backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan
Konten

Jerawat Hormonal, Jerawat yang Disebabkan Perubahan Hormon

Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan · General Practitioner · None


Ditulis oleh Annisa Nur Indah Setiawati · Tanggal diperbarui 04/03/2024

Jerawat Hormonal, Jerawat yang Disebabkan Perubahan Hormon

Jerawat merupakan masalah kulit yang umum dialami. Kondisi ini bisa cukup mengganggu karena bisa menyebabkan kemerahan atau nyeri, bahkan sulit mereda. Nah, salah satu jenis jerawat yang sulit diatasi dan banyak dialami remaja hingga orang dewasa adalah jerawat hormonal.

Apa itu jerawat hormonal?

Jerawat hormonal adalah jerawat yang muncul karena produksi sebum berlebihan sehingga menyumbat pori-pori dan menyebabkan jerawat. Produksi sebum berlebihan ini dikaitkan dengan perubahan hormonal yang terjadi dalam tubuh.

Sebum ini kemudian berinteraksi dengan bakteri dan kotoran lain di pori-pori kulit tempat tumbuhnya rambut (folikel rambut) kemudian mengakibatkan jerawat.

Biasanya jenis jerawat ini terjadi pada orang dewasa dan sering kali tidak dapat dihindari.

Penyebab perubahan hormon lainnya disebabkan karena hal-hal berikut ini.

  • Stres.
  • Kurang tidur.
  • Pemakaian produk perawatan rambut atau kulit yang bukan bebas minyak atau bebas bahan yang tidak menyumbat pori-pori.
  • Perubahan kadar hormon pada wanita, seperti menstruasi, kehamilan, menopause, atau perubahan alat kontrasepsi.
  • Pria yang menjalani pengobatan testosteron.
  • Adanya riwayat keluarga.
  • Efek samping obat steroid.
  • PCOS dan kondisi medis lainnya.

Ciri-ciri jerawat hormonal

Ciri-ciri jerawat hormonal berbentuk hampir sama dengan bentuk jerawat pada umumnya. Hanya saja, jerawat yang terasa lebih nyeri dari dalam.

Selain itu, terdapat tanda lain terkait dengan jenis jerawat ini. Berikut fakta-fakta tentang jerawat hormonal.

1. Muncul di usia tertentu

Meskipun sering dikaitkan dengan masa pubertas karena perubahan hormon yang kuat pada masa tersebut, jerawat hormon juga bisa terjadi pada usia 20 – 50 tahun, terutama untuk wanita.

Pada usia ini, umumnya wanita mengalami berbagai peristiwa tertentu, seperti kehamilan, pascapersalinan, menyusui, atau menopause.

Perubahan hormon saat peristiwa tersebutlah yang dapat meningkatkan munculnya jerawat hormonal.

2. Tumbuh di dagu dan rahang

kandungan yang harus dihindari untuk kulit sensitif dan berjerawat

Jerawat umumnya cenderung muncul di daerah T-zone, yang mencakup dahi, hidung, dan dagu. 

Namun, pada jerawat hormonal ditandai dengan munculnya jerawat di dagu dan garis rahang. 

Hal ini terkait dengan perubahan hormonal tertentu yang terjadi dalam tubuh, yang dapat memengaruhi produksi minyak dan peradangan pada area tersebut.

3. Muncul karena beberapa jenis hormon

Dikutip dari salah satu jurnal dalam penelitian Anais Brasileiros de Dermatologia, hormon androgen berperan penting dalam meningkatkan produksi sebum di kulit wajah. 

Nah, menstruasi, kehamilan, atau menopause menyebabkan fluktuasi androgen.

Jumlah androgen berlebih tidak mengimbangi estrogen, yakni hormon yang memiliki efek menekan produksi sebum. Akibatnya, terjadi peningkatan sebum dan munculah jerawat.

Namun, seiring berakhirnya menstruasi atau masa kehamilan, kadar hormon akan kembali stabil, jerawat pun akan menghilang.

4. Bisa dihindari penyebabnya

Beberapa penyebab jerawat hormonal bisa dicegah. 

Penyebab tersebut yaitu stres, kurang tidur, dan penggunaan produk perawatan kulit yang mengandung minyak atau bahan penyumbat pori-pori.

Cara pencegahannya yaitu miliki manajemen stres yang baik, upayakan tidur cukup setiap malam, dan gunakan produk perawatan kulit yang tidak menyebabkan pori-pori tersumbat.

5. Bisa dialami oleh pria

Meskipun jerawat hormonal sering dikaitkan dengan perubahan hormon pada wanita, pria juga rentan terhadap kondisi ini. 

Pada pria, jenis jerawat biasanya terjadi karena fluktuasi hormon tertentu dalam tubuh, terutama kenaikan kadar hormon androgen.

Perubahan hormonal yang terjadi pada pria umumnya terjadi saat masa pubertas atau saat mengalami stres. Selain itu, faktor keturunan dan pola makan memengaruhi kemungkinan jerawat hormonal pada pria.

6. PCOS meningkatkan risiko jerawat hormonal

jerawat muncul terus

PCOS atau sindrom ovarium polikistik terjadi ketika tubuh wanita menghasilkan hormon reproduksi dalam jumlah yang tidak seimbang. 

Kondisi ini dapat menyebabkan gejala seperti hiperandrogenisme, yaitu peningkatan kadar hormon androgen pada wanita.

Peningkatan kadar hormon androgen dapat merangsang kelenjar minyak di kulit untuk menghasilkan lebih banyak minyak, yang dapat menyumbat pori-pori, dan menyebabkan jerawat.

Mengapa jerawat hormon muncul terus?

  • Siklus hormon, seperti menstruasi, kehamilan, menyusui, atau menopause.
  • Ketidakseimbangan hormon berkepanjangan, seperti pada penderita sindrom ovarium polikistik (PCOS).
  • Stres, pola makan yang tidak sehat, kurang tidur, paparan polusi, dan kebersihan kulit yang buruk.

Cara mengatasi jerawat hormonal

Cara menghilangkan jerawat hormon umumnya dilakukan dengan pemberian obat-obatan oral melalui resep dokter.

Hal ini karena produk obat jerawat topikal yang dijual bebas biasanya tidak mempan untuk mengatasi jerawat hormonal, kecuali jerawat yang Anda alami cukup ringan.

Jerawat hormonal biasanya berbentuk benjolan yang terbentuk jauh di bawah kulit sehingga di luar jangkauan sebagian besar obat topikal.

Umumnya, dokter memberikan obat oral yang bekerja dari dalam tubuh untuk menyimbangkan hormon dan menghentikan produksi sebum berlebihan. 

Beberapa obat yang umum diberikan oleh dokter yaitu sebagai berikut.

1. Krim retinoid

Jika jerawat hormonal yang muncul termasuk ringan, Anda bisa menggunakan krim retinoid topikal untuk meredakannya. Untuk membelinya, krim retinoid bisa dibeli tanpa resep dokter. 

Apabila Anda menggunakan krim retinoid, jangan lupa untuk menggunakan krim tabir surya karena krim ini dapat meningkatkan risiko kulit terbakar sinar matahari.

2. Obat antiandrogen

Cara menyembuhkan jerawat hormonal juga bisa dengan mengonsumsi obat antiandrogen, seperti spironolactone. 

Umumnya, obat ini digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi, tetapi juga memiliki memiliki efek antiandrogen. 

Obat ini bekerja dengan cara mencegah tubuh memproduksi lebih banyak androgen dan membuat kadar hormon stabil.

3. Kontrasepsi oral

Kontrasepsi oral yang digunakan untuk pengobatan jerawat biasanya mengandung kombinasi estrogen dan progestin.

Progestin yang sering termasuk drospirenone, norgestimate, dan norethindrone.

Obat ini bekerja dengan cara mengurangi kadar hormon androgen dalam tubuh, mengurangi produksi sebum, dan mengatur siklus menstruasi.

Penstabilan hormon ini dapat mengatasi terjadinya jerawat hormon.

Nah, itu tadi informasi tentang jerawat hormonal. Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut seputar jenis jerawat ini, jangan ragu konsultasikan dengan dermatologis.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.



Ditinjau secara medis oleh

dr. Andreas Wilson Setiawan

General Practitioner · None


Ditulis oleh Annisa Nur Indah Setiawati · Tanggal diperbarui 04/03/2024

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan