Diskusi dengan Anak tentang Kekerasan pada Film Kartun, Bagaimana Caranya?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto

Ada kalanya ketika anak menonton film kartun, alur cerita malah mengandung unsur kekerasan. Bagi anak yang belum bisa menyaring mana hal yang bisa diserap dan tak perlu ditiru, mungkin saja eksposur dari kekerasan kartun bisa memengaruhi kehidupan sosialnya.

Di sinilah peran orangtua perlu menjadi jembatan untuk berdiskusi dengan anak tentang makna hal yang diterimanya lewat media.

Kekerasan dalam media

Zaman silih berganti, teknologi pun semakin pesat. Anak generasi Y dan Z secara mudah dapat menerima informasi melalui televisi, gawai, tablet, atau bahkan laptop.

Terkadang lepas dari pengawasan orangtua, mereka menonton film kartun yang menyiratkan adegan kekerasan. Kekerasan bisa dikategorikan secara verbal (perkataan atau tulisan) ataupun non verbal (tindakan).

Mungkin saja beberapa konten kartun memberikan kekerasan bias gender melalui dialognya ataupun kekerasan yang bisa menyakiti lawannya. Eksposur media mengenai kekerasan sayangnya sulit dihindari, apalagi di tengah membludaknya teknologi.

Melansir laman Common Sense Media, anak yang terekspos dengan kekerasan baik di dalam kartun, film, video, maupun lainnya (juga ketika ia memiliki konflik dan masalah di rumah), memiliki kecenderungan lebih besar untuk bersikap agresif.

Jika tak ada diskusi dan kontrol orangtua, anak bisa memperoleh efek buruk dari media.

Menjelaskan pada anak mengenai kekerasan dalam film kartun

Eksposur kekerasan dalam film kartun bisa saja memicu perilaku negatif anak. Sebuah studi dari Annenberg Public Policy Center at the University of Pennsylvania menemukan bahwa orangtua memiliki kecenderungan untuk mengizinkan anak asalkan tertera “R-rated” meskipun terdapat adegan kekerasan dan seksual.

Sebagai orangtua, tentu Anda memiliki pilihan sikap agar anak tidak terpapar kekerasan film kartun. Orangtua ibarat tonggak untuk mengarahkan anak berpikir dan menerima informasi yang diterimanya.

Satu hal utama yang bisa dilakukan orangtua ialah berdiskusi dengan anak tentang film kartun yang ditontonnya. Jika melihat ada kekerasan pada alur ceritanya, berikut tiga hal yang bisa orangtua jelaskan dan diskusikan bersama anak.

1. Beritahu konsekuensinya

Biasanya pada film kartun, kekerasan dalam adegan tak selalu mengeluarkan darah. Jika Anda pernah memberitahu anak bahwa kartun tersebut menyiratkan kekerasan, hal yang mungkin terjadi adalah anak berkata, “Tapi kan nggak ada darahnya”.

Beritahu konsekuensi sesungguhnya dari kekerasan dan bahwa kekerasan yang terjadi pada di film kartun tidaklah realistis. Biarkan diskusi berlanjut dan bandingkan apa yang terjadi jika kekerasan tersebut diterapkan pada kehidupan nyata. Tentu ada pihak yang merasakan sakit atas perbuatan kekerasan.

2. Pasang waktu untuk anak menonton

Ada baiknya untuk membatasi jam menonton televisi atau film streaming pada anak. Semakin lama ia terpapar kekerasan pada film kartun, semakin besar risikonya ia terpengaruh dengan apa yang ditontonnya. 

3. Berdiskusi soal solusi konflik

Ketika film kartun membuat alur cerita bahwa sebuah ‘pukulan’ bisa menyelesaikan masalah, Anda perlu mengingatkan kepada si kecil ada solusi yang lebih baik daripada menyelesaikannya dengan kekerasan.

Jika ia dihadapkan dalam sebuah konflik, tak ada salahnya mengajarinya untuk membela diri dengan cara yang anggun dan bijak. 

Ajari ia bagaimana menggunakan kata-kata yang tepat untuk membela diri secara verbal dan tidak melayangkan kekerasan untuk menciptakan kepuasan dan rasa menang.

4. Tahu apa yang anak tonton

Sebagai orangtua, Anda memiliki hak untuk mengetahui apa yang anak tonton dan rated dari film kartun yang ditontonnya. Misalnya konten “R-rated” bisa diterima PG-13 (usia 13 tahun). 

Namun, ketahuilah bahwa film kartun streaming, tak semuanya memiliki rating. Sehingga Anda perlu tahu detail film kartun yang anak tonton.

5. Tetap awasi anak

Karena paparan kekerasan tak hanya sebatas pada film kartun, orangtua perlu mengawasi media interaktif apa saja yang anak gunakan. Kekerasan sangat mudah ditemukan baik di video online, media sosial, dan lainnya. 

Anda perlu tetap melakukan pengawasan dan diskusi kepada anak ketika ia menemui kekerasan pada media interaktif tersebut.

Sangat penting bagi orangtua untuk mengetahui penggunaan media pada anak. Meskipun media secara positif dapat memberikan edukasi, menjawab rasa penasaran, meningkatkan kreativitas, serta komunikasi, ingatlah bahwa ada hal negatif yang bisa anak dapatkan. 

Untuk mencegah dampak negatif ke depannya, sangat diperlukan peran orangtua untuk membantu mereka mengelola informasi melalui diskusi. Sehingga anak dapat belajar memilah atas informasi yang diterimanya dari media atau tontonan.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Januari 1, 2020 | Terakhir Diedit: Maret 3, 2020

Sumber