Penyakit Crohn, Radang Usus Langka yang Bisa Menimbulkan Depresi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 28 Mei 2018 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Pada dasarnya kesehatan mental dan fisik sangat berkaitan. Misalnya, saat Anda merasa gugup tak jarang Anda merasa mual bahkan sakit perut. Nah, begitu pun dengan penyakit radang usus yang disebabkan oleh gangguan autoimun atau yang disebut dengan penyakit Crohn’s. Dikutip dari WebMD, penelitian membuktikan penyakit Crohn berhubungan erat dengan depresi. Apakah benar akibat depresi yang berkepanjangan bisa menyebabkan penyakit radang usus ini?

Apa itu penyakit Crohn?

Penyakit Crohn adalah penyakit autoimun kronis menyebabkan radang usus yang terjadi di sepanjang saluran pencernaan dari mulut hingga anus. Akan tetapi, kondisi ini paling sering terjadi pada usus halus (ileum) atau usus besar (kolon). Penyebabnya kemungkinan besar karena reaksi sistem imun dan juga faktor keturunan.

Berbagai gejala yang biasanya dirasakan saat Anda menderita penyakit Crohn di antaranya:

  • Diare
  • Demam
  • Nyeri perut dan kram
  • Perut kembung
  • Luka pada mulut
  • Feses berdarah
  • Kelelahan
  • Hilang nafsu makan

Orang dengan penyakit Crohn rentan depresi

Seperti yang telah disebutkan di awal bahwa kesehatan fisik dan mental sangat berkaitan, termasuk pada orang dengan penyakit Crohn. Kesehatan mental yang buruk memiliki efek negatif pada kesehatan pengidap Crohn.

Diketahui sekitar 60-80 persen orang yang menderita Crohn mengalami depresi. Jika Anda mengidap penyakit Crohn, Anda akan lebih mungkin mengalami depresi ketika penyakit sedang aktif dan menimbulkan gejala yang cukup parah.

Penyakit autoimun kronis ini juga dapat membuat Anda depresi karena cukup melemahkan tubuh dan menyakitkan sehingga menurunkan kualitas hidup. Sebaliknya, gejala Crohn juga sering memburuk saat Anda tidak mengendalikan depresi.

Dilansir dari Healthgrades, dalam usus terdapat triliunan bakteri baik dan buruk yang berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh dan membantu mengatur kesehatan mental. Bakteri baik akan membantu sistem kekebalan tubuh untuk tetap berfungsi dengan baik. Selain itu, bakteri baik juga menghasilkan serotonin yang dikenal dengan hormon pemberi rasa nyaman dan senang.

Sedangkan bakteri jahat dapat membunuh bakteri baik hingga menyebabkan sistem kekebalan tubuh terganggu dan mendorong terjadinya peradangan yang menjadi salah satu penyebab utama penyakit Crohn dan depresi.

Beberapa penelitian juga menunjukkan banyaknya bakteri berbahaya di usus bisa meningkatkan peradangan sehingga membuat orang lebih gelisah, stres, dan depresi. Peradangan juga dapat menyebabkan gejala Crohn memburuk.

Bagaimana mengendalikan depresi saat mengidap penyakit Crohn?

Menjaga kesehatan mental dengan mengendalikan depresi dapat membantu meringankan gejala. Perasaan yang bahagia tanpa stres membantu menjaga kesehatan fisik Anda. Untuk itu, Anda perlu melakukan beberapa usaha untuk mengendalikan depresi seperti:

  • Mencari teman bicara seperti keluarga, pasangan, atau sahabat untuk mendengarkan keluh kesah Anda.
  • Bergabung dengan kelompok orang pengidap Crohn untuk bisa saling bertukar cerita dan pengalaman serta memastikan bahwa Anda tidak sendirian.
  • Mengonsumsi antidepresan yang diresepkan dokter untuk membantu menstabilkan suasana hati.
  • Lakukan berbagai hal yang Anda sukai sebagai obat penawar saat Anda merasa stres dengan kondisi Anda.
  • Konsumsi makanan yang mengandung bakteri baik (probiotik) untuk mengurangi peradangan yang bisa meringankan gejala.
  • Meminta bantuan ahli untuk mendapatkan terapi yang cocok sebagai upaya mengurangi depresi.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

3 Gerakan Dasar Senam Otak untuk Meningkatkan Fokus, Juga Mengasah Kreativitas

Senam tak hanya untuk tubuh, senam otak yang dapat mengasah pikiran Anda dan membuat Anda lebih fokus. Bagaimana gerakan dasar senam otak dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Otak dan Saraf 29 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Semua yang Perlu Diketahui Seputar Atrofi Otak, Ketika Ukuran Otak Menciut

Atrofi otak adalah kondisi rusak atau hilangnya sel otak dan sambungan antar sel otak secara berkelanjuta. Berikut informasi lengkapnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Otak dan Saraf, Penyakit Saraf Lainnya 28 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Tortikolis

Tortikolosis membuat leher penderitanya mengalami kecondongan untuk miring ke satu sisi. Bisakah penyakit ini disembuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 27 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Fakta Seputar Gatal pada Kulit yang Perlu Anda Ketahui

Kulit terasa gatal tiba-tiba, padahal tidak digigit serangga atau alergi? Cari tahu segala informasi seputar gatal pada kulit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Kulit, Penyakit Kulit Lainnya 26 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

serangan panik atau panic attack

Mengenal Perbedaan Panic Attack dan Anxiety Attack

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
depresi pagi hari

Gejala Depresi Suka Muncul di Pagi Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
makanan probiotik

Kenapa Penderita Depresi Harus Banyak Konsumsi Probiotik?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
menggunakan media sosial

Batasan Wajar Menggunakan Media Sosial Dalam Sehari, Menurut Psikolog

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit