Rahasia Keluarga Tyna Kanna Mirdad Lindungi Buah Hati dari Cedera

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum.

Yang namanya anak-anak, pasti hobi main dan berlarian ke sana kemari untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Namun orangtua tentu tidak boleh sepenuhnya lepas tangan dalam mengawasi anak-anak mereka. Lengah sebentar saja, anak bisa cedera karena terjatuh atau tergores benda tajam saat bermain. Ini jugalah yang kerap kali dialami oleh Alaia dan Aluna, kakak beradik buah hati dari pasangan selebriti tanah air, Tyna Kanna Mirdad dan Kenang Kanna Mirdad. Menariknya, Tyna Kanna Mirdad mengaku tidak pernah terlalu khawatir ketika merawat luka anak. Apa, sih, rahasianya?

Tips merawat luka anak ala keluarga Tyna Kanna Mirdad

Ketika ditemui tim Hello Sehat di Kuningan, Jakarta Selatan, Tyna Kanna Mirdad sempat berbagi pengalamannya seputar perawatan luka anak-anaknya selama ini.

1. Bersihkan dulu lukanya

Saat merawat luka buah hatinya, Tyna selalu mengawalinya dengan membersihkan area kulit yang cedera pakai air mengalir. “Aluna selalu tidak suka saat saya membersihkan lukanya karena rasanya perih. Namun meski nggak tega, aku selalu bilang (ke Aluna -red) bahwa ada manfaatnya kalau luka itu dibersihkan,” tutur Tyna yang juga aktif menjadi seorang beauty and parenting influencer ini.

Hal tersebut diamini oleh dr. Adisaputra Ramadhinara, seorang dokter spesialis perawatan luka pertama dan satu-satunya di Indonesia yang telah mendapatkan sertifikasi CWSP (Certified Wound Specialist) dari American Board of Wound Management.

“Membersihkan luka adalah tahapan yang sangat penting sebelum kita melanjutkan perawatan ke tahap selanjutnya,” tandas dr. Adi, sapaan akrabnya. Pasalnya, peluang kontaminasi bakteri pada luka yang tidak dibersihkan itu cukup tinggi untuk menyebabkan infeksi.

2. Oles cairan antiseptik

Tynna selama ini selalu pakai air mengalir, alkohol gosok, atau obat merah yang mengandung iodine untuk merawat luka Alaia dan Aluna. Namun dr. Adi nyatanya tidak merekomendasikan untuk memakai alkohol saat membersihkan luka. Meski efektif untuk membunuh kuman, alkohol dan iodine juga bersifat mengiritasi kulit. Inilah yang menyebabkan sensasi perih yang selama ini kita rasakan saat membersihkan luka.

Semakin luka terasa perih saat dibersihkan, bukan berarti pasti makin efektif membuatnya cepat sembuh, tandas dr. Adi. Mengoleskan alkohol gosok justru akan mengeringkan kulit sehat di sekitar luka dan semakin merusak jaringan kulit yang sudah terlanjur rusak. Alhasil, proses pembaharuan kulit akan terhambat dan luka jadi makin lama sembuhnya.

“Kulit yang kering juga meningkatkan risiko terjadinya jaringan parut bekas luka,” tambah dr. Adi. Padahal, kulit yang terluka baru bisa dikatakan sembuh secara optimal jika kondisinya kembali ke keadaan semula, tanpa bopeng atau koreng.

Dr. Adi menyarankan untuk membersihkan luka pakai cairan antiseptik yang lebih aman dan melembapkan kulit supaya cepat sembuh, seperti cairan antiseptik polyhexanide (polyhexamethylene biguanide/PHMB).

Bahan aktif ini bekerja sama efektifnya untuk membunuh kuman seperti desinfektan alkohol dan antiseptik iodin, tapi lebih aman untuk jaringan kulit yang sudah terlanjur rusak dan tidak menghambat proses penyembuhan luka. Cairan antiseptik PHMB juga tidak menyebabkan luka terasa perih ketika dioles pada luka.

3. Tutup pakai plester

“Setelah dibersihkan dan dioles obat antiseptik, baru deh lukanya aku tutup dengan plester,” tutur Tyna.

Saat merawat luka, dr. Adi juga ikur menekankan pentingnya untuk segera menutup luka pakai plester setelah dibersihkan untuk melindungi kulit sensitif tersebut dari gesekan atau kontaminasi bakteri.

Menutup luka juga sekaligus bantu menjaga agar area kulit yang luka tetap lembap. Idealnya agar luka cepat sembuh, area luka tersebut memang harus dijaga selalu lembap. Bukan sama sekali kering atau sangat basah.

Jangan lupa untuk ganti plester paling tidak dua hari sekali. Setiap kali akan ganti plester, bersihkan lukanya dulu dengan cairan antiseptik dan biarkan sebentar sampai kondisinya lembap, tidak basah kuyp. Barulah tutup lagi dengan plester baru yang steril.

4. Selalu sedia plester dan obat luka di mana saja

“Aku pribadi sebenarnya tidak pernah membatasi Alaia dan Aluna untuk bereksperimen dan lari-lari. Jatuh dan luka, kan adalah cara anak untuk belajar,” ungkap Tyna, “tapi kita juga tidak pernah tahu juga kapan anak-anak bisa terjatuh dan terluka.”

Oleh karena itu, ibu dua orang anak ini selalu menyiasatinya dengan menyimpan sediaan obat luka dan plester di berbagai tempat agar lebih mudah dijangkau, seperti dalam kotak P3K di rumah dan di mobil. Tyna juga menyelipkan plester dan obat antiseptik dalam tas sekolah anaknya, dan membawa cadangannya dalam tas pribadi.

Terlebih, kita juga tidak selalu bisa menemukan sumber air bersih atau langsung membeli obat luka di toko terdekat.

Baca Juga:

Yang juga perlu Anda baca