home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Penyakit Crohn (Crohn's Disease)

Definisi penyakit Crohn (Crohn’s disease)|Tanda dan gejala penyakit Crohn|Penyebab dan faktor risiko|Komplikasi penyakit Crohn|Diagnosis dan pengobatan|Pengobatan penyakit Crohn di rumah
Penyakit Crohn (Crohn's Disease)

Definisi penyakit Crohn (Crohn’s disease)

Penyakit Crohn (Crohn’s disease) adalah kondisi jangka panjang yang memicu peradangan pada lapisan sistem pencernaan. Peradangan ini dapat memengaruhi setiap bagian dari sistem pencernaan, dari mulut hingga anus.

Meski begitu, jenis penyakit radang usus yang dikenal dengan inflammatory bowel disease (IBD) ini cenderung dijumpai pada usus kecil (ileum) atau usus besar (kolon).

Ileum merupakan bagian terakhir dari usus kecil yang bertugas menyerap asam lemak, gliserol, dan garam empedu lainnya. Organ pencernaan ini juga melepaskan hormon dan enzim untuk memecah karbohidrat dan protein.

Sementara itu, fungsi usus besar yaitu membasmi bakteri, limbah, dan sisa makanan yang nutrisinya sudah diserap tubuh. Bila fungsinya menurun akibat penyakit Crohn, sistem pencernaan lainnya pun ikut terganggu.

Seberapa umum penyakit Crohn (Crohn’s disease)?

Penyakit Crohn dapat terjadi pada siapa saja, terlepas dari jenis kelamin dan usia. Namun, sebagian besar kasus terjadi pada orang-orang yang berusia antara 16 – 30 tahun dan 60 – 80 tahun.

Selain itu, wanita lebih sering mengalami penyakit ini dibandingkan oleh pria. Sedangkan pada anak-anak, lebih banyak anak laki-laki yang terkena masalah pencernaan ini dibandingkan anak perempuan.

Tanda dan gejala penyakit Crohn

Crohn disease bisa memengaruhi setiap bagian dari saluran pencernaan. Itu sebabnya, gejala yang timbul bervariasi dari satu orang ke orang lainnya. Selain itu, beberapa gejala mungkin mirip dengan penyakit pencernaan lainnya.

Beberapa ciri-ciri penyakit Crohn antara lain:

  • diare dan sembelit terus-menerus secara bergantian,
  • BAB berdarah,
  • demam ringan akibat infeksi atau peradangan,
  • ingin segera buang air besar,
  • kram atau sakit perut,
  • merasa BAB tidak tuntas,
  • kelelahan,
  • penurunan nafsu makan, dan
  • berat badan menurun.

Selain beberapa gejala di atas, pasien Crohn’s disease terkadang juga ditandai dengan gejala lainnya, yakni:

  • peradangan pada kulit, mata, dan persendian,
  • peradangan pada hati atau saluran empedu, atau
  • pertumbuhan dan perkembangan seksual anak melambat.

Kemungkinan ada tanda atau gejala yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

Kapan harus periksa ke dokter?

Bila Anda mengalami perubahan kebiasaan BAB terus menerus dalam waktu yang lama, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter, terutama ketika mengalami gejala:

  • sakit perut yang parah,
  • BAB berdarah,
  • demam yang berlangsung selama 1 – 2 hari,
  • berat badan menurun drastis secara tiba-tiba, atau
  • diare tidak kunjung sembuh meski sudah minum obat tanpa resep.

Penyebab dan faktor risiko

Apa penyebab penyakit Crohn?

Para ahli sejauh ini belum mengetahui apa penyebab pasti dari penyakit Crohn. Namun, ada beberapa kondisi yang bisa menjadi faktor perkembangan radang pada usus ini yang dijabarkan di bawah ini.

1. Reaksi autoimun

Salah satu kemungkinan penyebab penyakit Crohn yaitu reaksi autoimun. Reaksi autoimun terjadi ketika sistem kekebalan menyerang sel-sel sehat di tubuh.

Sejumlah ahli berpendapat bahwa bakteri pada saluran pencernaan entah bagaimana mengaktifkan sistem imun. Respon sistem imun ini yang menyebabkan peradangan yang memicu gejala Crohn’s disease.

2. Genetik

Pada beberapa kasus, penyakit Crohn dapat diturunkan dalam keluarga. Maka itu, ketika Anda atau saudara lainnya mengalami penyakit ini, anggota keluarga Anda berpeluang besar mengembangkan Crohn.

Penelitian menunjukkan bahwa 5 – 20% pasien IBD memiliki orangtua, anak, atau saudara kandung yang juga mengalami penyakit yang sama. Dibandingkan dengan ulseratif kolitis, risiko genetik lebih besar pada Crohn’s disease.

Apa faktor yang meningkatkan risiko terkena penyakit ini?

Penyakit Crohn dapat terjadi pada siapa saja, tetapi ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini. Berikut ini beberapa faktor risiko dari Crohn’s disease.

1. Usia

Kebanyakan pasien yang didiagnosis memiliki penyakit Crohn berusia muda, yakni sebelum memasuki usia 30 tahun.

2. Perokok

Zat yang terkandung dalam rokok dapat memicu peradangan, terutama pada sistem pencernaan. Artinya, seorang perokok lebih mungkin terkena penyakit Crohn atau memperparah kondisi kesehatannya.

3. Lingkungan tempat tinggal

Bagi Anda yang tinggal di dekat pabrik industri mungkin perlu berhati-hati. Pasalnya, lingkungan industri atau pabrik memungkinkan adanya paparan bahan kimia, sehingga sangat mungkin berkontribusi terhadap Crohn’s disease.

4. Penggunaan obat-obatan tertentu

Pemakaian obat-obatan tertentu juga dapat meningkatkan risiko peradangan usus yang dapat memicu gejala Crohn’s disease. Beberapa obat yang dimaksud meliputi:

Komplikasi penyakit Crohn

Bila radang usus akibat Crohn’s disease dibiarkan, tentu akan memicu kondisi yang lebih parah.

Berikut ini beberapa komplikasi dari penyakit Crohn yang perlu Anda kenali dilansir dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease.

Obstruksi usus (penyumbatan)

Penyakit Crohn yang dibiarkan dapat menebalkan dinding usus. Akibatnya, daerah usus akan menyempit yang dapat menghambat usus.

Kondisi yang juga disebut penyumbatan usus ini dapat memperlambat pergerakan makanan atau feses melalui usus.

Fistula

Peradangan pada penyakit Crohn juga dapat menembus dinding usus dan menyebabkan fistula. Fistula yaitu jalur yang muncul di antara dua rongga organ yang seharusnya terpisah dan bisa terinfeksi.

Abses

Peradangan yang terjadi pada dinding usus juga dapat menghasilkan abses, yaitu kantong infeksi berisi nanah yang terasa sakit dan bisa membengkak.

Fisura ani

Fisura ani merupakan robekan kecil pada anus yang memicu gejala berupa gatal, nyeri, atau perdarahan.

Bisul

Bila Anda mengalami peradangan pada sistem pencernaan, termasuk usus, risiko terkena bisul atau luka terbuka pada mulut hingga anus pun ikut meningkat.

Kekurangan gizi

Kekurangan gizi atau malnutrisi akibat diare dapat terjadi karena tubuh tidak mendapatkan vitamin, mineral, dan nutrisi yang dibutuhkan.

Diagnosis dan pengobatan

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

Umumnya, pasien penyakit Crohn baru akan berkonsultasi dengan dokter karena gejala diare atau kram perut tidak kunjung membaik.

Bila sudah begitu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan meminta Anda menjalani pemeriksaan lainnya, yakni:

  • kolonoskopi,
  • tes pencitraan, seperti X-ray,
  • magnetic resonance imaging (MRI),
  • endoskopi kapsul, atau
  • endoskopi balon.

Bagaimana cara mengobati penyakit Crohn?

Hingga kini, tidak ada obat yang secara khusus dapat menyembuhkan penyakit Crohn. Tujuan pengobatan dilakukan untuk mengurangi gejala, mengendalikan peradangan, dan mencegah komplikasi.

Di bawah ini sejumlah pilihan pengobatan yang direkomendasikan dokter untuk penyakit Crohn.

Terapi obat-obatan

Obat-obatan yang diresepkan dokter untuk pasien Crohn’s disease bertujuan untuk mengurangi gejala dan mengatasi peradangan. Beberapa obat yang diperlukan yakni:

  • Obat anti-peradangan, seperti kortikosteroid dan oral 5-aminosalicylates,
  • oralit untuk mengatasi diare,
  • obat penekan sistem imun, seperti azathioprine, mercaptopurine, dan methotrexate,
  • Antibiotik, seperti ciprofloxacin dan metronidazole,
  • obat pereda nyeri, yakni acetaminophen, dan
  • vitamin dan suplemen.
Terapi memenuhi kebutuhan nutrisi

Selain obat-obatan, dokter mungkin juga akan menganjurkan cara khusus untuk memberikan makanan, yakni:

  • nutrisi enteral (memasukkan makanan lewat selang), dan
  • nutrisi parenteral (memasukkan nutrisi ke dalam vena).

Salah satu dari kedua cara ini bertujuan agar tubuh mendapatkan nutrisi yang cukup, sehingga usus lebih banyak beristirahat. Usus yang beristirahat dapat mengurangi peradangan dalam jangka pendek.

Selain itu, cara mengatasi penyakit Crohn ini juga digunakan untuk membuat pasien lebih sehat sebelum operasi atau ketika obat lainnya tidak berhasil.

Operasi perut

Bila perubahan pola makan, terapi obat, atau perawatan lainnya tidak kunjung meredakan gejala penyakit Crohn, alternatif lainnya yaitu operasi.

Hampir setengah dari pasien Crohn’s disease akan menjalani setidaknya satu operasi. Meski begitu, operasi ini tidak akan menyembuhkan penyakit radang usus ini.

Pada saat operasi berlangsung, dokter akan mengangkat saluran pencernaan yang rusak dan menghubungkannya kembali pada bagian yang sehat. Prosedur ini juga digunakan untuk menutup fistula dan mengeringkan abses.

Manfaat dari operasi perut ini hanya bersifat sementara. Artinya, penyakit Crohn dapat kambuh kembali dan umumnya terjadi di dekat jaringan yang terhubung kembali.

Itu sebabnya, dokter juga akan menganjurkan operasi lanjutan yang disertai dengan pengobatan untuk mengurangi risiko kekambuhan.

Pengobatan penyakit Crohn di rumah

Pola gaya hidup pasien penyakit Crohn pun harus diubah demi mendukung perawatan dari dokter. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pasien Crohn’s disease di rumah, yakni sebagai berikut.

  • Batasi susu, produk olahan susu, dan makanan berlemak.
  • Konsumsi makanan berserat sesuai dengan kebutuhan.
  • Hindari alkohol, merokok, dan minuman berkafein.
  • Perbanyak minum air putih.
  • Makan dengan porsi kecil tapi sering.
  • Minum suplemen atau multivitamin jika diperlukan.
  • Konsultasikan pola makan dengan dokter atau ahli gizi.
  • Ikuti pengobatan secara rutin.

Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan hubungi dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Definition & Facts for Crohn’s Disease. (2017). National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Retrieved 19 January 2020, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/crohns-disease/definition-facts 

Causes of Crohn’s Disease. (n.d). Crohn’s & Colitis Foundation. Retrieved 8 February 2021, from https://www.crohnscolitisfoundation.org/what-is-crohns-disease/causes 

Symptoms & Causes of Crohn’s Disease. (2017). National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Retrieved 8 February 2021, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/crohns-disease/symptoms-causes 

Crohn’s Disease – diagnosis and treatment. (2020). Mayo Clinic. Retrieved 8 February 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/crohns-disease/diagnosis-treatment/drc-20353309

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Risky Candra Swari Diperbarui 19/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x