Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Diet atau Pola Makan Sehat untuk Penderita GERD

Diet atau Pola Makan Sehat untuk Penderita GERD

Gastroesophageal reflux disease (GERD) akan menyebabkan rasa terbakar di dada akibat asam lambung yang naik. Gejala ini bisa kambuh jika Anda mengonsumsi makanan yang memicu kenaikan asam lambung. Untuk itu, penderita GERD perlu menerapkan pola makan atau diet tertentu untuk mengendalikan gejala.

Perawatan yang tepat untuk GERD bisa dimulai dengan berkonsultasi kepada dokter, sehingga penanganan bisa disesuaikan dengan kondisi Anda.

Refluks asam lambung kronis tidak membaik dengan sendirinya. Obat GERD memang dapat meredakan gejala jangka pendek, tetapi tidak dapat menyembuhkan GERD sepenuhnya.

Diet atau pola makan merupakan kunci dalam perawatan GERD atau asam lambung naik dalam jangka panjang.

Menurut buku Digestive Health Matters (2014) berikut ini adalah beberapa makanan yang dianjurkan dalam diet untuk penderita GERD.

1. Sayur dan buah

buah dan sayuran untuk asam urat

National Institutes of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menjelaskan salah satu gejala GERD adalah naiknya asam lambung yang menyentuh kerongkongan dan menyebabkan iritasi serta nyeri.

Oleh karena itu, Anda perlu memilih makanan yang tidak terlalu asam agar tidak memicu asam lambung naik. Pilihlah buah-buahan seperti pisang, melon, apel, dan pir.

Buah yang terlalu asam atau citrus akan memicu produksi asam lambung semakin banyak.

Sayur-sayuran yang rendah lemak dan gula juga bagus untuk penderita GERD. Pilihan sayuran untuk diet penderita GERD adalah kacang hijau, brokoli, asparagus, kembang kol, sayuran hijau, kentang, dan mentimun.

Hindari atau kurangi menggunakan saus atau dressing yang tinggi lemak seperti mayones pada sayur yang Anda makan.

2. Protein rendah lemak

Makanan berlemak tinggi dan gorengan cenderung memperlambat pengosongan perut dan mendorong lambung memproduksi asam lambung berlebih. Hal ini bisa memicu timbulnya GERD.

Sebaiknya, Anda mengonsumsi daging rendah lemak seperti ayam, kalkun, ikan, dan makanan laut.

Ketimbang menggoreng, memanggang atau merebus daging lebih baik agar semakin mengurangi asupan lemak.

Anda juga dapat memilih telur sebagai alternatif makanan yang tinggi protein. Namun ingat, hindari konsumsi kuning telur yang lebih tinggi lemaknya.

3. Oatmeal

oatmeal diet untuk GERD

Oatmeal adalah karbohidrat kompleks atau makanan tinggi serat yang baik. Makanan ini bisa jadi pilihan pengganti nasi dalam menu diet untuk penderita GERD.

Selain oatmeal, pilihan makanan tinggi serat lainnya adalah roti gandum dan nasi merah.

Jurnal yang diterbitkan dalam World journal of gastroenterology (2018) menjelaskan diet yang kaya serat membantu mengendalikan gejala GERD.

Pada penderita GERD, makanan tinggi serat mampu meningkatkan motilitas esofagus atau pergerakan kerongkongan saat membawa makanan dari mulut ke lambung.

Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa makanan tinggi serat bisa menurunkan frekuensi mulas pada GERD.

4. Lemak sehat

Anda memang perlu menghindari atau mengurangi lemak jenuh, misalnya dari daging merah, dan lemak trans, yaitu lemak olahan yang biasanya terdapat dalam margarin dan makanan kemasan.

Akan tetapi, Anda tetap harus mendapatkan makanan bergizi seimbang setiap harinya sehingga perlu mencukupi asupan lemak.

Jadi, bagaimana baiknya jika konsumsi makanan berlemak justru memicu kambuhnya gejala GERD?

Dalam menerapkan diet untuk penderita GERD, cobalah untuk mengurangi porsi asupan yang tinggi lemak jenuh. Anda juga bisa menggantinya dengan sumber lemak tak jenuh atau lemak sehat.

Berikut beberapa contoh makanan dengan lemak tak jenuh atau lemak sehat.

  • Minyak zaitun, minyak wijen, minyak kanola, dan minyak bunga matahari.
  • Makanan sumber lemak tak jenuh seperti alpukat, kacang tanah, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
  • Makanan olahan dari kedelai seperti susu kedelai, tempe, dan tahu.
  • Ikan dengan lemak sehat seperti ikan nila, kakap, bandeng, atau tuna yang mengandung lemak omega-3.

5. Jahe

Jahe kaya akan antioksidan (pencegah kerusakan sel) dan bahan kimia yang dapat memberikan sejumlah manfaat serta diet untuk penderita GERD yang baik.

Sebuah ulasan yang diterbitkan dalam Cancer Prevention Research (2011) menjelaskan bahwa senyawa fenolik jahe dapat meredakan iritasi sistem pencernaan dan mengurangi kontraksi lambung.

Artinya, jahe dapat mengurangi peradangan di lambung serta kemungkinan asam yang mengalir dari perut kembali ke kerongkongan.

Jadi, menyertakan jahe dalam menu diet sangat bermanfaat untuk penderita GERD guna mencegah kekambuhan gejala.

Makanan pantangan dalam diet untuk penderita GERD

diet gerd

Pemicu kenaikan asam lambung seringnya berasal dari makanan dan minuman yang sehari-hari dikonsumsi.

Bila Anda memiliki masalah refluks asam lambung atau GERD, sebaiknya hindari berbagai pantangan untuk mencegah kekambuhan gejala.

1. Makanan tinggi lemak

Salah satu pantangan diet untuk penderita GERD adalah makanan yang mengandung banyak lemak.

Makanan tinggi lemak akan merangsang pelepasan kolesistokinin. Kolesistokinin adalah hormon pemicu mengendurnya katup kerongkongan sehingga asam lambung dapat naik.

Sementara itu, makanan yang mengandung banyak lemak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna sistem pencernaan, sehingga memicu produksi asam lambung yang berlebih.

Kondisi itu kemudian menyebabkan kerongkongan (esofagus) menjadi lebih mudah terbuka, yang memicu asam lambung naik kembali ke kerongkongan.

Alhasil, gejala sensasi terbakar pada dada (heartburn) dan nyeri timbul.

Oleh karena itu, pantangan diet untuk penderita GERD adalah membatasi makanan tinggi lemak, seperti:

  • daging merah, seperti sapi, kambing, dan domba,
  • susu tinggi lemak dan produk olahannya,
  • makanan manis, seperti kue, es krim, dan
  • gorengan atau makanan lainnya yang digoreng.

2. Kafein

Anda sebaiknya hindari kafein atau membatasi jumlah asupannya guna mencegah gejala GERD bertambah parah.

Pasalnya, beberapa penelitian melaporkan bahwa kafein melemahkan otot katup kerongkongan bagian bawah.

Akibatnya, asam lambung dapat naik kembali menuju ke kerongkongan dan memicu gejala GERD yang mengganggu.

Beberapa minuman dan makanan berkafein yang perlu Anda kurangi atau hindari, antara lain:

  • teh,
  • kopi decaf,
  • cokelat,
  • kopi,
  • minuman bersoda, dan
  • minuman berenergi.

3. Bawang

Sebuah ulasan dalam Medical Journal (UBMCJ) (2015) menjelaskan bahwa baik bawang merah, bawang putih, maupun bombay bisa melemahkan otot kerongkongan bagian bawah melemah.

Kondisi tersebut disebabkan kandungan bawang yang mengiritasi lapisan esofagus dan menyebabkan heartburn.

Selain itu, makanan pantangan untuk penderita GERD ini mengandung senyawa sulfur yang dapat menyebabkan masalah pencernaan, seperti sering sendawa.

4. Alkohol

Minum alkohol akan membuat Anda lebih berisiko tinggi untuk mengalami masalah kesehatan yang merugikan, termasuk GERD.

Penelitian dalam Journal of Zhejiang University (2010) menunjukkan bahwa konsumsi alkohol dapat meningkatkan gejala GERD, menyebabkan kerusakan pada lapisan basah esofagus, dan mengiritasi lapisan organ lambung.

Pada banyak kasus, gejala GERD dapat dikontrol setelah berhenti mengonsumsi minuman beralkohol atau membatasi konsumsinya.

5. Tomat dan buah citrus

Menurut penelitian yang dimuat dalam The Korean Journal of Gastroenterology (2010), buah citrus dan tomat dapat memicu sensasi terbakar di perut.

Penyebab pastinya memang belum diketahui. Namun, terdapat kemungkinan kalau jumlah asam dari buah citrus, seperti lemon dan jeruk, dapat melemahkan otot esofagus.

Hal tersebut kemudian membuat asam lambung jadi mudah naik ke kerongkongan. Tomat juga memiliki kandungan asam sitrat dan asam malat yang bisa meningkatkan asam lambung.

Selain itu, konsumsi tomat dalam jumlah yang terlalu banyak bisa berakibat buruk pada sistem pencernaan sehingga menimbulkan sensasi begah dan mulas.

Tips diet untuk penderita GERD

perempuan sakit dada karena gerd anxiety

Selain mengubah diet atau pola makan sebagai pengobatan jangka panjang, Anda juga dapat mengikuti sejumlah tips dari buku Digestive Health Matters (2014) sebagai berikut.

