Berbagai Risiko Komplikasi GERD yang Paling Sering Muncul dan Perlu Diwaspadai

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 9 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

GERD atau asam lambung yang naik ke kerongkongan sehingga menimbulkan sensasi panas di dada. Munculnya gejala bisa mengganggu aktivitas seseorang sehingga perlu diobati. Jika disepelekan, komplikasi bisa berkembang. Memangnya, apa saja komplikasi GERD? Yuk, cari tahu jawabannya berikut ini.

Komplikasi GERD yang mungkin terjadi

gejala GERD

GERD biasanya disebabkan oleh kondisi otot cincin lambung yang melemah sehingga menyebabkan asam lambung rentan mengalir balik ke sepanjang kerongkongan.

Gejala GERD akibat naiknya asam lambung dapat memunculkan sensasi rasa terbakar di ulu hati (heartburn) dan rasa asam-pahit di mulut. Gejala lainnya termasuk mual-muntah, perut mulas, dan perut kembung atau bergas.

Meski gejalanya cukup mengganggu, masih ada yang menyepelekan penyakit ini. Padahal meski memang tidak mengancam nyawa, “penyakit ini bisa mengganggu kualitas hidup seseorang,” beber Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, ketika ditemui tim Hello Sehat di acara peresmian Yayasan Gastrointestinal Indonesia (YGI), Jumat (31/8) 2019 silam.

Jika terus-terusan kumat, asam lambung yang naik lama-lama bisa mengikis lapisan kerongkongan hingga menyebabkan luka meradang. Peradangan tersebut dapat meningkatkan risiko Anda terhadap macam-macam komplikasi GERD, meliputi:

1. Nyeri dada (komplikasi umum dari GERD)

“Nyeri dada adalah komplikasi GERD yang paling sering muncul dan ditakuti orang-orang karena sering dianggap sebagai gejala penyakit jantung atau serangan jantung,” ujar dr. Ari. Komplikasi ini mungkin terjadi karena asam lambung yang naik menuju kerongkongan sehingga memberi tekanan di dada.

Anda bisa membedakan nyeri dada akibat GERD dengan asam lambung lewat posisinya. Nyeri GERD biasanya akan terasa tepat di dada dan muncul setelah makan. Sementara nyeri akibat serangan jantung akan terasa di area dada sebelah kiri.

2. Peradangan pita suara

Komplikasi GERD selanjutnya yang bisa menyerang adalah peradangan pita suara atau dikenal juga dengan sebutan refluks laringitis. Cairan asam lambung mengandung asam dan enzim yang aman di perut, namun bisa merusak lapisan kerongkongan dan tenggorokan.

Menurut situs yang dikelola oleh University of Pittsburgh, orang yang mengalami komplikasi ini biasanya merasakan adanya benjolan di tenggorokan, suara serak, nyeri dan panas di tenggorokan, serta batuk.

3. Radang kerongkongan (esofagitis)

Selain nyeri dada, komplikasi GERD yang umum terjadi adalah esofagitis atau peradangan pada kerongkongan. Peradangan ini menyebabkan rasa sakit parah ketika Anda menelan, yang membuat nafsu makan jadi menurun.

4. Batuk asma

Dilansir dari Mayo Clinic, tidak diketahui secara jelas bagaimana hubungan antara asma dengan GERD. Namun, kebanyakan orang memiliki penyakit ini secara bersamaan dan GERD dapat memperburuk asam, begitu pula sebaliknya.

Diduga hal ini terjadi akibat asam lambung yang secara berulang mengiritasi tenggorokan dan saluran napas. Ini dapat membuat bernapas menjadi tidak nyaman serta memicu batuk. Selain itu, paparan asam lambung juga diduga membuat paru-paru lebih sensitif terhadap iritan, seperti debu dan serbuk sari, yang juga merupakan pemicu asma.

5. Erosi gigi

Asam lambung yang naik ke kerongkongan, bisa juga naik ke area mulut. Itulah sebabnya, orang yang punya GERD akan mengalami rasa pahit dan asam di mulutnya.

Bila kondisi ini terus terjadi, lingkungan di mulut akan jadi lebih asam. Akibatnya, komplikasi GERD seperti erosi gigi bisa terjadi. Ini karena asam lambung mengikis enamel, yakni lapisan luar gigi.

6. Striktur esofagus

Striktur esofagus adalah komplikasi GERD yang menandakan terjadinya penyempitan kerongkongan. Kerongkongan yang semakin sempit ini disebabkan oleh jaringan parut akibat asam lambung yang terus menumpuk.

Striktur esofagus akan menyebabkan Anda sulit menelan makanan atau minuman sehingga bisa membuat berat badan jadi turun dan dehidrasi.

7. Penyakit Barrett’s Esophagus (lesi prakanker)

Mengutip data RSCM, dr. Ari menunjukkan bahwa 22,8% pasien yang berobat karena GERD memiliki radang kerongkongan setelah diperiksa lewat endoskopi sementara 13,3% lainnya memiliki lesi pada kerongkongan yang bisa menjadi indikasi dari penyakit Barrett’s.

Komplikasi GERD ini bisa berkembang bila asam lambung terus-menerus mengenai jaringan yang mengikis lapisan di bagian bawah kerongkongan. Orang dengan penyakit Barrett’s akan sering mengalami heartburn, nyeri dada, dan kesulitan untuk menelan.

8. Kanker kerongkongan (adenokarsinoma)

Penyakit GERD yang tidak diobati dengan tepat bisa meningkatkan risiko terbentuknya kanker di kerongkongan. Ini terjadi karena asam lambung yang bertubi-tubi mengenai lapisan kerongkongan menimbulkan kerusakan dan menyebabkan perubahan sel-sel normal di sekitarnya.

Jika seseorang memiliki GERD sekaligus penyakit Barret’s secara bersamaan, risiko terkena kanker kerongkongan  akan lebih besar daripada orang yang hanya memiliki GERD saja. Kanker pada kerongkongan ini umumnya tidak menimbulkan gejala, kecuali jika sudah mencapai tahap lanjut yang lebih parah.

Tips mencegah komplikasi GERD

obat gerd medis rumahan

Sudah tahu apa saja komplikasi GERD? Jika tidak ingin komplikasi ini menyerang Anda dan menurunkan kualitas hidup, tentu tindakan pencegahan perlu dilakukan. Caranya, tidak lagi menyepelekan gejala GERD yang Anda alami.

Kemudian, Anda juga perlu mengikuti beberapa langkah berikut ini agar GERD tidak bertambah parah, seperti:

Minum obat sesuai anjuran dokter

Komplikasi GERD dapat dicegah jika Anda mengikuti pengobatan dengan tepat. Mulai dari pilihan obat, dosis, hingga kapan waktu terbaik untuk minum obat. Namun, Anda tidak perlu minum obat secara terus menerus, cukup ketika gejalanya mulai terasa.

Beberapa obat yang biasanya diresepkan adalah antasida, h-2 receptor blocker, atau obat PPI (proton pump inhibitor). Obat GERD ini bisa Anda dapatkan di warung atau apotek.

Jaga pola makan

Gejala GERD bisa kumat dan bertambah buruk jika pola makan yang Anda terapkan kurang tepat. Ini meliputi pola makan dan kebiasaan makan. Hindari makanan yang bisa memicu asam lambung naik, seperti makanan pedas, berlemak, dan asam.

Sebagai gantinya, Anda bisa mengganti tingkatkan konsumsi sayur dan buah serta batasi penggunaan minyak dalam menyajikan makanan.

Agar lebih sempurna, imbangi dengan menghindari kebiasaan makan yang bisa memicu gejala GERD, seperti tidur setelah makan, terlalu banyak minum setelah makan, atau makan dengan porsi besar sekaligus.

Hentikan kebiasaan merokok

Sudah menjaga pola makan dan mengikuti pengobatan dokter, gejala GERD tetap bisa kumat jika Anda masih saja merokok. Rokok mengandung berbagai zat yang bisa memperparah iritasi di lambung, kerongkongan, maupun tenggorokan. Jadi, Anda sangat diwajibkan untuk menghentikan kebiasaan ini.

Agar berhasil, cobalah untuk mengurangi asupan rokok secara perlahan. Misalnya, mengurangi satu batang rokok per dua atau tiga hari, hingga Anda benar-benar bisa terlepas dari ketergantungan rokok.

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)

GERD adalah penyakit yang berhubungan dengan asam lambung. Apa gejala dan penyebabnya serta bagaimana cara mengatasi kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kesehatan Pencernaan, Gastritis & Maag 13 Desember 2020 . Waktu baca 13 menit

Obat Asam Lambung di Apotek, dengan dan Tanpa Resep Dokter

Asam lambung yang naik tiba-tiba menggangu aktivitas? Simak daftar obat asam lambung di apotek yang ampuh untuk menetralkannya di artikel ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kesehatan Pencernaan, Gastritis & Maag 8 Desember 2020 . Waktu baca 11 menit

Ranitidin dan Omeprazole, Apa Bedanya?

Ranitidin dan omeprazole adalah obat untuk mengobati maag atau penyakit terkait asam lambung. Namun, keduanya memiliki banyak perbedaan. Apa saja?

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Obat A-Z, Obat-obatan & Suplemen A-Z 6 Desember 2020 . Waktu baca 3 menit

Obat GERD Apotek Paling Ampuh dan Prosedur Medis untuk Mengatasinya

Ada banyak obat untuk menatasi GERD. Entah itu obat GERD medis di apotek, rumahan, maupun perubahan gaya hidup. Apa saja pilihannya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kesehatan Pencernaan, Gastritis & Maag 1 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

makanan untuk penderita maag makanan untuk penderita asam lambung

11 Makanan dan Minuman Terbaik untuk Penderita Sakit Maag

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit
ilustrasi nyeri ulu hati, gejala gangguan lambung

Penyebab Utama Nyeri Ulu Hati dan Tips Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 7 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
obat gerd herbal tradisional alami

Obat GERD Alami, dari Bahan Herbal Sampai Perubahan Gaya Hidup

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 20 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
apa itu panas dalam

Apa Sebenarnya Penyakit Panas Dalam? Simak Penjelasan dan Penyebabnya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 15 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit