home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Hidradenitis Suppurativa, Peradangan Kulit Ketiak yang Sering Dikira Jerawat

Hidradenitis Suppurativa, Peradangan Kulit Ketiak yang Sering Dikira Jerawat

Jerawat biasanya muncul di wajah, meski sesekali bisa muncul juga di punggung. Namun jika timbul bintil mirip jerawat di daerah ketiak, ini bukanlah jerawat biasa melainkan hidradenitis suppurativa. Apakah kondisi ini berbahaya?

Apa itu hidradenitis suppurativa?

Hidradenitis suppurativa sering disalahartikan dengan jerawat. Kedua kondisi ini memang memiliki gejala dan tanda yang mirip. Keduanya sama-sama berupa benjolan berwarna merah yang terasa nyeri, berisi nanah, dan dapat menimbulkan bekas. Namun, hidradenitis suppurativa sama sekali berbeda dengan jerawat.

Hidradenitis suppurativa atau acne inversa adalah peradangan kronis di kelenjar apokrin (salah satu jenis kelenjar keringat). Sementara itu, jerawat merupakan peradangan kulit akibat penyumbatan kelenjar minyak.

Bintil hidradenitis biasanya muncul di tempat-tempat yang mudah berkeringat. Paling sering di daerah ketiak, selain itu dapat juga muncul di daerah genital, selangkangan, dada, dan bokong.

Perbedaan lainnya antara jerawat biasa dan hidradenitis suppurativa adalah ukuran benjolannya. Bint akibat hidradenitis suppurativa biasanya berukuran lebih besar dengan rasa nyeri seperti melepuh dan dapat berkembang menjadi abses (kantung berisi nanah).

Hidradenitis suppurativa bersifat kronis dan hilang-timbul. Seiring waktu, benjolan bisa mengempis dengan sendirinya, namun akan meninggalkan bekas jaringan parut. Dapat berupa perubahan warna kulit sampai keloid. Biasanya setelah sembuh, tidak berapa lama kemudian akan muncul benjolan lagi di daerah yang sama.

Siapa yang berisiko mengalami hidradenitis suppurativa?

Masalah kulit ini lebih sering menyerang wanita daripada pria. Biasanya bintil muncul pertama kali pada usia sekitar 20 tahun.

Selain itu, ditemukan bahwa merokok dan obesitas dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami masalah kulit ini.

Beberapa sumber juga mengutarakan bahwa orang-orang yang memiliki hidradenitis suppurativa terlahir dari keluarga dengan riwayat penyakit serupa.

Apakah dapat disembuhkan?

Sampai saat ini, hidradenitis suppurativa belum dapat disembuhkan secara total. Beberapa pengobatan untuk kondisi ini bisa mengendalikan gejalanya, namun belum ada yang benar-benar dapat menyembuhkan. Pasalnya, kondisi ini bersifat kambuhan alias hilang-timbul terus menerus.

Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur pola diet. Sejumlah penelitian mengatakan bahwa mengurangi konsumsi produk dairy-free (non-dairy/bebas susu) dapat membantu meringankan kondisi ini. Selain produk dairy-free, hindari juga konsumsi makanan tinggi gula dan tepung-tepungan dapat membantu mengurangi tingkat kekambuhan.

Penting untuk menjaga kebersihan, menggunakan pakaian dalam yang longgar (untuk mengurangi gesekan dengan luka), dan mengompres hangat pada area yang bermasalah untuk mengurangi rasa nyeri dan peradangan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  1. Dufour DN, Emtestam L, Jemec GB. Hidradenitis suppurativa: a common and burdensome, yet under-recognised, inflammatory skin disease. Postgraduate Medical Journal.  2014;90:216-21.
  2. Wollina U, et al. Acne inversa (Hidradenitis suppurativa): A review with a focus on pathogenesis and treatment. Indian Dermatol Online Journal. 2013 Jan-Mar; 4(1): 2–11.
  3. Danby EW. Diet in the prevention of hidradenitis suppurativa (acne inversa). Journal of American Academy of Dermatology. 2015; 73(5): 852-4.
  4. Jovanovic M, et al. Hidradenitis Suppurativa. Medscape. 2017.
Foto Penulis
Ditulis oleh dr. Gladys Riany Diperbarui 21/12/2020
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
x