home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Jangan Sampai Dirugikan Tindakan Impulsif, Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya

Jangan Sampai Dirugikan Tindakan Impulsif, Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya

Impulsif adalah tindakan melakukan suatu hal tanpa mempertimbangkan konsekuensinya terlebih dahulu. Biasanya, saat mengambil tindakan tersebut, Anda tidak terpikirkan apapun, sehingga dengan yakin melakukannya. Sebenarnya, impulsif bukan sebuah penyakit atau gangguan mental, karena semua orang pasti pernah melakukannya. Namun, jika Anda terus-menerus melakukan tindakan impulsif, bisa jadi hal ini adalah gejala dari suatu penyakit mental tertentu. Simak yuk penjelasan lengkapnya berikut ini.

Apa yang dimaksud dengan impulsif?

Pernahkah Anda berjalan-jalan ke mall tanpa tujuan berbelanja tapi berakhir mengeluarkan cukup banyak uang untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan? Ya, tindakan seperti itu dianggap tindakan impulsif, artinya Anda melakukan suatu hal yang tidak direncanakan tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.

Tak hanya itu, melakukan tindakan berbahaya juga bisa dianggap impulsif jika tidak dipikirkan dengan baik sebelumnya. Meski begitu, tindakan ini tidak bisa dianggap sebagai salah satu gangguan mental karena sering kali tidak terjadi secara konsisten.

Artinya, semua orang memiliki potensi untuk melakukan tindakan impulsif, tapi jarang yang melakukannya terus-menerus. Lagipula, tindakan impulsif sebenarnya juga dibutuhkan pada saat-saat tertentu, misalnya saat menghadapi krisis yang mengharuskan Anda melakukan tindakan atau respons yang cepat tanggap.

Tindakan ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan remaja, karena seiring berjalannya waktu, kedewasaan dapat mendorong masing-masing orang untuk memikirkan konsekuensi dari setiap perbuatan.

Akan tetapi, jika tindakan impulsif yang Anda lakukan terjadi berulang-ulang dan membahayakan diri sendiri serta orang lain, bisa jadi ini adalah gejala dari gangguan mental lain.

Penyebab munculnya tindakan impulsif

Sebenarnya, impulsif yang terjadi secara berulang bisa jadi tanda bahwa Anda tidak memiliki kontrol yang baik terhadap diri sendiri. Namun, tindakan ini juga bisa menjadi pertanda dari gangguan kesehatan mental lain yang perlu Anda waspadai, contohnya:

Jika mengalami salah satu dari kondisi yang disebutkan di atas, Anda akan sangat rentan mengalami salah satu kondisi yang disebutkan di atas. Meski begitu, bukan berarti saat sering melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang, sudah dipastikan bahwa Anda memiliki gangguan mental.

Tindakan ini baru boleh dianggap menjadi salah satu gejala yang perlu Anda perhatikan jika sudah terjadi berulang kali hingga merugikan banyak pihak, baik diri sendiri maupun orang lain.

Apakah tindakan impulsif perlu ditangani secara medis?

Tindakan impulsif bukanlah suatu kondisi mental yang harus ditangani secara medis. Meski begitu, jika sudah tergolong parah, khususnya sudah mengarah pada suatu kondisi mental tertentu, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya.

1. Penggunaan obat-obatan

Ada beberapa pilihan obat yang bisa Anda gunakan, seperti berikut ini.

  • Antidepresan yang biasanya digunakan untuk mengatasi depresi.
  • Atypical neuroleptics.
  • Obat anti-epilepsi.
  • Mood stabilizers.
  • Glutamatergic agents.

Meski begitu, penggunaan obat-obatan ini tentu harus berada di bawah pengawasan dokter. Selain itu, obat-obatan ini tidak semata untuk mengatasi tindakan impulsif, melainkan untuk mengurangi gejala impulsif jika Anda mengalami kondisi kesehatan mental lainnya.

Tak hanya itu, penggunaan obat ini sebaiknya dikonsumsi atas saran dokter. Hindari menggunakan obat-obatan ini secara berlebihan.

2. Terapi psikologi

Anda juga bisa menjalani terapi psikologi atau psikoterapi untuk mengatasi kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan tindakan impulsif. Menurut sebuah artikel pada Good Therapy, salah satu pilihan psikoterapi yang bisa Anda lakukan adalah cognitive behavioral therapy (CBT).

Dalam terapi ini, Anda akna dibantu untuk menentukan pemicu dari tindakan impulsif yang sering dilakukan. Selain itu, Anda juga akan dibantu untuk mengatur strategi dalam mengatur respons terhadap pemicu tersebut di masa depan.

Selain CBT, Anda juga bisa melakukan berbagai jenis terapi lainnya, seperti terapi kelompok yang biasanya cukup efektif untuk mengatasi kebiasaan melakukan tindakan impulsif. Pasalnya, pada pelaksanaan terapi ini, Anda dan beberapa orang lainnya akan diajak berdiskusi mengenai kondisi satu sama lain.

Hal ini membuat Anda merasa tidak sendirian menghadapi kebiasaan tersebut. Tak hanya itu, dalam terapi ini, Anda akan didampingi oleh ahli profesional yang membantu jalannya diskusi agar terapi berjalan lancar.

Terapi lain yang juga bisa dijalani adalah terapi keluarga. Biasanya, terapi ini lebih efektif untuk para remaja. Biasanya, saat seorang remaja memiliki masalah terhadap kontrol diri sehingga sering melakukan tindakan impulsif, hal tersebut berdampak pada keluarga.

Dengan menjalani terapi bersama keluarga, masing-masing anggota keluarga memiliki ruang untuk menyampaikan kondisi atau masalah yang berkaitan dengan tindakan impulsif dan ahli terapi bisa mendengarkan untuk mengevaluasi apa akar masalah dan bagaimana menyelesaikannya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Annisa Hapsari
Tanggal diperbarui 20/02/2021
x