1. Mengunyah permen karet

Mengunyah permen karet akan meningkatkan produksi air liur. Namun, pastikan bukan permen karet spearmint atau peppermint karena dapat mengendurkan otot kerongkongan bawah.

Selain itu, mengunyah permen karet mengurangi jumlah asam di kerongkongan. Jadi permen karet membantu mencegah GERD.

2. Pertahankan postur tubuh selama dan setelah makan

Sebaiknya, Anda duduk sambil makan dan hindari berbaring telentang selama minimal dua jam setelah makan.

Berdiri dan berjalan-jalan setelah makan membantu mendorong cairan lambung mengalir ke arah seharusnya.

3. Hindari makan sebelum tidur.

Saat Anda berbaring, otot kerongkongan kesulitan untuk mencegah isi lambung naik ke kerongkongan. Oleh karena itu, sebisa mungkin hindari makan sebelum tidur.

Jika Anda menderita GERD, sebaiknya tidak makan makanan berat kurang dari tiga atau empat jam sebelum tidur.

Diet untuk penderita GERD tidak berarti berhenti memakan semua makanan favorit Anda yang ternyata menjadi pantangan.

Membatasi porsi dan merancang menu dengan sumber gizi yang lebih bervariasi juga bisa menjadi cara diet yang tepat untuk mengendalikan gejala GERD.

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Badillo R, Francis D. Diagnosis and treatment of gastroesophageal reflux disease. World Journal of Gastrointestinal Pharmacology and Therapeutics. 2014;5(3):105–112. https://doi.org/10.4292/wjgpt.v5.i3.105 

Chen, S. H., Wang, J. W., & Li, Y. M. (2010). Is alcohol consumption associated with gastroesophageal reflux disease?. Journal of Zhejiang University. Science. B, 11(6), 423–428. https://doi.org/10.1631/jzus.B1000013

Grewal G. S. , Amlani A., (2015). Garlic-induced Esophagitis and Gastroenteritis: A Review of Four Cases. Medical Journal (UBCMJ), 7(1).  

International Foundation for Functional Gastrointestinal Disorders. (2014). Digestive Health Matters. 23(3). IFFGD.

Kim, Y. K., Moon, J. S., Ryu, S. H., Lee, J. H., & Kim, Y. S. (2010). The Korean journal of gastroenterology = Taehan Sohwagi Hakhoe chi, 55(2), 109–118. https://doi.org/10.4166/kjg.2010.55.2.109

Morozov, S., Isakov, V., & Konovalova, M. (2018). Fiber-enriched diet helps to control symptoms and improves esophageal motility in patients with non-erosive gastroesophageal reflux disease. World journal of gastroenterology, 24(21), 2291–2299. https://doi.org/10.3748/wjg.v24.i21.2291.

Richter, J. E. (2009). Advances in GERD: Current Developments in the Management of Acid-Related GI Disorders. Gastroenterology & Hepatology, 5(9), 613–615. PMCID: PMC2886414.

Wu, K. L., Kuo, C. M., Yao, C. C., Tai, W. C., Chuah, S. K., Lim, C. S., & Chiu, Y. C. (2018). The effect of dietary carbohydrate on gastroesophageal reflux disease. Journal of the Formosan Medical Association = Taiwan yi zhi, 117(11), 973–978. https://doi.org/10.1016/j.jfma.2017.11.001

Zick, S. M., Turgeon, D. K., Vareed, S. K., Ruffin, M. T., Litzinger, A. J., Wright, B. D., Alrawi, S., Normolle, D. P., Djuric, Z., & Brenner, D. E. (2011). Phase II study of the effects of ginger root extract on eicosanoids in colon mucosa in people at normal risk for colorectal cancer. Cancer prevention research (Philadelphia, Pa.), 4(11), 1929–1937. https://doi.org/10.1158/1940-6207.CAPR-11-0224.

Diet Changes for GERD. (2019). International Foundation for Gastrointestinal Disorders. Retrieved April 8, 2022, from https://www.aboutgerd.org/diet-lifestyle-changes/diet-changes-for-gerd.html

Monico, N. (2021). Alcoholic Gastritis Symptoms, Causes & Treatment. American Addiction Center. Retrieved April 8, 2022, from https://www.alcohol.org/comorbid/gastritis/

Symptoms & Causes of GER & GERD. (2020). National Institutes of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Retrieved April 8, 2022 from, https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/acid-reflux-ger-gerd-adults/symptoms-causes 

The best and worst foods for acid reflux. (2014). University Hospitals. Retrieved April 8, 2022, from https://www.uhhospitals.org/Healthy-at-UH/articles/2014/04/best-and-worst-foods-for-acid-reflux

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ilham Fariq Maulana Diperbarui 4 weeks ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro