Dampak Mengerikan Bullying Terhadap Anak Dwarfisme atau Tubuh Kerdil

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Jagat maya belakangan diramaikan oleh video seorang anak yang berkata ingin bunuh diri usai di-bully oleh teman-teman di sekolahnya. Usut punya usut, sang anak ternyata memiliki penyakit yang membuat tubuhnya tampak kerdil. Dampak bullying hingga kini memang masih menjadi masalah yang kerap dihadapi anak-anak dengan tubuh kerdil.

Tubuh kerdil atau dwarfisme dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi. Sebagian besar kasus dwarfisme berkaitan dengan kelainan genetik, tetapi ada pula kasus dwarfisme yang tidak diketahui penyebabnya. Pada kasus yang dialami anak berusia sembilan tahun tersebut, penyebabnya adalah kelainan genetik yang disebut akondroplasia.

Dampak bullying pada kesehatan jiwa anak dengan tubuh kerdil

korban bullying

Akondroplasia merupakan salah satu kelainan pertumbuhan tulang yang paling umum terjadi. Melansir National Organization for Rare Disorders, kondisi ini terjadi pada 1 dari 20.000-30.000 kelahiran, dan 80% kasus terjadi akibat mutasi genetik secara spontan.

Anak yang mengalami akondroplasia akan menunjukkan ciri-ciri yang mudah dikenali. Mereka biasanya memiliki kepala berukuran besar, lengan atas yang lebih pendek, dan tubuh dengan tinggi kurang dari 120 cm. Ciri inilah yang membuat anak dengan tubuh kerdil rentan terkena masalah psikologis, umumnya akibat dampak bullying.

Menurut salah satu studi dalam Orphanet Journal of Rare Diseases, anak-anak dengan tubuh kerdil biasanya sulit bersosialisasi serta memiliki kepercayaan diri yang rendah. Mereka juga berisiko lebih tinggi terkena depresi dibandingkan anak-anak sebayanya.

Studi lainnya yang dilakukan di Jerman turut menyebutkan bahwa anak-anak penderita akondroplasia merasa memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan anak yang lain. Mereka juga lebih sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan terkait bentuk tubuhnya.

Seiring bertambahnya usia, dampak psikologis yang dialami orang-orang dengan tubuh kerdil bahkan tidak hanya bersumber dari bullying saja. Sejumlah peneliti melaporkan terbatasnya lapangan kerja, pendapatan, pendidikan, dan beberapa aspek lainnya yang mendukung kualitas hidup di kemudian hari.

Akondroplasia, atau mungkin kondisi tubuh kerdil secara umum, tidak hanya membatasi gerak-gerik fisik orang-orang yang memilikinya. Berbagai aspek dalam hidup mereka pun sering kali ikut terkurung oleh batasan-batasan yang ada di lingkungan masyarakat.

Cara anak penderita dwarfisme mengatasi emosi negatif

beda stunting dan pendek

Anak-anak yang memiliki tubuh kerdil rentan terkena dampak psikologis akibat bullying, diskriminasi, serta perilaku sejenisnya. Uniknya, beberapa studi menyebutkan bahwa mereka memiliki cara sehat untuk mengatasi emosi negatif akibat perlakuan tersebut.

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penderita akondroplasia justru merasa lebih aman ketika memakai julukan yang diberikan orang lain. Mereka melihat julukan sebagai bagian dari humor dan ini membuat gaya komunikasi mereka menjadi lebih menyenangkan.

Pada penelitian yang dilakukan di Jerman, anak-anak dengan akondroplasia memang merasa mempunyai kualitas hidup yang lebih rendah. Namun, hal tersebut disebabkan karena gerak tubuh mereka terbatas sehingga aktivitas sehari-hari terasa lebih sulit.

Berdasarkan penelitian tersebut, tidak ada perbedaan besar antara kondisi emosional anak penderita akondroplasia dengan anak biasa. Para peneliti menduga, anak dengan kondisi medis kronis seperti akondroplasia memiliki cara sehat untuk mengatasi emosi negatif. Cara yang mereka gunakan pun terus berkembang seiring waktu.

Tips bagi orangtua yang memiliki anak penderita dwarfisme

agar anak tidak membully

Anak-anak dengan tubuh yang kerdil sangat rentan mengalami dampak psikologis, baik akibat bullying, terbatasnya ruang gerak, rendahnya rasa percaya diri, dan lain-lain. Jika anak Anda memiliki kondisi ini, berikut beberapa tips yang bisa meningkatkan kualitas hidupnya:

  • Anggaplah kondisi tubuh anak sebagai perbedaan, bukan masalah. Sikap Anda dapat meningkatkan kepercayaan dirinya.
  • Cobalah beradaptasi dengan keterbatasan anak, misalnya dengan menyediakan bangku pendek untuk membantunya meraih tempat tinggi.
  • Bersikaplah kepada anak sesuai usianya. Jika ia sudah cukup umur untuk membereskan kamar, biarkan ia melakukannya.
  • Saat ada yang melihat anak Anda dengan tatapan aneh, cobalah untuk tidak menanggapinya dengan amarah.
  • Bantu anak Anda belajar dengan dwarfisme, termasuk perawatan apa saja yang mungkin ia butuhkan kelak.
  • Dukung anak untuk menemukan hobi atau kegiatan apa pun yang ia sukai.
  • Jika anak Anda di-bully di sekolah, dukung ia dengan melaporkan kepada guru yang berwenang.
  • Mintalah bantuan profesional dari psikolog anak ataupun support group apabila diperlukan.

Akondroplasia maupun kelainan lainnya yang berkaitan dengan dwarfisme tidak hanya berdampak pada fisik, tapi juga kondisi psikologis. Sering kali, dampak psikologis yang dialami anak-anak dengan tubuh kerdil berasal dari perilaku bullying oleh orang-orang di sekitar mereka.

Video anak penderita dwarfisme yang belakangan ramai mungkin hanyalah satu dari beragam kasus yang belum terungkap. Sebagai orangtua, Anda dapat berperan aktif dengan mengajarkan anak agar tidak mem-bully.

Selain itu, ajarkan pula bahwa dwarfisme adalah kondisi medis dan bukan sesuatu yang perlu dianggap aneh. Ini adalah langkah sederhana yang akan membantu mengurangi dampak bullying terhadap kesehatan jiwa anak dengan tubuh kerdil.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 27, 2020 | Terakhir Diedit: Februari 27, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca