Tahap Perkembangan Psikologi Pada Remaja Usia 10 – 18 Tahun

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 01/07/2020 . Waktu baca 13 menit
Bagikan sekarang

Salah satu perkembangan yang dialami oleh remaja adalah perkembangan psikologi. Memang benar, selain perkembangan fisik dan bahasa, perkembangan yang mencakup emosi dan sosial termasuk salah satu kunci tumbuh kembang seorang remaja. Lalu, bagaimana perkembangan psikologi atau emosi remaja dari tahun ke tahun? Simak penjelasannya berikut ini.

Perkembangan psikologi remaja

Dikutip dari Healthy Children, masa remaja dikategorkan sebagai masa transisi yang dialami anak-anak untuk mencapai usia dewasa. Pada fase ini, akan terjadi beberapa perubahan besar selain perkembangan pada fisik.

Salah satunya adalah perkembangan remaja yang mencakup psikologi dan dibagi menjadi dua kategori. Kategori tersebut merupakan sisi emosional juga sosial.

Hal ini pun berhubungan karena adanya perubahan hormon serta saraf sehingga remaja tidak hanya berkembang secara kognitif. Akan tetapi, juga memikirkan identitas diri serta hubungan sosial di sekitar.

Dilihat dari sisi psikologi, ada beberapa tahapan yang setidaknya harus diselesaikan, di antaranya adalah:

  • Terlihat menonjol serta mengembangkan identitas diri.
  • Bisa beradaptasi agar mendapatkan penerimaan.
  • Mengembangkan kompetensi sekaligus mencari jalan untuk mendapatkannya.
  • Berkomitmen pada tujuan yang sudah dibuat.

Berikut adalah perkembangan psikologi yang dialami remaja seiring dengan pertambahan usia.

Perkembangan psikologi remaja 10 – 13 tahun

Apabila dilihat dari fase perkembangan remaja, usia 10 hingga 13 tahun merupakan fase early karena ia baru memasuki tahapan masa puber. Maka dari itu, orangtua juga perlu mempersiapkan diri karena ia akan mengalami perubahan suasana hati serta perilaku yang berbeda dari biasanya.

Beberapa perkembangan psikologi pada remaja di usia 10 hingga 13 tahun di antaranya adalah:

  • Masih memperlihatkan kedekatan serta ketergantungan dengan orangtua.
  • Membuat kelompok bersama teman-teman terdekat.
  • Mulai mencari identitas dan memperlihatkan kemandirian.
  • Merasakan ketika orang dewasa punya kekuatan karena adanya aturan.

Perkembangan emosional

Pada perkembangan anak di usia 10 tahun, perkembangan psikologi atau emosi remaja masih akan menunjukkan ketergantungannya pada orangtua. Namun, kedekatannya dengan teman-teman sebaya akan semakin menguat.

Bahkan, tekanan dari lingkungan pertemanan yang dirasakannya akan semakin besar. Begitu pula dengan identitas dirinya dalam sebuah pertemanan.

Meski begitu, pada usia ini anak masih akan menganggap orang dewasa memiliki kekuatan atau kekuasaan yang lebih besar, sehingga ia masih akan mengikuti aturan dan prinsip yang ada di dalam rumah.

Namun, Anda mungkin perlu mempersiapkan diri jika anak mulai menanyakan setiap aturan yang diberlakukan di rumah, mencontoh perilaku orang dewasa dan sebagainya.

Di saat yang bersamaan, pada perkembangan psikologi atau emosi remaja usia 11 hingga 13 tahun, ia mulai peduli dengan penampilan serta tubuhnya. Hal ini biasanya terjadi karena perubahan alami yang dialami oleh tubuhnya.

Namun apabila permasalahan ini tidak ditangani dengan baik, ada kemungkinan ia mengalami masalah tertentu.

Jika ia tidak suka dengan tubuhnya, misalnya ia merasa tubuhnya terlalu gemuk, ada hal yang bisa dilakukan dalam perkembangan emosi remaja. Bisa saja ia melakukan diet sembarangan sehingga bisa berujung pada gangguan makan serta tidak percaya diri.

Pada perkembangan emosi remaja di fase ini, anak juga semakin menekankan identitas dirinya. Ini bisa dilihat melalui pakaian yang digunakan, musik yang didengarkan, film yang ditonton, atau buku yang dibaca.

Apabila dilakukan tanpa pengawasan, anak mungkin mulai berani mencontoh apa yang dilihatnya berdasarkan rasa penasaran.

Berada di usia 12 hingga 13 tahun, Anda juga bisa melihat perkembangan psikologi atau emosi remaja yang cukup signifikan. Ini terlihat dari perubahan suasana hati yang semakin menjadi-jadi. Satu waktu merasa bisa menaklukkan segalanya, di waktu lain anak merasa telah mengacaukan semuanya.

Perkembangan sosial

Pertemanan yang menguat dibuktikan dengan kesetiaan terhadap teman satu grup atau geng, sehingga menjadi lebih solid. Pada anak usia 10 tahun, perkembangan psikologi juga ditandai dengan  sisi kompetitif yang dimilikinya terhadap teman yang bukan termasuk di dalam perkumpulannya.

Di usia ini, anak perempuan akan lebih suka bermain dengan anak perempuan, begitu pula dengan anak laki-laki yang lebih nyaman bermain dengan anak laki-laki. Akan tetapi, anak akan mulai memberikan rasa ketertarikan pada lawan jenis, meski belum terlalu kentara.

Rasa ketertarikan itu bisa jadi pertanda dari masa puber. Dengan begitu, anak juga berpotensi mengalami perubahan suasana hati yang tak menentu. Hal ini juga didampingi dengan kepekaan terhadap bentuk tubuh dan penampilannya.

Semakin bertambah usia, anak Anda akan lebih suka menghabiskan waktu bersama dengan teman dibanding dengan keluarga. Hal ini juga termasuk ke dalam perkembangan psikologi anak usia 11 tahun.

Berada di usia 12 hingga 13 tahun, maka perkembangan sosialnya pun juga bisa semakin terlihat ketika ia mula berpikir dengan baik. Di usia ini sikap kepemimpinan anak mulai terbentuk.

Remaja juga mulai belajar untuk berkontribusi pada cakupan yang lebih luas. Sebagai orangtua, cobalah untuk mendorong anak untuk lebih fokus dengan cara membantunya membuat suatu keputusan dan mendukungnya untuk berpartisipasi di komunitas atau kegiatan di sekolah.

Perkembangan psikologi remaja 14 – 17 tahun

Apabila dibandingkan dengan perkembangan anak usia 10 tahun, Anda bisa melihat ada perbedaan di perkembangan remaja fase middle ini. Secara umum, bisa dikatakan bahwa perkembangan psikologi remaja terlihat karena mereka mulai membangun identitas diri.

Tidak hanya itu saja, di rentang usia ini remaja juga mulai memperlihatkan kemandirian agar tidak terus bergantung pada orangtua. Berikut beberapa perkembangan psikologi atau emosi remaja di usia 14 hingga 17 tahun.

  • Memperlihatkan kemandirian pada orangtua.
  • Menghabiskan waktu yag lebih sedikit dengan orangtua.
  • Mulai menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis.
  • Mempunyai kepedulian serta perhatian pada keluarga, teman, dan lawan jenis.
  • Perubahan susasana hati yang tida menentu.

Perkembangan emosional

Pada perkembangan anak usia 14 tahun, perkembangan emosi pada remaja pun masih tergolong naik turun. Ia masih mempunyai suasana hati yang naik turun sehingga ada kalanya orangtua kewalahan dengan hal ini.

Hal lainnya yang sebaiknya sudah dipersiapkan orangtua adalah ketika anak sudah memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Berikan edukasi seks yang tepat sehingga Anda pun dipercaya menjadi tempat berkeluh kesah.

Anak akan mulai melakukan hal-hal yang berisiko, sehingga Anda wajib mengajaknya berdiskusi mengenai hal-hal baru yang diketahuinya. Sampaikan apa akibat dari berbagai hal yang sudah atau hendak dilakukannya.

Seiring bertambahnya usia, maka perkembangan psikologi atau emosi remaja juga mulai memperlihatkan kepedulian. Simpati dan empati mulai terpupuk walaupun ada kalanya ia pun mempunyai sudut pandang berbeda.

Perhatikan apabila ia memperlihatkan perubahan perilaku yang tidak sesuai dengan kebiasaan sehari-hari. Bukan tidak mungkin apabila dalam perkembangan psikologi atau emosi remaja ia mengalami beberapa gangguan.

Seperti gangguan tidur, gangguan citra tubuh, krisis kepercayaan diri, sehingga berujung terjadinya depresi pada remaja. Walaupun waktu Anda dengan anak menjadi lebih sedikit, tetap bangun komunikasi sehingga ia tidak merasa kehilangan arah.

Perkembangan sosial

Sudah disinggung sedikit di atas kalau pada fase ini anak mempunyai ikatan tersendiri dengan teman sebaya atau bahkan teman terdekatnya. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan terutama ketika ia mempunyai kesukaan yang sama.

Tidak hanya itu saja, bukan hal aneh apabila remaja lebih nyaman membicarakan masalah pada teman terdekatnya terlebih dahulu. Hal ini pun berlanjut sampai di perkembangan anak usia 17 tahun karena ia tetap menjaga hubungan baik dengan sahabat.

Mungkin, hubungan orangtua dengan anak akan bergeser karena ini. Namun, ada baiknya Anda tetap menjaga komunikasi agar hubungan tetap terjaga sehingga anak akan tetap mencari orangtua ketika dibutuhkan.

Perkembangan psikologi remaja usia 18 tahun

Pada usia ini, perkembangan remaja sudah mencapai fase terakhir, yaitu late. Biasanya, sifat impulsif yang mereka punya menjadi lebih terkendali dibandingkan dengan usia sebelumnya.

Maka dari itu, bisa dikatakan bahwa perkembangan psikologi atau emosi remaja di usia ini sudah lebih memikirkan risiko yang akan terjadi nantinya. Berikut beberapa perkembangan psikologi remaja usia 18 tahun, di antaranya:

  • Semakin membuka diri untuk memperluas pertemanan.
  • Sudah memikirkan masa depan dan tujuan hidup.
  • Mandiri dan membuat keputusan untuk diri sendiri.
  • Mulai tertarik dan serius dalam hubungan lawan jenis.

Perkembangan emosional

Sebagai orangtua, Anda perlu memahami apabila setiap anak mempunyai tahapan perkembangannya masing-masing. Begitu juga dengan perkembangan psikologi atau emosi remaja di usia 18 tahun ini.

Ada kemungkinan ia mulai sadar dan mengerti apa yang diinginkan. Apalagi, emosinya sudah berangsur-angsur menjadi lebih stabil. Maka dari itu ia semakin yakin untuk mempertahankan kemandirian sekaligus mencoba dunia baru yang sudah lama diinginkan.

Perkembangan sosial

Kalau di tahapan usia sebelumnya para remaja lebih suka menghabiskan waktu bersama teman terdekat juga pacar, kini secara tidak sadar sudah mulai nyaman dengan orangtua. Hal ini karena keterbukaan untuk menerima pendapat serta berkompromi dengan orang disekitar.

Tidak hanya itu saja, Anda juga sudah seharusnya mempersiapkan diri karena ada kemungkinan remaja mempunyai hubungan yang lebih serius dengan pacar. Maka dari itu, penting untuk membangun komunikasi serta memberikan pendidikan seksual sejak dini.

Penyebab remaja mulai memberontak

Pertengkaran orangtua dengan anak bisa berujung pada keinginan kabur dari rumah karena ia sedang berada dalam fase pemberontakan. Ini juga merupakan hal yang bisa terjadi pada perkembangan psikologi atau emosi remaja.

Ada kalanya ia percaya sudah tak ada lagi pemecahan masalah yang bisa dicapai selain memberontak atau melakukan kenakalan remaja. Beberapa penyebab yang membuat perkembangan emosi remaja jadi memberontak, seperti:

1. Merasa tidak aman di rumah

Anak bisa saja merasa bahwa situasi di rumah benar-benar menakutkan sehingga mengakibatkan perkembangan psikologi nya terganggu. Misalnya kalau ia menjadi korban kekerasan anak. Baik itu kekerasan verbal, fisik, psikologis, atau seksual.

2. Masalah di sekolah atau lingkungan pergaulan

Bila terjadi bullying pada remaja di sekolah tapi tidak ada sosok yang bisa membantunya, anak mungkin memilih untuk kabur. Dengan begitu, anak bisa membolos tanpa harus dipaksa ke sekolah oleh orangtua.

Hal lain yang mengakibatkan psikologi remaja terganggu adalah ketika terlibat masalah tertentu tapi ia tidak berani menganggung akibat atau hukumannya. Maka, ia pun memilih untuk memberontak seperti lari dari rumah daripada harus menerima konsekuensi.

3. Merasa tidak dihargai

Salah satu kasus pemberontakan yang bisa mengganggu psikologi atau emosi remaja adalah anak merasa cemburu dengan kakak atau adiknya. Ia merasa kurang dihargai dan berpikiran bahwa orangtua lebih menyayangi kakak atau adiknya.

Selain itu, anak bisa merasa tidak dihargai karena orangtua memberikan hukuman yang sangat berat atas kesalahannya. Dalam kasus lainnya, anak yang merasa tidak mendapat cukup perhatian dari orangtua juga mungkin “menguji” kasih sayang orangtua dengan cara memberontak.

4. Tidak bijak menggunakan media sosial

Media sosial adalah tempat bagi sebagian besar remaja untuk mengekspresikan diri mereka, lewat kata-kata maupun foto. Di antara semua jenis media sosial, Instagram cukup mendapat banyak perhatian bagi anak remaja. Melalui Instagram, ia bisa mengunggah hasil jepretan foto terbaiknya dan mendapat feedback, berupa like atau komentar.

Namun, tidak semua mendapatkan efek positif sehingga memengaruhi perkembangan perkembangan psikologi atau emosi remaja. Ada juga yang sampai terobsesi dengan hasil selfie sehingga berdampak buruk bagi kesehatan mental remaja.

Tips menghadapi psikologi remaja yang tidak menentu

Kesabaran setiap orang memang ada batasnya. Namun, sebagai orangtua Anda merupakan peran penting dalam kehidupan anak termasuk pada perkembangan psikologi atau emosi remaja.

Maka dari itu, tidak ada salahnya untuk melakukan hal-hal di bawah ini untuk membangun hubungan emosional orangtua dengan anak, seperti:

1. Menjaga komunikasi dengan anak

Walaupun tidak semua, namun beberapa remaja akan memperlihatkan sifatnya yang acuh tak acuh terhadap orangtua. Merasa sudah remaja, maka bukan tidak mungkin apabila anak memperlihatkan sikap yang tidak membutuhkan peran Anda.

Namun, tetap jaga komunikasi dengan cara apapun. Misalnya, menanyakan apa saja yang ia lakukan dan bagaimana perasaannya di hari itu. Lalu, Anda juga bisa meluangkan waktu melakukan hal yang menyenangkan sehingga ia selalu merasa kasih sayang dari orangtua.

2. Saling mendukung dan menghargai pendapat

Dalam perkembangan psikologi atau emosi remaja, ada kalanya perasaannya sedang tidak menentu. Hal ini bisa membuat salah paham sehingga terjadi pertengkaran. Berikan pemahaman pada anak apabila semua masalah bisa diselesaikan.

Begitu pula ketika sudut pandang orangtua dan anak sedang tidak sejalan. Hal yang sebaiknya dilakukan adalah saling mendegarkan dan mengerti satu sama lain. Coba untuk membantu anak agar ia bisa membuat keputusan yang baik sehingga tetap ada dukungan dari keluarga.

3. Berikan peraturan yang adil

Bukan tidak mungkin pada perkembangan psikologi remaja ia akan melakukan pemberontakan. Hal ini bisa terjadi ketia ia merasa keinginannya tidak terpenuhi.

Maka dari itu, Anda perlu berkomunikasi lagi dengan anak agar ia memahami peraturan yang dibuat bukanlah menjadi penghalang. Peraturan yang adil dibuat agar ia juga mempunyai kendali pada diri sendiri sekaligus belajar bertanggung jawab.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Sedang mengalami masa sulit yang seakan mengisap energi dan pikiran Anda ke dalam lubang hitam? Psikoterapi bisa membantu Anda mencari solusinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit
mengatasi ruam popok bayi

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 7 menit
akibat anak terlalu sering dibentak

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 8 menit
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit