backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan

Pubertas pada Laki-Laki Berpengaruh pada Kesuburan?

Ditinjau secara medis oleh dr. S.T. Andreas, M.Ked(Ped), Sp.A · Kesehatan anak · Rumah Sakit EMC Pekayon


Ditulis oleh dr. William · Tanggal diperbarui 03/11/2022

    Pubertas pada Laki-Laki Berpengaruh pada Kesuburan?

    Normalnya, remaja laki-laki akan memasuki masa puber (pubertas) pada usia 9-14 tahun. Akan tetapi, beberapa anak laki-laki mengalami masalah pubertas dini atau pubertas yang terlambat dari seharusnya. Lantas, apakah pubertas pada laki-laki akan memberi pengaruh pada kesuburannya saat dewasa nanti?

    Apa yang memengaruhi pubertas anak?

    Pubertas diawali dengan aktivitas otak yang memicu berbagai perubahan fisik untuk mempersiapkan anak menuju usia subur.

    Sederhananya, masa puber adalah masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa.

    Pada anak laki-laki, masa puber umumnya ditandai dengan berbagai perubahan fisik seperti berikut.

    • Pertumbuhan rambut halus di beberapa bagian tubuh, seperti sekitar penis, ketiak, wajah, serta lengan dan kaki.
    • Munculnya jerawat.
    • Perubahan suara jadi lebih nge-bass.
    • Pertumbuhan tinggi dan postur badan yang pesat.

    Pada saat yang bersamaan, testis dan penis juga ikut bertumbuh. Selama masa puber, testis akan mulai memproduksi hormon seks yang disebut testosteron sekaligus menghasilkan sperma.

    Karena produksi hormon seks inilah, remaja pria yang sedang melewati masa puber akan mengalami mimpi basah pertamanya.

    Meski ciri-ciri pubertas tersebut umum terjadi, beberapa remaja laki-laki bisa mulai mengalaminya lebih cepat atau lebih lambat dari yang seharusnya.

    Adapun hal ini bisa terjadi karena berbagai faktor, antara lain genetik, gaya hidup, serta lingkungan.

    Beberapa kondisi medis juga disebut bisa memberi pengaruh pada pubertas laki-laki. Misalnya, diabetes pada anak, masalah pada testis, atau gangguan pada kelenjar tiroid atau adrenal.

    Nah, permasalahannya, pubertas yang terlalu cepat atau telat bisa memberi pengaruh pada tubuh anak hingga dewasa nanti.

    Salah satu yang sering disebut, yaitu pengaruhnya terhadap kesuburan. Benarkah demikian?

    Pengaruh pubertas dini pada laki-laki terhadap kesuburan

    kesehatan remaja

    Salah satu dampak pubertas dini adalah tinggi badan anak yang lebih pendek daripada teman-teman sebayanya yang mengalami masa puber normal.

    Memang awalnya, anak yang mengalami pubertas dini akan lebih cepat tumbuh tinggi.

    Namun, saat dewasa, tinggi badannya menjadi di bawah normal untuk seusianya karena pertumbuhan tinggi anak terhenti lebih cepat dibanding teman-temannya.

    Satu lagi isu yang mungkin timbul akibat pubertas dini adalah masalah emosional dan sosial. Pubertas dini cenderung menyebabkan anak sulit beradaptasi dengan sekitarnya.

    Ini terjadi karena anak merasa minder dan kurang percaya diri dengan perubahan fisiknya yang tidak (belum) dialami oleh teman-temannya.

    Selain itu, pubertas yang terlalu cepat juga lebih mungkin menimbulkan masalah perilaku pada anak remaja akibat perubahan mood dan cenderung lebih cepat marah.

    Anak laki-laki dapat cenderung menjadi agresif dan memiliki dorongan seks yang tidak sesuai dengan usianya.

    Perubahan mood ini juga meningkatkan risiko anak remaja mengalami depresi.

    Lalu, bagaimana dengan kesuburannya? Belum banyak penelitian di luar sana yang khusus mengamati pengaruh pubertas dini pada laki-laki terhadap kesuburan saat ia dewasa.

    Namun, sejumlah penelitian melaporkan bahwa pubertas dini dapat berisiko menyebabkan penurunan konsentrasi sperma, atau air mani menjadi lebih encer.

    Meski begitu, air mani atau sperma encer bukan berarti Anda tidak subur. Artinya, selama sperma ini membuahi sel telur, kehamilan masih mungkin terjadi.

    Satu hal yang perlu lebih diperhatikan sebagai dampak puber dini adalah pertumbuhan tumor tertentu di testis yang mungkin berisiko berkembang jadi kanker.

    Kanker testis dan pengobatannya dapat memengaruhi kadar hormon serta kesuburan atau kemampuan pria untuk memiliki anak setelah perawatan.

    Pengaruh pubertas laki-laki yang terlambat terhadap kesuburannya

    Sama seperti pubertas dini, anak laki-laki yang terlambat puber dapat mengalami ketidakseimbangan hormon yang memengaruhi tumbuh kembangnya.

    Menurut jurnal Human Reproduction, sebuah penelitian di Denmark pada 2016 menemukan fakta bahwa pubertas laki-laki yang terlambat dapat berdampak negatif pada kesuburannya ketika dewasa nanti.

    Pasalnya, anak remaja laki-laki yang pubernya terlambat berisiko memiliki ukuran testis yang lebih kecil ketimbang rata-rata remaja normal.

    Testis merupakan pabrik penghasil sperma, sehingga menurunnya volume testis sedikit banyak dapat memengaruhi jumlah produksi sperma.

    Normalnya, testis mampu menghasilkan 200 juta sperma setiap hari. Jumlah sperma yang sedikit setiap kali berejakulasi adalah salah satu faktor risiko ketidaksuburan pria.

    Pubertas terlambat pada remaja laki-laki juga mungkin bisa memberi pengaruh pada bentuk sperma. Sementara pria dengan kelainan bentuk sperma cenderung lebih sulit memiliki anak.

    Jadi, benarkah masa puber laki-laki bisa memengaruhi kesuburannya saat dewasa?

    depresi pada remaja

    Sampai saat ini, mekanisme pengaruh pubertas laki-laki terhadap kesuburannya belum diketahui pasti.

    Yang jelas, puber yang terlalu cepat atau terlambat dapat memengaruhi produksi hormon seks dan pertumbuhan yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

    Dugaan sementara menyebutkan bahwa pubertas terlambat menyebabkan testosteron gagal mencapai kadar puncaknya.

    Kadar hormon seks ini ditemukan 9% lebih rendah pada pria yang mengalami puber terlambat daripada pria lainnya yang memasuki puber pada usia normal.

    Perlu diingat, ketika membicarakan kesuburan pria, ada tiga faktor penting yang menentukan, yaitu jumlah sperma, bentuk, dan kelincahan gerak sperma.

    Jika ada satu saja kelainan sperma dari ketiga faktor tersebut, maka risiko pria tidak subur bisa meningkat.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. S.T. Andreas, M.Ked(Ped), Sp.A

    Kesehatan anak · Rumah Sakit EMC Pekayon


    Ditulis oleh dr. William · Tanggal diperbarui 03/11/2022

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan