Demam berdarah dengue atau DBD adalah penyakit menular akibat virus dengue yang dibawa oleh nyamuk demam berdarah, yakni Aedes aegypti dan Aedes albopictus

Penyakit infeksi yang juga disebut dengan dengue hemorrhagic fever (DHF) ini disebabkan oleh salah satu dari empat jenis virus dengue, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, atau DEN-4.

Demam berdarah dahulu sempat disebut penyakit “break-bone“. Hal ini lantaran gejalanya yang kadang menyebabkan nyeri sendi dan otot seakan membuat tulang terasa retak.

Penyakit ini bisa bersifat ringan atau berat. DBD ringan hanya akan menyebabkan demam dan gejala-gejala lain yang menyerupai flu atau influenza.

Namun, penyakit infeksi ini juga dapat berkembang menjadi penyakit dengan tingkat keparahan yang lebih serius dan bisa berakibat fatal.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 100–400 juta kasus infeksi dengue terjadi di seluruh dunia setiap tahunnya. Penyakit yang bisa menyerang siapa pun ini paling sering terjadi selama dan setelah musim hujan.

Tanda dan gejala DBD

dbd penanganan obat demam berdarah dbd

Gejala demam berdarah bisa bervariasi pada setiap pasien. Hal ini tergantung pada tingkat keparahan dan fase demam berdarah yang dilewati.

Menurut situs Mayo Clinic, gejala akan muncul dalam 4–10 hari setelah pasien digigit nyamuk pertama kali.

Taanda dan gejala umum yang terkait dengan penyakit DBD antara lain:

  • demam hingga 40 derajat Celsius (℃),
  • sakit kepala,
  • nyeri otot, tulang, dan sendi,
  • mual dan muntah,
  • sakit di belakang mata,
  • pembengkakan kelenjar getah bening, dan
  • ruam kulit.

Gejala-gejala di atas biasanya bisa membaik dalam waktu satu minggu. Namun, gejala juga bisa berkembang menjadi makin parah dan berisiko mengancam nyawa.

Demam berdarah umumnya terjadi pada orang yang terinfeksi dengue kedua kalinya. Penyakit ini sering kali berakibat fatal pada anak-anak dan orang dewasa muda.

Fase demam berdarah

Virus dengue yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk ini akan memunculkan gejala dalam tiga tahapan yang disebut fase demam berdarah atau “Siklus Pelana Kuda”.

Berikut ini adalah tahapan-tahapan penyakit DBD yang perlu Anda ketahui.

  • Fase demam: muncul demam tinggi yang berlangsung selama 2–7 hari serta dibarengi dengan gejala lain, seperti nyeri otot dan sakit kepala.
  • Fase kritis: setelah satu minggu, demam akan turun. Meski begitu, pasien DBD justru berisiko mengalami perdarahan parah sehingga memerlukan perawatan intensif.
  • Fase penyembuhan: seusai fase kritis, pasien akan mengalami demam kembali. Akan tetapi, fase ini adalah masa pemulihan DBD saat trombosit perlahan kembali naik.

Segera periksakan diri ke dokter bila Anda merasakan gejala-gejala tambahan setelah demam turun. Ini artinya, kemungkinan Anda mulai memasuki fase kritis DBD.

Beberapa gejala fase kritis DBD yang perlu Anda waspadai antara lain:

  • sakit perut parah,
  • muntah terus-menerus,
  • perdarahan gusi,
  • mimisan,
  • darah pada urine dan feses,
  • memar yang muncul tanpa penyebab jelas,
  • kesulitan bernapas, dan
  • tubuh terasa sangat lelah.

Untuk mendapatkan pengobatan sesuai dengan kondisi Anda, periksakan diri Anda dengan dokter di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Penyebab DBD

penyebab demam berdarah DBD

Penyebab demam berdarah dengue yaitu virus dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Ada empat jenis virus dengue, yaitu virus DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.

Setelah nyamuk pembawa virus menggigit, virus akan masuk ke dalam aliran darah manusia dan menginfeksi sel-sel kulit terdekat yang disebut keratinosit.

Virus dengue juga menginfeksi sel Langerhans, yaitu sel kekebalan pada lapisan kulit. Sel ini normalnya berfungsi untuk membatasi penyebaran infeksi secara terus-menerus.

Namun, sel Langerhans yang sudah terinfeksi virus justru bergerak ke kelenjar getah bening dan menginfeksi lebih banyak sel sehat. 

Penyebaran virus ini menghasilkan viremia, yakni kondisi ketika jumlah virus di dalam aliran darah begitu tinggi.

Sistem imun akan menghasilkan antibodi khusus yang menetralkan partikel virus. Sistem kekebalan cadangan juga diaktifkan untuk membantu antibodi dan sel darah putih melawan virus.

Respons imun juga mencakup sel-T sitotoksik (limfosit) yang mengenali dan membunuh sel yang terinfeksi. Proses inilah yang akan memunculkan gejala demam berdarah.

Seekor nyamuk pembawa virus dengue bisa terus menginfeksi selama masih hidup. Bahkan, seluruh anggota keluarga berisiko terinfeksi dari nyamuk yang sama dalam 2–3 hari.

Begitu pulih dari DBD, imunitas Anda akan terbentuk tetapi hanya untuk strain virus tertentu. Akibatnya, Anda mungkin saja terinfeksi lagi dari strain yang berbeda.

Faktor risiko demam berdarah

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko terkena penyakit demam berdarah adalah sebagai berikut.

  • Tinggal atau bepergian ke daerah dengan iklim tropis. Berada di daerah tropis dan subtropis, seperti Asia Tenggara, bagian barat Kepulauan Pasifik, Amerika Latin, dan Karibia, meningkatkan risiko demam berdarah.
  • Punya riwayat terkena demam berdarah. Jika Anda sebelumnya pernah sakit demam berdarah, Anda berpeluang tinggi mengalami gejala lebih serius bila terinfeksi lagi.

Komplikasi DBD

Jika tidak ditangani dengan baik, komplikasi demam berdarah yang fatal dapat terjadi. Salah satunya adalah sindrom syok dengue atau dengue shock syndrome (DSS).

Tidak hanya gejala demam berdarah biasa, dengue shock syndrome juga bisa memunculkan gejala-gejala syok, antara lain:

  • tekanan darah rendah (hipotensi),
  • kesulitan bernapas,
  • denyut nadi melemah,
  • berkeringat dingin, dan
  • pupil mata melebar.

DSS tidak dapat sembuh dengan sendirinya. Komplikasi ini bahkan berpotensi menyebabkan kegagalan fungsi organ sehingga mungkin berujung pada kematian.

Diagnosis DBD

Diagnosis demam berdarah mungkin sulit dilakukan. Hal ini karena tanda dan gejalanya cukup sulit dibedakan dengan penyakit infeksi lain, seperti malaria, leptospirosis, dan tipes.

Beberapa tes laboratorium bisa dilakukan. Namun, hasil tes demam berdarah mungkin keluar agak lama sehingga dokter tidak bisa segera memberi keputusan pengobatan.

Dokter akan memeriksa gejala yang Anda rasakan, terlebih bila gejala timbul setelah bepergian ke daerah dengan kasus DBD yang tergolong tinggi.

Di samping itu, dokter juga akan menanyakan rincian perjalanan, misalnya ke mana Anda bepergian, berapa lama Anda menghabiskan waktu di sana, dan hal lainnya menyangkut tanda demam berdarah.

Apabila terdapat jarak dua minggu atau lebih sejak Anda dicurigai digigit nyamuk, kecil kemungkinan Anda didiagnosis terinfeksi virus dengue.

Tes darah diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Tes ini bisa menunjukkan keberadaan virus atau antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap infeksi.

Pengobatan demam berdarah

pengobatan demam berdarah

Tidak ada penanganan spesifik untuk DBD. Kebanyakan pasien biasanya akan pulih dalam 2 minggu, tetapi penting untuk menangani gejala dengan tepat demi menghindari komplikasi.

Dokter biasanya merekomendasikan pilihan pengobatan untuk DBD di bawah ini.

1. Obat penurun demam

Obat penurun demam dan pereda nyeri yang aman untuk mengatasi demam berdarah dengue adalah paracetamol.

Hindari obat penghilang rasa sakit yang berisiko meningkatkan komplikasi perdarahan, seperti ibuprofen, asam asetilsalisilat, dan naproxen.

2. Istirahat yang banyak di tempat tidur

Pasien DBD dianjurkan untuk beristirahat di tempat tidur atau bedrest. Istirahat bisa membantu pemulihan jaringan tubuh yang rusak sehingga pasien lebih cepat sembuh.

Untuk mendapatkan istirahat yang cukup, dokter mungkin akan meresepkan obat supaya pasien bisa cepat mengantuk dan tidur.

3. Minum banyak cairan

Perawatan di rumah sakit dengan menggunakan infus akan memenuhi kebutuhan cairan pasien DBD. Namun, tidak selamanya pasien harus menjalani opname di rumah sakit.

Dokter akan menyarankan pasien DBD rawat jalan untuk minum banyak cairan. Tidak hanya air mineral, cairan bisa berupa makanan berkuah, buah, atau jus.

Pasien perlu minum lebih banyak cairan untuk menurunkan demam serta mencegah dehidrasi.

Pencegahan demam berdarah

Anda bisa menghindari penyakit demam berdarah dengue atau DBD dengan melakukan sedikit perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut ini adalah perubahan gaya hidup yang dapat membantu Anda mencegah penyakit DBD.

  • Kenakan pakaian tertutup saat bepergian, terutama pada sore hari.
  • Kenakan lotion antinyamuk pada bagian tubuh yang tidak tertutupi pakaian, misalnya tangan, kaki, leher, wajah, dan telinga.
  • Lakukan langkah 3M yang terdiri dari menguras penampungan air, mengubur, dan mendaur ulang barang bekas untuk membasmi sarang nyamuk.
  • Semprot lingkungan Anda dengan gas fogging secara rutin.

Apabila ada pertanyaan, konsultasikan dengan dokter untuk solusi terbaik dari masalah Anda.

Kesimpulan

  • Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
  • Infeksi virus dengue menyebabkan gejala yang terjadi dalam tiga fase, terdiri dari fase demam, fase kritis, dan fase penyembuhan.
  • Sebagai penyakit infeksi virus, tidak ada pengobatan yang spesifik untuk penyakit DBD.
  • Untuk mengobati gejala, dokter umumnya akan menyarankan minum obat paracetamol, minum cairan lebih banyak, dan istirahat di tempat tidur alias bedrest.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Tania Savitri

General Practitioner · Integrated Therapeutic


Ditulis oleh Shylma Na'imah · Tanggal diperbarui 12/04/2024

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan