Erisepelas merupakan infeksi kulit bentuk lain dari selulitis. Bedanya, selulitis memengaruhi lapisan dalam kulit, sedangkan erisipelas hanya memengaruhi bagian permukaan kulit. Apa perbedaan lainnya? Cari tahu lebih lanjut mengenai kondisi ini.
Erisepelas merupakan infeksi kulit bentuk lain dari selulitis. Bedanya, selulitis memengaruhi lapisan dalam kulit, sedangkan erisipelas hanya memengaruhi bagian permukaan kulit. Apa perbedaan lainnya? Cari tahu lebih lanjut mengenai kondisi ini.

Erisipelas adalah infeksi bakteri yang umum menyerang kulit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pyogenes.
Penyakit ini menyerang dermis bagian atas kulit dan pembuluh limfatik di dalam kulit. Penyakit kulit ini dimulai dengan kulit yang pecah-pecah kemudian bakteri dengan mudah menyebar ke area kulit.
Erisipelas umumnya menyerang wajah, tetapi bisa juga menyerang kulit bagian kaki, tangan, dan bagian mana pun.
Meskipun kondisi ini cukup umum, tetapi jika dibiarkan bisa menjadi serius dan gejalanya cenderung hilang timbul.
Kondisi ini bisa dikatakan cukup umum terjadi karena bakteri bisa dengan mudah bisa menyerang semua jenis kulit untuk setiap ras dan usia. Dikutip dari National Library of Medicine, wanita lebih berisiko mengalami hal ini daripada pria.
Orang yang terinfeksi bakteri penyebab erisipelas biasanya merasa meriang terlebih dulu sebelum gejala muncul di kulit. Selain meriang, berikut ini gejala yang mungkin dapat muncul.
Anda harus segera mencari perawatan medis jika Anda mengalami gejala erisipelas. Hal ini penting untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan.

Erisipelas disebabkan oleh bakteri Streptococcus pyogenes yang masuk melalui luka kecil, atau goresan yang memungkinkan bakteri masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam.
Luka yang menyebabkan erisipelas biasanya disebabkan oleh gigitan binatang, serangga, atau luka bekas sayatan operasi.
Kondisi kulit yang sudah ada sebelumnya yang merusak permukaan kulit juga meningkatkan risiko seseorang terkena erisipelas.
Kondisi tersebut antara lain sebagai berikut.
Kondisi berikut ini juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena erisipelas.
Artikel terkait
Komplikasi pada erisipelas cukup jarang terjadi. Namun, hal ini bisa terjadi jika bakteri menginfeksi darah dan menyebar ke katup jantung, tulang dan sendi.
Akibatnya, kondisi yang disebut bakteremia akan terjadi. Selain itu, komplikasi lainnya dapat berupa:
Secara umum, dokter dapat mendiagnosis erisipelas berdasarkan tampilan dan gejala pada area yang terkena. Hal ini karena erisipelas memiliki gejala khusus yang mudah dikenali.
Selain itu, dokter akan menanyakan riwayat kesehatan, seperti riwayat operasi, dan obat-obatan yang dikonsumsi.
Tes darah juga akan dilakukan jika terdapat tanda-tanda infeksi sistemik, seperti bakteri di dalam darah. Selain itu, tes darah membantu mengungkap hal-hal berikut ini.
Dalam beberapa kasus, seperti infeksi bakteri yang dalam, dokter akan merekomendasikan pemindaian MRI atau CT-scan.
Apabila seseorang didiagnosis erisipelas, dokter mungkin akan memberikan antibiotik. Jika kondisinya parah, dokter mungkin merekomendasikan antibiotik intravena melalui pembuluh darah.
Obat antibiotik yang biasanya diberikan yaitu penisilin atau eritromisin (untuk orang yang alergi penisilin).
Jika pasien mengalami infeksi berulang, dokter akan memberikan antibiotik jangka panjang untuk mencegah infeksi di masa mendatang.
Obat anti alergi, mineral kompleks, dan vitamin terkadang ditambahkan oleh dokter untuk meningkatkan efektivitas antibiotik.
Selain pengobatan medis, perawatan yang bisa dilakukan yaitu sebagai berikut.

Berikut ini beberapa cara untuk mencegah erisipelas.
Dengan menjaga kebersihan dan merawat kulit dengan baik, Anda dapat mengurangi risiko terjadinya erisipelas.
Jika ada luka atau gejala infeksi, segera cari perawatan medis untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Erysipelas. (2024). Retrieved 31 July 2024, from https://dermnetnz.org/topics/erysipelas
Michael, Y. (2023). Erysipelas. Retrieved 31 July 2024, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532247/
Erysipelas – Erysipelas. (n.d.). Retrieved 31 July 2024, from https://www.msdmanuals.com/professional/dermatologic-disorders/bacterial-skin-infections/erysipelas
Erysipelas. (n.d.). Retrieved 31 July 2024, from https://www.mountsinai.org/health-library/diseases-conditions/erysipelas
Overview: Erysipelas and cellulitis. (2022). Retrieved 31 July 2024, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK303996/
Erysipelas. (n.d.). Retrieved 31 July 2024, from https://vetmed.iastate.edu/vdpam/FSVD/swine/index-diseases/erysipelas
Kozłowska, D., Myśliwiec, H., Kiluk, P., Baran, A., Milewska, A. J., & Flisiak, I. (2016). Clinical and epidemiological assessment of patients hospitalized for primary and recurrent erysipelas. Ocena kliniczna i epidemiologiczna pacjentów hospitalizowanych z powodu róży pierwotnej i nawrotowej. Przeglad epidemiologiczny, 70(4), 575–584.
Brindle, R., Williams, O. M., Barton, E., & Featherstone, P. (2019). Assessment of antibiotic treatment of cellulitis and erysipelas: a systematic review and meta-analysis. JAMA dermatology, 155(9), 1033-1040.
Versi Terbaru
05/08/2024
Ditulis oleh Annisa Nur Indah Setiawati
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes.
Diperbarui oleh: Fidhia Kemala