Aturan Tepat Dalam Memilih Mainan Anak Sesuai Usia

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21/03/2019 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Mainan merupakan salah satu alat interaksi yang dapat membantu dan mengembangkan pertumbuhan anak. Namun, orang tua wajib untuk memerhatikan dan memberikan mainan anak sesuai usia dan fungsinya.

Kenapa mainan harus disesuaikan dengan usia anak?

jenis permainan anak

Orangtua harus lebih bijak sebelum sembarangan membelikan anak mainan baru. Sebab, anak kecil punya pemahaman dan kemampuan yang berbeda di setiap tahapan usia.

Sederhananya begini: Anda pasti tidak akan memberikan pisau pada balita Anda untuk mengupas buah sendiri, kan? Pertama karena ia belum mengerti apa fungsi benda tajam tersebut. Apalagi cara menggunakannya, karena di usia tersebut kemampuannya untuk menggenggam benda juga belum mantap. Alih-alih kenyang, ia justru akan membahayakan dirinya sendiri. Anda mungkin baru akan membolehkan memakai pisau sendiri ketika anak sudah beranjak sekolah menengah.

Prinsip yang sama juga berlaku pada mainan. Bayi yang masih berusia 6 bulan tentu tidak seharusnya bermain dengan balok plastik susun milik anak yang usianya 3-5 tahun. Jangankan untuk menggenggamnya, bayi bahkan belum paham apa yang harusnya dilakukan dengan balok-balok tersebut.

Mereka mungkin hanya melemparnya ke sana kemari. Tentunya hal ini akan jadi mubazir, karena di kesempatan inilah kemampuan motorik dan kognitif si kecil seharusnya ikut berkembang. Terlebih, kemungkinan terburuknya adalah ia memasukkan balok kecil ke dalam mulut dan kemudian tersedak. Risiko ini bukan mustahil karena bayi memang sedang senang memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya.

Begitu pula jika skenarionya dibalik, yaitu anak usia 5 tahun yang malah diberikan mainan bayi. Balita Anda memang bisa saja memainkannya. Ia juga sudah tahu apa tujuan dan yang bisa dilakukan dengan mainan tersebut. Namun, ia tidak mendapatkan ilmu atau pengetahuan baru dari mainan tersebut. Seharusnya, Anda sudah dapat memberikan jenis mainan yang lebih kompleks untuk mengasah tumbuh kembangnya.

Tips dan aturan memberi mainan untuk anak

permainan untuk anak autisme

Anak-anak dapat menikmati mainan mereka jika orangtua memberikan pada tahap perkembangan yang pas. Berikut adalah beberapa contoh dan saran bagi para orangtua ketika ingin memberikan mainan buat anak di rumah:

Anak usia 0-12 bulan

Pada usia ini, bayi sudah mulai bisa fokus dan bereaksi pada hal-hal di sekitarnya. Mulai dari cahaya, suara, bentuk, dan warna yang terlihat mencolok. Mereka juga sudah mulai bisa menggenggam, meraih, atau menggigit benda.

Nah, mainan yang sesuai untuknya adalah mainan lembut yang berbunyi dan berwarna terang. Pastikan juga ukuran mainannya cukup besar dan kuat agar tidak gampang patah, bocor, atau tertelan. Misalnya, kerincingan silikon yang mengeluarkan bunyi atau boneka khusus yang aman untuk digigit.

Anak usia 1-3 tahun

Di usia balita, kemampuan motorik anak sudah mulai mantap. Maka Anda boleh memberikannya mainan balok susun yang bisa dibongkar pasang. Pilihlah yang berbahan lembut dari plastik atau karet. Dengan begitu tidak akan melukai dirinya sendiri atau orang lain ketika dilempar.

Permainan bola warna-warni juga bisa jadi pilihan karena balita di usia ini sudah lancar berjalan dan berlari. Bahkan melompat-lompat. Namun, pastikan bola mainan itu berdiameter cukup besar agar tidak mudah dimasukkan ke dalam mulut, tapi juga tidak terlalu keras dan berat agar tidak meniban badannya.

Selain itu, anak juga sudah mulai belajar bernyanyi dan menggambar walau hanya sekadar corat-coret. Anda bisa memberikan anak buku cerita atau buka gambar, atau mainan yang bisa mengeluarkan suara lagu. Mainan-mainan seperti ini membantu memperkaya perbendaharaan kata yang dimiliki anak.

Anda juga bisa memberikannya mainan alat musik, seperti drum atau keyboard plastik untuk merangsang aktivitas otak anak dan indera pendengarannya.

Usia 4 tahun ke atas (usia prasekolah)

Mainan yang anak butuhkan di usia ini adalah yang dapat mengembangkan empati, kerja sama, dan keinginan bersosialiasi dengan orang lain. Sebab di usia prasekolah, anak akan bertemu banyak orang baru dan harus mulai belajar beradaptasi dengan lingkungan yang juga baru. 

Misalnya, bola sepak atau bola basket mini beserta tiang gawangnya, permainan masak-masakan, hingga puzzle dan mainan balok bongkar pasang yang lebih rumit. Ada baiknya juga mulai memperkenalkan anak dengan mainan tradisional yang bisa dimainkan beramai-ramai seperti kelereng, bola bekel, dan congklak.

Mainan anak yang bagus untuk perkembangannya

mainan anak DIY

Bermain adalah waktu bagi anak untuk belajar keterampilan baru dan berinteraksi di kehidupan nyata. Maka itu, orangtua tentu perlu memberikan mainan yang tujuannya mendidik.

Berikut adalah beberapa mainan yang baik untuk perkembangan si kecil menurut psikolog Dr. Marie Hartwell-Walker:

1. Balok susun lepas pasang

Bermain menyusun balok dapat membantu mengasah kreativitas dan keterampilan motorik anak. Warna-warni balok juga dapat membantu anak belajar tentang warna dan memperkaya kosa katanya.

3. Boneka

Boneka nyatanya tidak cuma khusus sebagai mainan anak perempuan saja. Dalam memberikan anak mainan, seharusnya tidak perlu dibedakan mana mainan laki-laki dan perempuan. Bermain boneka dapat membantu mengasah kreativitas, imajinasi, dan empati anak, terlepas apa pun jenis kelamin mereka.

Memberikan anak boneka juga bisa menjadi cara yang bagus untuk membantu mereka mempelajari kata-kata baru. Sebab selama ia bermain, ia akan menganggap boneka tersebut sebagai teman baru dan mengobrol dengan bahasa miliknya sendiri. Dengan begitu, mereka juga dapat berlatih bagaimana seharusnya berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain kelak.

Selain itu, bermain boneka ikut melatih rasa tanggung jawab pada anak sedini mungkin dengan mengganti baju boneka, memasakn dan memberikan makan, memandikan, atau bahkan menidurkan boneka.

4. Mainan karet bentuk binatang (figurin)

Figurin binatang mini yang terbuat dari plastik atau karet juga membantu mengembangkan imajinasi anak. Berikanlah boneka-boneka hewan ternak, hewan di kebun binatang, atau bahkan dinosaurus.

Anak juga dapat belajar bagaimana cara menyayangi, merawat, dan memperlakukan hewan dengan baik.

6. Menggambar

Menggambar adalah sesuatu yang menyenangkan bagi anak. Menggambar atau mewarnai adalah sarana bagi anak mengekspresikan apa yang ia rasakan. 

Tidak apa bila terdapat kotor, tumpahan cat di baju, atau bahkan di lantai rumah. Selain menjadi bukti keterampilan motorik, goresan warna-warni di kertas juga menjadi hasil dari imajinasi dan kreativitas anak.

7. Rumah-rumahan

Sama seperti boneka, anak laki pun sebetulnya boleh bermain rumah-rumahan.

Tidak perlu membelikan anak rumah mainan boneka yang butuh biaya besar. Anda bisa memberikan kardus besar untuk anak dan biarkan ia berandai-andai itu sebagai rumah barunya. Ia juga bisa mendesain sendiri kardus tersebut, Misalnya dengan membuat jendela atau ditutup kain sebagai pintu.

Nah jika Anda punya halaman yang cukup lapang, sesekali bolehkan anak mendirikan tenda mini untuk berkemah di akhir pekan. Permainan ini dapat membantu mengenalkan dan melatih anak tentang rasa tanggung jawab untuk menjaga dan merawat “rumah” mereka.

Mainan yang tidak boleh diberikan ke anak

empati anak

Mainan dan anak-anak adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Namun, tidak semua mainan baik untuk mereka. Sebab, mainan zaman sekarang tidak semuanya dibuat untuk meningkatkan kreativitas anak. Ada pula beberapa mainan yang hanya “sekedar lucu” dan sedang “nge-trend” tapi sama sekali tidak bermanfaat untuk anak.

1. Mainan senjata

Kebanyakan orangtua mungkin tanpa pikir panjang membelikan mainan senjata buat anak laki-lakinya. Alasannya, “Biar tumbuh jadi pria gagah nan macho!”

Namun, mainan dengan bentuk senjata seperti pistol, senapan laras panjang, samsak, atau boneka tinju sebaiknya dihindari. Permainan senjata atau alat lain yang berhubungan dengan kekerasan tidak bagus untuk perkembangan sosialnya dengan orang lain.

Permainan seperti ini akan memicu perilaku agresif pada anak. Ia juga dapat tumbuh dengan memahami bahwa “kekerasan adalah hal yang wajar dan boleh dilakukan” jika tidak pernah diawasi oleh orangtuanya selama bermain.

2. Gawai (gadget elektronik)

Tidak jarang orangtua secara khusus membelikan anak mereka gawai elektronik agar tidak rewel. Mungkin itu berupa PC tablet, gim portabel, atau konsol gim di rumah.

Namun, membiarkan anak bermain gadget sejak usia dini dapat mengganggu proses tumbuh kembangnya. Risiko yang paling utama adalah keterlambatan berbicara karena interaksi anak hanya berjalan satu arah, dari layar gawai saja. Bermain gawai bagi anak-anak kecil juga telah dikaitkan dengan masalah sulit fokus, gangguan belajar, serta sulit tidur.

Bukan hanya itu. Gawai elektonik menggantikan aktivitas yang melibatkan koordinasi gerak tangan dan mata untuk mengasah keterampilan sensomotorik anak. Bayi dan anak kecil bisa belajar lebih baik dengan materi yang bisa mereka sentuh, raba, dan genggam, ketimbang hanya sekadar melihat.

Mengeksplorasi konsep-kosep dalam tiga dimensi akan lebih baik untuk perkembangan kognitif anak daripada hanya pemahaman lewat gambar dua dimensi.

Tidak perlu berikan banyak mainan buat anak

permainan untuk anak autisme

Membolehkan anak bermain tentu sah-sah saja. Namun, Anda tidak seharusnya jadi menuruti kemauannya atau memanjakan anak dengan membelikan banyak mainan. Mengapa?

Ketika anak ditawarkan banyak ragam mainan, ia cenderung akan merasa cepat bosan dan beralih ke mainan yang lain. Hal ini dikhawatirkan membuat anak kesulitan memahami arti betapa berharganya satu “harta” yang ia punya.

Terlebih, tingkat fokus anak kecil memang pada dasarnya belum optimal. Membanjiri anak dengan banyak mainan sekaligus juga membuat fokus anak lama-lama terganggu, yang terkait dengan risiko perilaku hiperaktif seperti ADHD dan ADD. 

Cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan membatasi jumlah mainan yang mereka punya. Biarkan anak Anda main dengan 1 atau 2 benda lebih lama dan dengan cara yang lebih kreatif. Ini bertujuan untuk meningkatkan fokus mereka.  

Jangan terbuai oleh embel-embel “mainan cerdas”

Banyak produsen yang memasarkan mainan anak dengan jargon “mainan edukatif” dan semacamnya. Bagi orangtuua yang tentu ingin memberikan hal terbaik buat buah hatinya, ini tentu menggiurkan. Namun, jangan mudah terbuai dengan klaim iklan di pasaran.

Sebuah laporan tahun 2005 dari Kaiser Foundation menemukan bahwa banyak dari klaim tersebut hanya sekadar trik markering. Survey tersebut justru menemukan bahwa kebanyakan mainan anak yang “edukatif” justru mematikan kreativitas anak. Gawai elektronik, contohnya. Baiknya, orangtua memberikan mainan yang membangun rangsangan dan kreativitas anak ke depannya.

Pastikan untuk memberikan mainan yang sesuai dengan usia, kemampuan, serta tujuan Anda memberikan mainan. Memberikan mainan yang sesuai dengan perkembangan usianya membuat anak Anda lebih kreatif, lebih mudah belajar, hingga membantunya menemukan minat dan menyalurkan bakat tersembunyi.

Sesekali ajak main di luar

Main di luar sembari menginjak tanah dengan kaki telanjang atau bahkan main hujan-hujanan tidak selalu buruk bagi anak. Sesekali, bolehkan anak untuk bermain di luar dengan teman-teman sebayanya tanpa harus bawa mainan.

Perkenalkan anak dengan permainan-permainan jadul seperti petak umpet, tak benteng, lompat tali, gobak sodor, dan ular tangga. Anda juga boleh saja memberikan “mainan” seperti sepatu roda, sepeda, atau otoped yang bisa anak gunakan berkeliling di sekitar komplek rumah.

Bermain di luar rumah dapat melatih anak untuk lebih percaya diri dan mengembangkan kemampuan fisik dan motoriknya. Bermain bersama anak lainnya juga akan memperluas lingkaran pertemanan dan melatih kemampuan bersosialisasi mereka.

Tetap awasi anak saat bermain

Ingat, apa pun mainan yang anak mainkan orangtua jangan sampai lengah untuk tetap mengawasinya selama bermain.

Pandulah si kecil untuk menggunakan mainan dengan benar, dan perhatikan keamanannya dengan baik saat bermain. Tak kalah pentingnya juga membuat batasan waktu bermain buat anak dan ajarkan mereka untuk merapikan kembali mainannya seperti sedia kala.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Tips Ajarkan Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

Tips ini akan membantu Anda menerapkan kebiasaan kesehatan gigi dan mulut pada anak sejak dini. Yuk, cari tahu apa saja caranya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
menyikat gigi bersama merupakan salah satu cara mendorong minat si kecil dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak
Parenting, Tips Parenting 16/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Hai Para Suami, Ini 15 Tanda Istri Anda Sedang Hamil

Tak hanya wanita yang harus memerhatikan perubahan pada dirinya. Sebagai suami Anda juga harus peka melihat tanda istri hamil dan segera mempersiapkan diri.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesuburan, Kehamilan, Hidup Sehat 13/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Bagaimana Cara Menghadapi Ledakan Amarah Anak yang Bikin Jengah?

Kemarahakn yang muncul dari anak tanpa diketahui alasannya kerap membuat Anda jengah. Begini cara menghadapi ledakan amarah anak dengan baik.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Parenting, Tips Parenting 06/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengatasi anak step kejang demam saat anak kejang

Apa yang Harus Diakukan Jika Anak Step (Kejang Demam)

Ditulis oleh: dr. Angga Maulana
Dipublikasikan tanggal: 21/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit
mengatasi ruam popok bayi

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 7 menit
kista saat hamil di usia tua

Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit