home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Benarkah Mengunyah Permen Karet Ampuh Mencegah Asam Lambung?

Benarkah Mengunyah Permen Karet Ampuh Mencegah Asam Lambung?

Banyak penderita gangguan asam lambung, seperti maag dan GERD mengunyah permen karet untuk mencegah asam lambung naik. Lantas, apakah hal tersebut benar-benar bermanfaat?

Manfaat permen karet untuk mencegah asam lambung

permen karet bebas gula

Meski sudah menghindari hal-hal yang bikin gangguan sistem pencernaan kambuh, terkadang masih saja asam lambung naik dan mengganggu aktivitas seharian.

Asam lambung naik bisa menimbulkan sakit maag hingga gastroesophageal reflux disease (GERD). Kedua kondisi ini dapat menimbulkan sensasi panas dan terbakar.

Anda mungkin merasakan asam lambung mulai naik dari perut, lalu ke dada bagian tengah hingga ke tenggorokan. Bahkan, hal ini juga bisa menyebabkan rasa asam atau pahit pada mulut Anda.

Sebuah penelitian dalam Journal of Dental Research menyarankan untuk mengunyah permen karet bebas gula selama 30 menit setelah makan untuk mencegah gejala asam lambung naik.

Penelitian yang dilakukan oleh Rebecca Moazzez dan tim yang berasal dari London ini menyatakan bahwa mengunyah permen karet bisa meningkatkan produksi air liur.

Saat mengunyah permen karet, Anda akan menelan air liur lebih sering, sehingga membantu membilas asam pada kerongkongan dan menetralkan pH lambung yang sangat asam.

Todd Eisner, ahli gastroenterologi asal Delray Beach, Florida seperti dikutip dari Livestrong juga mengatakan permen karet tergolong aman untuk pengobatan asam lambung ibu hamil.

Pasalnya, sekitar 50 persen wanita hamil kemungkinan mengalami refluks asam lambung akibat dari perubahan kadar hormon dan perkembangan janin selama kehamilan.

Jenis permen karet untuk mencegah asam lambung

Terdapat berbagai jenis permen karet yang tersedia di pasaran. Namun, tidak semuanya memiliki manfaat yang sama dalam pencegahan asam lambung naik.

Dokter dan para ahli menganjurkan jenis permen karet dengan kandungan bikarbonat atau permen karet tanpa gula untuk mengatasi gangguan asam lambung.

Sebuah studi dari Wake Forest University melakukan pengujian pada 40 pasien penderita refluks asam lambung dengan pemberian permen karet bikarbonat tanpa gula dan permen karet tanpa gula biasa.

Hasilnya, mengunyah kedua jenis permen karet ini efektif untuk meningkatkan produksi dan membuat air liur lebih basa. Hal ini membantu menetralkan dan mencegah asam lambung naik ke kerongkongan.

Permen karet bikarbonat tanpa gula memiliki efek lebih baik daripada permen karet tanpa gula biasa. Kandungan bikarbonat dapat memperkuat efek penetralan asam lambung.

Jenis permen karet apa perlu dihindari?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tidak semua jenis permen karet bisa Anda kunyah begitu saja untuk mencegah gangguan pencernaan ini.

Permen karet peppermint yang menjadi produk favorit banyak kalangan karena efek menenangkannya tidak dianjurkan dikonsumsi orang dengan asam lambung.

Pasalnya, peppermint justru membuka sfingter (lingkaran otot) kerongkongan bagian bawah. Hal ini akan memicu gejala asam lambung naik, seperti nyeri atau panas pada kerongkongan.

Cara lain mengobati asam lambung naik

perempuan sakit dada karena gerd anxiety

Para peneliti yang menyimpulkan bahwa mengunyah permen karet setelah makan, hanyalah terapi tambahan untuk mengobati refluks asam lambung.

Apabila Anda berencana untuk menerapkan terapi ini, pastikan untuk memilih permen karet bikarbonat atau permen karet bebas gula. Hindari permen karet peppermint atau dengan kandungan gula tinggi.

Sebagai pengobatan utama, Anda bisa mengonsumsi obat-obatan yang bisa membantu mengobati asam lambung naik, seperti antasida, H-2 receptor blocker, dan proton pump inhibitor (PPI).

Obat asam lambung ini bekerja dengan mengurangi jumlah asam yang dihasilkan oleh lambung. Jenis obat-obatan tersebut bisa Anda dapatkan secara bebas maupun dengan resep dokter.

Selain dengan cara tersebut, biasanya dokter juga akan menyarankan beberapa perubahan gaya hidup sehat seperti berikut ini.

  • Memposisikan kepala lebih tinggi dari lambung selama tidur dengan menggunakan beberapa tumpukan bantal.
  • Hindari kebiasaan berbaring setelah makan, tunggu sekitar tiga jam setelah makan sebelum tidur.
  • Menjaga berat badan ideal, karena kelebihan berat badan akan memberikan tekanan pada perut yang memicu refluks ke kerongkongan.
  • Makan dalam porsi secukupnya, tetapi jika ingin makan lebih banyak lebih baik makan lebih sering dalam porsi yang kecil.
  • Mengonsumsi makanan secara perlahan dan kunyah hingga lembut sebelum menelannya.
  • Hindari pantangan penderita asam lambung, seperti makanan berlemak, makanan pedas, bawang, tomat, minuman berkarbonasi, kafein, cokelat, dan alkohol.
  • Gunakan pakaian yang longgar agar tidak memberikan tekanan berlebihan pada perut.
  • Berhenti merokok yang mampu menurunkan kemampuan dan fungsi otot sfingter.

Apabila gejala yang Anda rasakan tidak kunjung membaik, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan saran dan perawatan kesehatan terbaik.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Whelan, C., & Weatherspoon, D. (2018). Chewing Gum and Acid Reflux: Does It Work?. Healthline. Retrieved 11 April 2018, from https://www.healthline.com/health/digestive-health/chewing-gum-acid-reflux

Chewing Gum May Prevent Heartburn. WebMD. Retrieved 11 April 2018, from https://www.webmd.com/heartburn-gerd/news/20030522/chewing-gum-may-prevent-heartburn

Chewing Gum & Acid Reflux. Livestrong.com. Retrieved 11 April 2018, from https://www.livestrong.com/article/302353-gum-acid-reflux/ 

Gastroesophageal reflux disease (GERD). Mayo Clinic. (2020). Retrieved 23 August 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gerd/diagnosis-treatment/drc-20361959

Moazzez, R., Bartlett, D., & Anggiansah, A. (2005). The Effect of Chewing Sugar-free Gum on Gastro-esophageal Reflux. Journal Of Dental Research, 84(11), 1062-1065. https://doi.org/10.1177/154405910508401118 

Smoak, B., & Koufman, J. (2001). Effects of Gum Chewing on Pharyngeal and Esophageal pH. Annals Of Otology, Rhinology & Laryngology, 110(12), 1117-1119. https://doi.org/10.1177/000348940111001206

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri Diperbarui 30/08/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan