Waspada, Ini Penyakit yang Kerap Menyerang Anak Remaja

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 30 November 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Penyakit kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes yang selama ini dijuluki sebagai “penyakit kakek-nenek” tidaklah menular. Namun dari tahun ke tahun, makin banyak temuan diagnosis penyakit kronis pada anak remaja. Lantas apa saja faktor risiko penyakit kronis pada remaja? Simak di sini penjelasannya.

Kasus penyakit kronis pada remaja di Indonesia

Serangan penyakit tidak kenal usia. Maka dari itu, di tahap perkembangan remaja ada kemungkinan ia mengalami masalah kesehatan seperti penyakit kronis.

Dikutip dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, penyakit kronis dapat memengaruhi tumbuh kembang remaja. Lalu, hal ini juga bisa menjadi penyebab terjadinya penurunan kualitas hidup remaja.

Data dari Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan bahwa dari 25,8 persen total kasus hipertensi nasional, kurang lebih 5,3% di antaranya adalah remaja berusia 15-17 tahun; laki-laki 6% dan perempuan 4,7%.

Sementara itu, 5,9% anak Indonesia berumur 15-24 tahun mengidap asma. Sementara kasus diabetes pada anak di bawah 18 tahun mengalami peningkatan yang sangat tinggi dalam lima tahun terakhir, yaitu hingga 500% dari sebelumnya.

Menyambung data Riskesdas 2013, penyakit kronis tidak menular menyebabkan 71 persen dari total kematian.

Termasuk di antaranya penyakit jantung (37 persen), kanker (13 persen), penyakit pernapasan kronik seperti asma dan PPOK (5 persen), diabetes (6 persen), dan penyakit kronis lainnya (10 persen).

Daftar penyakit yang rentan menyerang remaja

Berikut beberapa penyakit yang rentan dialami remaja, seperti:

1. Gangguan bipolar

Gangguan bipolar menjadi salah satu penyakit yang rentan menyerang remaja karena

Jika suasana hati anak sangat mudah dan cepat berubah, Anda patut curiga. Perubahan suasana hati ekstrem kemungkinan menandakan remaja memiliki gangguan bipolar.

Gangguan bipolar memiliki gejala yang khas, yaitu perubahan suasana hati dari depresi ke mania yang terjadi sangat cepat.

Mania adalah kondisi gangguan suasana hati yang membuat seseorang merasa sangat bersemangat secara fisik dan mental.

2. Lupus

Penyakit lupus merupakan gangguan autoimun. Sistem imun tidak bisa membedakan sel-sel tubuh yang sehat dengan kuman pembawa infeksi.

Akibatnya, sistem imun dapat menyerang sel-sel sehat dalam tubuh.

Menurut Children’s Hospital of Philadelphia, sekitar 25.000 anak-anak dan remaja diketahui memiliki penyakit lupus. Penyakit ini paling umum menyerang pada remaja berusia 15 tahun.

3. Diabetes

Diabetes memberikan pengaruh yang besar terhadap kondisi psikologis remaja. Hal ini karena penyakit diabetes lebih berkembang cepat pada remaja dibandingkan pada orang dewasa.

Kemungkinan besar terjadinya kondisi ini disebabkan oleh gaya hidup dan masalah kesehatan.

Hal ini berlaku pula dengan diabetes melitus tipe 1 yang terus meningkat di Indonesia. Berdasarkan data IDAI, di tahun 2018 tercatat 1220 anak yang mengalami diabetes melitus tipe 1.

4. Asma

Asma merupakan peradangan serta penyempitan pada saluran pernapasan yang juga bisa dikategorikan sebagai penyakit kronis pada remaja.

Walaupun bisa dikontrol, tetapi pemicu pada remaja cukup tinggi sehingga membuat paru-paru lebih sensitif dari kondisi normal. Perlu diketahui apabila asma merupakan penyakit yang cukup serius dan dapat mematikan apabila tidak ditangani dengan tepat.

5. Migrain

Migrain juga bisa menjadi penyakit kronis yang bisa terjadi pada remaja. Apalagi, penyakit ini juga bisa terjadi karena faktor keturunan.

Sakit kepala berulang ini disebabkan oleh gangguan saraf dalam otak. Maka dari itu, sakit bisa terasa sedang hingga parah dan bisa terjadi beberapa kali dalam sebulan.

Sebelum masa puber, migrain lebih sering terjadi pada anak laki-laki. Akan tetapi, pada masa remaja kondisi ini lebih banyak dialami oleh perempuan.

6. Kanker

Kanker terjadi ketika sel-sel di dalam tubuh mulai berkembang dan tidak terkendali.Penyakit kanker pada remaja bisa dialami pada usia 15 hingga 19 tahun. Walaupun bukan hal yang umum, ada beberapa jenis sel kanker pada remaja sudah mulai berkembang ketika baru lahir.

Beberapa jenis penyakit kronis seperti kanker pada remaja, adalah:

  • Limfoma
  • Leukimia (kanker darah)
  • Kanker tiroid
  • Kanker otak
  • Kanker rahim
  • Melanoma (kanker kulit)

Penyebab munculnya penyakit kronis pada remaja

Risiko penyakit kronis umumnya dipengaruhi oleh genetik turunan dalam keluarga dan lingkungan sekitar.

Namun khusus pada remaja, penyebab utamanya adalah gaya hidup buruk seperti merokok, kebiasaan makan tidak sehat, dan kurang gerak.

Hal ini ditekankan oleh dr. Theresia Sandra Diah Ratih, MHA, Kepala Sub Direktorat Penyakit Paru Kronik dan Gangguan Imunologi Dirjen P2PTM Kemenkes RI.

Berdasarkan data Riskerdas 2013, perokok anak usia 15 tahun ke atas  ada di angka 36.6 persen. Pada 2016, angka ini meningkat hingga 54 persen dari sekitar 65 juta remaja di Indonesia.

Merokok dan kurang gerak dapat meningkatkan risiko pembekuan darah yang dapat menghambat aliran darah ke jantung. Pola makan buruk (tinggi kalori, lemak, kolesterol, gula, dan garam) dapat memicu penumpukan plak dalam pembuluh.

Semua elemen dari gaya tidak hidup sehat ini sama-sama mengakibatkan pembuluh darah menyempit dan mengeras.

Gaya hidup tidak sehat ini kemudian menyumbang hingga 80 persen dari penyebab kemunculan penyakit kronis di usia muda.

Terapkan CERDIK untuk kurangi risiko penyakit kronis sejak muda

Memulai gaya hidup sehat memang tidak mudah. Namun, jika sudah berkomitmen dan yakin untuk mengubah gaya hidup lebih sehat, itu akan terasa mudah.

Oleh karena itu, sebagai orangtua Anda perlu mengajak anak secara bersama-sama untuk menerapkan pola hidup sehat sedari remaja.

“Untuk semakin memudahkan masyarakat mulai menjalani gaya hidup sehat, Kemenkes mencanangkan prinsip CERDIK,” ungkap dr. Sandra.

Gerakan CERDIK sendiri adalah singkatan dari.

  • Cek kondisi kesehatan secara berkala, termasuk berat dan tinggi badan sampai kadar gula darah, kolesterol, dan tekanan darah. Cek kesehatan rutin sudah bisa dimulai sejak usia 15 tahun, untuk 1 tahun sekali. Hal ini berguna untuk mendeteksi dini risiko penyakit pada remaja.
  • Enyahkan asap rokok dan berhenti merokok.
  • Rajin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit dalam sehari serta dilakukan dengan teratur.
  • Diet dengan gizi seimbang. Konsumsi makanan sehat, makan buah sayur yang cukup, hindari makanan manis yang berlebihan dan minuman berkarbonasi.
  • Istirahat yang cukup, pastikan anak mendapatkan tidur yang cukup dalam sehari. Setidaknya tidak kurang dari tujuh atau delapan jam.
  • Kelola stres dengan baik.

Prinsip CERDIK juga dapat sekaligus meminimalisasi atau bahkan mencegah munculnya penyakit kronis di usia remaja.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ngantuk atau lemas habis makan adalah hal yang biasa. Lalu, bagaimana kalau Anda justru sakit kepala setelah makan? Cari tahu penyebabnya di sini, yuk.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Otak dan Saraf, Sakit Kepala 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Produk skincare antiaging fungsinya adalah mencegah penuaan dini. Namun, kalau baru pakai antiaging di usia 50 tahun ke atas, apa hasilnya akan sama?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Lansia, Gizi Lansia 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

3 Manfaat yang Bisa Didapat dari Minum Kopi Sebelum Olahraga

Suka olahraga di pagi hari dan harus minum kopi dulu biar segar? Penelitian membuktikan kalau minum kopi sebelum olahraga ternyata baik buat tubuh, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Gizi Olahraga, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

penis bengkok

Bisakah Penis yang Bengkok Diluruskan Kembali?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
memotong kuku

Kuku Pendek vs Kuku Panjang: Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 22 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
olahraga malam hari

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit